NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Malam hari di hari Minggu berganti dengan hening yang menenangkan. Rumah papan milik keluarga Alya telah lengang sejak satu jam yang lalu. Di dalam kamarnya yang berukuran tiga kali tiga meter, Alya duduk bersandar di kepala tempat tidur. Setelah seharian dihinggapi keriuhan *Girl Talk* bersama Adel dan Jesica—yang tak henti-hentinya menggoda dirinya tentang Devan—Alya akhirnya bisa bernapas lega.

Namun, tepat saat jarum jam dinding menunjuk ke angka sembilan malam, ponsel jadul Alya di atas meja belajar bergetar halus. Sebuah pendar cahaya dari layarnya menerangi sudut kamar. Alya mengulurkan tangan dan mengambilnya.

Sebuah pesan masuk tertera di layar: **Devan Narendra**.

*"Lagi apa, juragan kue? Udah siapin resep rahasia buat pesanan minggu depan?"*

Membaca pesan singkat itu, sudut bibir Alya refleks terangkat. Ucapan Adel dan Jesica tadi pagi bahwa Devan sedang melancarkan modus halus mendadak berputar kembali di kepalanya, membuat pipi Alya terasa hangat seketika. Alya menata napasnya, lalu jemarinya bergerak lincah menari di atas tombol ponselnya.

*"Baru selesai beberes kamar, Devan. Btw, panggilan 'juragan kue' itu kedengaran agak terlalu berat buat skala Dapur Saras yang cuma punya dua cetakan kue lumpur."*

Di seberang sana, Devan yang sedang berbaring di atas ranjang *king size*-nya di lantai dua rumah mewahnya, menyunggingkan senyum tipis. Suasana kamarnya yang luas dan biasa terasa sepi kini terasa jauh lebih bernyawa hanya karena balasan pesan dari Alya.

*"Gak apa-apa, kan doa. Siapa tahu dua tahun lagi Dapur Saras udah punya lima cabang pabrik katering di Jakarta. Tapi kalau udah sukses, jangan lupa sama investor pertama kamu ya."*

Alya tertawa pelan membaca balasan tersebut. Tawa renyah yang sangat jarang keluar dari bibirnya yang biasa tertekut tegang memikirkan tugas sekolah dan biaya hidup.

*"Iya, tenang aja. Nanti Pak Investor bakal dapat jatah kue lumpur gratis seumur hidup. Tapi dengan syarat, gak boleh komplain kalau kuenya kematangan."*

*"Deal. Tapi kalau gosong, bonusnya aku minta kamu yang antar langsung ke rumah. Gak boleh lewat kurir,"*

balas Devan cepat, menyelipkan godaan tipis yang membuat jantung Alya berdesir halus.

Alya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka sosok Devan Narendra—yang di sekolah selalu digambarkan sebagai murid berdarah dingin, irit bicara, dan ditakuti banyak orang—ternyata bisa bersikap sekonyol dan sesantai ini saat mengobrol berdua.

*"Kamu emang selalu punya alasan ya, Dev? Oiya, tadi pagi Adel sama Jesica main ke rumahku. Mereka bawa banyak makanan cepat saji."*

Devan menaikkan sebelah alisnya, merubah posisinya menjadi telentang dengan tangan menopang kepala.

*"Oh ya? Terus kalian bahas apa aja? Pasti gosipin insiden hari Jumat ya?"*

Alya menahan napas sejenak, ragu untuk mengetikkan jawaban yang sebenarnya. Namun, dorongan rasa jahil mendadak muncul di benak Alya.

*"Bahas banyak hal sih. Tapi sebagian besar waktu habis cuma buat dengerin mereka berdua heboh... pas aku cerita soal uang transferan lima juta dari kamu."*

Pesan itu dibiarkan menggantung beberapa detik. Di kamarnya, Devan tertawa renyah. Ia bisa membayangkan betapa histerisnya dua sahabat Alya itu, dan betapa merahnya wajah Alya saat digoda.

*"Terus, mereka ngomong apa? Pasti dibilang aku modus ya?"*

tebak Devan tanpa rasa ragu sedikit pun.

Alya tertegun. Ia tidak menyangka Devan akan menebaknya seterbuka itu.

*"Kok kamu tahu?!"*

balas Alya kaget.

*"Tahu lah. Kelihatan dari cara Adel natap aku di kelas pas hari Jumat. Terus... respon kamu gimana pas mereka bilang gitu?"*

Pertanyaan Devan kali ini terasa sedikit menjebak. Alya memandangi layar ponselnya dengan dada yang berdebar kencang. Ia memikirkan jawaban yang aman tanpa harus mengumbar rasa canggungnya.

*"Aku bilang ke mereka kalau kamu itu cuma investor yang agak sedikit 'maksa' dan kebetulan ketagihan kue pasar. Lagian, aku gak percaya kalau pangeran sekolah kayak Devan Narendra punya waktu buat modusin cewek kampung kayak aku."*

Devan memandangi balasan Alya lekat-lekat. Senyum di wajah tampannya perlahan memudar, berganti dengan binar keseriusan yang hangat. Ia mengetikkan balasan dengan sangat perlahan.

*"Jangan pernah sebut diri kamu 'cewek kampung' lagi, Alya. Kamu itu cewek paling tangguh dan punya harga diri paling tinggi yang pernah aku kenal. Dan soal 'modus'..."*

Devan sengaja memotong kalimatnya dalam dua pesan terpisah. Alya menunggu dengan napas tertahan di kamarnya.

*"...kalau emang aku beneran lagi modus, kamu keberatan gak?"*

*Deg.*

Jantung Alya serasa melompati satu detakan. Kamar yang sunyi itu mendadak terasa begitu penuh dengan getaran emosi yang membuncah. Alya terpaku menatap barisan kata di layar ponselnya. Pipinya memerah padam, mengalahkan warna merah dari baju tidurnya. Ia memeluk bantal guling erat-erat, tidak tahu harus membalas apa pada pertanyaan seberani itu.

Melihat indikator 'typing' pada obrolan Alya yang muncul dan hilang berulang kali, Devan terkekeh pelan di kamarnya. Ia sadar telah membuat gadis serba-bisa itu kehilangan kata-kata. Tidak ingin membuat Alya terlalu panik dan salah tingkah hingga tidak bisa tidur, Devan dengan cepat menyusulkan pesan bernada bercanda untuk mencairkan suasana.

*"Wkwk. Becanda, Al. Jangan terlalu serius gitu ngetiknya, kasihan jempol kamu dari tadi ngetik hapus ngetik hapus."*

Alya mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya, campuran antara rasa lega dan sedikit desiran kecewa yang tak sadari hadir di lubuk hatinya.

*"Devan! Kamu ngeselin banget ya ternyata! Aku kira kamu beneran kesurupan malam-malam gini!"*

balas Alya melampiaskan kekesalannya yang menggemaskan.

*"Hahaha. Maaf, habisnya lucu bayangin muka kamu yang pasti lagi merah padam sekarang di kamar."*

*"Gak merah ya! Muka aku biasa aja!"* sanggah Alya sekuat tenaga, walaupun kenyataannya wajahnya sudah panas seperti ketel air mendidih.

*"Masa? Nanti hari Senin aku cek langsung di sekolah. Kalau merah, kamu harus bayar denda sepotong brownies mini."*

*"Enak aja! Denda terus dari tadi. Udah ah, aku mau tidur. Besok Senin harus bangun pagi-pagi!"*

Devan tersenyum lembut membaca balasan Alya yang merajuk manja. Sebuah sisi dari Alya yang belum pernah diperlihatkan kepada siapa pun di sekolah, dan Devan merasa sangat beruntung menjadi satu-satunya orang yang bisa memancing sisi tersebut keluar.

*"Iya, juragan. Selamat tidur ya. Makasih udah mau nemenin ngobrol malam ini. Istirahat yang cukup, jangan mikirin tugas sekolah terus. Sampai ketemu besok di sekolah."*

Alya membaca pesan penutup itu dengan perasaan hangat yang membungkus seluruh tubuhnya. Rasa lelah, kekhawatiran akan masa depan, dan sisa kepedihan akibat ulah Clara lenyap tak berbekas, digantikan oleh kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

*"Sama-sama, Devan. Selamat tidur juga. Makasih buat semuanya."*

Alya menekan tombol simpan, meletakkan ponselnya di atas meja kecil di samping tempat tidur, lalu menarik selimut hingga ke dada. Di balik kegelapan kamarnya, senyuman manis Alya tidak memudar sedikit pun hingga akhirnya matanya perlahan terpejam, menyambut mimpi indah yang kini tak lagi terasa kelabu.

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!