" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.
Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. Riak Cemburu
Cklek.
Lampu sensor otomatis di koridor lantai dua mendadak menyala terang benderang, menyiram seluruh sudut ruangan dengan cahaya yang menyilaukan. Tepat di detik itu, siluet tegap Damian muncul di ujung tangga.
Akal sehat Valerian yang sempat hilang karena tangisnya seketika kembali dalam bentuk kepanikan yang luar biasa. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia bisa mendengar detaknya sendiri di dalam rongga dada. Dengan kekuatan yang tersisa, ia mendorong dada bidang Aksa agar dekapan terlarang itu terlepas.
Namun, Aksa tidak bergeming.
Pria itu justru sengaja memperlambat gerakannya saat melepaskan pinggang Valerian. Tangannya sempat mengusap lembut helai rambut Valerian yang berantakan, seolah sengaja memamerkan keintiman mereka sebelum akhirnya melangkah mundur satu jengkal. Seringai tipis yang tampak begitu menantang dan berbahaya masih tersisa di sudut bibir Aksa saat ia menatap kakaknya.
Damian menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di hadapan mereka. Sepasang netra elangnya yang sedingin es langsung tertuju pada posisi tangan Aksa yang baru saja lepas dari tubuh istrinya.
Suasana di koridor itu mendadak menjadi begitu sunyi dan mencekik, jauh lebih menegangkan daripada badai di luar rumah.
"Apa yang sedang kau lakukan di depan kamarku malam-malam begini, Aksa?" suara bariton Damian memecah keheningan, terdengar berat dan sarat akan penekanan di setiap katanya.
Aksa kembali ke mode kasualnya yang santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jinsnya seolah tidak baru saja melakukan dosa besar. "Tidak ada, Kak. Aku baru saja merokok di balkon dan kebetulan melihat Kak Vale pulang sambil menangis. Sebagai adik ipar yang baik, tentu saja aku bertanya apa yang terjadi. Benar kan, Kak Vale?" Aksa melirik Valerian dengan kedipan mata jail yang justru membuat Valerian semakin jantungan.
Valerian menunduk dalam, meremas gaun beludru marunnya dengan jemari yang gemetar. "A-aku... aku hanya kelelahan, Damian."
Damian melangkah maju, memotong jarak di antara mereka. Dengan gerakan yang tegas namun tersirat kepemilikan yang agresif, Damian mencengkeram pergelangan tangan Valerian dengan cukup erat, menarik tubuh wanita itu agar berdiri tepat di belakang punggung tegapnya.
"Urus saja urusanmu sendiri, Aksa. Jangan terlalu sering mencampuri urusan domestik rumah tanggaku," ucap Damian dingin, matanya menatap Aksa dengan kilat permusuhan yang sangat pekat.
Aksa mengangkat kedua tangannya ke udara, menyerah dengan senyuman santai yang mematikan. "Tentu, Kak. Aku hanya tidak tega melihat wanita secantik Kak Vale diabaikan terus-menerus. Sayang sekali kalau permata rumah ini justru dibiarkan berdebu."
Rahang Damian mengeras mendengar sindiran telak dari adiknya. Tanpa membalas ucapan Aksa lagi, Damian menarik kasar tangan Valerian, membawanya masuk ke dalam kamar utama mereka dan membanting pintu kayu itu hingga tertutup rapat. Brak!
Di dalam kamar yang tertutup, Damian langsung melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Valerian hingga menyisakan bekas kemerahan di kulit putih wanita itu. Damian berbalik, menatap Valerian yang terengah-engah ketakutan di dekat pintu.
"Apa kau sengaja melakukannya, Valerian?" tanya Damian, suaranya merendah, sarat akan amarah yang tertahan.
"A-apa maksudmu, Damian?" Valerian memundurkan langkahnya hingga punggungnya menempel pada daun pintu.
Damian berjalan mendekat, mengurung tubuh ramping Valerian di antara kedua lengan kokohnya yang bertumpu pada pintu. Napas beraroma mint tajam milik Damian menerpa wajah Valerian, namun kali ini tatapannya tidak meremehkan seperti biasanya. Ada kilat kemarahan dan ego seorang pria yang terluka di sana.
"Sengaja menangis di depan adikku agar dia mengasihanimu? Sengaja membiarkannya menyentuhmu agar kau mendapatkan perhatian yang tidak kau dapatkan dariku?!" Damian mencengkeram kedua bahu Valerian, menuntut jawaban.
Valerian tercengang. Air matanya kembali menetes, bukan hanya karena sakit fisik akibat cengkeraman Damian, melainkan karena ia tidak menyangka Damian akan menuduhnya sekeji itu. "Kau egois, Damian! Kau tidak pernah menganggapku ada di rumah ini, kau memperlakukanku seperti pajangan mati, lalu sekarang kau marah saat adikmu sendiri menunjukkan sedikit rasa kemanusiaan?!"
Mendengar bentakan Valerian, sesuatu di dalam diri Damian seperti meledak. Genggaman tangannya di bahu Valerian perlahan turun ke pinggang wanita itu, merapatkannya dengan kasar ke dalam dekapan dadanya—persis seperti yang dilakukan Aksa di koridor tadi.
"Kau adalah istriku, Valerian. Milikku. Dan tidak akan pernah ada satu pria pun di rumah ini yang boleh menyentuh apa yang sudah menjadi hakku, termasuk Aksa," bisik Damian dengan suara parau yang berbahaya.
Wajah Damian perlahan turun, mendekati leher Valerian yang terekspos. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun pernikahan mereka, Damian menundukkan kepalanya, bersiap untuk mengklaim bibir Valerian dengan paksa akibat rasa cemburu yang membakar akal sehatnya.
Valerian membelalakkan matanya. Di satu sisi, inilah momen yang ia tunggu selama dua tahun—sentuhan dari suaminya. Namun di sisi lain, jantungnya berdegup karena ketakutan yang berbeda: jika Damian menciumnya atau menyentuh lehernya lebih jauh, Damian akan mencium aroma parfum Aksa yang masih tertinggal, atau menemukan bercak merah yang disembunyikan di balik gaunnya!
Napas Damian memburu, begitu dekat hingga Valerian dapat merasakan embusan hangatnya di permukaan kulit lehernya. Rasa cemburu yang selama ini tertutup rapat di balik topeng keangkuhan Damian kini telah menjelma menjadi sebuah tuntutan yang agresif. Pria itu mencengkeram pinggang Valerian semakin erat, mengunci pergerakan istrinya agar tidak bisa menghindar lagi.
"Kenapa diam, Valerian? Bukankah malam-malam panas seperti ini yang selalu kau dambakan dariku?" bisik Damian, suaranya merendah serak, dipenuhi ego lelaki yang terluka karena mengira miliknya tengah diincar oleh sang adik.
Valerian memejamkan mata erat-erat. Telapak tangannya yang dingin menempel pada dada bidang Damian, berusaha sekuat tenaga memberikan jarak di antara mereka. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Bukan karena debaran cinta yang terbalas, melainkan karena rasa ngeri yang luar biasa.
Tepat di balik gaun beludru marun yang ia kenakan, di atas ceruk leher dan tulang selangkanya, terdapat jejak kemerahan yang ditinggalkan Aksa beberapa jam lalu. Aroma parfum cedarwood milik Aksa pun samar-samar masih melekat di kulitnya. Jika Damian nekat merobek gaunnya atau mencium ceruk lehernya sekarang, tamat sudah riwayatnya dan Aksa malam ini.
"Lepas... lepaskan aku, Damian!" Valerian memekik lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Kenapa? Kau menolakku tapi membiarkan Aksa menyentuhmu di koridor tadi, iya?!" bentak Damian. Riak cemburu itu benar-benar telah membutakan akal sehat sang penguasa bisnis.
Damian menurunkan wajahnya secara paksa, hendak mengklaim bibir Valerian yang malam itu tampak begitu ranum dan sedikit membengkak. Valerian yang panik langsung memalingkan wajahnya ke samping dengan cepat. Alhasil, kecupan paksa Damian melesat dan mendarat di pipi Valerian.
Di tengah pergulatan yang menegangkan itu, sebuah ketukan keras tiba-tiba terdengar dari arah luar pintu kamar mereka.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan itu begitu nyaring dan tegas, seketika memecah ketegangan intim di dalam kamar utama. Damian menghentikan gerakannya. Rahangnya mengeras, dan sepasang matanya menatap tajam ke arah pintu kayu yang tertutup rapat.
"Kak Damian? Kak Vale? Kalian di dalam?"
Suara manja Dania, adik bungsu mereka, terdengar dari balik pintu. Valerian langsung mengembuskan napas lega yang tertahan, mengucap syukur di dalam hati karena kedatangan Dania yang tak sengaja telah menyelamatkannya dari situasi kritis.
Damian berdecak kesal. Ia perlahan melepaskan cengkeramannya pada pinggang Valerian, lalu merapikan kembali kemejanya yang sedikit berantakan akibat emosi yang meluap-luap tadi. Dengan langkah berat yang sarat akan kekesalan, Damian berjalan membuka pintu kamar.
"Ada apa, Dania? Ini sudah hampir tengah malam," tegur Damian dengan suara dinginnya yang biasa, kembali memasang topeng angkuhnya di depan sang adik.
Dania berdiri di ambang pintu sambil mengerucutkan bibirnya kesal. "Kalian berisik sekali, tahu! Suara bentakan Kak Damian terdengar sampai ke kamarku di ujung koridor. Ibu dan Ayah bahkan hampir terbangun karena mengira ada maling masuk. Lagipula, Kak Damian kenapa baru pulang langsung memarahi Kak Vale, sih?"
Damian melirik sekilas ke arah Valerian yang masih berdiri mematung di dekat tempat tidur dengan wajah pucat beralaskan riasan yang luntur. Ada kilat kepemilikan yang tersisa di matanya saat menatap istrinya itu.
"Tidak ada apa-apa. Kami hanya salah paham sedikit. Kembali ke kamarmu, Dania," ucap Damian datar, lalu menutup kembali pintu kamarnya tanpa menunggu jawaban dari sang adik bungsu.
Setelah pintu kembali terkunci, Damian tidak lagi mendekati Valerian. Ia berjalan menuju sofa panjang di sudut kamar, melonggarkan dasinya dengan kasar, lalu merebahkan tubuhnya di sana seraya memejamkan mata penuh keletihan.
"Tidurlah di ranjang. Jangan membuat keributan lagi malam ini, Valerian. Besok pagi aku harus menandatangani kontrak penting," ucap Damian dengan suara yang kembali mendingin.
Valerian tidak menjawab. Dengan langkah yang lemas, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Di depan cermin kamar mandi yang besar, ia membuka gaun beludru marunnya dan menatap pantulan dirinya sendiri. Air matanya kembali mengalir saat melihat bercak kemerahan di lehernya yang hampir saja membongkar semuanya.
Setelah mengganti pakaiannya dengan piyama yang sangat tertutup, Valerian berjalan perlahan menuju ranjang besar yang dingin. Di sudut ruangan, Damian tampak sudah tertidur lelap akibat kelelahan bekerja seharian.
Valerian berbaring, menatap langit-langit kamar yang gelap dengan perasaan yang berkecamuk. Di satu sisi, ia merasa terhina karena Damian menyentuhnya hanya didasari oleh rasa cemburu dan gengsi sebagai seorang pemilik hukum. Di sisi lain, bayangan kehangatan Aksa di kamar sebelah justru terus berputar di kepalanya, menjadi candu terlarang yang membuatnya merasa hidup sekaligus berdosa di saat yang bersamaan.
Tiba-tiba, ponsel Valerian yang berada di bawah bantal bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan masuk di layar yang menyala temaram.
Valerian membukanya dengan hati-hati, memastikan Damian tidak terbangun. Pesan itu berasal dari nomor rahasia yang ia tahu persis siapa pemiliknya.
From: Kamar Sebelah (Aksa)
Aku mendengar keributan tadi. Dia menyentuhmu, Valerian? Jawab aku, atau aku akan nekat mendobrak kamarmu sekarang juga.