Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
langkah terakhir sebelum menjadi istrinya
“Sakit… tolong lepaskan tanganku…” isakku terputus-putus, air mata mengalir tak henti menetes ke lantai.
Bukan rasa iba yang muncul di wajahnya — ia malah memutar ujung sepatu di luka tanganku yang sudah berdarah, wajah penuh kebencian tanpa alasan yang jelas. “Dasar pencuri tak tahu diri! Wajah polos tapi kelakuan jahat! Semua rugiku gara-gara kau yang sial ini!”
Saat ia mengangkat kakinya lagi, aku segera menarik tanganku dengan cepat, memeluknya erat dengan tangan satunya yang masih utuh. Tubuhku gemetar hebat, darah perlahan membasahi lengan bajuku yang lusuh dan kusam. Penonton hanya diam berdiri, sebagian bahkan tampak senang — seolah aku pantas menerima semua kekejaman ini, seolah aku tak layak hidup di dunia ini.
Tiba-tiba ia menggenggam leherku dengan kedua tangan, kuat hingga napasku terhenti, dada sesak hebat seolah udara di dunia ini habis habisnya. “Mati saja di sini! Kau hanya bawa sial bagi siapa pun!”
Beberapa orang mulai terlihat gelisah takut ada yang fatal, tapi tak satu pun berani menolong atau melerai. Semua diam menonton seperti ini adalah hiburan pagi yang paling menarik. Aku berjuang lepas dari genggamannya, tapi tenagaku terlalu lemah — habis karena lapar dan lelah. Tubuhku makin lemas, pandangan mulai kabur, mataku hampir tertutup. “To…long… tak bisa napas…” suaraku nyaris tak terdengar, hanya bisikan lemah di tenggorokan.
Tiba-tiba suara lantang terdengar dari luar kerumunan: “Permisi, minggirlah sekalian!”
Pria tinggi berjas hitam rapi menembus keramaian dengan cepat, tak peduli orang yang menghalanginya. Tato di lehernya aku kenal dengan jelas — Yamal, sekretaris Tuan Adrian. Wajahnya langsung berubah kaget melihat keadaanku yang mengenaskan, ia berlari mendekat dengan langkah cepat. “Hentikan sekarang juga!”
Tanpa ragu, ia menarik tangan wanita itu dari leherku dengan kekuatan yang cukup, mendorongnya cukup keras agar tak bisa lagi menyentuhku. Aku lemas akan jatuh — tapi Yamal sigap menopang tubuhku agar tak terluka lagi, menaruh tangannya di pundakku dengan lembut yang tak kubayangkan.
“Nona Zara, baik-baik saja? Apa yang terjadi?” tanyanya dengan nada cemas, matanya meneliti setiap luka di tubuhku.
Aku hanya bisa menggeleng pelan, memberi isyarat bahwa aku masih bertahan — meski seluruh tubuh terasa hancur lebur dan tak bertenaga sama sekali.
Wanita itu ternganga tak percaya, jarinya menunjuk Yamal dengan gemetar hebat. “Berani dorong aku! Siapa kau sebenarnya? Siapa yang berani menyentuhku!”
Yamal berdiri tegak tepat di depanku, seolah membentuk tembok pelindung antara aku dan wanita itu. Ia menutupi tubuhku dari pandangan orang lain yang penuh prasangka. “Saya justru ingin tanya Nyonya — perlakuan kejam apa yang baru saja dilakukan pada Nona Zara?”
“Wanita tak berguna ini pencuri! Bersekongkol dengan perampok yang rampok tempatku pagi ini!” teriaknya melengking, mencoba menyebarkan tuduhannya agar orang sekitar percaya.
“Berapa banyak uang atau barang yang diambil? Dan di mana bukti nyata sekarang?” Tatapan Yamal tajam dan menembus, seolah bisa melihat ke dalam hati wanita itu yang penuh kebohongan.
Ia ragu sejenak, lalu berusaha pura-pura angkuh. “Hilang seratus juta rupiah pagi ini! Dia tiba-tiba punya uang besar semalam untuk operasi adiknya — kalau bukan curi, dari mana lagi? Benar bukan?” Ia menoleh ke penonton, berharap mendapatkan dukungan.
Aku menunduk makin dalam, bahuku guncang-guncang menahan isak tangis yang ingin meledak. Semua tuduhan ini terlalu berat untuk kupikul.
“Yakin benar Nona Zara pelakunya?” nada Yamal tetap tenang tapi tajam menusuk ke hati. “Padahal tas Nyonya baru diketahui hilang pagi ini, sedangkan biaya operasi adik Nona Zara sudah lunas sejak kemarin siang. Bagaimana bisa waktu berbeda dikaitkan begitu saja?”
Orang sekitar mulai saling pandang dan berbisik, rasa ragu muncul di wajah mereka — tuduhan wanita itu mulai terasa tidak masuk akal. Tapi ia tetap keras kepala, tidak mau mengakui kesalahannya. “Bisa saja dibayar duluan sebelum perampokan! Dia punya rekan jahat yang melakukan itu!”
“Itu tak masuk akal sama sekali,” jawab Yamal datar dan tegas. “Dan Nyonya belum tahu — biaya perawatan dan operasi adik Nona Zara bukan seratus juta, tapi enam ratus juta rupiah. Masih berani bilang itu hasil curian?”
Seketika hening total meliputi seluruh tempat. Semua orang kaget mendengar angka yang luar biasa itu, mulut mereka terbuka lebar tak percaya. Wanita itu mundur selangkah, wajahnya tiba-tiba pucat keputihan, ia bergumam tak percaya: “Tak mungkin… tak mungkin benar…”
Melihat ketegasan Yamal dan keterkejutan orang banyak, wajah wanita itu perlahan berubah pucat pasi — seolah seluruh darah di tubuhnya tersedot pergi. Penonton yang tadinya berkerumun menonton dengan tatapan campur aduk kini bubar tergesa-gesa, takut ikut terseret masalah yang tak mereka pahami sepenuhnya.
Yamal menoleh padaku, nadanya yang tadi tegas seketika berubah lembut penuh perhatian — perubahan yang begitu halus namun terasa menenangkan. “Bagaimana menurut Nona Zara? Ingin saya selesaikan lewat jalur hukum? Melaporkan penganiayaan dan pencemaran nama baik?”
Aku menyeka sisa air mata dengan punggung tangan yang masih perih dan berdenyut — luka yang tak lagi terasa penting dibandingkan beban yang hampir terangkat. Hatiku sangat lelah, tak mau ada keributan lanjut. “Tidak perlu, terima kasih.”
“Baik, saya mengerti keputusan Nona. Mari tinggalkan tempat ini sekarang.”
Aku berjalan duluan menuju gerbang rumah sakit, langkah pelan namun tak lagi gemetar. Yamal diam sejenak di tempat, menatap tajam wanita itu sebagai peringatan keras yang tak perlu diucapkan — matanya menyiratkan ancaman bahwa jika ia berani menggangguku lagi, tak akan ada ampun — lalu segera menyusulku. Saat tanganku akan menyentuh gagang pintu masuk, ia memanggil pelan: “Mohon tunggu sebentar, Nona Zara.”
Tak berani menoleh, aku meremas gagang pintu erat dengan tangan yang nyeri dan lecet. Dalam hati: tak ada gunanya memperpanjang urusan, biarlah orang berpikir apa saja, aku sudah terlalu lelah menghadapi dunia yang kejam. Namun tetap menahan langkah, menunggu apa yang ingin ia sampaikan.
Yamal berdiri di sampingku, cemas namun tetap sopan dan menjaga jarak. “Segala perlengkapan dan gaun pengantin sudah siap. Nona bisa bersiap sekarang. Selain itu… apakah Nona benar-benar baik-baik saja? Luka di tangan dan wajah itu…”
Aku mencoba mengukir senyum tipis di bibir — berusaha meyakinkan meski hati perih dan bergetar menahan segala rasa sakit yang menumpuk. “Saya akan baik-baik saja. Terima kasih, Yamal.” Lalu masuk kembali ke gedung, menyusuri lorong panjang dengan langkah perlahan — setiap langkah terasa berat, tapi juga penuh keteguhan.
Di depan ruang ICU, ada wanita menunggu dengan sabar. Melihatku, ia segera bangkit berdiri, tas hitam besar tersampir rapi di bahunya — gerakannya luwes dan tenang.
Wajahnya halus berseri tanpa riasan berlebih, rambut hitam panjang terurai lembut di bahu. Kulitnya bersih cerah, tubuh ramping dan tegap, langkahnya lembut dan anggun mengenakan gaun krem polos yang sederhana namun berkelas — memancarkan keanggunan yang tak perlu dipertunjukkan.
Ia mendekat dengan senyum tulus dan hangat, suaranya lembut menenangkan gelisah hatiku yang berbadai. “Permisi, apakah Nona Zara?”
Aku mengangguk perlahan, masih takut percaya pada kebaikan yang datang tanpa alasan.
“Saya dikirim khusus untuk merias dan menyiapkan busana hari ini,” ucapnya tenang dan meyakinkan. “Supaya hari ini menjadi hari yang tak terlupakan bagi Nona.”
“Terima kasih bantuannya,” jawabku singkat, menunduk sedikit. “Izinkan saya membersihkan diri dulu dan mengganti pakaian ini.”
Masuk ke kamar mandi khusus yang disediakan rumah sakit untuk keluarga pasien, aku membasuh wajah dengan air dingin yang menyegarkan namun tak mampu mendinginkan dadaku yang panas. Menatap pantulan diri di cermin: pipi masih merah membekas tamparan, telapak tangan lecet dan berdarah, baju lusuh dan kusam yang sama yang kupakai sejak kemarin. Semua kejadian pagi ini berputar jelas di benakku — tamparan, tuduhan, injakan, kebohongan — dada kembali sesak dan berat seolah tertimpa batu besar. Aku memejamkan mata rapat-rapat, menahan luapan sedih dengan sisa kesabaran yang masih tersisa. Tak boleh menangis hari ini. Tak boleh. Demi Aslan.
Tak lama kemudian, di ruang persiapan khusus, kini aku berdiri mengenakan gaun pengantin putih bersih yang begitu anggun hingga napasku tertahan. Modelnya sederhana namun indah — leher berbentuk persegi yang rapi, lengan tiga perempat yang jatuh lembut, pas melingkar di pinggang sebelum akhirnya terurai halus hingga menyentuh lantai dengan ekor gaun pendek yang sopan. Kainnya terasa sangat halus dan lembut di kulit, sama sekali tidak menimbulkan rasa kasar atau sakit pada bagian tubuhku yang masih terluka. Rambutku yang dulu asal diikat kini disanggul longgar namun rapi, beberapa helai rambut dibiarkan menjuntai lembut membelai pipiku yang masih terasa perih. Tanpa riasan yang berlebihan, wajahku terlihat tenang dan damai — meski bayangan di cermin terasa asing bagiku, seolah menatap orang lain yang hidup di dunia yang berbeda.
Penata rias itu tersenyum puas melihat hasilnya, matanya berbinar kagum. “Sempurna, Nona. Anda terlihat sangat cantik hari ini. Seperti bunga yang baru mekar setelah hujan lebat.”
Saat membereskan perlengkapannya, ia berbicara penuh perhatian yang tulus — bukan sekadar basa-basi. “Maaf saya lancang… di mana calon suami? Hampir waktunya belum datang. Yakin dia menghargai Anda sepenuhnya? Jika ragu, pertimbangkan kembali sebelum terlambat. Saya melihat kesedihan di mata Anda yang tak bisa disembunyikan oleh gaun terindah sekalipun.”
Aku tahu itu niat baik, bukan ikut campur urusan orang — ia hanya ingin melindungiku seperti kakak perempuan. Aku menyentuh ujung gaun yang lembut dengan tangan yang sudah dibalut perban tipis. “Terima kasih atas perhatiannya. Percayalah — dia selalu menepati janji.”
Ia mengangguk paham, menatapku makin lembut dan penuh rasa hormat. “Semoga kalian bahagia dan diberkati, semoga semua ini membawa kebaikan. Maaf jika kata-kata saya mengganggu. Saya pamit undur diri, Nona Zara.”
Setelah ia pergi, aku duduk sendirian di kursi empuk, memandang jauh ke depan seolah bisa melihat masa depan. Hingga ketukan halus terdengar di pintu, pintu terbuka perlahan. Yamal berdiri tegap dan rapi di ambang pintu, tatapannya penuh rasa hormat yang tak biasa. “Nona Zara, silakan ikut saya. Tuan Adrian sudah menunggu di tempat yang ditentukan.”
Bangkit perlahan, melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang mulai ramai. Pasien dan keluarga menatap heran — aneh melihat gaun pengantin putih bersih berkilau di antara lorong-lorong rumah sakit yang penuh kesedihan — tapi ada kekaguman yang tak bisa disembunyikan di mata mereka. Bisik-bisik samar terdengar di telingaku, tapi tak lagi kupedulikan. Langkahku mantap ke depan tanpa menoleh ke belakang — ke arah yang membawa harapan, meninggalkan masa lalu yang penuh luka.
Berhenti di depan pintu ICU. Mendekat ke kaca kecil, menatap lekat sosok Aslan yang terbaring tenang di dalam — selang dan alat menempel di tubuh kecilnya, napasnya naik turun perlahan dan teratur. Diam cukup lama, menahan air mata agar tak jatuh ke gaun putih ini. Bergumam pelan, hanya untuk telinga Aslan dan hati kecilku: Tunggu Kakak pulang selamat ya, Aslan. Janji segera kembali padamu. Semua ini… semua ini demi kamu. Lalu berbalik perlahan, mengikuti Yamal menjauh — langkah berat, tapi hati penuh keteguhan.
Di halaman depan banyak orang menoleh melihatku, mata mereka tak berkedip melihat sosok yang berjalan tenang mengenakan gaun pengantin di tengah halaman rumah sakit. Aku diam seolah tak melihat siapa pun — mataku hanya melihat satu tujuan. Yamal membukakan pintu belakang mobil mewah, aku duduk diam menatap bayanganku di kaca jendela yang gelap — gadis bergaun putih yang menatapnya dengan tatapan dewasa yang tak seharusnya dimiliki anak seusianya.
Perjalanan tak lama, hingga mobil berhenti di bangunan sederhana namun berwibawa — tempat pernikahan yang ditentukan Adrian. Tidak mewah, tidak mencolok — persis seperti yang kubayangkan. Yamal turun dulu lalu membukakan pintu untukku. Turun perlahan, menatap bangunan dalam-dalam, dadaku sesak dan jantung berdegup tak beraturan — campuran antara takut, cemas, dan harapan yang tak terucap.
Mengembus napas panjang pelan untuk menenangkan diri. Akhirnya waktunya tiba… kenapa berdebar begini? Apakah begini rasanya bagi semua orang yang menikah? Padahal tahu ini hanya perjanjian — satu tahun saja. Yang penting: Aslan selamat. Apa pun yang terjadi nanti, akan kuterima dengan lapang dada.
Yamal menuntunku masuk ke ruangan yang disiapkan — tenang, sejuk, penuh cahaya lembut. Di sana Adrian berdiri tegap dan kokoh menunggu. Jas hitam pekat pas rapi membentuk tubuhnya yang tinggi, kemeja putih bersih, dasi kupu-kupu rapi di leher. Kuntum bunga putih bersih tersemat indah di kerah jasnya — persis warna gaunku. Tampak jauh lebih gagah, tegas, dan berwibawa dari yang pernah kulihat — seolah ia adalah penguasa segala hal di dunia ini. Mata biru jernihnya menatapku tajam namun tenang — seolah paham segala gelisah yang sedang bergemuruh di hatiku, seolah tahu setiap luka di tubuhku.
Tak jauh di sisinya, penghulu duduk tenang siap memimpin akad kami — wajahnya ramah dan penuh berkah.
Suara Yamal terdengar pelan namun jelas, memecah keheningan ruangan: “Nona Zara, silakan maju. Waktunya akad nikah sesuai kesepakatan.”
Duduk di samping Adrian, bahu kami hampir bersentuhan. Penghulu dan saksi hadir — hanya mereka berempat, sederhana dan privat. Tubuhku tegak namun kaku, telapak tangan basah oleh keringat dingin di balik lipatan gaun panjang. Meski suasana khidmat, pikiranku sempat melayang ke mana-mana — ke Ayah, Ibu, dan Aslan yang terbaring di ICU.
Petugas KUA menjelaskan dengan tenang dan perlahan, suaranya penuh kebijaksanaan:
“Karena kedua orang tua sudah berpulang, saudara laki-laki tidak sadarkan diri, dan tak ada kerabat laki-laki garis ayah sebagai wali, maka sesuai syariat dan peraturan yang berlaku, wali pernikahan Anda adalah Wali Hakim dari kantor kami. Pernikahan ini sah di mata agama dan negara.”
Setelah memastikan semuanya dipahami dengan benar, penghulu memandang hadirin lalu kembali fokus ke Adrian dengan wajah tenang dan serius. “Hadirin sekalian, mari kita mulai. Apakah Tuan Adrian Romanov siap melaksanakan akad nikah?”
Adrian menjawab dengan tegas, suaranya lantang, mantap, bergema lembut ke seluruh ruangan — tak ada keraguan sedikit pun: “Laksanakanlah.”
Jantungku berdegup makin kencang, napas tertahan sejenak. Meremas pelan tangan yang masih perih dan lecet di balik lipatan gaun panjang — setiap detik terasa seperti abad. Semua nyata. Semua demi Aslan. Aku melakukan ini untuk satu-satunya keluargaku yang tersisa.
Penghulu membuka acara dengan kalimat penuh berkah, lalu kembali menatap lurus ke arah Adrian dengan wajah tenang dan menanti.