*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.
Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. Kontrak dengan sang pewaris
Kiera refleks mundur selangkah, bulu kuduknya berdiri sempurna mendengar bisikan sok dramatis dari pria di hadapannya. Alih-alih terintimidasi sampai menangis bombay, saringan otak Kiera lagi-lagi jebol akibat dosis stres yang kelewat batas.
“Rebel kecil? Iblis pemegang kendali? Wah, bapak-bapak ini fiks kebanyakan baca komik fantasi gelap pas jam kerja,” batin Kiera, menatap Arsenio dengan tatapan prihatin yang amat sangat.
"Maaf, Pak Arsenio," potong Kiera sambil berdehem kecil, berusaha menahan diri agar tidak menyarankan sang CEO untuk segera berkonsultasi ke psikolog. "Bapak tadi bilang... Iblis? Mohon maaf, tapi di luar cuaca lagi terik banget, mending Bapak jangan terlalu mendalami peran. Nanti kalau kesurupan beneran, saya gak tahu cara rukiahnya, Pak."
Arsenio mendadak mematung. Senyuman *smirk* kelicikan yang sudah ia tata sedemikian rupa agar terlihat karismatik bin mematikan langsung lenyap seketika. Rahangnya berkedut hebat.
"Kamu... kamu bilang saya kesurupan?!" raung Arsenio, suaranya naik dua oktav, menghancurkan sisa-sisa wibawa tiran yang baru dibangunnya susah payah. "Saya ini sedang memberikan analogi kekuasaan saya! Kamu tidak punya rasa takut ya?!"
"Ya punya, Pak. Saya takut miskin, makanya saya ke sini buat lamar kerja," jawab Kiera dengan wajah tanpa dosa, mengangkat map cokelatnya yang agak lembap. "Tapi kalau baru masuk aja atmosfernya udah kayak uji nyali di rumah hantu, mending saya mundur alon-alon. Ini berkas saya, kalau Bapak mau robek atau injek lagi kayak tadi di lobi, silakan. Saya mau pamit cari loker yang bosnya ramah senyum."
Arsenio mendengus tak percaya melihat Kiera yang sudah bersiap berbalik badan menuju pintu. Ego raksasanya meronta-meronta histeris. Enak saja! Setelah membuat lobi perusahaannya banjir kopi, menekan perut sixpack-nya sampai hampir muntah, mengatainya gila hormat, dan sekarang gadis ini mau melenggang pergi begitu saja setelah mencoreng harga dirinya? Tidak akan! Tidak ada sejarahnya seorang Arsenio Yudhistira dicampakkan dua kali oleh orang yang sama dalam sehari!
"Berhenti!" perintah Arsenio mutlak. "Siapa yang mengizinkan kamu melangkah keluar dari ruangan ini?"
Kiera menoleh, menatap Arsenio dengan sebelah alis terangkat. "Lho, kan Bapak tadi bilang saya di-blacklist? Ngapain saya lama-lama di sini? Menghirup oksigen yang sama dengan Bapak malah bikin saya ngerasa berdosa karena udah ngotorin 'aset negara'." Kiera sengaja menekankan kata aset negara dengan nada menyindir.
Arsenio berjalan cepat memutari mejanya, lalu menyambar berkas lamaran Kiera yang diletakkan di atas meja kerja. Ia membukanya dengan gerakan kasar, pura-pura membaca CV Kiera meskipun sepasang matanya sebenarnya masih melotot ke arah gadis itu.
"Kiera Anandita, lulusan baru administrasi," baca Arsenio dengan nada meremehkan yang dibuat-buat. "Pengalaman kamu lumayan untuk ukuran kepala administrasi. Tapi sayang, attitude kamu minus di bawah permukaan laut. Kamu pikir dengan modal wajah yang... ehem, yang lumayan rapi setelah disanggul ini, kamu bisa lolos begitu saja dari tanggung jawab?"
Arsenio sengaja menggantung kalimatnya. Sebuah ide licik, super kejam, dan sangat memuaskan bagi ego NPD-nya mendadak melintas di otak. Mengusir Kiera adalah hukuman yang terlalu ringan. Membiarkannya pergi berarti membiarkan gadis itu menang. Cara terbaik untuk menghancurkan si 'pemberontak kecil' ini adalah dengan mengurungnya di bawah ketiak kekuasaannya sendiri.
Arsenio melempar berkas itu ke meja, lalu bersedekap dada sambil melemparkan pandangan merendahkan andalannya. "Kamu bilang kamu bertanggung jawab atas jas Tom Ford saya yang hancur, kan?"
"Iya, Pak. Kan udah saya bilang, silakan dicicil," sahut Kiera curiga, melihat gelagat Arsenio yang mulai terlihat seperti rentenir kelas kakap.
"Cicil?" Arsenio tertawa sumbang, terdengar sangat puas. "Gaji kamu sebagai kepala administrasi biasa di luar sana tidak akan cukup untuk membayar bunganya bahkan dalam waktu lima tahun. Tapi, karena saya adalah CEO yang sangat murah hati, bijaksana, dan berhati malaikat..."
“Malaikat pencabut nyawa mah iya,” cibir Kiera dalam hati, memutar bola matanya malas.
"...saya akan menawarkan sebuah solusi. Kamu saya terima bekerja di sini," ucap Arsenio formal.
Kiera tertegun. Sepasang matanya berkedip tidak percaya. "Hah? Beneran, Pak? Bapak gak lagi amnesia efek benturan di lobi tadi, kan?"
"Jangan memotong ucapan saya!" bentak Arsenio kesal karena dramatisasinya diganggu lagi. "Kamu diterima, tapi bukan sebagai kepala administrasi. Kamu diterima sebagai asisten pribadi saya. Tugas kamu adalah melayani seluruh kebutuhan kerja saya, memastikan ruangan saya steril dua puluh empat jam, dan yang paling penting... menerima seluruh murka saya jika jas saya ternoda lagi."
Kiera langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi horor. "Melayani seluruh kebutuhan? Maaf ya Pak, saya ini cari kerja halal, bukan mau jadi tumbal pesugihan bapak-bapak gila hormat!"
"Pikiran kamu kotor sekali!" Arsenio melempar sebuah dokumen kosong ke arah Kiera yang dengan sigap ditangkap oleh gadis itu. "Ini kontrak kerja khusus. Gaji kamu akan dipotong lima puluh persen setiap bulannya sebagai cicilan ganti rugi jas saya sampai lunas. Selama masa kontrak, kamu tidak boleh mengundurkan diri, tidak boleh mengeluh, dan wajib menuruti semua perintah saya yang perfeksionis ini. Jika kamu melanggar satu poin saja... saya pastikan kamu beneran akan masuk daftar hitam di seluruh dunia kerja sampai kamu tua!"
Kiera menatap lembaran kontrak itu, lalu menatap Arsenio bergantian. Otaknya yang cerdas langsung menghitung skema untung rugi. Di satu sisi, bekerja dengan pria germaphobe gila kuasa ini pasti akan menguras kewarasannya sampai tetes terakhir. Tapi di sisi lain, ia memang butuh pekerjaan ini untuk membayar cicilan motor dan membantu ibunya di kampung. Lagi pula, kalau dipikir-pikir, kapan lagi seorang lulusan baru bisa langsung jadi asisten pribadi CEO Yudhistira Group?
Kiera menghela napas panjang, lalu berkacak pinggang. "Oke, saya terima tantangannya. Tapi saya punya satu syarat, Pak."
Arsenio membelalakkan mata, tak percaya dengan kelancangan makhluk di depannya. "Syarat? Kamu seorang pelamar kerja yang sedang berutang berani mengajukan syarat pada SAYA?!"
"Iya, dong. Biar adil," sahut Kiera santai sambil melangkah maju ke meja kerja Arsenio, mengambil sebuah pulpen mahal berlapis emas milik sang CEO tanpa izin, lalu menggunakannya untuk menandatangani kontrak tersebut dengan gerakan tegas. "Syaratnya simpel: Selama jam kerja, Bapak gak boleh tiba-tiba tantrum atau ngamuk tanpa alasan yang jelas. Kalau Bapak mulai gila hormatnya kambuh, saya berhak dapet uang lembur imaterial buat biaya penyembuhan mental saya. Gimana? Setuju, Mas Iblis?"
Arsenio syok setengah mati melihat pulpen mahalnya dipakai tanpa izin, ditambah lagi syarat tidak masuk akal yang diajukan Kiera. Baru saja ia hendak berteriak memaki, Kiera sudah menyodorkan dokumen yang sudah ditandatangani tepat di depan wajah tampannya.
"Kontrak sah! Mulai besok saya resmi kerja ya, Pak Bos. Siapkan mental Bapak, karena asisten baru Bapak ini gak mempan dikasih tatapan sedingin es. Permisi, selamat siang!"
Kiera memberikan hormat pramuka yang asal-asalan, lalu melenggang pergi keluar ruangan dengan senyuman kemenangan yang mengembang lebar di wajah cantiknya.
BLAM!
Pintu besar itu tertutup rapat, meninggalkan Ars kosisi, lalu menatap dokumen di tangannya. Napasnya memburu kencang, egonya benar-benar diacak-acak oleh seorang gadis berusia awal dua puluh tahunan.
"Dia... dia baru saja menandatangani kontraknya lalu mengatur saya?!" teriak Arsenio histeris pada ruangan yang sepi. Ia segera mengambil tisu antiseptik, mengelap pulpen emas yang sempat disentuh Kiera dengan gerakan kalap.
"Lihat saja besok, Kiera Anandita! Saya akan buat kamu menangis meraung-raung dan menyesal karena telah masuk ke dalam sangkar milik Arsenio Yudhistira!"