NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22- Di perkenalkan

Satu bulan telah berlalu sejak hari di mana Bara mengikrarkan janji setianya di antara puing-puing toko bunga.

Bagi Alena, tiga puluh hari terakhir adalah waktu yang mengubah dunianya secara total. Hidupnya yang dulu terasa datar, dingin, dan penuh kewaspadaan, kini dipenuhi warna.

Kehadiran Bara dengan segala perhatian kecilnya, mulai dari memastikan ia sarapan, menjaganya dari kejauhan, hingga tatapan malunya yang tulus membuat Alena merasakan kembali apa artinya menjadi wanita yang dicintai seutuhnya.

Untuk ukuran orang biasa yang menjalani hidup sederhana, Alena merasa hidupnya telah sempurna. Hatinya yang sempat mati rasa dan terkunci rapat akibat luka masa lalu, kehilangan orang yang paling dicintainya di dunia kelam, kini perlahan terbuka kembali.

Bara berhasil menyembuhkan luka itu tanpa pria itu sadari. Dan hari ini, hubungan mereka akan melangkah ke tahap yang jauh lebih besar.

Hari ini Bara memutuskan membawa Alena ke kediaman utama keluarganya. Sebuah langkah nyata untuk memperkenalkan wanita pilihannya secara resmi dan bersiap membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan.

Beberapa saat kemudian...

Mobil yang dikendarai Bara perlahan berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi di kawasan perumahan elite. Begitu gerbang terbuka otomatis, hamparan halaman rumput yang luas dengan air mancur megah menyambut mereka, menuju ke sebuah rumah bergaya klasik modern yang berdiri kokoh bak istana.

Alena menatap keluar jendela dan mengamati arsitektur bangunan yang begitu luas tersebut. "Rumahmu sangat besar, Bara."

Bara menoleh, lalu melepaskan cengkeramannya dari setir mobil dan mengikuti arah pandangan mata Alena, hingga sebuah senyuman lembut terukir di wajah tampannya.

"Ini bukan rumahku, Alena. Ini rumah Ayahku," jawab Bara. "Rumah kita sendiri... akan terbangun setelah kita menikah nanti. Sebuah rumah yang nyata untuk kita berdua."

Desiran hangat kembali terasa di hati Alena. Ia pun mengangguk dengan senyum manisnya dan merasakan kesungguhan yang tak pernah pudar dari pria itu.

Setelah tiba, mereka turun dari mobil dan melangkah masuk melalui pintu utama yang megah. Beberapa pekerja berseragam rapi langsung menunduk hormat dan menyambut kedatangan Bara.

Setelah itu, Bara membawa Alena ke ruang tamu utama yang dihiasi sofa beludru mewah dan lampu gantung kristal yang berkilauan.

"Alena, tunggu di sini sebentar, ya? Aku akan langsung ke ruang kerja Ayah di lantai atas untuk memberi tau beliau bahwa kita sudah sampai," ujar Bara, dan memastikan Alena merasa nyaman.

"Iya, Bara. Pergilah," jawab Alena.

Setelah Bara melangkah pergi menaiki tangga marmer, Alena duduk sendirian dan mencoba menikmati ketenangan ruangan itu. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari arah tangga yang berlawanan, terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi yang berirama.

Alena pun menoleh dan mendapati sosok Sofia, ibu tiri Bara yang sedang berjalan menuruni tangga.

Wanita paruh baya itu mengenakan gaun sutra rumahan yang mewah, dengan perhiasan permata yang berkilau di leher dan jemarinya.

Begitu matanya menangkap sosok Alena, tatapan sinis yang sempat ia tunjukkan beberapa bulan lalu mendadak berubah menjadi senyuman topeng yang dipaksakan.

"Oh... ternyata ada tamu," ucap Sofia dengan suara yang sengaja dibuat seramah mungkin, meski matanya menatap Alena dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan yang tidak ramah.

Meski begitu, Alena langsung berdiri dari duduknya dan memasang senyum sopan layaknya seorang gadis biasa yang sedang bertamu ke rumah orang terpandang. "Selamat siang..."

"Siang. Jadi kamu wanita pemilik toko bunga itu? Siapa namamu... Alena, ya?" Sofia berjalan mendekat, lalu duduk di sofa seberang Alena tanpa mempersilakan tamunya duduk kembali terlebih dahulu.

"Bara benar-benar luar biasa. Dia jarang sekali membawa wanita ke rumah ini, apalagi setelah dia memutuskan 'keluar' dari rumah. Jadi, apa yang membawa gadis kota sederhana sepertimu sampai ke kediaman ini?"

Sebelum Alena sempat membalas ucapan basa-basi yang sarat akan sindiran halus itu, terdengar langkah kaki berat yang berwibawa dari arah lorong lantai satu.

Bara berjalan kembali ke ruang tamu dengan seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan rambut yang mulai memutih di pelipisnya.

Pria itu adalah Bramantyo, ayah kandung Bara. Gurat wajahnya tegas, memancarkan aura seorang pria yang telah puluhan tahun memimpin bisnis besar.

"Ayah, ini Alena," Bara memperkenalkan kekasihnya dengan nada suara yang penuh rasa hormat namun tegas, seolah menegaskan posisi Alena yang sangat penting di hidupnya.

Alena pun membungkuk pelan dengan sopan. "Selamat siang, Om. Saya Alena."

Bramantyo menatap Alena lekat-lekat selama beberapa detik. Ia tidak segera membalas hingga membuat Sofia diam-diam menyunggingkan senyum liciknya dan berharap suaminya itu akan langsung mengusir gadis yang dianggapnya tidak selevel ini.

Namun, dugaan Sofia keliru. Raut serius di wajah Bramantyo kini perlahan mengendur dan digantikan oleh anggukan kepala yang ramah meski tetap berwibawa.

"Selamat siang, Alena. Silakan duduk kembali," sambut Bramantyo.

Pria itu mengambil tempat duduk di kursi utama, sementara Bara langsung mengambil posisi duduk di samping Alena dan dengan sigap menggenggam tangan wanita itu di bawah meja untuk memberikan kekuatan.

"Ekhm." Bramantyo berdehem sejenak, lalu menatap sepasang kekasih di hadapannya. "Bara sudah menceritakan banyak hal tentangmu kepada saya di ruang kerja tadi. Dia bilang, dia ingin serius denganmu dan meminta restu saya untuk membawa hubungan ini ke jenjang pernikahan."

Bramantyo menjeda kalimatnya lalu beralih menatap Alena dengan pandangan yang dalam namun tidak berniat jahat. "Sebagai seorang ayah, saya hanya ingin yang terbaik untuk putra saya. Pernikahan bukan hal yang sepele. Alena, apakah kamu sudah benar-benar siap mendampingi Bara dengan segala konsekuensi dan latar belakang keluarga kami?"

Alena merasakan genggaman tangan Bara yang mengerat. Ia lalu menoleh sejenak pada Bara yang menatapnya dengan pandangan penuh harap, lalu kembali menatap Bramantyo dengan binar mata yang sangat tenang namun memancarkan keteguhan yang luar biasa.

"Saya siap, Om. Bagi saya, Bara adalah pria yang baik, dan saya berada di sini karena saya memercayakan masa depan saya bersamanya," jawab Alena.

Sofia yang mendengar hal itu diam-diam mengepalkan tangannya di balik gaun mewahnya, sementara Bramantyo perlahan menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kepuasan atas jawaban tegas dari calon menantunya itu.

"Dia memang mirip denganku saat memilih ibunya dulu," batin Bramantyo.

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!