"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
"Elzio! Malam ini lu wajib temenin gue minum! Enggak ada penolakan!"
Clara membanting pintu mobil sedan mewah Elzio dengan kasar. Di dalam kabin yang sejuk, matanya masih sedikit basah, tapi binar amarah dan rasa puas karena berhasil melepaskan diri dari ayahnya membakar dadanya.
Elzio menoleh, memandangi Clara yang napasnya masih berburu. "Minum? Kamu baru saja melewati drama besar, Clara. Kamu butuh istirahat."
"Gue enggak butuh istirahat, Elzio! Gue butuh melupakan muka manusia-manusia brengsek itu!" bentak Clara, memegang bahu Elzio dan mengguncangnya pelan. "Antar gue ke club sekarang! Lu yang bayar semuanya, dan lu harus temenin gue!"
Elzio menyunggingkan senyum tipis, mengelus pipi Clara dengan ibu jarinya. "Baik. Apa pun buat kamu malam ini, sweetheart."
Suara musik EDM dengan dentuman bass yang berat memekakkan telinga di dalam salah satu VIP club paling eksklusif di Jakarta Pusat. Lampu neon berwarna kebiruan dan ungu berkedip-kedip menyapu kerumunan orang yang menari.
Di area VIP table, tiga botol tequila mahal sudah terbuka. Clara meneguk sloki keempatnya tanpa ragu, membuat cairan hangat menyengat itu membakar tenggorokannya.
"Clara, cukup. Ini sudah sloki kelima," tegur Elzio, menahan pergelangan tangan Clara saat wanita itu hendak menuang gelas berikutnya.
Clara tertawa renyah, tawa manis bercampur mabuk yang sangat jarang diperlihatkannya. Pipi mulusnya kini merona merah padam, matanya redup dan sayu menatap Elzio.
"Penakut lu, Pak CEO! Masa segini aja disuruh berhenti?!" ceracau Clara dengan suara manja yang tidak pernah terdengar sebelumnya.
Dia melepaskan pegangan tangan Elzio, lalu berdiri dengan agak sempoyongan. Musik bertempo cepat berdentum makin keras.
"Gue mau dansa! Lu ikut gue!" panggil Clara, menarik kerah kemeja Elzio dengan berani.
"Clara, di luar VIP area terlalu ramai—"
"Ikut enggak?!" ancam Clara sambil mengerucutkan bibirnya, menatap Elzio galak namun sangat menggemaskan di mata pria itu.
Elzio mendengus terkekeh, menggelengkan kepalanya pasrah. "Baik, saya ikut."
Clara menarik Elzio ke tengah-tengah lantai dansa yang dipenuhi puluhan orang. Gerakan Clara yang mabuk terkesan bebas, tidak beraturan, namun sangat memikat. Dia meliukkan tubuhnya mengikuti irama musik, tertawa lepas seolah seluruh beban hidupnya menguap.
Namun, penampilan Clara yang memukau dengan gaun hitamnya mengundang perhatian beberapa pria asing di sekitar mereka. Seorang pria bertato di lengan mulai melangkah mendekati Clara dari belakang, hendak memegang pinggangnya.
Belum sempat jemari pria itu menyentuh gaun Clara, satu tangan kokoh Elzio menyambar pergelangan tangan pria tersebut dan memelintirnya kuat-kuat.
KREK!
"Aduhh! Sakit, Bang!" ringis pria bertato itu kesakitan.
"Sentuh dia satu milimeter saja, tanganmu saya patahkan malam ini," desis Elzio dingin tepat di depan wajah pria itu, matanya menyala penuh ancaman mematikan.
Pria bertato itu panik dan langsung kabur menyelinap ke kerumunan.
Elzio tidak membiarkan celah lagi. Dia melangkah maju, melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Clara dari belakang, menarik tubuh hangat wanita itu rapat-rapat ke dada bidangnya. Elzio berdiri bagaikan benteng hidup yang memagari Clara dari jangkauan siapa pun.
Clara membalikkan badannya di dalam dekapan Elzio, menengadah menatap wajah tampan sang CEO yang berjarak hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.
"Gagal fokus ya, Pak CEO? Menjaga gue segitunya?" bisik Clara manja, mengalungkan kedua tangannya di leher tegap Elzio.
"Kamu milik saya, Clara. Tidak ada yang boleh menyentuh kamu selain saya," balas Elzio rendah, suaranya sarat akan obsesi dan kecemburuan yang pekat.
Clara tersenyum miring—sebuah senyuman provokatif yang dipengaruhi alkohol. Dia berjinjit sedikit, menekan bibirnya ke bibir Elzio, memberikan sebuah ciuman panas di tengah kilatan lampu club.
Elzio tersentak kaget sejenak. Namun, sentuhan lembut dan hangat dari bibir Clara membakar seluruh kendali dirinya. Elzio mempererat cengkeramannya di pinggang Clara, membalas ciuman itu dengan dalam, menuntut, dan penuh gairah yang sudah lama dia tahan.
Riuh suara musik mendadak mengabur di telinga mereka. Di antara keramaian lampu malam, hanya ada mereka berdua.
Setelah beberapa saat yang memabukkan, Clara menarik wajahnya sedikit, napasnya memburu beradu dengan napas hangat Elzio. Binar mata Clara yang redup menatap Elzio dengan campuran kebas dan pasrah.
"Ayo pulang, Elzio..." bisik Clara parau di dekat bibir Elzio. "...ke penthouse lu."
Kamar utama penthouse terasa sangat sunyi dan redup saat pintu otomatis terkunci dari dalam.
Elzio menuntun Clara masuk, berniat membaringkan wanita yang sudah setengah sadar itu ke atas ranjang empuknya. Namun, begitu kakinya menyentuh tepi kasur, Clara justru menarik kemeja Elzio hingga pria itu ikut terhenyak di atas ranjang bersama dengannya.
Clara menyisip di atas paha Elzio, menatap pria itu lurus-lurus dengan tatapan sayu. Jemari lentiknya mulai melepas kancing kemeja Elzio satu per satu secara perlahan.
Elzio memegang jemari Clara, menghentikan gerakannya. "Clara... kamu mabuk. Istirahatlah."
Clara terkekeh hambar, menggelengkan kepalanya. "Gue tahu apa yang gue lakukan, Elzio."
"Clara—"
"Ambil tubuh gue malam ini, Elzio," potong Clara dengan suara parau bercampur nada kepasrahan yang menyayat hati. "Lu udah bayar sepuluh miliar buat nyelamatin aset Ibu gue dari Papa. Lu udah bayarin denda lima miliar gue. Gue tahu... harga diri gue enggak ada artinya dibanding semua uang yang udah lu keluarkan."
Jemari Clara bergetar saat melanjutkan melepas kancing kemeja Elzio. "Gue serahin tubuh gue malam ini sebagai pelunasannya. Jadi... bayar gue malam ini dan anggap semuanya lunas."
DEG.
Kalimat itu bagaikan sembilu yang menyayat dada Elzio.
Binar gairah di mata Elzio seketika padam, berganti dengan rasa sakit yang luar biasa mendalam. Pria yang biasanya tenang dan dominan itu menatap Clara dengan pandangan terluka yang tak bisa disembunyikan.
SRET!
Elzio mencengkeram kedua pergelangan tangan Clara dengan lembut namun kuat, menghentikan pergerakan wanita itu secara mutlak.
"Hentikan, Clara!" bentak Elzio, suaranya bergetar menahan gejolak emosi di dadanya.
"Kenapa?!" tantang Clara dengan suara meninggi, air matanya mendadak menetes membasahi pipinya yang merona. "Bukannya ini yang lu mau selama ini, hah?! Lu ngejar gue, narik gue ke hidup lu, beli aset Ibu gue... bukannya ujung-ujungnya lu mau ini dari gue?!"
"SAYA TIDAK PERNAH MEMBELI KAMU, CLARA!" jerit Elzio murka—sebuah teriakan emosional yang belum pernah Clara dengar seumur hidupnya dari mulut pria dingin itu.
Clara terpaku, matanya membelalak kaget.
Dada Elzio naik turun memburu. Dia melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Clara, lalu menangkup kedua pipi wanita itu dengan sangat lembut. Ibu jarinya mengusap air mata yang mengalir di pipi Clara dengan penuh penyesalan.
"Saya tidak pernah menganggap uang sepuluh miliar atau denda lima miliar itu sebagai harga untuk membeli kamu," bisik Elzio dengan suara parau yang amat jujur, matanya meremang basah menatap iris mata Clara. "Saya menyelamatkan aset ibu kamu karena saya tidak sanggup melihat wanita yang saya cintai menangis dan dihancurkan oleh keluarganya sendiri."
Clara membeku total. "El... Elzio..."
"Saya menginginkan kamu, Clara. Sangat menginginkan kamu," lanjut Elzio rendah, mendekatkan dahinya ke dahi Clara. "Tapi saya mau kamu menyerahkan diri kamu karena kamu mencintai saya... bukan karena rasa berutang, bukan karena bayaran, dan bukan karena kamu merasa terpaksa."
Tangis Clara meledak seketika. Pertahanan gengsi dan rasa takutnya runtuh total mendengar kejujuran pria di depannya ini.
Elzio menarik tubuh Clara ke dalam pelukan hangatnya, merengkuh wanita yang menangis terisak-isak itu di atas dadanya. Elzio mengelus rambut panjang Clara dengan kelembutan yang teramat dalam, mengecup puncak kepala Clara berulang kali.
"Saya tidak pernah berniat menjadikan kamu simpanan atau barang belian, sweetheart," bisik Elzio lembut di dekat telinga Clara. "Saya mau kamu jadi istri saya. Ibu dari anak-anak saya. Menghabiskan sisa hidup bersama saya secara terhormat."
Clara meremas kemeja Elzio di bagian dada, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata di balik ceruk leher pria itu. Rasa hangat dan aman yang tidak pernah dia dapatkan dari siapa pun kini mengepung seluruh jiwanya.
"Lu... lu jahat banget, Elzio..." cicit Clara parau di tengah tangisnya.
Elzio terkekeh pelan, mengusap punggung Clara hangat. "Saya tahu. Tapi saya hanya jahat demi mempertahankan kamu."
"Gue benci lu..." bisik Clara lagi, walau kini tangannya melingkar makin erat di pinggang tegap Elzio.
Elzio memejamkan matanya, menyunggingkan senyum tulus yang paling menawan di bibirnya. "Benci sesukamu, Clara... tapi malam ini, tidur nyenyaklah di pelukan calon suami kamu."