NovelToon NovelToon
SKENARIO KEHANCURAN UNTUK SUAMIKU

SKENARIO KEHANCURAN UNTUK SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
​Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.

​Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.

​"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skenario

​Sinar matahari pagi menembus kaca jendela ruang kerjaku di lantai dua puluh gedung Glowinc Tower. Dari ketinggian ini, pemandangan kota Jakarta tampak begitu padat dan sibuk. Aku memiringkan cangkir porselen putih di tanganku, menyesap kopi hitam tanpa gula perlahan. Rasa pahit yang pekat menyapu lidahku, memberikan kesegaran yang sempurna untuk memulai hari yang kuharapkan akan menjadi hari paling kacau dalam hidup Aris Pratama.

​Pukul 08.55 WIB.

​Suara ketukan pintu kayu jati yang kokoh memecah keheningan ruang kerjaku.

​"Masuk," kataku tenang tanpa membalikkan badan dari pemandangan kota.

​Siska melangkah masuk dengan anggun. Penampilannya selalu rapi dengan setelan blazer hitam yang dipadu dengan kemeja putih. Ia membawa sebuah tablet di tangan kirinya dan map dokumen tipis di tangan kanannya.

​"Selamat pagi, Bu Tita," sapa Siska profesional.

​"Selamat pagi, Siska. Bagaimana perkembangannya?" tanyaku sembari membalikkan badan dan berjalan menuju meja kerja besarku.

​Siska mengulas senyum tipis yang penuh arti. "Sesuai perintah Ibu, tepat pukul delapan setengah pagi tadi, surat pembatalan kerja sama penjaminan dan pembayaran dari pihak Glowinc Group sudah secara resmi diserahkan kepada tiga distributor utama bahan baku Aris Kitchen. Kurir kita telah memastikan bahwa dokumen penarikan dana jaminan deposit itu sudah diterima langsung oleh pemilik distributor daging, sayuran organik, dan bahan kering."

​Aku menyandarkan punggungku di kursi kulit hitamku yang nyaman, menopang dagu dengan kedua tangan yang bersedekap di atas meja. "Bagaimana reaksi para distributor itu, Siska?"

​"Mereka panik, Bu," jawab Siska dengan nada datar, namun ada kilat kepuasan di matanya. "Selama ini, para distributor mau memberikan kelonggaran pembayaran hingga tiga bulan kepada Aris Kitchen murni karena adanya garansi penjaminan atas nama pribadi Ibu dan nama besar Glowinc Group. Begitu jaminan itu dicabut dan dibatalkan, risiko kredit Aris Kitchen langsung meroket ke level bahaya. Menurut informasi dari orang kita di lapangan, pihak distributor daging bahkan langsung menyetop seluruh armada truk pengiriman bahan baku yang rencananya akan dikirim ke lima cabang restoran Pak Aris pagi ini."

​Aku menaikkan sebelah alisku. "Menyetop pengiriman? Artinya hari ini lima cabang restoran itu tidak memiliki pasokan bahan baku segar sama sekali?"

​"Tepat sekali, Bu. Tanpa bahan baku utama dari distributor resmi, dapur restoran tidak akan bisa beroperasi penuh untuk jam makan siang dan makan malam nanti," jelas Siska rinci. "Dan yang lebih menariknya lagi, para pemilik distributor saat ini sedang bergerak menuju kantor pusat Aris Kitchen untuk menuntut penagihan seluruh sisa utang berjalan yang totalnya mencapai delapan ratus juta rupiah, yang harus dilunasi secara tunai sebelum hari berakhir."

​Aku tersenyum sangat dingin. Delapan ratus juta rupiah utang bahan baku, ditambah ancaman penarikan sertifikat ruko senilai tiga miliar rupiah oleh Bank Yudha kemarin. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, dunia bisnis yang dibangun Aris menggunakan namaku dan uangku mulai runtuh berantakan seperti susunan kartu yang diterpa angin kencang.

​"Kerja yang sangat bersih, Siska," pujiku tulus. "Lalu, bagaimana dengan pergerakan suami tercintaku?"

​"Pak Aris baru saja keluar dari restoran nya dengan terburu-buru tiga puluh menit yang lalu setelah menerima telepon bertubi-tubi dari para manajer cabangnya. Dan menurut laporan resepsionis lantai bawah..." Siska melirik tabletnya sejenak, "...sebuah mobil Honda CR-V hitam milik Pak Aris baru saja memasuki area parkir VIP gedung kita dua menit yang lalu. Beliau tampak sangat emosional dan saat ini sedang menuju lift utama ke lantai ini."

​Aku terkekeh pelan. Pria itu benar-benar tertebak. Saat diterpa masalah besar, bukannya menyelesaikan masalahnya sendiri sebagai seorang pengusaha yang katanya mandiri, dia justru akan lari dan mendatangi istri kayanya untuk memohon perlindungan dan keajaiban.

​"Biarkan dia masuk," kataku sembari merapikan tumpukan berkas di mejaku.

"Tapi pastikan para pengawal di luar pintu ruang kerjaku tetap bersiap. Aku tidak mau dia melakukan tindakan bodoh yang bisa merusak perabotan mahalku."

​"Baik, Bu Tita." Siska membungkuk sopan lalu melangkah menuju pintu.

​Belum sempat Siska memutar gagang pintu, pintu ganda ruang kerjaku tiba-tiba didorong dari luar dengan kasar.

​Brak!

​Aris menerobos masuk tanpa memedulikan dua petugas keamanan kantor yang berusaha menahannya di ambang pintu. Penampilannya pagi ini benar-benar mencerminkan seorang pria yang berada di ambang kegilaan. Kemeja kerjanya tidak dikancingkan dengan benar, matanya merah menyala karena kurang tidur dan amarah, sementara napasnya memburu kasar.

​"Pak Aris, mohon maaf Anda tidak bisa langsung masuk tanpa janji" tegur salah satu petugas keamanan dengan tegas.

​"Kalian diam! Ini istri saya! Saya punya hak untuk menemui istri saya kapan saja!" bentak Aris dengan suara melengking penuh kepanikan yang teramat sangat. Ia mengibaskan tangan para petugas keamanan dengan kasar, lalu melangkah lebar-lebar menuju mejaku.

​Aku memberikan sinyal tangan pelan kepada dua petugas keamanan itu agar mereka mundur dan membiarkan Aris mendekat. "Tidak apa-apa, Pak. Kalian bisa menunggu di luar pintu. Siska, tolong tutup pintunya."

​"Baik, Bu," sahut Siska tenang sembari menarik pintu ganda itu hingga tertutup rapat, mengisolasi kami berdua di dalam ruangan yang luas dan dingin ini.

​Aris berdiri di depan meja kerjaku, memegangi pinggiran meja kayu jati dengan kedua tangannya yang gemetar hebat. Dadanya naik turun tidak teratur.

​"Tita! Apa-apaan semua ini?!" bentak Aris dengan nada frustrasi yang membuncah. tangannya menunjuk-nunjuk ke arahku dengan liar. "Apa maksud dari surat pembatalan jaminan suplier yang dikirimkan oleh perusahaanmu pagi ini?! Kamu tahu apa yang baru saja terjadi?! Semua distributor bahan baku menghentikan pengiriman ke restoranku! Mereka menagih utang delapan ratus juta rupiah sekarang juga! Restoranku bisa tutup hari ini juga, Tita!"

​Aku menatap Aris dengan pandangan mata yang lebar, pura-pura terkejut dan sangat terguncang mendengar berita yang dibawakannya. Aku buru-buru berdiri dari kursiku, melangkah mengitari meja kerja, lalu mendekatinya dengan wajah yang penuh kecemasan.

​"Ya ampun, Mas Aris! Kamu bicara apa?" kataku dengan suara yang dibuat bergetar panik. Aku mencoba menyentuh lengannya, namun dia mengibaskan tangannya dengan kasar karena emosi. aku tetap memasang raut wajah terluka dan panik yang sempurna. "Distributor menghentikan pengiriman? Bagaimana bisa? Mas, demi Tuhan aku tidak tahu apa-apa soal surat itu!"

​"Jangan berbohong, Tita!" teriak Aris, suaranya memenuhi setiap sudut ruang kerjaku. "Surat itu dikeluarkan secara resmi oleh divisi keuangan Glowinc Group! Ada stempel dan tanda tangan manajer keuanganmu di sana! Siapa lagi yang menyuruh mereka kalau bukan kamu?!"

​Aku menutup mulutku dengan kedua tangan, mataku mendadak berkaca-kaca seolah-olah aku adalah korban ketidakadilan yang paling menyedihkan di dunia ini.

​"Mas... demi Tuhan, aku tidak pernah menyuruh mereka membatalkan jaminan suplier bisnismu!" tangisku pecah sebuah tangisan palsu yang begitu lihai kuolah di balik topeng kepura-puraan ini. "Mas ingat kan kemarin malam aku bilang apa? Perusahaan kita sedang diaudit ketat oleh tim eksternal dan pihak pajak demi ekspansi ke luar negeri! Tadi pagi, dewan komisaris dan manajer keuangan mengadakan rapat darurat tanpa sepengetahuanku. Mereka menemukan bahwa jaminan dana Glowinc Group yang mengalir ke bisnis Aris Kitchen dianggap sebagai transaksi berisiko tinggi yang tidak memiliki imbal hasil saham bagi perusahaan kita!"

​Aris mematung, amarah di wajahnya mendadak berbenturan dengan kebingungan yang sangat besar. "R-rapat darurat? Dewan komisaris?"

​"Iya, Mas!" aku maju satu langkah, memberanikan diri menggenggam jemarinya yang dingin dan gemetar. Aku menatap matanya yang merah dengan pandangan memohon yang begitu tulus di permukaannya. "Manajer keuanganku bilang, jika jaminan perusahaan untuk pihak ketiga yang tidak memiliki saham resmi di Glowinc tidak segera ditarik hari ini, pihak auditor akan membekukan seluruh izin operasional perusahaan kita! Mereka menuduhku melakukan penyalahgunaan aset perusahaan untuk kepentingan pribadi suamiku!"

​"Tapi Tita... itu bisnismu! Kamu CEO di sini! Kamu yang punya saham terbesar!" Aris berseru, mencoba mencari celah hukum untuk menyelamatkan dirinya.

"Kamu tinggal perintahkan manajer keuanganmu untuk membatalkan surat itu! Bilang ke dewan komisaris kalau kamu yang bertanggung jawab penuh!"

​Aku menggelengkan kepala dengan cepat, mengusap air mata palsu yang menetes di pipiku dengan punggung tangan.

​"Aku tidak bisa, Mas... aku tidak bisa melakukan itu," bisikku dengan suara lirih yang sarat akan penyesalan buatan. "Jika aku memaksakan diri membatalkan surat itu dan melanggar aturan dewan komisaris, mereka punya hak hukum untuk mencopot jabatanku sebagai CEO! Jika jabatanku dicopot dan asetku dibekukan oleh pihak pajak, dari mana lagi kita bisa hidup, Mas? Dari mana aku bisa membiayai kebutuhan rumah tangga kita, membiayai rumah Mama mu dan memberikan uang bulanan untuk keluargamu?"

​Mendengar kata-kata pencopotan jabatan dan pembekuan asetku, Aris tampak terpukul telak. Seluruh argumen dan amarahnya mendadak runtuh tak berbekas. Logikanya yang picik langsung bekerja, "Jika aku jatuh dan kehilangan kekayaanku, maka seluruh sumber fasilitas mewah yang dinikmatinya selama ini akan musnah tak tersisa."

​Pria benalu itu tidak menyadari bahwa semua dewan komisaris dan peraturan audit itu hanyalah benteng fiktif yang sengaja kubangun untuk menguncinya di sudut ring tanpa jalan keluar. Aku adalah pemilik tunggal dan pemegang saham mayoritas mutlak di perusahaan ini. Tidak ada satu orang pun di Glowinc Group yang berani mengatur keputusanku kecuali diriku sendiri yang sedang ingin menghancurkannya.

​"J-jadi... jadi tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk membatalkan surat itu?"

tanya Aris dengan suara yang mendadak mengecil, lemas, dan kehilangan daya.

​"Aku sudah memohon-mohon pada manajer keuangan tadi pagi, Mas. Sampai aku menangis di depan mereka," dustaku sembari menundukkan kepala dengan raut bersalah yang mendalam. "Tapi mereka memberikan syarat yang sangat berat jika Aris Kitchen ingin jaminan itu dikembalikan."

​Mata Aris yang redup mendadak kembali berbinar oleh sisa-sisa harapan yang menyedihkan. Ia memegang kedua bahuku dengan erat, menatapku tidak sabar.

"Syarat? Syarat apa, Tita?! Katakan pada Mas! Apapun syaratnya akan Mas penuhi!"

​Aku mendongak, menatap wajah suamiku dengan pandangan manis yang menyembunyikan racun paling mematikan.

​"Dewan komisaris bilang, Glowinc Group hanya bisa memberikan penjaminan modal dan jaminan suplier jika Aris Kitchen menyerahkan lima puluh satu persen kepemilikan saham dan seluruh sertifikat aset restorannya kepada Glowinc Group sebagai jaminan induk perusahaan," jelasku pelan, memberikan umpan mematikan yang sudah kusiapkan sejak awal. "Dengan begitu, Aris Kitchen secara resmi menjadi anak perusahaan kami, dan auditor pajak tidak akan bisa mengganggu aliran danamu lagi."

​Aris terperanjat, matanya membelalak lebar. "Menyerahkan lima puluh satu persen saham dan sertifikat aset? T-tapi Tita... kalau begitu, Aris Kitchen bukan lagi milikku sepenuhnya! Aku cuma akan jadi manajer operasional biasa di sana!"

​Memang, Mas. Bahkan kamu tidak akan jadi apa-apa setelah aku melemparkanmu ke dalam penjara nanti, bisikku di dalam hati dengan kegembiraan yang luar biasa.

​"Aku tahu itu berat untukmu, Mas," aku mengelus dadanya yang naik turun, berpura-pura memberikan ketenangan. "Tapi hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan restoransmu dari kebangkrutan hari ini. Jika kamu menyerahkan lembar saham dan aset itu hari ini, Glowinc Group akan langsung menyuntikkan dana segar empat miliar rupiah ke rekening Aris Kitchen jam dua siang nanti. Kamu bisa melunasi utang suplier delapan ratus juta itu, dan melunasi sisa pinjaman ruko di Bank Yudha tanpa perlu pusing lagi."

​Empat miliar rupiah dana segar. Umpan yang begitu manis, begitu besar, dan begitu menggiurkan bagi seorang pria yang saat ini sedang tenggelam di laut utang dan panik luar biasa.

​Aris memegang kepalanya dengan kedua tangan. Tampak jelas pergulatan batin yang sangat hebat di dalam pikirannya. Di satu sisi, harga dirinya sebagai pemilik tunggal Aris Kitchen menolak untuk menyerahkan kontrol bisnisnya kepadaku.

Namun di sisi lain, bayang-bayang kejaran para distributor bahan baku yang mengamuk, ancaman penyitaan ruko oleh Bank Yudha, serta kebangkrutan total lima cabang restorannya berada tepat di depan matanya.

​Jika restorannya tutup hari ini, bagaimana dia bisa membayar biaya sewa apartemen mewah Larasati? Bagaimana dia bisa membiayai calon anak yang sedang dikandung istri sirinya itu? Bagaimana dia bisa memberi makan Mamanya yang serakah?

​"Bagaimana, Mas?" tanyaku lembut, menyuntikkan dorongan psikologis terakhir ke dalam kepalanya yang hampir pecah. "Aku memberikan penawaran ini murni karena aku sangat mencintaimu dan ingin menyelamatkan bisnismu. Surat pengalihan saham dan akuisisi aset sudah disiapkan oleh tim hukumku di meja ini. Kamu hanya perlu menandatanganinya sekarang, dan masalahmu selesai sebelum jam makan siang."

​Aris menatap map dokumen tebal bermaterai yang tergeletak di atas meja kerjaku. Tangannya yang gemetar perlahan-lahan terulur mendekati map tersebut, seolah tertarik oleh magnet yang tak terelakkan.

​"Kamu... kamu janji kan, Tita, kalau setelah ini restoranku akan aman dan dana empat miliar itu akan langsung cair?" tanya Aris dengan nada memohon yang sangat menyedihkan.

​"Aku bersumpah atas nama cinta dan pernikahan kita lima tahun ini, Mas," jawabku dengan senyum paling tulus dan mata yang berbinar penuh kehangatan. "Restoranmu akan aman di tanganku. Aku tidak akan membiarkan suamiku yang hebat ini hancur."

​Aris meraih pena berkualitas tinggi yang terletak di samping map tersebut. Tanpa membaca detail klausul-klausul hukum di dalam dokumen setebal lima puluh halaman itu klausul yang di dalamnya terselip pasal pengalihan seluruh hak kekayaan intelektual, nama merek, dan hak eksekusi penyitaan pribadi jika ditemukan adanya indikasi penipuan rumah tangga Aris dengan cepat menggoreskan tanda tangannya di atas materai sepuluh ribu rupiah pada beberapa lembar halaman.

​Sret. Sret. Sret.

​Suara gesekan pena di atas kertas itu terasa seperti musik klasik yang paling indah di telingaku. Setiap goresan tinta hitam itu adalah paku terakhir yang menancap rapat pada peti mati karier, bisnis, dan masa depan Aris Pratama. Pria bodoh ini baru saja menyerahkan seluruh aset yang pernah ia bangun menggunakan uangku, kembali ke dalam genggamanku tanpa tersisa satu sen pun.

​"Sudah... sudah Mas tanda tangani semua, Tita," kata Aris dengan napas lega yang berat, meletakkan kembali pena itu ke atas meja. Ia menatapku dengan mata yang penuh Harapan palsu. "Tolong urus pencairan dana empat miliar itu sekarang, Sayang. Distributor sudah menunggu di kantorku."

​Aku mengambil dokumen itu, membolak-balik halamannya dengan teliti untuk memastikan seluruh tanda tangan dan stempel telah terpasang dengan sempurna, lalu menyerahkannya kepada Siska yang mendadak muncul di sampingku dengan sangat sigap.

​"Siska, bawa dokumen akuisisi resmi ini ke divisi legal dan simpan sertifikat aslinya di brankas utama," perintahku dengan nada suara yang perlahan berubah dari lembut menjadi sangat dingin dan tegas.

​Aris mendongak, agak terkejut mendengar perubahan nada suaraku yang begitu drastis dalam hitungan detik. "T-Tita? Soal pencairan dana empat miliar itu bagaimana? Kapan dikirim ke rekeningku?"

​Aku berjalan kembali ke balik meja kerjaku, mendudukkan diriku di kursi kulit hitamku dengan anggun, memiringkan kepala sembari menatap suamiku dengan tatapan dingin tanpa ekspresi tatapan seorang CEO yang sedang melihat seekor serangga kecil di atas mejanya.

​"Pencairan dana?" aku mengulas senyum tipis yang begitu mengerikan. "Tentu saja akan diproses oleh divisi keuangan, Mas. Tapi berdasarkan prosedur standar pencairan dana akuisisi perusahaan baru, tim auditor kami harus melakukan pemeriksaan fisik dan inventarisasi aset ke semua cabang Aris Kitchen terlebih dahulu."

​Dahi Aris berkerut dalam, rasa panik mendadak kembali merayapi dadanya. "Pemeriksaan fisik? Maksudmu bagaimana? Berapa lama prosesnya?!"

​"Tidak lama, Mas," jawabku santai sembari meminum kembali kopi hitamku yang mulai dingin. "Hanya butuh waktu sekitar tujuh hingga empat belas hari kerja. Jadi, kamu harus menunggu tim audit selesai bekerja sebelum dana empat miliar itu bisa ditransfer ke rekeningmu."

​"Tujuh sampai empat belas hari?!" Aris berteriak hysteris, matanya melotot hampir keluar dari kelopaknya. "Tita, kamu gila?! Suplier menuntut uang delapan ratus juta itu cair hari ini! Pihak bank memberi waktu tiga hari! Kalau harus menunggu dua minggu, restoranku sudah disegel dan hancur, Tita!"

​Aku meletakkan cangkir porselenku di atas meja dengan denting halus yang memecah ketegangan. Aku menatap pria pengkhianat di hadapanku dengan tatapan jijik yang tak lagi kututupi.

​"Itu kan masalah bisnismu, Mas Aris," kataku dengan nada datar yang teramat sangat dingin. "Bukan masalah Glowinc Group lagi. Tugasmu sekarang adalah mengatasi para suplier itu sendiri sembari menunggu proses audit kami selesai. Bukankah kamu selalu bangga bilang kalau kamu adalah pria sukses yang mandiri?"

​Aris membeku di tempatnya. Ia menatapku dengan pandangan tidak percaya, seolah-olah wanita yang duduk di hadapannya saat ini adalah sosok asing berhati dingin yang belum pernah ia temui selama lima tahun pernikahan mereka.

​"Tita... kamu... kamu menjebakku?!" bisik Aris dengan suara bergetar, wajahnya pucat pasi tanpa setetes darah pun.

​"Menjebakmu?" aku menyunggingkan senyum kemenangan yang paling tajam. "Aku hanya sedang menjalankan bisnis dengan sangat profesional, Suamiku Tercinta. Sekarang, silakan keluar dari ruang kerjaku. Aku masih punya banyak pekerjaan penting yang harus kuselesaikan daripada mendengarkan keluhan dari seorang manajer operasional biasa seperti dirimu."

​"Tita!" Aris mencoba melangkah maju hendak menggebrak mejaku, namun Siska dengan cepat memberi isyarat, dan dua petugas keamanan berbadan tegap langsung menerobos masuk, mengunci kedua tangan Aris di belakang punggungnya dengan cekatan.

​"Lepaskan aku! Tita! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Aku suamimu!" teriak Aris histeris sembari berontak, saat tubuhnya diseret paksa keluar dari ruang kerjaku oleh kedua petugas keamanan.

​"Selamat bekerja di hari pertama sebagai bawahan di perusahaanku, Mas Aris," gumamku lirih dengan senyuman dingin, saat pintu kayu jati itu tertutup rapat, membungkam suara teriakan frusatrasi pria benalu itu di koridor luar.

1
Noey Aprilia
Udh nebak dr awl kl felix emng ada rsa sm tita...kl ga mh,ga mngkn rela ninggalin smuanya dmi mmbela tita...ykin bgt kl smua prosesnya cpt krna cmpr tngan dia.....😁😁😁....
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
Noey Aprilia
Do'amu d kbulkn y jesika....bntr lg klian bkl ktmu sm mntan,bedanya sma2 jd gembel.....😛😛😛
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Wega Luna
babat habis orang kayak mereka yg maunya instan dan gratisan🤣🤣🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha nikmati saat terakhir kamu Reno, kamu dan mama kamu juga akan jadi gembel
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai, terima saja konsekuensinya 🤣🤣😂😂
Noey Aprilia
Nmanya hkum tabur tuai...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
Muft Smoker
dtggu season si Jessica tinggal di kolong jembatan kak 😒😒😒😒
Noey Aprilia
Ngsih mkan ank2nya dr hsil nipu sih,jdinya ya ky gt....yg 1 d sel,yg 1 mlah ga mau nampung emaknya....dfnisi hkum krma ta smnis kurma.....😛😛😛
Anita Rahayu
Thor adiknya masa gk kena miskin sih thor gk adil dong masa berat sebelah penebusan karmanya😤😤😤😤😤😤😤😤😤
blcak areng: sabar kak
total 1 replies
Noey Aprilia
Aku lg byangin....hkumn apa yg bkl mreka ksih????d gebukin dlu,atw pke balok gt...ga mngkn sling jmbak kn y,scra bkn emak2 yg lg lbrak pelakor.....🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
waah semoga jantung si Aris Bae Bae aj ,,
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
Muft Smoker: hadiiir kakk ,, duh jgn panggil2 gt doonk ,, gx kmn2 koq ,, msh di pantau si Aris dr sini ,, 😂😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
aduuh si Aris otw jd perkedel niih ,,
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker
waaah raja singa yg sesungguh ny ,, msh otw ke jakarta ,,
😱😱😱😱😱
Muft Smoker
bagus tita ,, hama Kya mereka yg gx pandai bersyukur mending hempas kan saja ,,
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
Noey Aprilia
tragis jg y nsib mreka.....stlh msuk bui,gliran emaknya otw jd gmbel...
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
Wega Luna
💪💪💪tita kamu keren perempuan kuat GK akan mengisi penghianatan,
Noey Aprilia
Ga msti viral krna jambak2an,toh akhrnya mreka kalah sndri....tkang tipu vs korban tipu...😛😛😛
Muft Smoker: kompak kn mereka kak ,, sang penipu dan si tertipu ,,
😂😂😂😂
total 1 replies
Lee Mba Young
keren istri sah🔥🔥🔥🔥
Noey Aprilia
Ckkk.....abg labil....
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!