NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Langkah kaki Repan dan Arinda terdengar santai saat menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi menuju ruang guru. Arinda berjalan agak lambat di belakang, matanya fokus memperhatikan punggung tegap sang kakak.

'Sejak kapan Kak Repan jadi seberani ini?' batin Arinda heran, sekaligus kagum.

'Dulu dia selalu menghindari keributan. Tapi tadi... dia bahkan bisa mukul orang tanpa ragu.'

Ada aura baru yang terpancar dari diri kakaknya, sesuatu yang belum pernah Arinda lihat selama ini.

Mereka akhirnya berhenti tepat di depan pintu ruang staf guru. Arinda mengetuknya pelan sebelum melangkah masuk.

"Permisi, Bu... Saya datang bersama kakak saya untuk mengurus masalah tunggakan SPP saya," ucap Arinda dengan nada sesopan mungkin.

Seorang staf administrasi yang berusia sekitar empat puluh tahunan menoleh. Wanita itu melempar senyum kecil, tapi jenis senyuman yang tidak tulus lebih terkesan merendahkan.

"Oh, Arinda. Sudah ada uangnya? Kamu nggak dapat uang itu dari hasil yang aneh-aneh, kan?" tanyanya sambil tersenyum sinis.

"Ibu tahu kondisi keluarga kamu lagi susah dan kamu terancam dikeluarkan, tapi jangan sampai melakukan hal ilegal, ya."

Arinda langsung menunduk dalam. Kalimat itu terasa sangat menusuk hatinya, tapi dia tidak tahu harus menjawab apa karena memang posisinya sedang terdesak.

Melihat adiknya dipojokkan, Repan langsung maju satu langkah. Sorot matanya mendadak berubah dingin dan menekan, membuat atmosfer di ruangan itu terasa agak mencekam.

"Saya wali dari Arinda. Dan saya ke sini bukan untuk bicara dengan Anda, tapi langsung dengan kepala sekolah," ujar Repan dengan nada santai, namun penuh penekanan.

Staf guru itu mengernyitkan dahi, merasa gengsinya terusik oleh anak ingusan di depannya.

"Kamu? Wali? Kamu sendiri saja masih pakai seragam sekolah. Memangnya sepenting apa sampai harus ketemu kepala sekolah?"

Repan menatap lurus ke arah mata wanita itu. Pandangannya begitu tajam dan mengintimidasi, seolah bisa menguliti habis rasa percaya diri orang yang ditatapnya.

"Panggil saja dia ke sini. Kecuali, Anda memang sudah bosan kerja di sekolah ini," ucap Repan pelan, tanpa perlu meninggikan suara.

Namun, ancaman yang tersirat di dalamnya terasa sangat nyata.

Tubuh staf guru itu mendadak kaku. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa, rasa takut tiba-tiba merayapi pundaknya hanya karena gertakan seorang remaja berseragam sekolah.

"B-baik, tunggu sebentar," jawabnya gugup, lalu buru-buru melipir ke arah ruang kepala sekolah.

Arinda yang menyaksikan kejadian itu langsung melongo.

'Apa yang sebenarnya terjadi sama Kak Repan? Dia berubah total... benar-benar kayak orang lain,' pikir Arinda, tak bisa menyembunyikan rasa takjub yang bercampur aduk di kepalanya.

Tidak butuh waktu lama, staf guru tadi kembali dengan sikap yang berbalik seratus delapan puluh derajat. Kali ini wajahnya tampak jauh lebih ramah dan penuh hormat.

"Silakan, Pak Kepala Sekolah sudah menunggu di ruangannya."

Repan mengangguk santai, lalu bersiap melangkah.

"Kak, aku ikut masuk ya," bisik Arinda pelan.

Repan menoleh, lalu tersenyum tipis sembari mengacak-acak rambut adiknya dengan gemas.

"Ini urusan orang dewasa. Kamu tunggu di sini saja, oke?"

Arinda terdiam di tempatnya dengan pipi yang agak merona.

'Kak Repan... sejak kapan bisa sekeren ini, sih?' batinnya, benar-benar dibuat kagum oleh perubahan drastis sang kakak.

Di sisi lain, Arinda mengira kakaknya sengaja melarangnya ikut karena tidak ingin terlihat memohon-mohon di depan kepala sekolah demi dirinya.

Arinda masih ingat jelas bagaimana dulu, sejak ia masih SMP, kakaknya selalu rela merendahkan diri dan memohon ke pihak sekolah agar adiknya tidak dikeluarkan akibat kendala biaya. Arinda mengira kali ini pun situasinya akan sama.

Sementara itu, Repan melangkah masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Di dalam ruangan ber-AC itu, seorang pria bertubuh tambun dengan setelan jas yang tampak kesempitan sedang duduk di balik meja kerja yang besar.

Pria itu sibuk membolak-balik dokumen di tangannya. Dia hanya melirik sekilas saat Repan masuk, lalu kembali fokus pada kertas-kertasnya.

Repan langsung mengambil posisi duduk di kursi depan meja kerja tersebut. Gerakannya tenang, tanpa ada rasa canggung atau gugup sedikit pun.

"Jadi, ada keperluan penting apa sampai kamu bersikeras mau bicara langsung dengan saya?" tanya pria itu tanpa sudi mengalihkan pandangannya dari dokumen.

"Saya mau melunasi semua tunggakan biaya sekolah adik saya," jawab Repan lugas.

Kepala sekolah yang bernama Pak Alex itu langsung mendengus kesal dan mengernyitkan dahi.

"Kalau cuma mau bayar SPP, urusannya di ruang administrasi depan. Nggak perlu buang-buang waktu saya dengan masuk ke ruangan ini," ketusnya dengan nada bicara yang tidak bersahabat.

Repan menaikkan satu alisnya, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menyilangkan kaki.

"Pak Alex... kedatangan saya ke sini bukan cuma buat bayar recehan itu. Ada penawaran lain yang mau saya sampaikan."

Mendengar kata 'penawaran', barulah Pak Alex mengangkat wajahnya dan menatap Repan dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu.

"Penawaran apa?"

Bibir Repan melengkung, membentuk sebuah senyuman tipis yang penuh misteri.

"Saya berniat untuk memberikan donasi besar untuk sekolah ini," ucap Repan dengan nada yang teramat santai.

Pak Alex langsung melongo. Mulutnya sedikit menganga, seolah kupingnya salah mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh murid di hadapannya.

"Donasi... kamu?"

Repan hanya membalasnya dengan anggukan kecil, membiarkan keheningan ruangan membuat pria tambun itu semakin penasaran. Pak Alex menatap Repan lekat-lekat, berusaha mencari tahu apakah anak muda di depannya ini sedang waras atau tidak. Sungguh plot twist, murid yang adiknya menunggak bayaran malah bicara soal donasi.

Pak Alex akhirnya mengembuskan napas panjang. Wajahnya kembali terlihat malas dan kurang antusias, menganggap Repan hanya sedang membual demi mencari perhatian.

"Terserah kamu," gumam Pak Alex datar.

"Cepat katakan apa maumu, saya nggak punya banyak waktu."

Repan menatap lurus ke arah mata kepala sekolah itu, sorot matanya tajam bagaikan elang yang mengunci mangsa.

"Menurut saya, sistem di SMA Negeri 7 Bogor ini sudah agak bobrok. Masa cuma karena menunggak biaya tiga bulan, seorang siswi langsung diancam mau dikeluarkan secara sepihak?"

Kedua alis Pak Alex langsung bertaut rapat. Nada bicara Repan yang kelewat santai tapi menampar tepat di muka itu sukses membuat emosinya tersulut.

"Kamu sedang berusaha menghina sekolah ini, ya?!"

"Saya nggak menghina, Pak. Saya cuma bicara fakta," sahut Repan enteng.

"Tapi tenang saja, saya ke sini bukan untuk cari ribut. Saya cuma mau menyumbang dana sebesar tiga miliar rupiah untuk membantu seluruh siswa kurang mampu di sekolah ini agar kejadian seperti adik saya tidak terulang lagi."

"A-apa?!" Pak Alex sontak berdiri dari kursinya sampai kursinya berdecit keras.

"Tiga... tiga miliar?!"

'Anak ini sudah gila atau bagaimana?!' batin Pak Alex panik. Ia memperhatikan penampilan Repan yang memakai seragam biasa, bahkan adiknya sendiri sampai menunggak SPP berbulan-bulan, tapi sekarang malah dengan mudahnya menyebut angka miliaran.

Matanya menatap Repan penuh kecurigaan. "Kamu jangan main-main ya! Anak seumur kamu, dari mana bisa punya uang sebanyak itu?"

Repan hanya tersenyum tipis melihat kepanikan di wajah pria tua itu.

"Memangnya wajah saya kelihatan seperti orang yang lagi bercanda? Saya serius dengan ucapan saya. Tapi tentu saja, ada satu syarat mutlak."

Pak Alex menyipitkan matanya, berusaha membaca situasi.

"Syarat apa?"

Repan menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Pak Alex. Vokalnya terdengar berat, dingin, dan dipenuhi wibawa yang absolut.

"Saya mau nama adik saya dibersihkan total. Nggak boleh ada satu pun guru atau staf di sekolah ini yang merendahkan dia lagi. Dan kalau sampai ada satu saja murid yang berani mengusik ketenangannya, saya akan langsung menarik kembali semua donasi saya, dan memindahkan Arinda dari sekolah ini detik itu juga."

Pak Alex tercengang, tapi Repan belum selesai bicara.

"Kalau pihak sekolah bisa menjamin keamanan dan kenyamanan adik saya, saya nggak akan ragu untuk menggelontorkan dana yang lebih besar lagi di masa depan. Entah itu untuk renovasi gedung, pengadaan fasilitas, atau apa pun. Tapi kalau tidak..."

Repan sengaja menggantung kalimatnya, namun tatapan matanya sudah menjadi ancaman yang sangat jelas.

Pak Alex menelan ludahnya dengan susah payah. "Baik... kalau cuma soal itu, urusannya gampang. Tapi, Nak... apa kamu beneran punya uangnya?"

Tanpa menjawab dengan kata-kata, Repan langsung mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi perbankan digital. Dengan beberapa ketukan cepat, proses transfer langsung diselesaikan.

Ting!

[Proses Transfer Sukses - Rp3.000.000.000,00]

Di saat yang bersamaan, sebuah notifikasi dana masuk berbunyi nyaring dari arah tablet kerja milik Pak Alex.

Mata kepala sekolah itu hampir saja melompat dari kelopaknya saat melihat angka nominal yang tertera di layar.

"In-ini tidak mungkin... beneran tiga miliar?!"

Repan tersenyum dingin melihat ekspresi syok tersebut.

"Sudah saya katakan, saya nggak pernah main-main. Dan ingat, ini baru permulaan. Jaga adik saya dengan baik, maka Anda akan dapat lebih banyak keuntungan. Tapi kalau sampai ada satu saja keluhan yang masuk ke telinga saya..."

Pak Alex langsung bangkit berdiri dari kursinya dan membungkukkan tubuhnya dalam-dalam di depan Repan.

"Tidak, Tuan! Saya jamin secara personal sebagai kepala sekolah, adik Anda akan aman seratus persen! Nggak akan ada satu orang pun di sekolah ini yang berani macam-macam dengannya!"

Repan bangkit dari duduknya, merapikan kerah seragamnya dengan santai, lalu melangkah membuka pintu ruangan.

Di luar, Arinda masih mondar-mandir dengan wajah cemas. Gadis itu langsung mematung tak percaya saat melihat Pak Kepala Sekolah berjalan mengekor di belakang kakaknya sembari membungkuk penuh rasa takzim.

"Terima kasih banyak atas kunjungannya, Tuan. Kami akan memastikan adik Anda mendapatkan pelayanan terbaik di sini."

Arinda benar-benar syok. 'Hah... apa yang baru saja kulihat? Pak Kepala Sekolah yang terkenal galak itu membungkuk takzim di depan Kak Repan?!'

Repan hanya menoleh sekilas ke arah adiknya, lalu tersenyum manis.

"Yuk, Arinda. Kita pulang."

Arinda buru-buru menyamakan langkah kakinya. 'Kakakku yang satu ini... dia benar-benar berubah jadi orang yang berbeda hanya dalam waktu satu hari!'

[Anda Berhasil Memperoleh +30 Poin Atribut]

Sebuah panel transparan berwarna emas mendadak melayang di hadapan pandangan Repan, menginformasikan hadiah dari sistem misteriusnya.

Bibir Repan menyunggingkan senyuman puas.

'Bagus... Dengan poin tambahan ini, aku bisa menaikkan level kekuatan fisikku lagi!'

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!