Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04. SBR
...~•Happy Reading•~...
Janet berdiri dan berjalan ke tempat tidur sambil bercucuran air mata. Bertahun-tahun dia tidak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga. Kini tanpa disangka dia dapatkan dari keluarga yang tidak kenal.
Dalam keadaan hancur dibuang dalam kondisi hamil membuatnya hanyut dalam keharuan saat mendengar Andri menyebutnya, Dek Janet. Dia menelungkup ke atas tempat tidur sederhana, milik Andri.
Tiba-tiba pintu kamar di ketok. "Dek, ini kopernya." Terdengar suara Andri yang berbeda, seakan mereka dekat, punya hubungan khusus.
Hal itu dilakukan Andri, karena Mamanya belum masuk ke kamar. Jadi dia tidak bisa bersikap formal, agar Mamanya tidak curiga. Sebab dia masih punya rencana untuk menolong Janet.
Mamanya tidak bisa tidur setelah mendengar Janet sedang hamil. Mamanya hanya duduk diam merenung sambil melihat Andri ke mobil untuk ambil koper.
Janet segera mengeringkan air mata dengan baju yang dikenakan, lalu berjalan ke pintu. Dia buka perlahan, tapi didorong oleh Andri agar pintu terbuka lebar. Agar Janet bisa melihat Mamanya sedang duduk di kursi. "Terima kasih, Pak." Bisik Janet sambil mengambil koper dari tangan Andri.
Andri mengangguk. Dia memperhatikan Janet yang ragu dan kikuk, sambil melirik keluar. "Kalau butuh sesuatu, kasih tahu." Bisik Andri, karena melihat mata Janet sembab.
"Iya, Pak. Saya bisa minta air mineral?" Janet menanggapi tawaran Andri, karena dia merasa haus dan tenggorokan mulai kering.
"Ok. Lihat isi kopernya. Nanti saya balik." Andri ikut berbisik dan menutup pintu.
"Andri, Mama mau bicara denganmu tentang ini." Ucap Mama Andri setelah berpikir dan merasa tidak tenang melihat wajah Janet yang sangat sedih.
"Iya, Ma. Tunggu aku ambil minum buat Dek Janet." Andri segera ke belakang.
Tidak lama kemudian, Andri kembali mengetok pintu kamar. Janet membuka pintu dan mempersilahkan Andri masuk. "Saya letakan di sini." Andri meletakan cangkir dan teko air. "Kalau kipas angin terlalu kencang, pelankan begini." Andri mengajari Janet yang masih berdiri melihatnya.
"Tadi saya memanggilmu begitu, supaya Mama tahu kita sudah lama kenal. Kau bisa memahami maksud saya? Mama akan banyak bertanya, karna saya tiba-tiba bawa pulang wanita yang tidak dikenal." Andri menjelaskan dengan suara pelan.
"Iya, Pak. Terima kasih." Janet berkata sambil mengangguk.
"Maklum orang tua yang melihat situasi ini. Tolong permudah keadaan dengan sikap seperti kita sudah kenal lama." Pinta Andri. Janet mengangguk, tanpa bisa berkata.
Andri mengalihkan percakapan dengan membetulkan letak kipas angin. Agar Janet tidak masuk angin. "Kalau agak panas, rubah posisinya." Ucap Andri. Namun ucapan dan perhatian Andri membuat hati dan mata Janet tergenang.
"Sekarang berdoa, lalu usahakan tidur." Ucap Andri lagi sebelum keluar dari kamar. Janet hanya bisa mengangguk satu kali. Hatinya banjir mendengar Andri bilang berdoa supaya bisa tidur.
'Apa aku masih bisa berdoa? Aku sudah sangat jauh tersesat sejak dibawah Papa ke Mami Devan dan dijadikan sebagai alat tukar. Hidup bersama Devan tanpa ikatan. Sekarang hamil dan berpikir untuk menggugurkan.' Janet bicara dengan hatinya yang digores oleh kesadaran akan kesalahan yang dilakukan dan dipikirkan.
Dia merasa kotor untuk menyebut nama Tuhan yang suci. Di dalam keraguan, satu suara yang samar mengingatkan. 'Kau bisa ada di tempat ini atas perlindungan-Nya. Dia tidak pernah meninggalkanmu.' Terdengar suara hati lain.
Janet langsung lemas dan merebahkan tubuh ke atas tempat tidur dengan hati menangis. Kemudian dia memberanikan diri untuk berdoa seperti yang dilakukan di masa kecil dan remaja. Jiwanya yang lelah membuat raganya menyandarkan kepala untuk menemukan topangan untuk bisa tidur.
~▪︎▪︎
Ke esokan pagi ; Andri berdiri di depan pintu kamarnya dengan perasaan ragu dan bingung, sebab Janet belum keluar dari kamar.
Rasa was-was membuat dia memberanikan diri untuk mengetok. Namun ketokan di pintu tidak mampu membangunkan Janet yang sedang tidur nyenyak.
'Janet belum bangun?' Andri jadi penasaran, karena Janet tidak membuka pintu dan tidak dengar suara dari dalam kamar.
Tanpa menunggu, Andri segera membuka pintu untuk melihat keadaan Janet. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan Janet saat ditinggal tidur. Ketika melihat posisi tidur Janet tidak umum, Andri menyentuh bahunya. "Janet, bangun." Andri memanggil nama Janet dengan nada suara agak keras.
Secara refleks, Janet bangun duduk dalam keadaan mata tertutup dan rambut berantakan. Andri hampir tertawa melihat Janet seperti zombi. Namun dia jadi serius dan terpaksa menahan kepala Janet yang seperti pohon mau tumbang.
Sambil menggeleng dia letakan kepala Janet ke bantal yang dia sisipkan. 'Sikapnya masih seperti anak-anak, tapi harus menanggung beban berat orang dewasa.' Andri membatin sambil kembali menepuk bahu Janet untuk membangunkan.
Perlahan Janet membuka mata. "Bangun, nanti tidur lagi." Ucap Andri saat Janet melihatnya. Janet menyadari ada di mana saat melihat Andri. "Mari, sarapan dulu."
Mendengar kata sarapan, mata Janet membulat. "Maaf, Pak. Ketiduran." Janet bangun duduk dan mengikat rambutnya dengan rambut.
"Tidak apa'pa. Bagus bisa tidur. Sekarang sarapan dulu." Ucap Andri lalu membuka jendela dan keluar kamar.
Janet merasa tidak enak setelah melihat cahaya masuk ke kamarnya. 'Kok aku bisa tidur seperti kayu.' Janet membatin sambil merapikan tempat tidur.
Saat dia keluar kamar, dia melihat Andri sendiri menunggu. "Sarapan dulu baru kita bicara." Andri menunjuk ke arah belakang.
"Ibu belum bangun, ya, Pak?" Bisik Janet yang merasa ruang makan sangat sepi.
"Mama sedang di depan. Habis sarapan, mandi lalu kita keluar." Andri berkata setelah Janet duduk di depannya.
"Silahkan. Sarapan yang ada, ya." Ucap Andri lalu menunduk bersyukur.
Janet yang sudah mengambil sendok, jadi tertunduk malu. Dia jadi bersyukur dengan suasana hati yang berbeda. Sesuatu yang sudah lama tidak dilakukan.
~▪︎▪︎
Beberapa waktu kemudian, Janet keluar kamar sambil mendorong koper. "Biarkan koper di sini. Kita keluar cari tempat dulu...." Andri mencegah Janet membawa koper. Kemudian dia menjelaskan rencananya perlahan sebelum melangkah keluar. Janet mengembalikan koper ke kamar dan hanya membawa tas tangan.
Setelah di luar, Janet terkejut melihat Mama Andri sedang berjualan di atas meja yang diberikan payung. "Pak, apa ibu menjual sarapan?" Janet melihat tulisan nasi uduk di depan meja.
"Iya. Mama menjual sarapan untuk isi waktu dan supaya tetap sibuk..." Andri menjelaskan sambil mendekati Mamanya.
"Mama, kami pergi dulu." Ucap Andri sebelum salim. "Iya, hati-hati di jalan." Ucap Mamanya sambil menepuk bahu Andri.
Janet melakukan hal yang sama dengan Andri, salim. "Nak Janet, pakai sepatu rata saja." Mama Andri mengingatkan, karena tahu Janet sedang hamil.
"Iya, Bu. Terima kasih." Janet menanggapi nasehat Mama Andri dengan hati penuh. Dia segera balik ke kamar untuk ganti sepatu.
Para pembeli yang sedang mengantri, jadi memperhatikan Janet. "Selamat Bu Dessy..." Ucap para pembeli yang mengira, Janet adalah istri Andri.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○♡○▪︎~...