Gadis polos yang dunia nya hancur, saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua nya, di saat paling rapuh ia jatuh kedalam pelukan pria berkuasa sekaligus pemimpin gelap
Bagis pria itu gadis kecil ini adalah hak mutlak , satu satu nya obsession yang tak pernah ia lepas kapan pun
"Kau milik ku gadis kecil, selama nya semua yang ada padamu itu milik ku tidak akan pernah menjadi milik orang lain, sayang, " ucap nya dengan penuh obsession
Gimana kah cerita nya ,dari pada penasaran kuy baca novel aku 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurfazilah Cell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Obsesif
Setelah itu iya pun duduk di tepi kasur dan mengelus rambut panjang Alesha
Alesha pun mengambil boneka nya kemudian iya memeluk nya erat, Alesha masih terisak dan menatap Aiden
" Cup sudah sayang tidur hmm, ini sudah malam, Aku akan membacakan cerita buat Kamu seperti yang Dedy Kamu lakukan , ujar Aiden yang mengambil buku cerita nya setelah itu iya mulai membaca nya, Alesha pun mulai memejamkan mata nya hingga tidak berlangsung lama iya pun tertidur pulas
Melihat itu Aiden mencium kening dan kedua pipi bulat Alesha,setalah itu iya pun berdiri dan mematikan lampu kamar Alesha dengan menyalakan lampu tidur , setelah itu iya pun keluar dari dalam kamar Alesha dan berjalan menuju kamar nya yang ada di samping kamar Alesha
.........
Di pagi hari nya, sekitaran delapan
Matahari pagi baru saja menyelinap lewat celah tirai jendela, menyinari sebagian sudut kamar yang masih terasa sejuk dan tenang. Aiden sudah berdiri di depan pintu kamar Alesha, tangannya tergenggam santai di samping badan, tatapannya menatap ke dalam dengan sorot yang sebenarnya lembut meski tertutup oleh keyakinan yang ia pegang teguh. Ia membuka pintu perlahan tanpa suara, melangkah masuk dengan langkah sangat ringan seolah takut mengganggu tidur gadis itu, lalu berhenti tepat di sisi tempat tidur. Selama beberapa detik ia hanya diam memandangi wajah Alesha yang masih terlihat lelah, sambil mengingat kembali pertengkaran mereka semalam. Bukan karena ia merasa bersalah telah bersikap tegas, tapi karena ia tak mengerti mengapa Alesha sulit melihat bahwa semua yang ia lakukan adalah bentuk perhatiannya.
Aiden mengulurkan tangan, perlahan menyisir rambut panjang Alesha yang terurai di atas bantal dengan gerakan lembut dan penuh kasih sayang. Tak lama setelah itu, kelopak mata Alesha bergerak pelan, lalu terbuka perlahan menampakkan sepasang mata yang masih sembab bekas menangis semalaman. Begitu sadar bahwa Aiden sudah ada di sisinya, tubuh Alesha sedikit menegang, ingatannya langsung terbang ke kata-kata tajam yang keluar dari mulut laki-laki itu semalam saat ia memohon izin untuk kembali bersekolah.
"Sudah bangun? Ayo bangun, sayang. Aku sudah suruh pembantu menyiapkan air hangat dan sarapan kesukaanmu yang lengkap, ucap Aiden dengan nada yang tenang, lembut, dan hangat, sama sekali tak ada nada marah di awal. Ia bahkan membantu menyingkirkan selimut tebal dan menyandarkan punggung Alesha ke sandaran tempat tidur, gerakannya sangat hati-hati seolah Alesha adalah benda paling rapuh dan berharga yang tidak boleh rusak sedikitpun.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Begitu Alesha mengeratkan pelukan pada boneka kesayangannya dan menatap lurus ke mata Aiden, suara kecil namun tegas keluar dari mulutnya.
"Kak Aiden soal yang kita bicarakan semalam... aku masih ingin mengatakannya lagi. Aku benar-benar ingin sekolah lagi. Aku tidak bisa terus-menerus hanya berdiam diri di dalam rumah tanpa melakukan apa-apa, aku ingin belajar, ingin tahu banyak hal, dan.
"Cukup, jangan lanjutkan omongan itu, potong Aiden tiba-tiba. Nada bicaranya berubah drastis dalam sekejap, dari lembut dan hangat berubah menjadi dingin, datar, serta penuh ketegasan tepat saat mendengar permintaan yang membantah keinginannya. Sorot matanya yang tadinya penuh kelembutan kini berubah tajam, menusuk lurus ke dalam hati Alesha seolah memberi peringatan keras. Ia tidak merasa sedikitpun bersalah atas perubahan sikapnya ini; baginya, bersikap tegas adalah satu-satunya cara melindungi apa yang paling ia cintai.
Aiden berdiri tegak kembali, sedikit menjauhkan tubuhnya namun tetap memposisikan diri agar jalan keluar tidak terbuka lebar bagi Alesha.
"Berapa kali lagi aku harus mengulangi jawaban yang sama agar kamu mengerti? Jawabannya tetap tidak, dan tidak akan pernah berubah, ucapnya dengan suara rendah namun berat, tidak berteriak kasar sampai menyakiti telinga, tapi setiap kata terasa memiliki bobot yang menekan hati.
"Aku melarang mu sekolah , karena Aku sangat menyayangimu dan takut terjadi hal buruk apapun padamu di luar sana.
Alesha menggeleng cepat, air matanya kembali menggenang di sudut matanya dan siap tumpah kapan saja,
"Tapi kak Aiden sekolah itu tempat yang aman, tempat untuk mencari ilmu Aku tidak mau selamanya hanya bergantung pada kak Aiden saja..."
Mendengar kalimat itu, rahang Aiden mengeras dan tatapannya makin menusuk. Ia melangkah maju kembali hingga jaraknya hanya tersisa beberapa sentimeter dari wajah Alesha, suaranya makin dingin dan tegas,
"Bergantung padaku itu bukan hal yang buruk, gadis manis ku! Justru itu jaminan teraman yang bisa kamu miliki selamanya. Di luar sana penuh dengan orang yang menyimpan niat buruk, banyak hal yang bisa melukai hatimu, memanfaatkan ketulusanmu, atau bahkan mencuri perhatian dan hatimu dariku. Aku tidak akan membiarkan hal sekecil apapun itu terjadi."
Tangannya terulur kembali, kali ini bukan untuk mengelus, tapi memegang kedua bahu Alesha dengan cengkeraman yang kuat namun tidak sampai meninggalkan luka atau rasa sakit cukup untuk menegaskan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Jangan membantah lagi soal ini. Setiap kali kamu berani melawan keinginanku, aku akan bersikap begini sampai kamu sadar siapa yang paling tahu apa yang terbaik untuk dirimu. Semua yang aku atur, semua yang aku larang, hanya karena satu alasan saja ,kamu adalah satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidupku, dan aku tidak akan mengambil risiko sedikitpun kehilanganmu."
Setelah melontarkan semua ketegasannya, tatapan tajam itu perlahan mereda kembali, berganti menjadi sorotan yang dalam dan penuh rasa memiliki yang sangat kuat. Cengkeramannya pun melunak seketika, berubah menjadi usapan lembut di atas bahu Alesha.
"Berhentilah menangis gadis manis ku, cuci muka dan makanlah dengan tenang. Jangan sampai Aku harus mengulang topik ini lagi hari ini, mengerti? Kalau kamu nurut dan mendengarkan, semuanya akan tetap baik-baik saja seperti biasanya, dan Aku akan berikan apa saja yang kamu inginkan selain hal yang membahayakan kita berdua."
Tanpa menunggu jawaban, Aiden berbalik badan dan melangkah keluar kamar dengan langkah yang tenang dan mantap, lalu menutup pintu dengan rapat namun tidak dibanting keras. Ia tetap berdiri beberapa saat di balik pintu, menarik napas panjang untuk menenangkan diri ,hatinya tetap terasa penuh dengan rasa sayang yang mendalam, tapi keyakinannya tidak tergoyahkan sedikitpun,ia tidak akan merasa bersalah melarang sekolah, karena menurut logikanya sendiri, menjaga Alesha tetap di bawah pengawasannya adalah cara paling nyata untuk mencintainya.
Sementara itu di dalam kamar, Alesha hanya bisa terduduk lemas di atas kasur sambil tetap memeluk erat boneka kesayangannya. Ia makin menyadari pola yang selalu berulang tanpa henti ,Aiden bisa menjadi sosok paling lembut, sayang dan tidak kejam, tapi bisa langsung berubah dingin dan tajam tepat saat ia berani melawan keinginannya ,dan sikap itu tidak pernah disertai rasa bersalah, karena baginya, semua itu adalah wujud obsesi dan kasih sayang yang ia yakini paling benar.
Bersambung.
Thank you yang sudah baca cerita oyen 😊