Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Yang Menegangkan
Bab 9
Karin sama sekali tidak bisa berkonsentrasi selama perkuliahan hari itu.
Berkali-kali dosen memanggil namanya karena ia tidak menyadari bahwa materi sudah berganti. Untung saja Nia diam-diam menyenggol lengannya setiap kali dosen mulai memperhatikan ke arahnya.
"Karin."
"Hm?"
"Kamu kenapa sih?" bisik Nia.
"Nggak apa-apa."
"Bohong." Nia menyipitkan mata. "Dari tadi kamu melamun terus."
Karin hanya tersenyum tipis. Ia tidak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mana mungkin ada orang yang percaya kalau ia adalah seseorang yang telah mati, lalu kembali ke masa lalu untuk mengubah takdir?
Bel pulang akhirnya berbunyi. Mahasiswa mulai berhamburan keluar kelas.
"Karin."
Suara Kai terdengar dari depan pintu. Seisi kelas langsung menoleh karenanya.
"Eh, itu Kai."
"Dia nyari Karin?"
"Sejak kapan mereka akrab?"
Bisik-bisik kembali terdengar.
Kai sama sekali tidak memedulikannya.
"Ayo. Kita berangkat."
Karin mengangguk pelan.
"Iya."
Nia melongo melihat keduanya berjalan bersama.
"Karin!" panggilnya. "Nanti cerita, ya!"
Karin hanya melambaikan tangan sambil tersenyum kecil.
-
-
-
Sepanjang perjalanan menuju rumah Karin, suasana di dalam bus cukup sepi. Kai duduk di samping jendela, sementara Karin duduk di sebelahnya.
Tak ada satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan. Justru keheningan itulah yang membuat Karin semakin gugup.
"Kai."
"Hm?"
"Kamu yakin mau ikut?"
Kai menoleh.
"Kenapa?"
"Aku takut nanti kamu jadi ikut kena masalah."
Kai tersenyum tipis.
"Aku cuma datang makan malam. Kalau ternyata orang tuamu tidak suka, ya tinggal pulang."
"Sesederhana itu?"
"Iya."
Karin menggeleng pelan.
"Seandainya sesederhana itu."
Kai memperhatikan wajah Karin beberapa saat.
"Kamu benar-benar takut sama laki-laki itu?"
Karin tahu yang dimaksud adalah Gio.
"Iya."
"Dia pernah nyakitin kamu?"
Pertanyaan itu membuat Karin membeku. Ia ingin menjawab iya. Sangat ingin.
Namun semua itu belum terjadi di kehidupan ini.
Kalau ia mengatakan yang sebenarnya, Kai pasti menganggapnya mengarang cerita.
"Aku...cuma punya firasat."
Kai mengangguk pelan.
Meski jawaban itu terdengar aneh, entah kenapa ia memilih untuk tidak memaksa.
-
-
-
Setengah jam kemudian...
Bus berhenti tidak jauh dari rumah Karin.
"Rumahku di depan."
Mereka berjalan berdampingan melewati deretan rumah yang tertata rapi. Baru beberapa langkah, Karin langsung menghentikan langkahnya.
Sebuah mobil hitam sudah terparkir di depan rumah.
Mobil Gio.
"Dia datang lebih cepat."
Wajah Karin langsung pucat.
Kai mengikuti arah pandang Karin.
"Itu mobilnya?"
"Iya."
"Berarti kita jangan bikin mereka nunggu."
Jawaban santai Kai justru membuat Karin semakin gugup.
"Kamu kok tenang banget?"
"Karena aku tidak melakukan kesalahan."
Kai lalu berjalan lebih dulu menuju rumah.
Karin hanya bisa menarik napas panjang sebelum menyusul.
-
-
-
"Pulang!"
Suara Hesti terdengar begitu pintu dibuka. Entah apa yang di bicarakan sebelumnya di dalam. Namun senyumnya langsung melebar saat melihat seorang pemuda berdiri di samping Karin.
"Ini..."
Karin menggenggam kedua tangannya erat.
"Ma...Ini Kai."
Hesti tampak terkejut. Lalu senyumnya kembali merekah.
"Jadi ini Kai?"
"Iya, Tante." Kai menganggukkan kepala dengan sopan. "Perkenalkan, saya Kai."
"Masuk... masuk dulu."
Hesti tampak begitu ramah.
Begitu memasuki ruang tamu, suasana mendadak menjadi sunyi. Pak Wirawan yang sedang duduk bersama Gio langsung berdiri.
Sementara Gio...
Tatapannya berhenti tepat pada Kai. Lalu beralih kepada Karin.
"Papa." Karin berusaha terdengar tenang. "Ini Kai."
Pak Wirawan tersenyum lebar.
"Jadi kamu Kai?"
"Iya, Om."
Kai menjabat tangan Pak Wirawan dengan sopan.
"Terima kasih sudah mengundang saya."
Pak Wirawan mengangguk puas.
"Anak muda harus begini. Sopan."
Karin sedikit mengembuskan napas lega. Setidaknya kesan pertama Kai cukup baik.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Gio berdiri sambil mengulurkan tangan.
"Halo. Aku Giorgino. Panggil saja, Gio."
Kai menyambut uluran tangan itu.
"Kai."
Hanya satu kata.
Singkat.
Dingin.
Namun cukup membuat kedua pria itu saling menatap beberapa detik.
Entah mengapa, Karin merasa udara di ruang tamu mendadak berubah lebih berat.
-
-
-
Makan malam berlangsung sekitar tiga puluh menit kemudian. Semua duduk mengelilingi meja makan. Dan Hesti beberapa kali mengambilkan lauk untuk Kai.
"Coba ayamnya, Nak."
"Masakan Tante enak. Terima kasih, Tante."
Melihat Kai makan dengan sopan dan tidak banyak bicara, Pak Wirawan tampak semakin menyukainya.
"Kai kuliah satu kampus sama Karin?"
"Iya, Om."
"Jurusannya juga sama?"
"Tidak."
"Saya teknik mesin."
"Oh..."
Pak Wirawan mengangguk.
"Lalu orang tua kamu kerja apa?"
Pertanyaan itu membuat Kai berhenti mengunyah. Beberapa detik ia terdiam.
"Ibu saya sudah meninggal."
Pak Wirawan dan Hesti saling berpandangan.
"Maaf. Om tidak tahu."
"Tidak apa-apa."
"Kalau ayah?"
Kai tersenyum tipis.
"Saya tidak mengenalnya."
Suasana mendadak menjadi hening. Hesti menatap Kai dengan penuh iba.
"Kamu tinggal sama siapa sekarang?"
"Sendiri."
"Biaya kuliah?"
"Saya kerja sambilan."
Jawaban-jawaban Kai terdengar singkat. Namun justru membuat Pak Wirawan semakin menghormatinya.
"Hebat. Masih muda sudah mandiri."
Gio yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.
"Berarti hidupmu cukup berat."
Kai menoleh.
"Mungkin. Tapi saya sudah terbiasa."
Gio tersenyum kecil.
"Luar biasa."
Meski terdengar seperti pujian, Karin menangkap sesuatu dalam nada bicara Gio. Pria itu sedang menilai Kai. Mengukur apakah Kai layak menjadi saingannya.
Setelah makan malam selesai, mereka kembali ke ruang tamu.
Pak Wirawan mulai bertanya tentang hubungan Kai dan Karin.
"Jadi..., sudah berapa lama kalian pacaran?"
Deg.
Jantung Karin langsung berdegup kencang. Pertanyaan yang paling ia takutkan akhirnya keluar juga.
Ia melirik Kai. Pria itu tampak tetap tenang.
"Belum lama, Om." Kai menjawab lebih dulu. "Kami masih saling mengenal."
Karin menatap Kai dengan mata membesar. Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong. Namun juga tidak membenarkan kalau mereka benar-benar berpacaran.
Pak Wirawan tersenyum.
"Bagus. Kalau memang serius, saling mengenal dulu."
Gio menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Lalu.., siapa yang menyatakan cinta duluan?"
Ruangan kembali sunyi. Karin mulai panik. Pertanyaan itu tidak pernah mereka persiapkan.
Kai memandang Karin sekilas. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
"Sebenarnya...sampai sekarang saya belum sempat menyatakan perasaan."
Semua orang terkejut.
"Belum?" tanya Hesti.
Kai mengangguk.
"Saya masih ingin membuktikan kalau saya pantas untuk Karin."
Jawaban itu membuat Pak Wirawan tersenyum bangga. Sementara Hesti tampak terharu.
Hanya Karin yang membeku. Ia sama sekali tidak menyangka Kai mampu menjawab sehalus itu.
Di sisi lain, wajah Gio perlahan mengeras.
Untuk pertama kalinya, ia merasa sedang kalah. Dan perasaan itu tidak ia sukai.
Gio berdiri sambil tersenyum tipis.
"Om, Tante. Sepertinya saya harus pamit dulu."
Pak Wirawan ikut berdiri.
"Baik, hati-hati di jalan."
Sebelum keluar, Gio berhenti tepat di depan Kai.
"Kapan-kapan kita ngobrol."
Kai membalas tatapannya tanpa gentar.
"Boleh. Kapan saja."
Keduanya saling tersenyum. Namun senyum itu sama sekali tidak terasa hangat.
Karin melihat semuanya dengan jantung berdegup semakin cepat. Ia tahu tatapan seperti itu. Tatapan dua orang pria yang baru saja menyatakan perang... tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
-
-
-
Bersambung...