Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Mesin Bombardier Global 7500 meraung membelah malam bersalju di atas Courchevel, membawa pulang sang ratu yang tertunduk lesu di bawah pengawasan mutlak sang raja. Di dalam kabin pribadi yang hangat, Percy duduk meringkuk di sudut sofa dengan selimut kasmir melilit tubuh mungilnya. Matanya yang amber menatap kosong ke arah cangkir teh chamomile yang mengepulkan uap tipis, sementara pikirannya masih berdengung mengingat dinginnya tatapan Hades di chalet tadi.
Di seberang kabin, Hades duduk dengan tenang sambil membaca laporan keuangan digital di layar tabletnya. Sesekali, pria itu melirik sang istri, memastikan Percy tidak merencanakan aksi pelarian konyol lainnya. Tyche, yang duduk beberapa kursi di belakang mereka, hanya bisa menggelengkan kepala pelan, memberikan isyarat lewat tatapan mata seolah berkata, 'Sudahlah, Percy, kali ini kau benar-benar kalah.'
Percy mendengus pelan, membuang muka ke arah jendela kaca yang menampilkan hamparan awan gelap gulita di bawah sana. "Kalah telak," gumamnya pelan, merutuki nasibnya yang harus kembali menjadi burung dalam sangkar emas.
Tiga belas jam kemudian, jet pribadi tersebut mendarat di landasan khusus milik pribadi di pinggiran New York. Udara malam kota metropolitan menyambut mereka dengan lampu-lampu neon yang membentang luas. Tanpa membuang waktu, sebuah mobil limusin hitam berlapis baja telah bersiap di bawah tangga pesawat.
Perjalanan menuju mansion Sterling di Manhattan terasa begitu sunyi. Percy memilih untuk menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil, mengabaikan kehadiran Hades yang duduk tepat di sampingnya dengan aura dominasi yang pekat.
Begitu mobil berhenti di depan pintu utama mansion megah bergaya klasik modern tersebut, para pelayan berbaris rapi menyambut kedatangan sang tuan dan nyonya besar. Hades keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangan besarnya untuk membantu Percy turun. Mau tidak mau, Percy menyambut uluran tangan itu, membiarkan jemari dingin sang suami membimbingnya masuk ke dalam lobi marmer yang menjulang tinggi.
"Kamar tidur utama," perintah Hades datar kepada kepala pelayan wanita yang langsung membungkuk hormat. "Dan pastikan semua koper Nyonya dibongkar malam ini juga."
Percy mengerucutkan bibirnya, menatap tajam ke arah Hades. "Kau memperlakukanku seperti tahanan rumah, Hades!"
Hades menghentikan langkahnya, lalu menoleh menatap sang istri. Sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyuman tipis yang mematikan. "Bukan tahanan rumah, Ma chérie," bisik Hades tepat di depan telinga Percy dengan suara berat yang menggetarkan dada. "Kau adalah ratu di istanamu sendiri. Hanya saja... istana ini memiliki batas dinding yang tidak boleh kau lewati tanpa izinku."
Sebelum Percy sempat membalas dengan protes pedasnya, Hades sudah menarik pinggang mungilnya lembut namun tegas, membawanya menaiki tangga melingkar menuju lantai atas.
Di tempat terpisah, jauh dari kemewahan mansion Sterling, sebuah apartemen mewah di pusat Manhattan diterangi oleh cahaya remang-remang dari layar komputer jinjing.
Iris Montgomery mondar-mandir di dalam ruangannya dengan gelisah. Ia baru saja mendapatkan informasi dari salah satu orang dalam di lingkaran bisnis bahwa Hades Sterling telah kembali dari Eropa bersamaan dengan kembalinya sang istri misterius yang selama ini disembunyikan dari publik.
Rasa iri dan ambisi yang membara membuat dada Iris sesak. Ia tidak bisa tinggal diam. Jika Hades terus melindungi istrinya dalam bayang-bayang, maka ia harus memaksa terang itu datang dengan cara kotor.
Iris meraih ponselnya, menghubungi seorang jurnalis gosip papan atas yang selama ini menjadi kaki tangannya.
"Aku punya cerita besar untukmu," bisik Iris dengan senyuman licik terukir di bibirnya. "Katakan pada publik bahwa Hades Sterling sebenarnya tidak terikat pernikahan sah dengan siapa pun, dan bahwa aku... adalah satu-satunya wanita yang sedang mempersiapkan diri untuk mendampingi tahta Sterling Global."
Iris tahu ia sedang bermain dengan api. Namun, di dalam kepalanya yang dipenuhi obsesi buta, ia percaya bahwa dengan memancing kemarahan sang miliarder ke permukaan publik, ia bisa meruntuhkan benteng pertahanan Persephone Sinclair untuk selamanya.
Sinar keemasan matahari sore menembus jendela kaca besar kamar tidur utama mansion Sterling, menyinari hamparan seprai sutra tempat Percy duduk bersila. Wanita mungil itu tampak sangat serius, jemari lentiknya menari-nari di atas layar iPad pro miliknya. Alisnya yang tipis berkerut samar, sementara bibir kecil ranumnya menggigit ujung jari telunjuk tanda khas bahwa otak liciknya sedang merangkai sebuah rencana kenakalan tingkat tinggi.
Di layar tabletnya terpampang jelas artikel gosip murahan yang kembali dinaikkan oleh media berkat ulah Iris Montgomery. Headline besar dengan foto edisi lama Iris di lobi gedung Sterling terpampang menyebalkan. Namun, alih-alih mengamuk atau melempar barang seperti dugaan kebanyakan orang, wajah Percy justru dihiasi oleh senyuman penuh seringai nakal. Lesung pipinya tercetak dalam di kedua pipinya, memancarkan aura 'cegil' yang siap meledak kapan saja.
Percy mengabaikan rasa kesalnya dan beralih membuka aplikasi kalender digital. Matanya meneliti satu per satu jadwal formal yang wajib ia hadiri selama berada di New York mulai dari jamuan amal kaum elit, malam penggalangan dana museum seni, hingga gala tahunan para konglomerat papan atas. Acara-acara yang menuntutnya untuk tampil sempurna sebagai seorang pewaris sah keluarga bangsawan Sinclair dari Italia, sekaligus sebagai Nyonya Sterling yang selama ini sengaja disembunyikan dari sorotan publik luas.
Jemarinya berhenti pada satu tanggal merah di akhir pekan ini, sebuah malam amal bergengsi di Manhattan yang dipastikan akan dihadiri oleh para pesohor, sosialita, dan... aktris papan atas yang tengah naik daun karena haus sensasi.
Bingo, batin Percy bersorak girang.
Ia tidak akan membiarkan aktris silikon itu terus-menerus bermain-main di atas panggung tanpa perlawanan. Jika Iris ingin mencari panggung dan memancing singa keluar dari sarangnya, maka Percy akan memberikan panggung terbesar yang pernah diimpikan wanita itu lalu meruntuhkannya dalam satu malam yang elegan.
Tanpa membuang waktu, Percy meraih ponselnya dan langsung mendial nomor sahabat setianya.
"Tyche!" bisik Percy dengan nada penuh semangat begitu sambungan terhubung. "Kau sudah lihat berita sampah hari ini? Bagus. Lupakan rencana kita kabur ke Karibia minggu ini. Kita punya agenda yang jauh lebih menarik di New York. Aku akan membuat aktris teater murahan itu menyesal lahir di bumi."
Di ujung sambungan, tawa renyah Tyche langsung terdengar penuh antisipasi. "Aku mendengarkan, darling. Apa rencana gilamu kali ini?"
Di sudut ruangan kamar yang sama, tepat di depan perapian buatan yang menyala hangat, Hades Sterling duduk bersandar santai di atas sofa kulit hitam tunggal. Di tangan kanannya, sebuah gelas kristal berisi bourbon bergoyang perlahan, memantulkan cairan amber keemasan di bawah pencahayaan temaram.
Pria itu sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari sosok sang istri.
Hades mendengus geli sebuah suara bariton rendah yang sarat akan kehangatan dan rasa kagum yang amat sangat. Di mata dunia, Hades Sterling adalah penguasa bisnis tanpa ampun yang ditakuti oleh para rival korporatnya. Namun di dalam dinding mansion ini, hiburan terbaik di dunia baginya adalah melihat ekspresi wajah Percy yang berubah-ubah dari merajuk kesal, menggigit bibir, hingga menyeringai licik seperti rubah kecil yang merencanakan kejahatan di sarang ayam.
Hades tahu betul gelagat itu. Burung kecilnya tidak mungkin menyerah begitu saja setelah dipaksa pulang dari Courchevel. Percy sedang merencanakan sesuatu sebuah kekacauan kecil yang manis, destruktif, dan pastinya sangat menghibur untuk disaksikan.
Hades menyesap minumannya perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang hanya bisa disaksikan oleh dinding kamar pribadi mereka. Ia tidak berniat menghentikannya. Selama sang istri tetap berada dalam batas kendalinya dan tidak mencoba melarikan diri lagi, Hades dengan senang hati akan membiarkan Percy menjadi sutradara dari drama kecil yang akan segera mengguncang kalangan elit New York dalam beberapa hari ke depan.