Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Buk!
Tinju keras Zhou Minghao meleset tipis. Dengan gerakan refleks yang mulus, Shen Yunche cuma menggeser tubuhnya ke samping beberapa sentimeter. Hanya seukuran lebar telapak tangan, tetapi itu sudah lebih dari cukup. Ujung tinju tersebut melayang melewati wajahnya, menyisakan hembusan angin tajam yang mengacak-acak rambut Yunche.
Zhou Minghao berbalik cepat dengan sepasang mata membelalak tak percaya. "Mustahil!"
Yunche berdiri tenang beberapa langkah di hadapannya. Ekspresinya memang tampak santai seperti biasa, tetapi sorot matanya sudah sepenuhnya berubah—dingin dan menusuk.
Zhou Minghao mengerutkan kening lantaran merasa diintimidasi. "Apa yang baru saja kau lakukan?"
Yunche tak menyahut. Pikirannya masih dipenuhi gaung pesan gaib yang baru saja didengarnya: Orang yang membunuhku... ada di dekatmu.
Ayahnya, Shen Tianyu, yang dikatakan telah tewas belasan tahun lalu karena kecelakaan di perjalanan... Jika itu bohong, lantas siapa pembunuh sebenarnya? Mengapa sang ayah berpesan bahwa pelakunya ada di dekatnya?
Tanpa sadar, Yunche menyapu pandangannya ke arah tribun penonton. Di sana ada Patriark Shen, para tetua kediaman, delegasi keluarga Gu, Xiao Hanzhou, hingga Gu Qingli. Siapa di antara mereka? Siapa yang dimaksud oleh ayahnya?
"Shen Yunche! Jangan melamun!" Teriakan Zhou Minghao memutus lamunannya secara kasar.
Saat Yunche menoleh, tinju Zhou Minghao sudah melayang persis di depan matanya. "Ah!"
BRAK!
Refleks Yunche yang berniat mengangkat pedang kayu untuk menahan benturan tak cukup kuat. Daya dorong yang masif melempar tubuhnya hingga berguling beberapa kali di atas tanah arena.
"Yunche!" Gu Qingli yang panik spontan berdiri tegak di tribun.
Namun, Yunche perlahan merangkak naik seraya menyapu darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu mengangkat satu tangannya ke udara. "Aku tidak apa-apa."
Gu Qingli mengepalkan jemarinya erat-erat, matanya dipenuhi rasa cemas yang tak bisa disembunyikan. "Jangan memaksakan diri!"
Yunche menengadah, mengunci tatapannya pada sepasang iris jernih milik gadis itu. Di tengah hiruk-pikuk sorakan ribuan penonton, riuh arena seolah menguap begitu saja di antara mereka.
Yunche mengulas senyum tipis. "Aku sungguh baik-baik saja."
"Jangan berbohong!" tegur Gu Qingli. Suaranya melunak pelan, namun getaran keseriusan di dalamnya justru jauh lebih menekan. "Kalau sampai kau terluka parah..." Gadis itu menggantung kalimatnya, lalu perlahan memalingkan wajah yang memerah canggung. "...aku akan sangat marah padamu."
Yunche terpaku sejenak, sebelum akhirnya terkekeh pelan. "Baiklah, aku mengerti."
"Baik apa?" tanyanya menyergah.
"Aku janji akan lebih berhati-hati," sahut Yunche lembut.
Setelah memastikan Gu Qingli kembali duduk, Yunche memutar tubuhnya menghadap Zhou Minghao. Atmosfer di sekelilingnya mendadak bergeser. Jika sebelumnya dia bertarung hanya demi formalitas menjawab tantangan, kini dia bertarung dengan satu niat bulat: menang. Bukan demi nama besar keluarga, bukan pula demi gengsi egoisnya, melainkan karena dia tak ingin melihat raut khawatir di wajah Gu Qingli lagi.
"Shen Yunche!" Zhou Minghao meraung.
Aura ledakan Pengumpulan Qi tingkat sembilan meluap dahsyat, retakan halus menjalar di permukaan lantai arena. Gemuruh penonton makin membahana memberi dukungan: "Habisi dia! Kemenangan untuk Keluarga Zhou!"
Yunche bergeming. Aura Pengumpulan Qi tingkat enam milik Yunche jelas terpaut tiga tingkat di bawah lawannya—sebuah jarak kekuatan yang amat rentan. Namun, Yunche tak melangkah mundur seinci pun.
Zhou Minghao melesat bagai badai. Pukulan pertama dilayangkan, Yunche meliuk menghindar. Pukulan kedua menyambar, Yunche menangkisnya tangkas. Pukulan ketiga menerjang, Yunche melompat ringan ke udara untuk mengambil jarak.
"Kenapa kau terus-terusan melarikan diri, Pengecut?!" bentak Zhou Minghao yang kian tersulut emosi.
Yunche mengusap sisa darah di bibirnya sembari mengumbar senyum jenaka. "Tentu saja menghindar. Kalau kena pukulanmu terus, rasanya sakit, tahu."
"Jangan bercanda denganku!" raung Zhou Minghao seraya melompat tinggi. "Teknik Tinju Gunung Retak!"
Gumpalan energi spiritual pekat membalut kedua tangannya sebelum dihantamkan menghujam bumi.
BOOM!
Dentuman keras menggetarkan arena, membuat buih debu tebal membumbung menyelimuti pandangan. Penonton bersorak girang mengira laga telah usai. Namun saat tirai debu menipis, sosok Yunche sama sekali tak berbaring di sana.
"Apa?!" Zhou Minghao terperanjat.
"Hei, aku di sini," celetuk sebuah suara santai tepat di belakang punggungnya.
Sebelum Zhou Minghao sempat berbalik penuh, pedang kayu Yunche telah melayang mengebuk bahunya keras. Buk!
Zhou Minghao terhuyung beberapa langkah ke depan. Kerumunan penonton mendadak bungkam seribu bahasa. Yunche sendiri malah melongo menatap pedangnya dengan mata berkedip-kedip polos.
"Eh? Ternyata pukulanku bisa kena juga, ya?" gumamnya tanpa dosa.
Mukanya memerah padam ditahan malu dan murka, Zhou Minghao memutar tubuhnya liar. "Shen Yunche! Matilah kau!"
Zhou Minghao kembali menerjang dengan kecepatan berlipat ganda. Yunche gesit melangkah mundur untuk menghindar, tetapi tepat pada momen itu, sensasi panas terbakar mendadak meluas di tengah dadanya.
Segel kedua pada liontin hitamnya kembali bergejolak. Yunche terhenti mendadak di tengah pergerakannya, merasakan bagaimana aliran energi spiritual di dalam meridiannya mendadak berputar balik dan bergerak sendiri di luar kendalinya.
Yunche tersentak kaget. "Apa-apaan ini..."
Belum sempat dia memahami apa yang terjadi, Zhou Minghao sudah melesat tepat di depannya. "Pergi kau!" raungnya seraya melayangkan tinju bertenaga penuh.
Dalam kondisi terdesak, Yunche spontan mengangkat telapak tangannya untuk menahan benturan.
BOOM!
Gelombang kekuatan dahsyat meledak menguncang udara. Namun, bukannya terlempar seperti sebelumnya, Yunche justru berdiri kokoh tak bergeming. Malah Zhou Minghao yang terdorong mundur beberapa langkah dengan raut terpukul.
Seluruh arena seketika bungkam. Yunche menatap telapak tangannya sendiri dengan heran; ada pendar cahaya hitam tipis yang berputar halus menyelimuti kulitnya. "Ini..."
Di tribun penonton, Gu Qingli langsung berdiri tegak dengan ekspresi berubah drastis. "Itu bukan energi spiritual biasa..." gumamnya cemas.
Di sisinya, Xiao Hanzhou ikut memicingkan mata, raut wajahnya berubah menjadi sangat serius. Begitu pula dengan Patriark Shen yang mengamati dari panggung utama—wajah sang patriark justru memucat pasi. "Sudah dimulai..." bisiknya lirih.
Tetua Agung yang mendengar gumaman itu menoleh heran. "Patriark?"
Namun, Patriark Shen tak menjawab. Matanya terpaku lurus pada Yunche sembari membatin penuh tanda tanya, Kenapa harus sekarang?
Yunche sendiri tak mengerti apa yang terjadi. Dia mencoba mengepalkan tangan; energi hitam itu sempat melenyap sekejap sebelum akhirnya muncul kembali. Dia lalu mendongak menatap Zhou Minghao yang masih terpaku. "Hei... sepertinya ada yang salah denganku."
Zhou Minghao menatapnya tajam penuh curiga. "Kau... kau menyembunyikan level kultivasimu, ya?!"
"Sama sekali tidak," jawab Yunche menggeleng polos.
"Mustahil!" meledak oleh amarah, Zhou Minghao kembali menerjang maju.
Yunche refleks mengangkat pedang kayunya. Namun kali ini, alur gerakannya mendadak berubah—jauh lebih cepat, presisi, dan tajam. Setiap insting pergerakannya terasa begitu alami, seolah-olah tubuhnya telah terlatih secara otomatis untuk membaca arah serangan lawan.
Satu langkah gesit, Yunche berhasil menghindar. Langkah kedua, pedang kayunya berayun menembus pertahanan lawan. Buk! Serangan itu menghantam bahu Zhou Minghao hingga dia terhuyung mundur. Tanpa memberi jeda, Yunche mengejar dan menyabetkan pedangnya sekali lagi.
Buk!
Zhou Minghao tersungkur jatuh berlutut di tanah. Gemuruh arena mendadak senyap seketika. Yunche terpaku menatap pedang kayunya dengan napas sedikit memburu. Aku... apa yang baru saja terjadi pada tubuhku?
"Shen Yunche!" raung Zhou Minghao yang langsung bangkit berdiri dengan wajah merah padam oleh rasa malu.
Dia mengumpulkan seluruh sisa energi spiritualnya tanpa sisa hingga aura Pengumpulan Qi tingkat sembilan meledak hebat di sekelilingnya. Kali ini, dia berniat menyelesaikan pertarungan dengan serangan pamungkas yang tak tertahan.
Zhou Minghao melompat tinggi ke udara. "Teknik Gunung Runtuh!" Bayangan raksasa berbentuk gunung muncul samar di belakang tubuhnya saat dia menghantamkan tinjunya ke bawah.
Para penonton berteriak histeris, "Teknik tingkat tinggi! Shen Yunche pasti tamat!"
Gu Qingli yang tak sanggup menahan kecemasannya langsung maju ke tepi tribun. "Yunche! JANGAN DILAWAN!"
Yunche menoleh ke arah suara itu, hingga mata mereka saling beradu di tengah kekacauan.
Melihat raut panik Gu Qingli, Yunche tersenyum tipis dan berbisik pelan, "Qingli... percaya padaku."
Gu Qingli terpaku mendengarnya.
Yunche kembali membalikkan badan menghadapi Zhou Minghao. Dia menggenggam erat pedang kayunya seraya membiarkan energi spiritual mengalir. Ajaibnya, kali ini tidak ada pendar cahaya hitam yang mengancam—hanya ketenangan luar biasa. Yunche memejamkan mata sejenak, teringat akan kenangan dan ucapan Gu Qingli kepadanya.
Saat membuka mata kembali, dia menyunggingkan senyum mantap. "Baiklah... aku memang tidak akan melawannya."
Gu Qingli terperanjat di tribun. Yunche justru perlahan menurunkan posisi pedang kayunya ke samping tubuh, membuat Zhou Minghao di udara ikut terkejut. "Kau menyerah?!"
"Bukan begitu," sahut Yunche santai sembari mengambil satu langkah mantap ke depan. "Kalau aku tidak bisa menghantam balik seranganmu... maka aku cukup menghindarinya."
BOOM!
Hantaman dahsyat tinju Zhou Minghao menghujam bumi, menciptakan ledakan dan retakan besar di permukaan arena. Namun, Yunche seolah menghilang ditelan angin. Gerakannya begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan samar di udara.
Sebelum Zhou Minghao menyadari apa yang terjadi, Yunche sudah berdiri tenang di belakang punggungnya. Zhou Minghao terburu-buru berbalik, tetapi sudah terlambat—ujung pedang kayu Yunche telah menempel tepat di samping lehernya.
Suasana arena menjadi hening tanpa suara. Yunche menatap lawannya datar. "Sudah selesai."
Zhou Minghao membeku total, tak sanggup berkutik.
Wasit pertandingan yang sempat terpana segera bangkit dan berseru nyaring, "Pemenang pertandingan ini... Shen Yunche!"
Arena seketika meledak oleh gemuruh sorak-sorai penonton. "YUN-CHE! YUN-CHE!"
Ruowei menjadi orang yang berteriak paling keras dari tepi panggung. Yunche melangkah keluar arena dan menoleh heran padanya. "Ada apa?"
"Kau menang, Kak! Kau benar-benar menang!" seru Ruowei heboh.
"Iya, aku tahu."
"Kau menang!" konsisten gadis itu berteriak girang.
"Aku sudah dengar, Ruowei..."
"KAU MENANG!" jerit Ruowei lagi tanpa peduli, lalu refleks bertubrukan memeluk sepupunya erat-erat. "Selamat!"
Yunche sempat membeku sejenak, sebelum akhirnya tertawa lepas. "Terima kasih, Ruowei."
Di sisi lain panggung, Gu Qingli berdiri diam memperhatikan mereka. Yunche yang menyadari kehadirannya segera melangkah mendekat. "Qingli... aku menang."
Gu Qingli mengangguk pelan. "Ya."
"Hebat, kan?" pamer Yunche dengan senyum lebar.
"Jangan menyombongkan diri dulu," cetus Gu Qingli datar, meski raut kelegaannya tak bisa disembunyikan. Namun, pandangannya mendadak tertuju pada lelehan darah di sudut bibir Yunche, membuat senyum tipisnya melenyap seketika. "Kau terluka."
"Ah, cuma sedikit kok," sahut Yunche santai.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Gu Qingli merogoh saputangan kain miliknya. Yunche langsung bungkam saat Gu Qingli melangkah makin dekat, mengangkat tangannya, dan perlahan mengusap noda darah di sudut bibir Yunche dengan teramat hati-hati.
Yunche berdiri mematung tak berani bergerak seinci pun. Di tengah hiruk-pikuk kerumunan arena yang riuh, keberadaan mereka terasa terisolasi. Jarak yang teramat dekat membuat Yunche bisa menghirup aroma harum nan lembut dari helai rambut Gu Qingli. Jantung di dadanya berdegup kencang—sekali, dua kali, hingga berpacu tak beraturan.
Usapan itu selesai, namun tangan Gu Qingli tidak langsung turun. Sepasang iris mata mereka saling mengunci dalam keheningan yang intens.
Yunche menelan ludah dengan susah payah. "Qingli..."
"Hm?"
"Kenapa..." Yunche menggantung kalimatnya, ragu untuk melanjutkan.
Gu Qingli menunggunya dengan sabar. "Kenapa apa?"
Yunche menggeleng pelan seraya tersenyum canggung. "Tidak... tidak jadi."
Gu Qingli akhirnya menarik tangannya kembali, menatap Yunche tegas. "Jangan sampai terluka lagi di masa depan."
"Bagaimana kalau aku terluka lagi?" goda Yunche tipis.
"Aku akan mengobatimu lagi," jawab Gu Qingli tanpa ragu.
"Kalau aku terus-terusan terluka?"
Gu Qingli menatap lurus ke dalam matanya, lalu dengan bisikan yang teramat pelan namun sarat akan keseriusan, dia berkata, "...Maka aku akan terus-menerus mengobatimu."
Yunche terpaku di tempatnya. Gu Qingli sendiri serta-merta membeku, baru menyadari betapa dalamnya makna dari kalimat yang baru saja terlepas dari bibirnya.
apa gk syok tuh thor