Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.
Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.
"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Kesepakatan di Atas Meja Makan
Nadia menatap layar ponselnya yang sudah gelap dengan napas yang memburu. Alih-alih tenggelam dalam ketakutan yang melumpuhkan, otaknya yang terbiasa menghadapi krisis di dunia bisnis langsung bekerja cepat. Seseorang di rumah ini—atau setidaknya seseorang yang memiliki akses dekat dengan Chelsea—adalah seorang pembunuh. Dan ancaman itu nyata.
Aku tidak bisa bergerak sendirian jika aku ingin bertahan hidup di tubuh ini, batin Nadia sembari mengepalkan tangannya. Aku butuh sekutu. Seseorang yang memiliki kekuasaan besar, yang tidak terlibat dalam konspirasi rumah ini, dan yang paling penting... seseorang yang ditakuti oleh musuh-musuhku.
Satu nama langsung melintas di kepalanya: Reynald. Pria dingin yang mengusirnya di rumah sakit itu mungkin membenci Chelsea yang asli, tetapi dia adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuatan hukum dan finansial untuk melindunginya secara tidak langsung.
Keesokan harinya, Nadia memutuskan untuk mengambil langkah berani. Tanpa memberi tahu paman atau pelayan di mansion Latief, ia meminta sopir pribadinya untuk mengantarkannya langsung ke gedung kantor pusat Reynald Group—sebuah gedung pencakar langit megah yang mendominasi pusat bisnis kota.
Dengan mengenakan gaun formal berwarna hitam yang elegan, kacamata hitam, dan rambut cokelat madunya yang disanggul rapi, penampilan Nadia memancarkan aura wanita karier yang berkelas, jauh dari kesan Chelsea yang biasanya berpakaian terlalu mencolok atau kekanak-kanakan.
"Maaf, Nona Chelsea, apakah Anda sudah membuat janji dengan Tuan Reynald?" tanya sekretaris pribadi Reynald dengan wajah cemas saat Nadia berdiri di depan meja resepsionis lantai paling atas. Sekretaris itu sudah hafal betapa merepotkannya Chelsea jika sedang mengamuk mencari tunangannya.
Nadia melepas kacamata hitamnya perlahan, lalu menatap sekretaris itu dengan senyuman tenang namun tegas. "Katakan padanya, ini bukan tentang urusan asmara anak muda. Ini tentang masa depan saham keluarga Latief yang ada di perusahaannya. Saya beri waktu lima menit."
Sekretaris itu tertegun melihat sorot mata Chelsea yang begitu dingin dan berwibawa. Tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi saluran internal. Hanya dalam hitungan detik, sekretaris itu mengangguk kaku. "Silakan masuk, Nona. Tuan Reynald menunggu Anda."
Nadia melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang sangat luas dengan pemandangan dinding kaca yang memperlihatkan lanskap kota. Di balik meja kerja marmer hitam, Reynald duduk dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Tatapan matanya langsung mengunci sosok Nadia begitu pintu tertutup.
"Kamu punya waktu tepat tiga menit sebelum aku menyuruh keamanan menyeretmu keluar, Chelsea," ucap Reynald, suaranya berat dan sedingin es. "Dan jangan harap taktik membawa-bawa nama saham keluarga Latief bisa membuatku luluh."
Nadia tidak terpengaruh oleh gertakan itu. Dengan gerakan anggun, ia menarik kursi di hadapan meja kerja Reynald dan duduk dengan menyilangkan kakinya dengan santai.
"Dua menit saja sudah cukup, Tuan Reynald," sahut Nadia tenang. Ia menaruh ponselnya di atas meja kerja pria itu. "Kemarin, seseorang menelepon saya menggunakan pengubah suara. Dia mengatakan bahwa dia menyesal karena racun berdosis tinggi yang dicampurkan ke susu saya beberapa hari lalu tidak berhasil membunuh saya."
Mendengar kata 'racun', gerakan tangan Reynald yang semula hendak menandatangani dokumen langsung terhenti. Ia mendongak, matanya menyipit tajam menatap Nadia. "Apa yang kamu bicarakan? Laporan medis menyatakan kamu overdosis obat penenang karena mencoba bunuh diri."
"Itu adalah skenario yang dibuat oleh pembunuh saya agar semua orang—termasuk Anda—mengira saya mati karena depresi bodoh," balas Nadia dengan kilat mata yang tajam. "Seseorang di dalam mansion Latief ingin melenyapkan saya untuk menguasai warisan ayah saya. Dan jika saya mati, bukankah aliansi bisnis antara keluarga kita juga akan hancur?"
Reynald terdiam. Otak bisnisnya yang jenius langsung menganalisis situasi. Ia menatap lekat-lekat wajah wanita di hadapannya. Perubahan Chelsea ini terlalu drastis. Gadis yang ada di depannya saat ini tidak memiliki sisa-sisa emosi histeris atau keputusasaan cinta. Dia berbicara dengan logika yang runtut, taktik yang dingin, dan ketenangan seorang negosiator ulung.
"Lalu, apa hubungannya denganku? Aku bukan polisi yang bertugas menyelidiki kasus pembunuhanmu," ucap Reynald, mencoba menguji batasan wanita itu.
Nadia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Reynald. "Aku butuh perlindunganmu. Aku butuh status sebagai tunanganmu tetap terjaga untuk sementara waktu agar musuh-musuhku berpikir dua kali sebelum menyentuhku lagi. Sebagai imbalannya, aku akan menyerahkan hak suara dari lima belas persen saham keluarga Latief di perusahaanmu sepenuhnya kepadamu selama satu tahun ke depan."
Reynald menarik napas dalam-dalam. Lima belas persen hak suara saham adalah jumlah yang sangat besar. Itu bisa memberinya kendali mutlak di dewan direksi tanpa ada gangguan dari pemegang saham minoritas lainnya. Kesepakatan ini terlalu menguntungkan dari sisi bisnis.
"Kamu... benar-benar berubah, Chelsea," desis Reynald, suaranya merendah penuh selidik. "Siapa yang mengajarimu taktik bisnis seperti ini? Di mana Chelsea yang selalu menangis meminta perhatianku?"
Nadia mengulas senyum tipis yang sarat akan misteri. "Mati setelah mencicipi racun dan melongok ke dalam liang kubur bisa mengubah cara pandang seseorang, Tuan Reynald. Jadi, bagaimana? Apakah kita memiliki kesepakatan bisnis?"
Reynald menatap Nadia selama beberapa saat sebelum akhirnya menyandarkan tubuhnya ke kursi. Kilat ketertarikan yang belum pernah ada sebelumnya kini muncul di mata elangnya. "Satu tahun. Dan kamu harus menuruti semua aturan mainku jika berada di ruang publik sebagai tunanganku."
"Setuju," jawab Nadia tegas sembari mengulurkan tangannya.
Reynald menyambut uluran tangan tersebut. Kulit tangan Chelsea terasa halus, namun genggamannya begitu kuat dan mantap, mencerminkan jiwa baru yang tangguh di dalamnya. Reynald tidak tahu permainan apa yang sedang dimainkan oleh tunangannya ini, tetapi satu hal yang pasti: Chelsea Latief yang sekarang jauh lebih menarik daripada apa pun yang pernah ia temui.
Sambil menjabat tangan pria itu, Nadia membatin dengan senyuman dingin di hatinya. Satu pelindung sudah kudapatkan. Sekarang, waktunya untuk menyeret tikus-tikus di mansion Latief dan memulai pembalasan dendamku yang sesungguhnya.