NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dari Balik Meja

Malamnya, Senja hampir nggak bisa tidur. Setiap kali dia memejamkan mata, otaknya otomatis memutar ulang kejadian seharian kemarin secara acak. Mulai dari cara Arsen meliuk-liuk menghindari motor di jalanan, tatapan mata pria itu yang sempat tertahan di dadanya saat di mobil, sampai rembesan darah di perban pinggangnya.

​"Ah, ngapain sih gue mikirin si tiran," gerutu Senja keesokan paginya sambil melangkah masuk ke area kantor Malik Media.

​Dia berusaha meyakinkan diri kalau luka Arsen paling-paling cuma akibat jatuh dari kamar mandi atau kecelakaan olahraga biasa. Lagian, kenapa juga dia harus peduli sama cowok yang kemarin lusa baru saja mengatainya 'murahan'?

​Kantor masih sepi saat Senja menaruh tasnya di kubikel. Karena masih jam delapan kurang lima belas menit, baru ada beberapa anak divisi operasional yang datang. Namun, perhatian Senja langsung tersita saat melihat pintu ruangan Arsen yang sudah sedikit terbuka, dengan lampu ruangan yang menyala terang.

​Rajin banget tuh robot, jam segini udah dateng, batin Senja sinis.

​Senja memutuskan untuk membuat teh hangat di pantry. Pas berjalan melewati depan ruangan Arsen, langkahnya mendadak melambat. Melalui celah pintu yang terbuka, Senja bisa mendengar suara rintihan tertahan yang sangat pelan. Suara bariton yang biasanya terdengar angkuh itu sekarang terdengar serak dan kesakitan.

​Rasa penasaran mengalahkan rasa bencinya. Senja memberanikan diri mendekat dan mengintip dari celah pintu.

​Di dalam ruangan, Arsen sedang berdiri bersandar di pinggiran meja marmer hitamnya. Wajahnya pucat, dan dahinya dipenuhi butir-butir keringat dingin. Kemeja putih yang dia pakai hari ini sudah tidak rapi lagi; kancing bagian bawahnya terbuka, memperlihatkan perban putih di pinggangnya yang kini... sudah berubah warna menjadi merah pekat karena darah yang merembes jauh lebih banyak dari kemarin.

​Arsen tampaknya sedang berusaha mengganti perban itu sendiri dengan tangan kirinya yang gemetar, sementara tangan kanannya memegang botol alkohol. Tapi posisinya yang sulit membuat pria itu kesulitan dan malah meringis kesakitan.

​Astaga, itu luka robek lagi? Senja membatin, panik sendiri melihat darah sebanyak itu.

​Tanpa pikir panjang atau mengetuk pintu lebih dulu, Senja langsung mendorong pintu ruangan hingga terbuka lebar. "Pak Arsen!"

​Arsen tersentak kaget. Dengan gerakan refleks yang luar biasa cepat untuk ukuran orang sakit, tangan kanan Arsen langsung menyelinap ke balik tumpukan dokumen di atas meja—seolah hendak mengambil sesuatu yang disembunyikan di sana—sebelum akhirnya dia menyadari kalau yang masuk adalah Senja. Tatapan mata Arsen seketika menajam, penuh kilat intimidasi yang defensif.

​"Siapa yang suruh kamu masuk tanpa izin? Keluar!" bentak Arsen, suaranya parau tapi tetap terdengar berbahaya. Dia buru-buru menarik kain kemeja putihnya untuk menutupi luka tersebut.

​Senja tidak mundur satu langkah pun. Sifat keras kepalanya justru terpancing. Dia berjalan mendekat, menaruh cangkir tehnya di meja, lalu menatap Arsen dengan berani.

​"Bapak bisa mecat saya setelah ini kalau mau, tapi sekarang stop bersikap keras kepala," kata Senja ketus, tapi tangannya langsung bergerak merebut botol alkohol dan sekotak kasa steril yang ada di dekat Arsen. "Tangan Bapak gemetaran kayak gitu, gimana mau bersihin sendiri? Biar saya bantu."

​Arsen menahan pergelangan tangan Senja dengan erat saat perempuan itu mau mendekat. Genggamannya kuat, dingin, dan terasa mengancam. "Saya bilang keluar, Senja Naura. Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi."

​"Saya cuma menghadapi bos saya yang lagi pendarahan di kantor dan terlalu gengsi buat minta tolong," balas Senja, menatap lurus ke sepasang mata elang Arsen tanpa rasa takut sedikit pun. "Bapak mau pingsan di sini terus bikin geger satu kantor? Pilih mana?"

​Arsen menatap Senja dengan intensitas yang tinggi selama beberapa detik. Napas pria itu memburu, menahan rasa sakit sekaligus menakar keberanian asistennya. Akhirnya, perlahan-lahan, Arsen melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Senja. Pria itu bersandar pasrah pada meja marmernya, membuang muka ke arah lain.

​"Lakukan dengan cepat. Dan tutup pintunya," desis Arsen dingin.

​Senja segera berbalik untuk mengunci pintu ruangan, lalu kembali mendekati Arsen. Jantung Senja mendadak berdegup dua kali lebih cepat saat dia harus berdiri sangat dekat dengan tubuh kokoh bosnya.

​Dengan perlahan dan hati-hati, Senja membantu membuka sisa kancing kemeja putih Arsen, menyingkap kainnya hingga mengekspos perut rata yang liat dan berotot milik pria itu, serta lilitan perban yang basah oleh darah. Saat Senja mulai menggunting perban lama yang menempel di kulit Arsen, matanya membelalak kaget.

​Itu bukan luka goresan biasa.

​Di balik perban yang terbuka, ada luka jahitan yang memanjang di perut samping Arsen. Jahitannya rapi, tapi beberapa titik tampak robek kembali akibat gerakan kasar—mungkin akibat manuver menyetir gila-gilaan kemarin siang. Tapi yang membuat bulu kuduk Senja meremang adalah bentuk luka itu. Senja bukan dokter, tapi dia tahu betul kalau bentuk luka linier dan dalam seperti itu... adalah bekas luka tusukan senjata tajam atau robekan peluru yang menyerempet kulit.

​Senja menahan napasnya, tangannya mendadak kaku saat memegang kapas beralkohol.

​Arsen yang merasakan kegugupan Senja, perlahan menundukkan kepalanya. Pria itu menatap puncak kepala Senja yang jaraknya hanya beberapa sentimeter di bawah dagunya.

​"Saya sudah bilang," bisik Arsen, suaranya terdengar sangat rendah dan dalam, tepat di dekat telinga Senja. "Ada hal-hal yang lebih baik tidak usah kamu tahu, Senja."

​Senja menelan ludah dengan susah payah. Dia membasahi kapas dengan alkohol, lalu dengan tangan yang berusaha dibuat se-stabil mungkin, dia mulai membersihkan darah di sekitar luka Arsen. Sentuhan dingin alkohol membuat otot perut Arsen mendadak menegang seketika, menciptakan atmosfer intim sekaligus menegangkan yang begitu pekat di antara mereka berdua di dalam ruangan yang terkunci itu.

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!