NovelToon NovelToon
Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:44.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."

Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.

Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.

Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Sisi Lain Sang Pria Dingin-1

"Tentu saja, Naya. Ketulusan itu penting," sela Clarissa, bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan. "Tapi di dunia Arka, ketulusan saja tidak cukup. Sebagai istri dari penerus Dewangga Group, kamu harus bisa mengimbangi obrolan bisnis, menjamu relasi diplomatik, dan paham tentang investasi makro. Tante Ambar dulu adalah lulusan universitas ternama di London yang paham betul dunia ini. Kalau boleh tahu, kamu dulu lulusan mana? Biar kita bisa tahu kapasitasmu dalam mendampingi Arka di acara-acara besar nanti."

Suasana di meja makan mendadak mendingin. Mama Ambar tampak cemas, sementara Arka sudah menatap Clarissa dengan pandangan mata yang menggelap, siap meledak. Pertanyaan Clarissa jelas dirancang untuk mempermalukan latar belakang pendidikan Naya yang sederhana di depan Baskoro Dewangga.

Naya sempat terdesak dalam diam selama dua detik. Namun, kekuatan mentalnya yang sekeras baja membuat ia kembali menguasai keadaan. Ia mengunci pandangan mata Clarissa yang menantangnya.

"Saya hanya lulusan universitas negeri di dalam negeri, Mbak Clarissa. Sangat sederhana jika dibandingkan dengan pencapaian Tante Sandra atau mungkin Anda," jawab Naya, mengakui kenyataan tanpa ada rasa minder atau rendah diri sedikit pun di intonasi suaranya.

Naya menjeda sejenak, menoleh ke arah Baskoro Dewangga yang sejak tadi menyimak dengan diam.

"Namun, ayah saya selalu mengajarkan bahwa esensi dari pendidikan bukan hanya tentang seberapa megah nama universitas di ijazah kita, melainkan tentang bagaimana ilmu itu membentuk karakter, integritas, dan cara kita memperlakukan sesama manusia dengan hormat," lanjut Naya dengan pembawaan yang sangat tenang menghanyutkan. "Mendampingi Mas Arka bukan berarti saya harus menjadi pebisnis kedua di dalam rumah. Tugas saya adalah menjadi jangkar yang kokoh, tempatnya pulang dengan tenang setelah lelah menghadapi kerasnya dunia bisnis di luar. Saya rasa, ketenangan rumah tangga yang stabil adalah investasi makro terbaik untuk mendukung karier suami."

Keheningan mutlak kembali menyergap ruang makan.

Tante Sandra ternganga, tidak menyangka wanita yang mereka remehkan bisa merangkai kata-kata se-elegan dan se-mematikan itu tanpa perlu menaikkan nada bicara. Clarissa mengepalkan jemarinya di bawah meja, wajahnya memerah karena serangannya justru berbalik mentah-mentah memukul egonya sendiri.

Di ujung meja, seulas senyuman tipis yang sangat jarang terlihat akhirnya terukir di wajah tegas Baskoro Dewangga. Pria paruh baya yang terkenal kaku dan ditakuti di dunia bisnis itu meletakkan sendoknya, lalu mengetukkan jarinya ke meja pelan.

"Jawaban yang sangat cerdas, Naya," ucap Baskoro, suaranya yang berat berwibawa seketika memecah ketegangan. "Arka sudah sangat sibuk dengan angka-angka dan politik kantor di luar. Dia memang tidak butuh saingan bisnis di dalam rumahnya. Dia butuh seorang istri yang punya prinsip dan ketenangan seperti kamu. Ijazah tinggi bisa dibeli dengan uang, tapi karakter dan harga diri yang kokoh seperti yang kamu miliki ... itu bawaan lahir."

Mama Ambar mengembuskan napas lega dan ikut tersenyum hangat, sementara Arka menoleh ke arah Naya dengan pandangan mata yang tak bisa diartikan. Ada rasa takjub yang sangat besar menjalar di dada Arka. Wanita di sebelahnya ini baru saja menaklukkan singa tua—ayahnya sendiri—hanya dengan modal ketenangan dan kecerdasan bicaranya.

Makan malam pun dilanjutkan dengan atmosfer yang sepenuhnya berubah. Tante Sandra dan Clarissa memilih untuk bungkam seribu bahasa sepanjang sisa acara, menyadari bahwa mengusik Nayara sama saja dengan mempermalukan diri mereka sendiri di depan kepala keluarga Dewangga.

Naya tetap menikmati makan malamnya dengan tenang, mempertahankan keanggunannya hingga acara berakhir, membuktikan bahwa ia bukanlah mangsa yang mudah untuk dijatuhkan.

***

Mobil SUV hitam itu melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Di dalam kabin, keheningan yang tercipta terasa sangat pekat, namun tidak lagi mencekam seperti saat mereka berangkat. Hanya ada deru halus mesin dan sorot lampu jalanan yang bergantian menerangi wajah kedua orang di dalamnya.

Arka sesekali melirik Naya melalui sudut matanya. Wanita itu duduk bersandar dengan tenang, menatap keluar jendela. Wajahnya tampak sedikit lelah setelah menguras energi di rumah utama tadi, namun punggungnya tetap tegak, mempertahankan keanggunan yang tidak goyah sedikit pun.

Arka berdeham pelan, memecah kesunyian. "Jawabanmu di meja makan tadi ... di luar dugaan."

Naya tidak langsung menoleh. Ia membiarkan jeda beberapa detik sebelum akhirnya memutar tubuh menghadap Arka. "Anda mengira saya akan menangis dan memohon pembelaan Anda di depan Clarissa, Tuan Arka?"

Arka mengulas senyum tipis yang samar, hampir tak terlihat. "Jujur, ya. Kebanyakan wanita yang berhadapan dengan Tante Sandra atau Clarissa akan langsung menciut, atau setidaknya memperlihatkan wajah panik. Tapi kamu ... kamu justru membuat ayahku berpihak kepadamu. Itu pencapaian yang tidak mudah."

"Saya hanya membela harga diri saya," sahut Naya datar, suaranya mengalun tenang tanpa ada nada sombong. "Uang Anda bisa membeli status saya di atas kertas, tapi tidak dengan harga diri saya. Jika saya membiarkan mereka menginjak saya malam ini, itu sama saja saya mengizinkan mereka merendahkan ibu dan mendiang ayah saya yang sudah mendidik saya."

Arka terdiam. Jemarinya mencengkeram setir mobil sedikit lebih erat. Kata-kata Naya seperti mengorek sesuatu yang asing di dalam dadanya. Pria itu menarik napas dalam-dalam, mengendurkan sedikit kerah kemeja batiknya yang terasa mulai menyempit.

"Aku ... minta maaf," ucap Arka lirih.

Naya sedikit menaikkan alisnya, menatap Arka dengan pandangan menyelidik. "Maaf untuk apa?"

"Untuk sikap keluargaku. Dan karena aku telah menyeretmu ke dalam pusaran masalah ini," ujar Arka, suaranya merendah, kehilangan seluruh keangkuhan dan kekakuan yang biasa ia tunjukkan di kantor maupun di rumah. "Clarissa bertingkah seperti itu karena dia merasa memiliki hak atas posisi yang sekarang kamu tempati. Tante Sandra hanya mencari muka. Seharusnya aku bisa mengantisipasi bahwa mereka akan menyerang latar belakangmu."

Naya menatap lekat-lekat wajah samping Arka. Dalam remang cahaya lampu jalan, Naya bisa melihat gurat kerapuhan yang sangat nyata di wajah pria itu. Matanya yang biasa tajam seperti elang, kini meredup, menyiratkan beban batin yang sangat berat. Arka mungkin seorang pemimpin di perusahaan raksasa, namun di dalam lingkaran keluarganya sendiri, dia tampak seperti seorang pria yang selalu dituntut untuk sempurna tanpa pernah didengar keinginannya.

"Tidak perlu meminta maaf, Mas Arka," ucap Naya lembut, secara refleks menggunakan panggilan sandiwara mereka karena suasananya terasa begitu intim dan mendalam. "Kita sudah sepakat bahwa ini adalah bagian dari pekerjaan saya. Menghadapi kerabat Anda sudah termasuk dalam risiko yang harus saya kelola."

Arka menepikan mobilnya di bahu jalan yang sepi, lalu mematikan mesin. Ia memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Naya, menumpukan lengannya di atas setir.

Bersambung...

1
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sugiharti Rusli
sekarang tinggal nanti Arka saja sih yang buat keputusan besar tentang hubungan dirinya dan Naya, apa akan seperti tertera dalam kontrak yang seperti mereka sepakati dulu,,,
Laila Umroh
baru ngerti kalau kaka author punya karya baru...
Sugiharti Rusli
dan bagaimana Naya mendidik dan merawat Kenzie dengan pemahaman" baru tentang hidup dan Kenzie bahagia kala bersama Naya,,,
Sugiharti Rusli
dan Kenzie begitu cepat hatinya terpaut pada Naya tanpa pdkt sebelumnya kan,,,
Sugiharti Rusli
apalagi bisa terlihat dengan kasat mata bagaimana Naya memperlakukan Kenzie selayaknya ibu teehadap anaknya,,,
Sugiharti Rusli
pada waktunya kertas kontrak itu akan kalah oleh tatapan polos Kenzie sih yah,,,
Sugiharti Rusli
entah kalo suatu saat Kenzie tahu kalo sanga mama ga akan bersama mereka lagi karena sebuah kesepakatan yah, kasihan sih dengan mentalnya nanti,,,
Sugiharti Rusli
tapi beriring berjalannya waktu, malah Kenzie mendapat nilai baru dan juga sangat mencintai dan menerima Naya sebagai ibunya,,,
Sugiharti Rusli
kalo yang jadi istri Arka bukanlah seorang Nayara, mungkin kedok pernikahan kontrak mereka sudah terbongkar sejak awal yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Clarissa memiliki dugaan kalo Arka menikahi Naya bukan karena cinta, dan itu betul sih tujuan utamanya hak asuh putranya,,,
Sugiharti Rusli
meski dia memang melakukan pernikahan kontrak dengan Naya demi hak asuh Kenzie, tapi di perjalanan malah banyak hal tak terduga,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya di sini si Arka yang sangat diuntungkan dengan memperistri Naya yah
dyah EkaPratiwi
Naya 😍
NAYLA DWI
ok
Nandi Ni
dibalik kesulitan terbentang kemudahan,semoga ketulusan hatinya mampu menghantarkan pada kebahagiaan.
Nandi Ni
emang diluar nurul pemikiran Naya ini
Herman Lim
ga sabar lihat kehancuran mereka
Naufal Affiq
buat clarisa gak bisa ngomong lagi ya mommy,buat mereka kalah dalm persidangan,dan naya penenangnya
Mamah Nisa
di depan kenzie kok manggilnya tuan arka....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!