NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Luka yang Tak Termaafkan

Bintang Prakasa membeku di tempatnya. Angin malam berembus kencang di kawasan pergudangan itu, tetapi hawa dingin yang menjalar di tubuhnya bukan berasal dari cuaca. Tatapannya tertuju pada anak buah yang baru saja memberikan laporan,untuk beberapa saat, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya.

"Pastikan dulu identitasnya," kata Bintang.

"Sudah, Bos. Kami menemukan kartu identitas di tasnya." Pria itu mengangguk cepat.

Rangga langsung mengambil kartu yang diserahkan dan wajahnya berubah saat membaca nama yang tertera di sana.

"Itu benar ibu Rania," ucap Rangga.

Rahang Bintang mengeras. Situasi yang awalnya sudah buruk kini berubah menjadi jauh lebih rumit. Jika benar ibu Rania tewas, maka wanita itu bukan lagi sekadar umpan dalam permainan Leonard, ia sudah menjadi korban.

"Aku masuk ke dalam," ujar Bintang.

"Ini bisa jadi jebakan," kata Rangga.

"Aku tahu!"

"Kalau begitu biar anak buah yang bergerak dulu."

"Leonard menginginkan aku datang. Kalau aku tetap di luar, dia tidak akan menunjukkan dirinya." Bintang menggeleng.

Rangga tahu percuma membantah. Sejak mengenalnya bertahun-tahun lalu, Bintang tidak pernah mundur dari siapa pun. Terlebih jika menyangkut orang yang ingin dilindunginya.

Mereka bergerak menuju pintu besi yang besar tampak sedikit terbuka, lampu redup terlihat dari celah di antara kedua daun pintu.

Suasana terlalu sepi dan terlalu tenang. Bintang memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menyebar, beberapa orang langsung bergerak ke sisi kanan dan kiri bangunan yang lain mengambil posisi di belakang. Lalu perlahan Bintang mendorong pintu gudang. Decitan logam terdengar memecah keheningan, ruangan di dalamnya tampak kosong. Tidak ada siapa-siapa, tidak ada penjag dan tidak ada Leonard, hanya kursi yang terletak di tengah ruangan dan di kursi itu, Rania duduk dengan tangan terikat.

"Rania!" kejut Bintang.

Kepala Rania langsung terangkat, wajahnya yang pucat terlihat jelas di bawah cahaya lampu.

"Bintang!"

Bintang berlari menghampirinya dan dalam beberapa langkah, ia sudah berada di depan wanita itu. Ia segera melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya.

"Kau tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja." Rania menggeleng pelan.

Meski berkata demikian matanya terlihat merah, seolah ia baru saja menangis. Bintang menatapnya beberapa detik dan baru kali ini ia sadar melihat Rania setakut itu.

"Ayo keluar dari sini."

Namun sebelum mereka sempat bergerak, suara tepuk tangan terdengar dari pengeras suara yang terpasang di sudut ruangan.

Prak prak prak

Suara itu bergema memenuhi gudang, Bintang langsung mengenalinya, Leonard.

"Pertemuan yang mengharukan."

Suara pria tua itu terdengar santai, seolah sedang menikmati pertunjukan.

Rania menoleh ke segala arah, berusaha mencari sumber suara.

"Di mana dia?" bisiknya.

Bintang tidak menjawab, tatapannya menyapu seluruh ruangan.

"Aku di mana-mana, Bintang," kata Leonard sambil tertawa kecil. "Dan kau tetap sama seperti ayahmu. Terlalu mudah kehilangan kendali saat menyangkut orang yang kau sayangi."

"Keluar dan temui aku!" ujar Bintang.

"Belum."

"Takut?"

"Kau masih belum memahami situasimu." Tawa Leonard kembali terdengar.

Lampu gudang tiba-tiba padam. Seketika suasana berubah kacau.

"Bintang!" seru Rania panik.

"Aku di sini." Bintang langsung meraih tangannya.

Beberapa detik kemudian, lampu menyala kembali namun kali ini, sesuatu telah berubah. Dinding belakang gudang yang semula tertutup kini terbuka, sebuah layar besar terlihat di sana dan gambar yang muncul di layar itu membuat napas Bintang tertahan.

"Siapa mereka?" Rania ikut menatap.

Layar menampilkan rekaman lama. Rekaman seorang pria dan wanita yang sedang berjalan keluar dari sebuah gedung. Pria itu tampak berusia sekitar empat puluh tahun, wajahnya sangat mirip dengan Bintang, sedangkan wanita yang berada di samping pria itu... Bintang langsung mengenalinya.

"Itu ibuku." Rania mengerutkan kening.

Jantung Bintang berdetak semakin keras, ia kembali menatap layar. Rekaman itu jelas diambil lebih dari dua puluh tahun lalu. Saat mereka masih muda, saat ayahnya masih hidup.

"Terkejut?" suara Leonard terdengar lagi.

Rania dan Bintang sama-sama terdiam.

"Seharusnya kalian memang terkejut. Karena ada satu rahasia yang selama ini tidak pernah kalian ketahui," lanjut Leonard.

"Apa maksudmu?" Tatapan Bintang berubah tajam.

"Kalian berdua terhubung jauh sebelum pertemuan pertama kalian."

Rania menoleh ke arah Bintang, sedangkan Bintang masih menatap layar. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ingin ia percayai.

"Lihat wajah kalian. Menarik sekali." Leonard tertawa pelan.

"Berhenti bermain-main!" bentak Bintang.

"Kalau begitu dengarkan baik-baik, Rania."

Suasana mendadak hening, bahkan anak buah Bintang yang berjaga di luar ikut menahan napas karena mereka tahu, apa pun yang akan dikatakan Leonard berikutnya pasti sangat penting.

"Perempuan yang kau kira ibumu itu..." suara Leonard terdengar jelas dari pengeras suara.

Rania membelalak.

"...bukan ibu kandungmu," lanjut Leonard.

Dunia seakan berhenti berputar.

"Apa?" Tubuh Rania membeku. "Tidak mungkin."

"Itu fakta."

"BOHONG!" Suara Rania menggema di dalam gudang.

Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya. Ia menoleh ke arah layar lagi, berharap semua ini hanyalah kebohongan, namun wajah Bintang justru semakin gelap karena untuk pertama kalinya, ia mulai memahami apa yang sedang terjadi dan pemahaman itu membuat darahnya terasa dingin.

"Kalau kau ingin tahu siapa sebenarnya orang tuamu, Rania... tanyakan pada Bintang." Leonard kembali tertawa.

Rania menoleh perlahan, tatapannya bertemu dengan mata Bintang. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, Bintang terlihat kehilangan kata-kata dan saat itulah Rania sadar pria itu mungkin mengetahui sesuatu, sesuatu yang selama ini disembunyikan darinya.

"Kenapa?" bisiknya.

Bintang mengepalkan tangan. Belum sempat ia menjawab, suara ledakan besar tiba-tiba mengguncang bangunan.

BUMMM!

Lantai bergetar hebat, asap langsung memenuhi bagian belakang gudang.

"BOS! ADA BOM!" Teriakan anak buah terdengar dari luar.

Mata Bintang membelalak karena ia langsung menyadari satu hal. Leonard tidak pernah berniat membiarkan mereka keluar hidup-hidup dari tempat itu.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!