Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG KARUNG
Aku tidak ingat siapa yang lebih dahulu menarikku. Mungkin Gala memegang bahuku, mungkin Ibu memanggil namaku, atau mungkin aku sendiri masih memiliki sedikit kesadaran untuk tidak memukul Jalu. Yang kuingat, tanganku sudah terangkat ketika Bu Minah berteriak dari kantin.
Jalu mundur satu langkah. Wajahnya tidak lagi mengejek. Ia melihat sepatu yang terbuka, lalu melihat orang-orang di sekitar kami. Barangkali ia baru menyadari bahwa tendangan kecil dapat merusak sesuatu yang tidak mudah kami ganti.
"Aku tidak sengaja," katanya.
"Kau menendangnya," jawab Gala.
"Aku cuma menyentuh. Sepatunya memang sudah rusak."
Kalimat terakhir membuat kemarahanku kembali naik. Ibu berdiri di antara kami sebelum aku bergerak.
"Cukup," katanya.
Suaranya tidak keras, tetapi semua anak diam. Ibu menatap Jalu cukup lama. Ia tidak bertanya siapa orang tuanya dan tidak mengancam melapor. Ia hanya berkata, "Barang yang tua tetap dibeli dengan kerja. Jangan rusak milik orang lain hanya karena kau bisa memiliki yang baru."
Jalu menunduk sebentar. Kemudian ia mengambil sepedanya dan pergi tanpa meminta maaf.
Aku merasa kalah. Sepatu rusak, Jalu pergi, dan aku tidak melakukan apa pun. Namun, Ibu berkata menahan diri bukan berarti kalah. Ia menyuruhku duduk di bangku depan kantin. Dari tasnya, ia mengambil tali rafia dan mencoba mengikat bagian depan sepatu. Ikatan itu membuat ujung sepatu seperti mulut yang dipaksa tertutup.
"Ini hanya sampai rumah," katanya.
"Besok aku pakai sandal saja."
"Sandalmu tipis. Jalannya berbatu."
Gala menyebut nama Mbah Wreda. Rumahnya berada dekat kebun bambu, tidak terlalu jauh dari jalur pulang kami. Ia memperbaiki payung, sandal, tas, dan hampir semua benda yang tidak lagi dianggap layak dibawa ke toko.
Ibu harus kembali ke rumah karena membawa Nira yang masih pincang. Aku diminta singgah ke tempat Mbah Wreda bersama Gala. Dua koin seratus rupiah diberikan kepadaku, uang yang seharusnya dipakai membeli minyak tanah.
"Kalau kurang, bilang Ibu akan membayar setelah keripik laku," katanya.
Aku menggenggam koin itu begitu kuat sampai sisi logamnya meninggalkan bekas di telapak.
Gala menemani sampai rumah Mbah Wreda. Bangunannya kecil, berdinding papan, berdiri di bawah rumpun bambu yang selalu berbunyi ketika tertiup angin. Di teras tergantung sandal putus, tas sekolah tanpa pegangan, dan payung yang kainnya penuh tambalan.
Mbah Wreda duduk di bangku rendah. Rambutnya putih dan panjang di bagian belakang. Matanya tampak kecil di balik kacamata tebal yang salah satu gagangnya diikat benang.
"Ada yang sakit?" tanyanya ketika melihat kami.
Gala menunjuk kakiku. "Pasiennya di bawah."
Aku melepas sepatu dan menyerahkannya. Ujung depannya menganga. Lem lama mengelupas, dan jahitan di sisi kanan putus hampir seluruhnya.
Mbah Wreda membalik sepatu itu beberapa kali. "Siapa yang menendang?"
Aku terkejut. "Mbah tahu?"
"Kalau robek karena berjalan, arahnya berbeda. Ini terkena dorongan dari depan."
Gala langsung bercerita tentang Jalu. Ia menambahkan beberapa bagian, termasuk rencana tidak sengaja menginjak sepatu putih, sampai aku menyuruhnya diam.
Mbah Wreda tidak marah. Ia hanya menghela napas. "Orang yang belum pernah kekurangan sering mengira benda rusak tidak punya nilai."
Ia membuka kotak kayu berisi jarum besar, potongan karet, lem, palu kecil, dan gulungan benang. Tidak ada mesin jahit. Meja kerjanya bahkan hanya papan yang diletakkan di atas dua peti.
"Bisa diperbaiki?" tanyaku.
"Semua bisa diperbaiki kalau bagian yang harus menahan masih ada."
Ia membersihkan ujung sepatu dengan sikat. Lalu ia mengoleskan lem karet dan menekan kulit yang terlepas. Setelah menunggu beberapa saat, ia mengambil jarum sebesar lidi. Benangnya bukan benang jahit biasa, melainkan serat karung berwarna cokelat yang dipilin sampai tebal.
"Benang karung kuat?" tanya Gala.
"Kuat kalau simpulnya benar. Lem membantu menutup. Jahitan membantu mengingatkan bagian-bagian supaya tidak berpisah lagi."
Aku memperhatikan tangannya. Jari-jarinya bengkok dan penuh bekas luka, tetapi jarum bergerak tepat. Ia melubangi kulit, menarik benang, lalu mengencangkan setiap simpul dengan tang kecil. Bunyi serat bergesek terdengar kasar.
"Mbah pernah punya sepatu seperti ini?" tanyaku.
Mbah Wreda tersenyum tanpa memperlihatkan gigi. "Lebih buruk. Waktu kecil, Mbah memakai sandal dari potongan ban. Kalau talinya putus, Mbah ikat dengan rumput."
"Mbah sekolah jauh juga?"
Tangannya berhenti sesaat. "Tidak terlalu jauh. Tapi Mbah berhenti kelas tiga."
"Kenapa?"
"Sandal putus, lalu tidak ada uang untuk membeli buku. Setelah tidak masuk satu minggu, rasanya malu kembali. Satu minggu menjadi satu bulan. Setelah itu Mbah bekerja."
Ia kembali menjahit. Suara bambu beradu di atas kami.
"Dulu Mbah pikir berhenti sekolah hanya perkara kecil," lanjutnya. "Ternyata perkara kecil bisa mengikuti seseorang sangat lama. Mbah belajar membaca dari koran bekas. Menghitung dari uang pelanggan. Tapi ada banyak pintu yang tetap tidak bisa Mbah buka."
Aku memikirkan Nira yang memaksa menyeberang hanya untuk membaca. Aku memikirkan diriku yang tadi hampir memukul Jalu dan mungkin dipanggil kepala sekolah. Sekolah terasa rapuh. Bukan hanya bangunannya yang retak. Kehadiran kami pun bisa putus oleh hujan, luka, atau rasa malu.
Mbah Wreda menambahkan potongan karet tipis di dalam ujung sepatu agar jahitan tidak langsung menggesek jari. Ia kemudian memukul bagian telapak dengan palu kecil. Setelah selesai, jahitan cokelat terlihat besar dan tidak rapi, tetapi ujung sepatu tertutup kuat.
"Coba pakai."
Aku memasukkan kaki. Sepatu terasa sedikit sempit di depan, namun tidak menganga ketika kulangkahkan.
"Bagus," kata Gala. "Sekarang bunyinya cuma tek, tidak plak."
Aku berjalan dua kali di teras. Benang karung menahan dengan baik.
Aku mengeluarkan dua koin dari saku dan meletakkannya di meja. Mbah Wreda mendorongnya kembali.
"Tidak usah."
"Ibu bilang harus bayar."
"Katakan pada ibumu, lain kali kirim sedikit keripik singkong."
"Tapi minyak tanah kami-"
"Simpan uangnya. Jalan pulang akan gelap kalau kalian tidak punya minyak di rumah."
Aku ragu mengambil koin. Menerima pertolongan sering membuatku merasa lebih miskin daripada sebelumnya. Mbah Wreda seolah memahami.
"Mbah tidak memberi karena kasihan," katanya. "Mbah hanya tidak mau satu jahitan menjadi alasan anak berhenti datang ke sekolah."
Ia menutup kotak alat, lalu menatapku dengan sungguh-sungguh.
"Bayar dengan janji."
"Janji apa?"
"Jangan berhenti sekolah hanya karena sepatu. Kalau sepatu rusak, datang lagi. Kalau jalan berlumpur, bersihkan kaki. Kalau orang menertawakan, biarkan mereka lelah sendiri. Tapi jangan berhenti."
Aku melihat jahitan benang karung di ujung kakiku. Bentuknya kasar, tetapi terasa lebih kuat daripada sebelum ditendang Jalu.
"Aku janji," kataku.
Mbah Wreda mengangguk. Saat itu aku mengucapkannya seperti anak yang ingin segera pulang sebelum gelap. Aku belum tahu bahwa janji sederhana di bawah rumpun bambu itu kelak akan menjadi sesuatu yang harus kupegang ketika alasan untuk berhenti jauh lebih besar daripada sepasang sepatu rusak.