Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Sudah tertanda tangani
Adinata terbangun lebih dulu dibandingkan sang istri yang masih tidur dengan nyenyak di dekapannya.
“Kalau gini makin kelihatan cantiknya, Nad.” Adinata tertawa kecil sambil memberi kecupan di dahi sang istri.
Adinata menatap langit-langit kamarnya sambil mendengus pelan dengan suara pasrah. Sekali lagi, ia kecup dahi istrinya sebelum dengan perlahan melepaskan pelukan istrinya. Adinata mendudukkan dirinya dan mengambil map merah yang Nadine letakkan di laci samping tempat tidur malam tadi.
“Pergilah, Nad. Cari dulu kebahagiaan kamu untuk saat ini. Nanti aku bawa kamu kembali ke rumah kita sendiri.”
Adinata membacanya dengan teliti sambil tangannya bergerak memberi perintah ke Gerry—sekretaris sekaligus tangan kanannya untuk mengurus pemalsuan berkas.
“Datanglah ke rumahku dan bawa berkas yang kemarin Fregy urus, Ger.”
“Aku minta saat ini juga.”
Pandangan Adinata beralih ke sang istri yang masih tertidur karena ulah dirinya. Ia menggila semalam, walau pada akhirnya ia memilih untuk memakai alat kontrasepsi. Tidak tepat jika Nadine hamil anaknya, untuk saat ini.
Adinata bangkit dari kasur dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum berangkat ke kantor.
Di bawah guyuran air dari fixed shower mampu menyegarkan tubuh Adinata. Ia menyugar rambutnya ke belakang.
“Huft, Nadine gak perlu tahu tentang rencana yang sedang ‘ku susun. Cukup dia menjauh dulu dariku, setelah aku mendapat hasil yang sesuai dengan tujuanku, aku bawa kamu kembali, Nadine.”
Adinata keluar dari kamar mandi dengan balutan jubah mandi. Matanya menatap Nadine yang masih bergelung di bawah selimut dengan tenang. Adinata mengambil pakaiannya dengan santai dan asal. Karena biasanya, Nadine yang menyiapkan pakaiannya di pagi hari.
Dengan cepat dan cekatan, ia juga membuka ponsel miliknya untuk menunggu kabar dari Gerry. 2 menit yang lalu, Gerry mengirim pesan, ‘Tuan, saya menunggu di ruang tamu rumah Anda.’
Adinata segera membuka pintu kamarnya dan turun ke bawah sambil membawa map merah untuk ia tukarkan.
“Simpan surat yang asli ini tanpa seorangpun mengetahuinya, Gerry.”
Gerry menganggukkan kepalanya. Ia menatap sang atasan yang cekatan membuka map merah tersebut dan mengganti surat perceraian asli dengan yang palsu. Setelahnya ia juga melihat sang atasan yang memberi tanda tangan di nama yang sudah tertera.
“Kamu dapat tanda tangan istri saya darimana, Ger?”
“Maaf, Tuan. Saya melakukan pemalsuan di tanda tangan Nyonya. Saya menyalin tanda tangan Nyonya dari struck belanja di butik langganan Nyonya.”
Adinata menganggukkan kepalanya. “Suruh pemilik butiknya untuk tutup mulut.”
“Sudah saya lakukan, Tuan.”
Adinata sudah menepati ucapannya walau di surat yang tidak resmi. Karena surat palsu ini tidak terlapisi oleh hukum. Biarlah nanti Fregy—pengacara pribadi Adinata mengurus hal ini ke pengadilan. Ia cukup memberi tanda tangan dan membiarkan Nadine menjauh darinya agar dapat bahagianya kembali.
“Rapat hari ini perlu dikurangi atau tidak, Tuan?”
“Tidak usah. Kalau perlu, sibukkan aku dan beri tahu jadwalku hari ini ke istriku.” Adinata memberikan surat perceraian yang resmi ke tangan Gerry. “Jangan sampai orang di rumah ini tahu tentang ini, Ger.”
“Baik, Tuan.” Gerry menyimpan surat ini ke dalam sebuah map yang terlihat seperti map pekerjaan Adinata. “Anda akan berangkat sekarang, Tuan?”
Adinata menggelengkan kepalanya. “Kamu berangkatlah dulu. Akan aku susul setengah jam lagi.”
Tanpa menunggu Gerry pergi dari rumahnya, Adinata melangkahkan kakinya untuk kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa map merah dan menaruhnya seperti sedia kala.
Adinata menggelengkan kepalanya menatap kasur yang dimana Nadine belum terbangun sama sekali. Adinata memotret istrinya berkali-kali dengan ponsel miliknya. Ia langsung mengganti wallpaper aplikasi pesan miliknya dengan foto Nadine saat ini, bukan foto Nadine yang ia potret minggu lalu.
“Kejarlah bahagiamu dulu, Nad. Biarkan aku disini untuk mengambil masa depan kita.”
Yang Adinata incar di rumah ini adalah harta. Warisan turun-temurun yang harus ia rebut dari tangan saudaranya yang lain. Jangan pikir, ia mau untuk terus berada di kuasa orang tuanya, tapi dengan ini, Adinata yakin, Adinata bisa mendapatkan harta tersebut dengan mudah. Dan cara yang Adinata pilih adalah dengan tidak mengikut-sertakan Nadine—istrinya ikut mencampuri rencana Adinata.
Adinata tidak ingin istrinya terluka walau rasanya ia ingin marah ketika sang ibu memarahi istrinya secara gamblang di depan keluarga besarnya. Tapi ia memilih diam dan membiarkan Nadine yang memilih.
“Maaf, Nad. Bertahun-tahun membangun rumah tangga denganku, aku belum bisa memberi kebahagiaan yang layak untuk dirimu.” Tangan Adinata bergerak mengelus rambut sang istri.
Adinata tetap akan memantau istrinya. Jangan sampai istrinya diambil oleh laki-laki lain.
Untuk terakhir kalinya, Adinata mengecup dahi istrinya dengan waktu yang lama. Karena Adinata tahu, setelah ini, Nadine pasti akan mengemasi barang-barang miliknya dan berpindah dari rumah ini.
Adinata juga akan mengikuti jejak Nadine untuk pergi dari rumah ini karena ia pun sudah menyiapkan Apartemen untuk ia tinggali dibandingkan harus tinggal di rumah ini tanpa istrinya.
Adinata menghapus paksa setitik air mata yang turun dari matanya. “Walau aku tidak ikhlas kalau kita harus berpisah, aku akan tetap paksa, Nad. Agar kamu bisa bahagia kembali seperti sebelum kita menikah.”
Adinata tidak bisa hidup berjauhan dari Nadine. Dari awal berpacaran, Adinata selalu ada dimanapun Nadine berada.