Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangisan Yang Memilukan
**Delapan Belas Tahun Kemudian**
"Agnes!" teriak Kasandra dari lantai atas.
Suara itu menggema memenuhi seluruh rumah Kasandra yang mewah
Namun, di balik kemewahan itu, hanya ada ketakutan yang selama delapan belas tahun menjadi makanan sehari-hari bagi seorang gadis bernama Agnes.
Di dapur, Nisa yang sedang menyiapkan sarapan langsung terkejut hingga sendok di tangannya terjatuh.
Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang seolah sudah tahu apa yang akan terjadi.
"Ya Allah... semoga Non Agnes masih bisa bertahan hari ini," gumamnya lirih.
Tanpa berani membiarkan Kasandra menunggu terlalu lama, Nisa segera berlari menuju kamar Kasandra
"Ya, Bu..." jawab Nisa dengan napas tersengal.
Wajah Kasandra langsung berubah merah karena marah.
"Kamu budek, ya? Aku manggil Agnes, bukan kamu!"
Nisa langsung menundukkan kepala.
"Maaf, Bu..."
"Mana anak sialan itu? Suruh dia cepat ke sini!" Bentak Kasandra
Nisa menggenggam ujung celemeknya erat-erat.
"Maaf, Bu... Non Agnes sedang kurang sehat, dari tadi malam badannya panas sekali. Dia baru saja tertidur karena demamnya tinggi."
Bukannya iba, wajah Kasandra justru semakin dipenuhi kebencian.
"Kamu selalu membela Agnes!"
"Itu cuma alasan supaya dia tidak bekerja!"
"Sungguh, Bu... Saya tidak bohong" ucap Nisa lirih
"Cukup!" Bentak Kasandra lagi
Suara bentakan Kasandra membuat tubuh Nisa bergetar.
"Cepat panggil dia!" Ucap Kasandra
Nisa memberanikan diri melangkah mendekat.
"Bu... biar saya saja yang membersihkan kamar Ibu. Saya juga akan mencuci semua pakaian Ibu. Tolong... biarkan Non Agnes beristirahat sebentar. Dia benar-benar sakit."
Kasandra tertawa sinis.
"Kasihan?"
"Kamu kasihan sama anak itu? Memangnya kamu kerja disini dan aku bayar kamu untuk jadi pelindung anak sialan itu?"
Nisa menggigit bibirnya dan air matanya mulai menggenang.
"Aku tidak peduli dia sakit atau mau mati sekalipun! Yang boleh membersihkan kamarku hanya dia! Yang mencuci seluruh bajuku juga aku ingin anak sialan itu! Karena itu tugasnya dari dulu" tegas Kasandra
"Tapi Bu..." ucap Nisa
"Diam!" Bentak Kasandra dengan cepat
Kasandra mendorong bahu Nisa begitu keras hingga wanita paruh baya itu hampir terjatuh.
Tanpa menunggu lagi, Kasandra berjalan cepat menuju kamar sempit di belakang rumah.
Berbeda jauh dengan kamar-kamar di lantai atas, kamar Agnes bahkan lebih mirip gudang.
Cat dindingnya mengelupas, kasurnya tipis dan jendelanya rusak.
Saat pintu dibuka dengan kasar...
Agnes masih tertidur, wajah gadis itu pucat, bibirnya kering.
Keringat dingin membasahi pelipisnya dan tubuhnya menggigil meski cuaca cukup hangat.
Kasandra sama sekali tidak peduli.
Brak!
Ia menarik selimut Agnes hingga terlempar ke lantai.
"Oh... jadi begini? Kamu enak-enakan tidur sementara pekerjaanku belum selesai? Kamar aku belum dibersihkan! Baju-bajuku belum dicuci!" Ucap Kasandra dengan suara meninggi
Agnes terbangun dengan napas terengah.
"M-Mama..."
Ia mencoba duduk, tetapi kepalanya langsung terasa berputar, pandangannya kabur dan tangannya gemetar.
"Mama... Agnes mohon..."
"Agnes lagi demam..."
"Agnes istirahat sebentar saja, ya, Mah..."
"Nanti setelah badan Agnes agak enakan... Agnes pasti bersihkan kamar Mama..."
"Agnes juga akan mencuci semua baju mahal Mama pakai tangan..." Suara Agnes begitu pelan.
Setiap kata terasa seperti menguras seluruh tenaganya.
Namun, permohonan itu justru membuat Kasandra semakin muak.
"Dasar pemalas!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Agnes.
Tubuh Agnes langsung terjatuh dari tempat tidur dan sudut bibirnya berdarah.
Agnes memegang pipinya sambil menangis.
"Mama..."
Kasandra tidak berhenti, rambut Agnes dijambaknya hingga gadis itu menjerit kesakitan.
"Aku bilang berdiri! Aku tidak memelihara kamu untuk tidur!"
"Kalau masih bisa menangis, berarti kamu masih kuat bekerja!"
Nisa yang melihat kejadian itu langsung berlari.
"Bu... jangan, Bu! Tolong! Non Agnes benar-benar sakit!"
Kasandra menoleh tajam.
"Kamu masih berani melawan aku?"
"Bu, saya mohon..." ucap Nisa memohon
Belum selesai Nisa berbicara...
Kasandra menarik Agnes keluar kamar dengan menjambak rambutnya.
"Aaah..." Agnes menjerit.
Kakinya yang lemas menyeret di lantai, tubuhnya beberapa kali membentur kusen pintu namun Kasandra sama sekali tidak peduli.
"Bik... tolong..." lirih Agnes.
Nisa segera memegang tubuh Agnes agar tidak semakin terbentur.
Melihat itu... Kasandra justru semakin murka.
"Masih berani melindungi dia?" Teriak Kasandra
Bug!
Sebuah tendangan keras meluncur.
Nisa langsung memutar tubuhnya.
Buk!
Tendangan itu menghantam perut Nisa.
Wanita paruh baya itu langsung terjatuh sambil memegangi perutnya.
"Bibik!" teriak Agnes.
Dengan tubuh gemetar Agnes berusaha merangkak mendekati Nisa.
Namun...
Kasandra kembali menendang tubuh Agnes.
Bug!
Kali ini mengenai punggungnya.
Agnes tersungkur.
Batuk keras.
Setetes darah keluar dari bibirnya.
Kasandra masih belum puas lalu ia mengambil sapu kayu yang berada di sudut ruangan.
Tanpa berpikir panjang...
Sret!
Tongkat itu dipukulkan ke kaki Agnes.
"Aaaah!!" Jeritan Agnes menggema.
Tubuhnya menggigil menahan sakit.
"Kalau kamu pura-pura sakit... Rasakan ini!" Ucap Kasandra dengan sangat kesal
Brak!
Pukulan kedua mengenai bahunya.
Brak!
Ketiga mengenai lengannya.
Agnes hanya bisa menangis.
"Mama... Agnes sakit...Tolong..."
Kasandra malah tersenyum puas.
"Menangis lagi!"
"Ayo menangis yang keras! Memangnya ada yang akan menolongmu?"
"Tidak ada! Kamu memang pantas menderita!"
Nisa yang masih kesakitan memaksakan diri merangkak dan ia memeluk tubuh Agnes.
"Bu... hentikan... Saya mohon..."
"Kalau Ibu masih marah..."
"Pukul saya saja... Jangan Non Agnes..." ucap Nisa suaranya sangat lirih
Kasandra tertawa mengejek.
"Hebat sekali, Pembantuku membela anak sialan ini"
"Ok alau begitu Karena itu yang kamu mau..."
Bug!
Kasandra kembali menendang tubuh Nisa, kali ini tepat di rusuknya.
Nisa meringis hebat dan air matanya mengalir tanpa suara namun kedua tangannya tetap memeluk Agnes, ia rela menjadi tameng untuk gadis itu
"Bibik..." tangis Agnes pecah.
Kasandra mendekat, ia mencengkeram dagu Agnes begitu keras.
"Dengar baik-baik, kalau bukan karena kamu... hidupku tidak akan sehancur ini, kamu pembawa sial! Kamu kutukan!" Ucap Kasandra dengan tajam
"Sejak kamu lahir dan berada di dekatku, semua keberuntunganku hilang." Lanjutnya
Agnes menangis tersedu-sedu padahal selama hidupnya...
Ia tidak pernah tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya.
"Mama... Agnes salah apa..."
Pertanyaan itu hanya dibalas tawa dingin.
"Kamu masih berani bertanya? Kesalahanmu cuma satu, kamu dilahirkan"
Kalimat itu menghantam hati Agnes jauh lebih sakit daripada seluruh pukulan tadi dan ia terdiam dan tangisnya semakin menjadi.
"Teruslah menangis Agnes karena aku sangat puas melihat kamu menderita seperti ibu mu Fisya yang telah menjauhkan aku dari putri kandung ku Tina" batin Kasandra
Perlahan Agnes mulai mempercayai dan mengingat semua ucapan Kasandra dari ia kecil hingga sekarang
Mungkin...
Dirinya memang tidak pantas hidup..