Follow IG @samsularipin_101
"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".
Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.
Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.
Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin yang Menikam
Langkah kaki Alana terasa mengambang saat ia menyusuri koridor mal yang ramai. Suara tawa pengunjung, musik yang mengalun dari gerai-gerai pakaian, hingga kilatan lampu etalase terasa seperti latar belakang yang buram. Fokusnya terkunci pada satu hal yaitu keluar dari tempat ini secepat mungkin. Ia tidak ingin runtuh di tempat umum. Dengan sisa kekuatan yang ada, ia menahan tanggul air matanya agar tidak jebol sebelum ia berhasil mencapai taksi.
Begitu pintu mobil tertutup dan taksi bergerak membelah kemacetan Jakarta, pertahanan Alana runtuh. Ia bersandar pada kaca jendela, membiarkan air matanya mengalir tanpa suara. Kata-kata Jevandra terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Perempuan di rumah itu.
Statusnya sebagai istri sah tidak lebih dari sekadar penanda properti bagi Jevandra. Sebuah formalitas di atas kertas yang bahkan tidak layak mendapatkan sebuah nama.
Malam harinya, apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan itu terasa tiga kali lebih dingin dari biasanya. Alana duduk di sofa ruang tengah yang luas dengan lampu yang sengaja tidak ia nyalakan seluruhnya. Ia hanya ditemani pendar temaram dari lampu sudut. Jarum jam dinding sudah menunjuk ke angka sepuluh.
Alana tahu Jevandra tidak akan pulang—pria itu sendiri yang mengatakannya pada Silvia tadi siang. Namun, entah kebodohan atau harapan kosong apa yang membuatnya tetap terjaga, duduk membeku menunggu sesuatu yang mustahil.
Tepat pukul 11.15 malam, bunyi klik pada gagang pintu utama memecah keheningan.
Alana tersentak. Ia menoleh dan mendapati sesosok tubuh tinggi tegap melangkah masuk. Jevandra. Pria itu datang dengan setelan jas yang sudah tidak serapi tadi siang; dasinya sudah dilonggarkan dan dua kancing teratas kemejanya terbuka. Wajahnya tampak lelah, namun begitu matanya menangkap siluet Alana di kegelapan, tatapannya langsung menegang.
Jevandra berjalan mendekat, langkah sepatunya terdengar intimidatif di atas lantai marmer. Ia berhenti tepat di depan Alana, menjulang tinggi dengan aura dingin yang biasa ia kenakan sebagai perisai.
"Kamu sengaja memata-matai saya tadi siang?" Kalimat pertama yang keluar dari mulut Jevandra langsung menusuk, tanpa basa-basi, sarat akan tuduhan.
Alana mendongak. Rasa sakit yang bertumpuk sejak siang tadi mendadak berubah menjadi letupan keberanian yang tipis. Ia berdiri dari sofa, membuat jarak di antara mereka terasa sedikit lebih setara, meski tinggi badannya tetap kalah jauh.
"Memata-matai?" Alana mengulang kata itu dengan tawa hambar yang getir. "Jakarta ini luas, Jevandra. Dan mall itu tempat umum. Saya ke sana untuk mencari ketenangan, bukan untuk mencari tahu dengan siapa suami saya menghabiskan waktu makan siangnya."
Jevandra bersedekah dada, matanya menyipit sinis. "Kebetulan yang terlalu rapi untuk dipercaya. Kamu sengaja duduk di dekat meja kami untuk menguping, bukan?"
"Kalau saya tahu kamu dan wanita itu ada di sana, saya bahkan tidak akan sudi melangkahkan kaki masuk ke restoran itu," balas Alana, suaranya bergetar namun nadanya tetap terjaga. Ia tidak ingin terdengar lemah. "Kamu tidak perlu khawatir. Saya tahu posisi saya. Saya tidak akan membuat keributan yang bisa merusak nama baik keluarga Wijaya ataupun Pratama."
Mendengar jawaban Alana, rahang Jevandra mengeras. Ada kilat ketidaknyamanan yang melintas di matanya saat Alana menyebut 'wanita itu', namun ego pria itu dengan cepat mengambil alih.
"Bagus kalau kamu sadar diri," ucap Jevandra dingin, melangkah satu nomor lebih dekat hingga Alana bisa mencium aroma parfum maskulin pria itu yang bercampur tipis dengan aroma lain—aroma manis yang bisa ia tebak, dari gaun Silvia. "Pernikahan ini terjadi karena bisnis, Alana. Kamu tahu itu sejak awal. Jangan pernah berharap lebih dari saya, dan jangan pernah mencampuri urusan pribadi saya dengan Silvia. Apa yang kamu lihat tadi siang, lupakan."
Alana merasakan dadanya seperti dihantam godam besar. Begitu mudahnya pria ini mendikte perasaannya.
"Lalu bagaimana dengan orang tuamu? Atau orang tuaku?" tanya Alana, menunjuk ponselnya yang tergeletak di meja. "Ibumu mungkin tidak tahu, tapi ibuku terus bertanya. Berapa lama kita harus bersandiwara seperti ini?"
Jevandra membalikkan badannya memunggungi Alana, bersiap menuju kamar utamanya. Sebelum melangkah, ia menoleh sedikit lewat bahunya.
"Selamanya, jika diperlukan," jawab Jevandra kejam. "Di depan media dan keluarga, kamu adalah istri saya. Tapi di dalam apartemen ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi atap. Jangan melewati batas paham! Alana?."
Setelah mengatakan itu, Jevandra melangkah pergi dan menutup pintu kamarnya dengan dentuman keras, meninggalkan Alana sendirian di ruang tengah yang kembali senyap.
Alana perlahan merosot kembali ke sofa. Ruangan ini begitu megah, namun malam ini, Alana merasa seperti seorang tawanan di dalam istana kaca yang siap pecah kapan saja.