Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.
"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.
"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.
"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.
Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lmb27
***
Ryn dalam keadaan vegetatif selama satu minggu terakhir. Sian sama sekali tidak pernah absen menemuinya. Mengajak Ryn mengobrol, menyeka seluruh tubuh Ryn bahkan tidur hampir setiap malam di sofa demi menunggu Ryn bangun dari tidur panjangnya.
Bunga dalam vas selalu ia ganti setiap hari, Sian ingin Ryn menghirup aroma mawar dan melati kesukaannya jika sadar nanti.
"Tuan, satu jam lagi rapat pemegang saham. Dan mereka mendesak kehadiran anda." Jun menyampaikan kembali informasi yang sudah ia beritahu kemarin. Sian selalu menolak melakukan pertemuan resmi selama beberapa kesempatan terakhir.
Kegiatan membersihkan tangan Ryn terhenti. Sian menatap sebentar wajah Ryn, cantik alami tanpa polesan make up. Meski tubuhnya jauh lebih kurus dari sebelum koma.
"Siapkan semua yang aku minta, jika Lee Tak kembali Menyerangku aku akan menggunakannya." Tegas Sian memberi perintah.
Jun menghela nafas pelan. Dia berharap semua kekhawatiran Jun tidak pernah terjadi namun melihat bagaimana perselisihan ayah dan anak itu dia hanya pasrah saja. Lee Tak selalu menggertak Sian agar segera menikah dan memiliki keturunan, dengan ancaman mencoret Sian sebagai penerus pimpinan grup Lee.
Selang beberapa menit pintu ruang rawat dibuka, muncul Zhu Ma bersama Vennie. Keduanya tersenyum menyapa Sian yang bangkit dari kursi.
"Terima kasih sudah menjaga Ryn, tuan muda Lee." Ucap Zhu Ma sedikit menundukkan kepalanya.
"Hubungi aku jika dia bangun. Ada beberapa pekerjaan di perusahaan, mungkin aku tidak akan menginap." Sian menyampaikan dirinya absen menemani Ryn nanti malam.
"Baiklah. Hati-hati di jalan." Zhu Ma membiarkan Sian beserta Jun pamit.
"Apakah sebaiknya kita memberitahu Sian mengenai kondisi Ryn?" Setelah kedua pria tadi pergi Vennie berdiskusi dengan Zhu Ma.
"Aku yakin Ryn tidak ingin Sian tahu. Biarkan Ryn memutuskan jika dia sadar nanti." Jawab Zhu Ma masih memegang erat keputusannya.
Zhu Ma mengusap lembut ujung kepala Ryn, sangat merindukan putri kecilnya juga berharap Ryn segera bangun.
"Anak papa kapan bangun? Tidurnya sudah terlalu lama..." Bisik Zhu Ma di dekat telinga Ryn, Vennie hanya bisa mengusap punggung sang suami memberinya semangat agar terus kuat menanti Ryn sadar.
"Dia anak yang kuat, aku yakin Ryn akan pulih kembali." Kata Vennie membesarkan harapan semua orang.
Ryn koma usai gagal melalui masa kritisnya. Selain pendarahan yang mengakibatkan hampir keguguran, Ryn juga mengidap penyakit autoimun. Sejak pertama kali mendapat kekerasan fisik Ryn terbilang lemah dan gampang sakit. Hanya saja Ryn selalu bersikap acuh merasa dirinya baik-baik saja. Akibatnya Ryn mengalami komplikasi serius salah satunya kerusakan fungsi otak.
Berbagai penanganan telah tim dokter berikan, semua pemeriksaan menunjukkan hasil yang baik. Hanya saja Ryn mungkin masih enggan bangun dari mimpi panjangnya.
'Aku kehilangan calon anak kami, dan sekarang wanitaku koma. Kalian benar-benar tidak becus menjadi dokter.' Sian kala itu belum bisa menerima kenyataan sehingga memaki jajaran tim medis rumah sakit.
'Tenang Sian, kau harus bisa menjaga emosimu.' sang nenek mengetahui kabar buruk itu dari Meimei, gadis muda yang telah kembali menempuh pendidikannya di luar negeri.
'Maaf tuan, kami sudah melakukan tindakan sesuai prosedur. Kita hanya bisa berharap nona segera sadar.'
Sian memandangi Ryn di luar ruangan, dia masih belum bisa ditemui saat masa observasi berlangsung. Sian menekan pangkal hidungnya, tanpa bisa ditahan air mata Sian menetes.
'Bangun Zhao Ryn! Aku akan melepasmu asal kau tidak seperti ini. Kau bebas dariku Zhao Ryn, jadi kumohon cepat sadar.'
Sian telah berjanji pada dirinya sendiri, ketika Tuhan mengabulkan do'anya Sian tidak akan pernah menuntut apapun lagi pada Ryn.
Di tengah keadaan kalut, Lee Tak malah semakin berulah. Dia terus mendesak Sian menikah dengan wanita yang ia dukung. Sialnya dia salah memilih lawan, Sian tentu saja memiliki kelemahan Lee Tak sang ayah kandung. Bukannya durhaka, Sian hanya ingin Lee Tak sadar bahwa apa yang ia lakukan selama ini salah.
Di ruang pertemuan, Sian dan Lee Tak duduk bersebrangan saling menatap tajam dalam diam. Agenda rapat kali ini yaitu untuk memberhentikan Sian sebagai pemimpin grup. Dia ingin kembali memegang kendali atas kerajaan bisnis keluarga Lee. Selama ini Lee Tak memang sudah pensiun.
"Kita akan melakukan pengambilan suara." Moderator menyadarkan lamunan Sian yang selalu tertuju pada Ryn.
Sian siap kehilangan segala yang ia miliki, namun Ryn lain cerita. Dia berharap Ryn kembali sehat dan berumur panjang. Sian sangat mencintainya, jika Ryn tidak ada di dunia ini lalu apa artinya Sian melanjutkan hidup?
Sekarang melepaskan semua kemegahan duniawi bukan hal yang perlu Sian khawatirkan lagi. Dia hanya ingin Ryn segera sadar, setelah itu Sian akan pergi jauh darinya. Demi kebebasan juga pemulihan Ryn.
'Andai aku tidak memaksamu mengandung anakku, kau pasti sedang berkumpul dengan papamu. Ryn maafkan aku, aku sangat egois. Cepat bangun sayang, aku merindukanmu.'
Tak pernah bosan Sian mengajak Ryn mengobrol ketika sedang menjaganya sendirian. Setiap yang melihat selalu terkesan akan ketulusan pria berdarah dingin itu.
"Dengan ini Lee Group resmi memberhentikan Lee Sian sebagai pemimpin grup." Ketukan palu menyadarkan lamunan Sian, dia justru abai terhadap hasil rapat. Semua tidak berpengaruh sedikitpun baginya. Karena Sian bisa berdiri tanpa embel-embel Lee Group.
Seluruh pendapatannya selama bekerja di perusahaan Sian alokasikan ke beberapa bisnis menjanjikan. Tentu saja tanpa sepengetahuan Lee Tak. Kekuasaan Sian berhasil menutup rapat akses pribadi miliknya.
"Selamat siang, kami dari kantor Kepolisian Jasata. Membawa berkas penangkapan tuan Lee Tak atas penggelapan pajak dan korupsi dana kerjasama pemerintah serta pemalsuan dokumen kontrak." Salah satu dari tiga polisi menunjukkan surat penangkapan beserta penggeledahan barang bukti.
Sian menantang ayahnya sendiri, dia berani tak takut sedikitpun. Jikapun nanti dirinya akan terlibat Sian akan hadapi. Lee Tak diam namun dadanya bergemuruh. Demi seorang perempuan anak yang ia besarkan dan didik dengan baik rela melawannya.
"Hubungi pengacara." Perintah Lee Tak, sekretaris mengangguk paham lalu melepas kepergian atasannya.
"Tuan muda, apa ini tidak keterlaluan? Beliau ayah anda, semua bisa dibicarakan baik-baik." Sian tersenyum sinis mendengar pertanyaan pemegang saham yang berada di kubu Lee Tak memprotes keputusannya.
"Seharusnya pikirkan diri kalian masing-masing. Akan ada selanjutnya." Peringatan Sian jelas membuat siapapun di ruangan itu ketar-ketir. Perasaan takut di tangkap polisi semakin menyeruak bagi mereka yang tidak jujur. Sementara pihak benar bernafas lega bisa bebas dari tekanan.
Di rumah sakit, Ryn akhirnya membuka mata. Mengamati sekeliling mencoba memahami situasi juga kondisinya saat ini. Ia menekan dada ketika sesak Ryn rasakan.
"Nona anda sudah sadar? Apakah dada anda sakit juga sesak?" Perawat kebetulan hendak mengecek keadaan Ryn bergegas menghampiri.
"Ibu, dimana ibuku suster? Bagaimana dengan janinku? Mereka baik-baik saja kan?" Mendapat pertanyaan dari Ryn sedikit membuat perawat bingung harus menjawab apa. Merasa tidak berhak mengatakan semua kecuali salah satu keluarga pasien sendiri.
"Nona tenanglah, biar aku panggil dokter. Saturasi anda sangat rendah." Perawat menekan bel panggilan darurat. Dengan telaten menuntun Ryn kembali berbaring agar sedikit tenang.
"Ryn..." Zhu Ma masuk ke ruangan melihat putrinya telah siuman namun dalam keadaan kacau.
"Dimana ibu?" Ryn langsung menanyakan keberadaan Yuni pada ayahnya.
"Biar dokter memeriksamu dulu, baru kita bicara." Sebagai seorang psikolog Zhu Ma sangat terlatih mengontrol pasiennya.
"Non, kau tidak boleh stres dan mengalami tekanan lagi. Semua demi calon cucuku." Vennie yang memang masuk bersama Zhu Ma menjelaskan kondisi tubuh Ryn.
"Apa dia tahu?" Merujuk pada Sian, Ryn sebelum benar-benar tak sadarkan diri meminta Vennie merahasiakan kandungannya jika memang masih bisa bertahan.
"Semua sesuai keinginanmu. Tuan muda tidak tahu benihnya masih bertahan." Vennie menjelaskan kekhawatiran Ryn.
"Ibumu menyerahkan diri atas penganiayaan terhadap anak kandungnya, eksploitasi dan perdagangan." Setelah perawat keluar Zhu Ma menjelaskan, ia duduk di sofa berhadapan dengan Ryn dengan jarak. Ragu Ryn belum bisa menerima kehadirannya.
"Dokter Terima kasih sudah menyelamatkan kandunganku. Dan untuk perceraian, tolong jangan lakukan itu hanya karena ibuku." Ryn menunduk mengusap perut ratanya. Semua boleh pergi dari hidupnya tapi tidak untuk sang calon anak.
"Ryn, kau darah daging suamiku yang berarti kau juga anakku. Jangan terlalu kaku, kami juga keluargamu." Vennie meraih tangan Ryn lalu menepuk-nepuk pelan.
Hati Ryn menghangat mendapat perlakuan lembut dari ibunya Vick yang seperti langit dan bumi. Apakah Vennie tahu Vick pernah mencelakainya? Rasanya Ryn ingin balas dendam mengingat hal itu.
"Zhao Ryn..." Suara seseorang memanggil namanya, membuat Ryn langsung menoleh ke arah pintu.
Ryn terpaku menatap Sian, penampilannya cukup berantakan untuk ukuran pria seperfect Sian. Alih-alih berhamburan memeluk Ryn, Sian malah berdiri diambang pintu menyadari janjinya pada diri sendiri.
'Kau baik-baik saja, itu lebih dari cukup.' Gumam Sian dalam hati.
"Kau tidak masuk?" Tanya Ryn menunggu.
"Kami akan membeli makanan, kalian mengobrol santai saja." Mengerti keduanya butuh waktu mengobrol, Vennie mengajak sang suami keluar ruangan. Mencari sesuatu yang bisa mereka nikmati untuk makan malam.