Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 26
"Hah? Apa maksudmu Tika?"
Antika mendungak menatap kedua mata Aldri. Bibirnya menyunggingkan senyum.
"Selama ini aku nggak pernah mikir tentang masa lalu atau menyesali kita udah nikah. Sama sekali nggak. Tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba aja aku ngerasa kayak nggak sempurna apa yang aku rasa."
Aldri semakin timbang mendengar penjelasan Antika. Ia menatap kedua mata Antika seolah ingin mencari jawaban.
"Jadi gini. Kita berdua baru aja bisa tidur sekamar. Dan...... sadar atau enggak kita baru merasa dekatkan?"
"Makanya sebelum kita umumkan tentang pernikahan kita. Aku pengen kita dekat dulu. Aku pengen kenal darling lebih baik lagi. Saat mereka tanya apa makanan kesukaanmu? Apa hobimu? Apa yang nggak kamu suka? dan banyak lagi lainnya aku bisa jawab. Selama ini aku nggak pernah mikir sampai ke sana."
Antika mengubah posisinya memeluk Aldri dan menempelkan wajahnya di dada bidang pria itu.
" Aku tadi pagi nonton acara TV. Nggak nyesel juga ngabisin waktu buat dengerin acara recehan. Aku senang bisa belajar tentang memahami pasangan. Aku baru sadar kalau ternyata selama ini aku nggak mengenal darling sepenuhnya. Mungkin karena aku sama sekali nggak ingat masa laluku. Tapi, seenggaknya aku nggak mau bikin darling malu saat nanti banyak orang yang kenal kita."
Aldri membalas pelukan Antika. Ada kelegaan dalam hatinya. Ternyata gadis itu sangat peduli kepadanya. Bahkan ia memikirkan hal-hal sepele baginya. Aldri terlalu fokus tentang masalah mantan kekasih Antika hingga ia melupakan hal penting. Memahami tentang pasangan kita.
"Apapun yang kamu mau pasti akan kulakukan Tika. Jika itu yang kamu inginkan. Baiklah kita belajar memahami masing-masing."
Aldri mengecup puncak kepala Antika. Gadis itu pun tersenyum dan merasa nyaman sekali.
Sepekan berlalu dengan cepat. Hubungan Aldri dan Antika pun makin hangat. Akan tetapi di tempat lain Anggara yang kondisinya pulih dengan cepat ingin segera menemui Antika.
"Ma, jadi sejak malam kecelakaan itu mama dan papa langsung bawa aku ke rumah sakit ini?"
Anggara bertanya setelah menghabiskan makan siangnya. Tubuhnya sudah bisa bergerak bebas hanya tinggal sisa-sisa luka yang masih membekas. Kemungkinan besar dalam waktu sepekan ia sudah mendapat izin keluar rumah sakit.
Anggara sudah bertekad akan segera menemui gadis pujaan hatinya. Ia ingin segera melamarnya kalau memang itu diperlukan. Anggara tidak ingin lagi membuang waktu sia-sia. Kecelakaan yang ia alami malam itu menjadi salah satu bukti akan ketidakpastian hidup di dunia fana. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk membahagiakan sang kekasih. Mereka sudah berjanji akan selalu bersama.
Anggara membayangkan senyum Antika yang ceria akan selalu menyambutnya dengan hangat.
"Tidak, Nak. Kami membawamu ke rumah sakit terdekat di Surabaya. Setelah sepekan tidak ada perubahan kami sengaja membawamu kemari karena semua keluarga kita ada di Jakarta."
" kamu , selama 3 bulan. Kami pergantian datang menemuimu."
Anggara terdiam. Rupanya mama dan papanya sudah menderita selama 3 bulan ini. "Maafin aku ya, Ma."
"Sayang, kenapa minta maaf? Tidak ada yang salah, Nak. Yang penting kamu selamat Mama sudah bahagia sekali. Apapun yang terjadi sebelumnya kita lupakan saja."
"Makasih, Ma. Gara janji akan lebih hati-hati lagi."
"Sebenarnya Kamu mau ke mana malam itu, Nak? Kamu buru-buru sekali. Bahkan kami tanya pun kamu hanya menjawab ada perlu penting."
Anggara membisu. Ia tidak ingin Antika akan disalahkan karena dianggap sebagai penyebab kecelakaan nya.
"Gara."
" Oh, itu, Ma. Sebenarnya Gara udah janjian ama temen. Buat nyiapin acara perpisahan sekolah. Sayang banget akhirnya kami nggak bisa bareng pas perpisahan. Nggak ada foto juga buat kenang-kenangan."
"Ya sudah tidak perlu disesali, Nak. Nyawa mu yang lebih penting. Suatu saat nanti juga akan ada acara reunian kan?" Anggara mengangguk.
"Mama betul."
Anggara baru teringat pertengahan bulan ini adalah peringatan hari ulang tahun Antika. Anggara bertekad untuk cepat sembuh dan memberikan kejutan kepadanya. Sejujurnya dirinya ingin sekali mendengar suaranya dan meminta maaf karena tidak bisa menepati janji. Bahkan ponselnya pun sama sekali tak bisa dihubungi.
Apa jangan-jangan Tika marah ya sama aku? Kenapa hp-nya nggak aktif sampai sekarang?
"Bu. Bisakah Ibu kembali ke Surabaya setelah hari ulang tahun Tika?" tanya Aldri,
Indira berhenti sejenak dari aktivitasnya. Saat ini dirinya sedang asyik mengupas bumbu untuk memasak.
"Masha Allah. Ibu lupa Al. Iya, ya seminggu lagi ulang tahun Tika kan?"
"Betul, Bu." Aldri duduk di sebelah ibunya. "Tidak terasa 19 tahun sejak kelahirannya, ya, Bu. Rasanya baru kemarin saya menggendongnya."
"Iya, ya , Al. Ibu juga sama. Rasanya baru kemarin ibu dengar dia teriak-teriak manggil Oma ." mata Indira berkaca-kaca.
"Wah, ada apa ini kok kayaknya serius amat?" Antika memecah suasana haru dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
" Ah, tidak ada apa-apa Tika. Ini rencana ibu akan kembali ke Surabaya Minggu depan. Pasti kita akan kesepian kan?"
"Gitu ya? Iya, Bu kenapa sih nggak tinggal di sini aja sama kita? Kan di Surabaya juga sendirian.?"
" Sayang, rumah itu tidak mungkin Ibu tinggalkan terlalu lama. Bisa rusak kalau tidak pernah dibersihkan. Rumah itu satu-satunya peninggalan bapak suami mu. Ibu tidak mau nanti kena marah bapakmu."
"Ibu, ih, mana bisa Bapak marah? Beliau sudah di surga. Pasti di sana beliau sudah bahagia tidak mikirin rumah." Antika tersenyum.
"Aamiin. Semoga saja, ya, Nak bapakmu husnul khotimah."
"Aamiin. Iya Bu insyaallah." Indira tersenyum lalu melanjutkan aktivitasnya mengubah bahan bumbu masakan.
Hari ulang tahun Antika pun akan tiba esok hari. Aldri dan ibunya telah mempersiapkan kejutan untuk Antika. Egi pun turut serta dalam rencana tersebut. Mereka sengaja memainkan drama agar kejutan ulang tahun lebih berkesan. Tentu nya bukan drama penyiksaan atau pembullyan tanpa tegur sapa.
Aldri sengaja memilih rumah Egi sebagai tempat merayakannya. Semua hiasan dan kado sudah siap. Aldri mengatakan bahwa hari itu ia akan mengajak Antika dan ibunya menghadiri acara ulang tahun Egi. Aldri membelikan gaun khusus untuk Antika.
Aldri tak dapat berkedip ketika menatap istrinya yang cantik bak bidadari. Atika sangat menawan dengan gaun berkelip berwarna langit muda. Gaun selutut dengan lengan terbelah hingga pertengahan lengan Antika. Rambutnya tercerai indah dihiasi penjepit berwarna senada. High heels 5 cm berwarna biru langit yang cerah berkilauan menambah lengkapnya aksesoris penampilan Atika malam ini.
"Darling udahan dong mandang nya. Udah basah tuh karena air liur." Atika menahan tawa dengan menutup mulutnya dengan tangan.
"Ha iyakah?" Aldri tanpa sadar mengusap bibirnya. Tak Bella hal itu membuat artikel dan Indira tertawa lebar