NovelToon NovelToon
Mahkota Darah Dan Mawar Es

Mahkota Darah Dan Mawar Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.

​Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kereta Sihir

Kereta sihir yang membawa Aura Zephyra dan Pangeran Kaelen Vane meninggalkan batasan Ibu Kota Eldoria saat matahari mulai tenggelam, digantikan oleh semburat warna ungu dan jingga yang membakar langit barat.

Kereta ini bukan kendaraan biasa; ini adalah mahakarya mekanik sihir dari Wilayah Utara, terbuat dari kayu pohon ek hitam yang dilapisi pelat besi meteorit. Di keempat sisinya, lambang serigala es yang melolong di bawah bulan sabit terukir dengan tinta perak yang memancarkan pendar redup.

​Berbeda dengan kereta bangsawan ibu kota yang berguncang di atas roda kayu, kereta ini melayang sekitar tiga puluh sentimeter di atas tanah, didorong oleh formasi sihir angin tingkat tinggi yang meminimalkan gesekan.

Kecepatannya menyamai lesatan anak panah, namun di bagian dalam, suasananya begitu tenang dan stabil hingga riak teh di dalam cawan porselen Aura hampir tidak bergerak.

​Aura duduk di sofa beludru berbulu serigala, menatap keluar jendela kaca sihir yang tebal. Di luar, pemandangan padang rumput hijau ibu kota perlahan-lahan berubah menjadi perbukitan berbatu yang gersang—daerah pembatas yang dikenal sebagai tanah tak bertuan, sebelum akhirnya mereka memasuki pegunungan es abadi yang mengurung Wilayah Utara.

​Di seberangnya, Kaelen Vane duduk dengan posisi tegak namun santai. Sebuah dokumen sihir kuno yang terbuat dari kulit binatang membentang di pangkuannya, namun matanya yang sewarna merah delima tidak terfokus pada tulisan di sana. Tatapannya tertuju pada Aura.

​"Kau terlalu tenang untuk seorang gadis remaja yang baru saja meninggalkan rumahnya demi menikahi seorang monster," suara Kaelen memecah keheningan di dalam kereta, berat dan berwibawa.

​Aura memalingkan wajahnya dari jendela, menatap langsung ke dalam sepasang mata merah yang memikat sekaligus mematikan itu. Ia meletakkan cawan tehnya ke atas meja kecil di antara mereka.

​"Jika aku menangis dan memohon untuk pulang, apakah Anda akan memutar balik kereta ini, Pangeran Kaelen?" Aura balik bertanya dengan nada jenaka yang halus.

​"Tidak," jawab Kaelen datar, tanpa keraguan. "Sumpah Darah telah mengikat kita. Di mata hukum Eldoria dan takdir, kau sudah menjadi milik Utara. Aku tidak pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milikku."

​"Kalau begitu, menangis adalah tindakan yang membuang-buang energi," Aura tersenyum tipis. "Aku lebih suka menggunakan energiku untuk memikirkan bagaimana cara menghancurkan Gavin Elrod."

​Kaelen menutup dokumen di pangkuannya dengan sekali sentakan, lalu bersandar pada sandaran sofa. "Kau menyebutkan tentang konspirasi empat klan besar dan penggunaan sihir hitam untuk menghancurkan segel abyss di perbatasan Utara. Dari mana seorang putri klan penyihir angin yang menghabiskan waktunya di dalam menara perpustakaan bisa mengetahui informasi sedalam itu? Bahkan mata-mataku di Ibu Kota membutuhkan waktu berbulan-bulan hanya untuk mengendus pergerakan kecil dari Klan Elrod."

​Aura sudah menduga pertanyaan ini akan datang. Kaelen bukanlah pria bodoh yang bisa dikelabui dengan kebohongan sederhana. Pria ini memimpin pasukan Utara di medan perang yang kejam sejak usianya masih sangat muda; ia tahu bau pengkhianatan dan kebohongan dari jarak satu mil.

​"Mari kita anggap ... aku mendapatkan penglihatan dari masa depan melalui sebuah ritual terlarang, Pangeran," jawab Aura dengan mata yang berkilat misterius. Ia tidak bisa menceritakan tentang regresi waktunya secara gamblang—itu terlalu tidak masuk akal, bahkan untuk dunia yang dipenuhi sihir ini.

"Di dalam penglihatan itu, dua tahun dari sekarang, Gavin Elrod akan menikahi seorang gadis dari keluarga kerajaan setelah membantai klanku, mencuri inti sihir angin kami, dan menggunakan kekuatan itu untuk membuka gerbang monster di Utara demi menciptakan kekacauan yang memungkinkannya naik ke takhta kekaisaran."

​Napas Aura sedikit memburu saat mengucapkan kalimat itu. Kilasan ingatan tentang dadanya yang tertembus pedang Gavin, api yang melahap kuil, dan tawa kejam pria itu kembali terbayang, membuat tangannya di atas pangkuan tanpa sadar mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih.

​Sebuah tangan besar yang terbungkus sarung tangan kulit hitam tiba-tiba terulur, menggenggam kepalan tangan Aura.

​Sentuhan itu dingin, namun entah mengapa, rasa dingin dari tangan Kaelen justru menyalurkan ketenangan yang aneh ke dalam tubuh Aura. Sentakan paniknya mereda. Aura menatap tangan Kaelen, lalu mendongak menatap wajah pria itu.

​"Tanganmu bergetar," ucap Kaelen lembut, namun nadanya sedingin salju malam. "Aku tidak peduli dari mana kau mendapatkan informasi itu, Aura. Entah itu penglihatan, ramalan dewa, atau sihir terlarang. Yang kupedulikan adalah kebenarannya. Dan jika Klan Elrod benar-benar berani menyentuh pembatas Utara ... aku sendiri yang akan mencabik-cabik mereka sebelum mereka sempat melangkah keluar dari gerbang Ibu Kota."

​Kaelen melepaskan genggamannya, memberikan Aura ruang untuk bernapas. "Namun, untuk saat ini, fokusmu adalah dirimu sendiri. Sihir Es Kuno yang ada di dalam tubuhmu ... itu adalah kekuatan yang sangat besar, namun juga racun yang mematikan jika kau tidak tahu cara mengendalikannya."

​"Racun?" Aura mengerutkan kening. Di kehidupan lalu, ia tidak pernah memiliki sihir es, jadi ia tidak memahami karakteristik elemen ini.

​"Sihir es biasa berasal dari manipulasi kelembapan udara melalui energi sihir angin. Namun, Sihir Es Kuno ... itu berasal dari pembekuan energi kehidupan itu sendiri." Kaelen menjelaskan, suaranya berubah menjadi serius.

"Setiap kali kau menggunakannya tanpa pondasi kultivasi yang tepat, es itu akan perlahan-lahan membekukan pembuluh darah dan organ dalammu dari dalam. Kau merasakan dingin yang tidak biasa di pergelangan tanganmu setelah perjamuan kemarin, bukan?"

​Aura tertegun. Kaelen benar. Sejak ia terbangun di masa lalu dan mendapati sihir es ini bersemayam di dalam tubuhnya, ia sering merasakan sensasi mati rasa yang menusuk di ujung-ujung jarinya, seolah-olah darahnya berhenti mengalir.

​"Itu adalah tanda bahwa inti sihirmu belum matang untuk menampung kekuatan kuno tersebut," kata Kaelen lagi. Ia merentangkan telapak tangannya di atas meja. Sebuah batu kristal berwarna hitam pekat dengan pendar merah samar muncul di atas meja. "Ini adalah kristal inti serigala abyss. Energi di dalamnya berlawanan dengan es murnimu, namun memiliki kepadatan yang sama. Selama perjalanan tiga hari ini, aku akan membantumu membuka saluran sihirmu dan mengunci energi es tersebut agar tidak memakan jiwamu."

​Aura menatap batu kristal itu, lalu menatap Kaelen dengan pandangan menyelidik. "Mengapa Anda begitu baik kepadaku, Pangeran? Kita hanya terikat pernikahan kontrak. Bukankah Anda bisa saja membiarkanku mati setelah mendapatkan semua informasi tentang Klan Elrod?"

​Kaelen menatap Aura dengan pandangan yang dalam, sebuah kilatan intensitas yang membuat jantung remaja Aura berdesir aneh. "Sederhana saja. Aku tidak suka senjata yang rusak sebelum sempat kugunakan di medan perang. Lagipula, kau adalah istriku sekarang, Aura. Melindungimu adalah bagian dari kesepakatan kita. Jika aku membiarkan pengantin utaraku mati karena sihirnya sendiri, di mana aku harus menaruh harga diriku sebagai penguasa Utara?"

​Aura tertegun sejenak, sebelum akhirnya tawa kecil yang tulus lolos dari bibirnya. Ini adalah pertama kalinya ia tertawa sejak ia kembali ke masa lalu. Rasa berat di dadanya sedikit terangkat.

​"Baiklah, suamiku. Mari kita mulai latihannya," kata Aura, menekankan kata 'suamiku' dengan sedikit nada menantang.

​Kaelen menyipitkan matanya mendengar panggilan itu, namun sebuah kedutan halus di sudut bibirnya menunjukkan bahwa ia tidak membencinya. "Pegang kristal ini dengan kedua tanganmu, pejamkan matamu, dan biarkan energi dingin dari inti sihirmu mengalir keluar tanpa ditahan. Aku akan membimbing aliran energimu dari luar."

​Aura mengangguk. Ia meraih kristal hitam tersebut. Seketika, rasa dingin yang ekstrem seolah menusuk tulang-tulangnya, membuat seluruh tubuhnya menegang. Ia segera memejamkan mata, memfokuskan pikirannya pada pusaran energi biru es yang berputar-putar di dalam dadanya.

​Kaelen mengulurkan kedua tangannya, menempatkannya tepat beberapa sentimeter di atas tangan Aura tanpa menyentuhnya secara langsung. Energi sihir merah gelap miliknya mulai mengalir, menyelimuti tangan Aura seperti selimut hangat yang menahan amukan badai es di dalam tubuh gadis itu.

​"Jangan melawannya, Aura. Jinakkan es itu. Kau adalah pemiliknya, bukan budaknya," suara Kaelen terdengar seperti jangkar di tengah badai pikiran Aura.

​Aura menarik napas dalam-dalam secara mental. Di dalam kegelapan kesadarannya, ia melihat badai salju yang mengamuk, mencoba membekukan segalanya. Namun, dengan tekad balas dendam yang membara di jiwanya, ia memaksakan kehendaknya pada badai tersebut.

Aku tidak akan mati di sini. Aku belum menghancurkan Gavin. Aku tidak akan membiarkan apa pun, bahkan sihirku sendiri, menghentikan langkahku!

​Merasakan tekad yang begitu kuat dari dalam diri Aura, energi biru es itu perlahan-lahan mulai melambat, berputar dengan lebih teratur dan membentuk aliran-aliran kecil yang mengalir dengan patuh ke seluruh pembuluh sihir tubuhnya. Lapisan embun es yang sempat terbentuk di permukaan kulit wajah Aura perlahan mencair, digantikan oleh rona merah muda yang sehat di pipinya.

​Latihan spiritual itu berlangsung selama berjam-jam di dalam kereta sihir yang terus melesat membelah kegelapan malam. Di bawah bimbingan Kaelen, Aura perlahan-lahan meletakkan batu pertama dari menara kekuatannya yang baru.

​Ketika malam semakin larut, kereta sihir akhirnya melintasi gerbang perbatasan besar yang terbuat dari es abadi. Suhu di luar anjlok hingga mencapai titik beku yang ekstrem, dan kepingan-kepingan salju pertama mulai menghantam kaca jendela kereta dengan suara ketukan yang ritmis.

​Aura membuka matanya perlahan, menghirup udara malam yang kini terasa sangat segar di tenggorokannya. Rasa mati rasa di jari-jarinya telah lenyap, digantikan oleh aliran kekuatan baru yang terasa begitu kokoh dan tak tergoyahkan.

​Ia menatap Kaelen yang masih mengawasinya dengan pandangan waspada.

​"Terima kasih, Kaelen," ucap Aura tulus, menjatuhkan formalitas gelarnya untuk pertama kali.

​Kaelen menarik kembali tangannya, menatap Aura dengan pandangan yang penuh apresiasi. Gadis remaja di hadapannya ini memiliki bakat dan ketahanan mental yang jauh melampaui usianya. Ia bukan lagi sekadar aset politik; Aura adalah badai salju indah yang siap menyapu bersih siapa saja yang menghalangi jalannya.

​"Selamat datang di Utara, Aura Vane," kata Kaelen, menunjuk ke luar jendela di mana sebuah kastil batu raksasa yang bertengger di atas puncak gunung es mulai terlihat di kejauhan di bawah siraman cahaya bulan abadi.

"Rumah barumu ... dan tempat di mana kita akan mempersiapkan tarian kematian bagi musuh-musuhmu."

​Aura menatap kastil megah yang dikelilingi oleh badai salju itu dengan mata biru yang menyala penuh tekad. Masa remajanya yang hancur di kehidupan lalu kini akan ditempa kembali di tempat yang paling dingin ini, menjadi sebuah pedang es yang akan memotong setiap jengkal kebahagiaan yang dimiliki oleh Gavin Elrod. Pembalasan dendamnya telah resmi memasuki babak baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!