ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Pagi itu cahaya matahari masuk perlahan lewat celah tirai, menyentuh wajah Adelia yang terbangun dengan perasaan paling tenang yang pernah ia rasakan. Ia tidak langsung bergerak—ia membiarkan dirinya menikmati kehangatan lengan kokoh yang masih melingkar di pinggangnya, napas teratur yang terasa di lehernya, dan detak jantung yang menjadi irama paling damai baginya.
Ini adalah rasa nyaman yang tak pernah ia impikan sebercahaya ini. Rasanya seperti pulang ke rumah yang sebenarnya, tempat di mana ia tidak perlu menyembunyikan apa pun, tidak perlu takut salah bicara, dan tidak perlu merasa seperti beban. Namun di sudut hati yang paling dalam, ia tahu: rasa nyaman ini berdiri di atas fondasi yang salah. Ia dicintai dengan nama milik orang lain, dihargai dengan wajah yang seharusnya bukan miliknya untuk dipakai.
"Kamu sudah bangun?" suara berat dan serak tepat di telinganya membuat Adelia tersenyum tipis. Ia merasakan pelukan di pinggangnya mengerat lembut.
"Iya. Kamu belum berangkat?" tanyanya pelan, berbalik menghadap Gyantara. Pria itu menatapnya dengan mata yang masih sedikit mengantuk namun penuh kelembutan.
"Belum. Aku ingin menikmati waktu begini sebentar lagi," jawab Gyantara sambil mengusap rambut Adelia yang berantakan di dahi. "Aneh rasanya. Dulu aku selalu terburu-buru bangun, takut pekerjaan menumpuk. Tapi sekarang... rasanya menyedihkan harus beranjak dari tempat ini."
Adelia menunduk menahan rasa haru sekaligus rasa bersalah. "Kamu akan terlambat kalau begini terus. Nanti orang kantor menunggumu."
"Biarkan mereka menunggu. Waktu denganmu lebih berharga," bisiknya, lalu mencium kening Adelia perlahan. Sentuhan itu begitu penuh kasih sayang hingga membuat mata Adelia berkaca-kaca.
Setelah bersiap, mereka sarapan bersama dengan suasana yang begitu ringan. Tidak ada kesunyian yang canggung, tidak ada pertanyaan yang menekan. Mereka bercerita tentang hal-hal sepele: tentang burung yang berkicau di luar, tentang bunga matahari yang baru tumbuh di taman, tentang selera kopi mereka yang ternyata sama-sama suka tidak terlalu manis.
"Kamu tahu?" kata Gyantara tiba-tiba sambil menatap Adelia di seberang meja. "Dulu Adelin selalu meminum kopinya dengan tiga sendok gula dan krim kental. Dia bilang kopi pahit itu menyedihkan. Tapi kamu... kamu meminumnya hitam, sedikit gula, dan menikmati rasanya yang kuat. Setiap hari aku menemukan hal baru yang membuatku makin penasaran padamu."
Hati Adelia berdenyut kencang. Ia tersenyum namun matanya terasa perih. "Mungkin aku hanya suka apa adanya saja. Tidak perlu menutupi rasa aslinya."
Gyantara mengangguk setuju. "Itulah yang aku suka darimu. Kamu tidak berpura-pura menjadi manis, kamu memang manis dengan caramu sendiri."
Sepanjang hari itu, rasa nyaman itu terus menyelimuti mereka. Saat Gyantara bekerja di ruang kerja rumah, Adelia duduk di sebelahnya dengan buku atau sketsa gambarnya. Tidak banyak bicara, tapi kehadiran satu sama lain sudah cukup menjadi penyemangat. Kadang Gyantara akan menyodorkan sepotong buah, atau Adelia akan menuangkan teh hangat tepat saat Gyantara terlihat lelah. Gerakan-gerakan kecil itu begitu alami, seolah mereka sudah saling mengenal dan hidup bersama selama puluhan tahun.
Sore harinya mereka berjalan-jalan di taman belakang. Adelia berhenti di depan sekumpulan bunga mawar merah yang sedang mekar. Ia menyentuh kelopaknya pelan, takut merusaknya.
"Mawar ini favoritmu kan?" tanya Gyantara dari belakang.
Adelia menoleh kaget. "Bukan... aku justru lebih suka bunga matahari. Mawar ini... terlalu tajam durinya, dan terlalu mencolok warnanya. Rasanya menuntut perhatian."
Gyantara tertegun sesaat, lalu tertawa kecil. "Lagi-lagi kamu berbeda. Dulu Adelin selalu meminta mawar merah setiap hari ulang tahun atau hari peringatan. Dia bilang itu simbol cinta yang paling kuat." Ia mendekat, lalu berdiri di samping Adelia. "Tapi aku mulai mengerti kenapa kamu suka matahari. Ia tidak perlu berusaha mencolok, cahayanya sendiri sudah cukup menerangi siapa saja."
Ia kemudian memetik satu bunga matahari yang tumbuh di sudut taman, lalu menyelipkannya di balik telinga Adelia. Wajah gadis itu memerah malu, namun senyumnya begitu cerah.
"Cantik sekali," puji Gyantara tulus. "Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi setiap hari kamu membuatku jatuh cinta lagi dan lagi."
Kalimat itu seharusnya menjadi kebahagiaan terbesar bagi siapa pun. Tapi bagi Adelia, itu seperti pujian yang ditujukan pada bayangannya sendiri. Ia menikmati rasa nyaman ini, menikmati perhatian ini, menikmati cinta ini—tapi ia tahu ia tidak berhak sepenuhnya memilikinya. Ini adalah rasa nyaman yang salah: ia dicintai karena kemiripan wajahnya, bukan karena dirinya yang sebenarnya.
Malam itu saat berbaring berdua, Adelia memeluk pinggang Gyantara erat sekali, seolah takut jika ia melepaskannya sebentar saja, momen indah ini akan hilang dan ia kembali menjadi anak yang tidak diinginkan di rumah orang tuanya.
"Kamu kenapa memelukku begitu erat?" tanya Gyantara lembut sambil mengusap punggungnya.
"Aku takut ini hanya mimpi," akui Adelia jujur. "Takut besok pagi aku bangun dan kamu sudah tidak ada, atau aku kembali ke kamar sempitku di rumah orang tuaku."
Gyantara mencium ubun-ubunnya dalam-dalam. "Ini bukan mimpi. Dan aku tidak akan pernah pergi. Mulai sekarang, tempatmu ada di sini, di sisiku. Tidak ada yang bisa mengusirmu."
Adelia menutup matanya, air mata bahagia sekaligus sedih menetes pelan di baju Gyantara. Ia ingin sekali berteriak mengatakan kebenaran: "Aku bukan Adelin! Aku Adelia! Cintailah aku sebagai diriku sendiri!" Tapi kata-kata itu terasa berat sekali di lidahnya. Ia takut jika kebenaran itu keluar, rasa nyaman yang manis ini akan hancur berkeping-keping. Ia takut pria ini akan merasa dibohongi, merasa dimainkan, dan akhirnya membencinya.
Ia tahu, semakin lama ia menikmati rasa nyaman yang salah ini, semakin sakit rasanya saat kenyataan akhirnya datang mengetuk pintu. Tapi untuk saat ini, ia membiarkan dirinya menjadi egois sebentar saja. Ia membiarkan dirinya menikmati kehangatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya, meski ia tahu ia sedang berdiri di tepi jurang.
Di sampingnya, Gyantara tersenyum damai. Ia belum menyadari beban berat yang dipikul istrinya. Ia hanya tahu satu hal: kehadiran wanita ini mengubah dunianya menjadi jauh lebih indah. Ia berjanji akan menjaganya seumur hidup, tanpa tahu bahwa janji itu kelak akan diuji oleh kenyataan yang paling menyakitkan.
Malam itu berakhir dengan kebahagiaan yang manis namun menyimpan getir yang tak terucap. Mereka berdua saling memeluk erat, satu sama lain merasa menemukan tempat pulang, meski satu dari mereka tahu bahwa jalan pulang yang sebenarnya masih jauh dan penuh rintangan.