NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#32

Kabin mobil sport yang menyusuri jalanan malam Los Angeles itu tak lagi menyisakan sedikit pun kehangatan. Keheningan yang tegang dan mencekat justru menjadi bahan bakar yang meniup api amarah di dalam dada masing-masing.

Pertengkaran yang berawal dari bentrokan harga diri dan prinsip kini meluas menjadi pusaran konflik yang kian liar dan tak terkendali.

Lux menatap lurus ke depan dengan rahang bertaut kaku, memeluk kedua tangannya di dada. Setiap helai napasnya terasa berat dan panas. Bagi seorang wanita yang memegang teguh harga diri dan independensi sepanjang hidupnya, perasaan "diberi kemudahan lewat jalur belakang" oleh suaminya sendiri adalah sebuah penghinaan yang teramat dalam.

"Kau selalu merasa bisa mengatur seluruh hidup orang lain hanya karena kau punya uang dan nama keluarga besarmu," cetus Lux dengan nada suara yang sarat akan sarkasme dingin. "Kau bertindak seolah-olah kau ini pahlawan, padahal kau hanya pria dominan yang tidak pernah menghargai keputusan orang lain!"

Braxton mencengkeram erat roda kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Pria itu berusaha menahan diri, menghirup napas dalam-dalam untuk menjaga suaranya agar tetap terkontrol.

"Lux, tolong berpikirlah secara jernih," potong Braxton serak, menahan amarah yang mulai membakar tenggorokannya. "Keluarga ku mendanai pameran itu jauh sebelum aku mengenalmu! Yayasan keluargaku sudah bekerja sama dengan galeri itu selama bertahun-tahun! Aku sama sekali tidak mencampuri penilaian Profesor Henderson pada lukisanmu. Kau terpilih karena bakatmu, Lux! Kenapa kau harus sedemikian picik menyamakan niat baikku dengan gosip murahan dari mahasiswi seperti Ambar?!"

"Aku tidak picik!" jerit Lux mendadak meluap, memalingkan tubuhnya penuh emosi ke arah Braxton. "Kau yang tidak pernah paham! Kalau bukan karena kesalahpahaman medis di rumah sakit hari itu, aku tidak akan pernah berada di posisi ini! Kalau saja bukan karena dokter konyol yang tertukar memberikan rekam medis itu... aku tidak akan pernah berada di dalam mobil ini dan menikah denganmu!"

DUARRRR!

Kalimat tajam itu meluncur begitu saja dari mulut Lux tanpa penyaring, memotong keheningan malam bagaikan belati es yang menusuk tepat di ulu hati Braxton.

Cencang kemudi di tangan Braxton seketika terkunci. Mobil sport mahal itu dihentikan secara mendadak di tepi jalan sepi yang remang-remang, menimbulkan suara derit ban yang bergesek tajam dengan aspal.

Braxton membeku. Kesabaran dan benteng pertahanan yang berusaha dibangunnya sepanjang malam seketika runtuh berkeping-keping.

Pria yang biasanya selalu mengalah, menyanjung, dan mengagumi istrinya dengan begitu mengabdi itu kini menoleh perlahan. Sepasang mata cokelatnya yang biasa memancarkan pendar hangat kini berkilat merah, dipenuhi amarah bercampur rasa terluka yang amat sangat.

"Apa kau bilang?" desis Braxton, suaranya bergetar rendah oleh emosi yang pekat.

Lux mendongak, meski matanya berkaca-kaca oleh emosi dan gengsi yang tinggi, ia menolak untuk mundur sejengkal pun.

"Apa itu Artinya kau menyesal?" bentak Braxton mendadak meledak, menepuk keras roda kemudinya hingga suara dentuman menggema di dalam kabin.

Pria itu memutarkan seluruh tubuhnya menghadap Lux, menatap istrinya dengan tatapan yang amat tajam. "Begitukah, Lux?! Apa karena masalah sponsor pameran ini, kau bahkan kembali membahas kenapa kita bisa menikah?! Hm?!"

Lux tersentak kaget oleh perubahan sikap Braxton yang mendadak menjadi begitu menakutkan, namun gengsinya membendung rasa takut itu.

"Jawab aku, Lux!!" teriak Braxton membahana, urat-urat di leher kokohnya menegang keras, memecahkan seluruh keheningan malam. "Apa kau benar-benar tidak bahagia menikah denganku, Lux?! JAWAB AKU!!!!"

"Kau membentakku?!" balas Lux tak kalah nyaring, matanya membelalak tak percaya pada pria di hadapannya.

Air mata kemarahan lolos menetes membasahi pipinya. "Ahhh, sialan kau! Kau teriak tepat di wajahku, Braxton Desmon!"

"Karena kau tidak menggunakan akal sehatmu!" gertak Braxton dengan napas memburu hebat, dadanya naik-turun kencang. "Aku mencintaimu mati-matian, Lux! Aku melakukan segalanya untuk membahagiakanmu! Dan kau dengan mudahnya menyebut pernikahan kita hanya sebuah 'kesalahpahaman medis' yang kau sesali?!"

Akal sehat Lux yang sudah tertutup oleh emosi membara dan rasa terluka seketika mencari celah paling menyakitkan untuk membalas pria di hadapannya.

Dalam kegelapan amarahnya, sebuah nama beracun yang paling dihindari tiba-tiba melintas di benaknya.

Lux menyunggingkan senyum miring yang teramat sinis, menatap Braxton dengan pendar mata abu-abu yang dipenuhi bisa beracun.

"Melihat bagaimana dirimu yang emosional dan kasar seperti ini..." bisik Lux tajam, setiap kata yang diucapkannya sengaja dirancang untuk meremukkan harga diri Braxton. "...kurasa Amelia Giger tidak halusinasi saat mengatakan kalau dia pernah hamil anakmu!"

Deg!

Atmosfer di dalam kabin seketika membeku secara mengerikan.

Kata-kata itu terlempar ke udara bagaikan bom atom yang menghancurkan seluruh benteng kepercayaan di antara mereka.

Braxton terpaku kaku.

Wajah tampannya seketika berubah pucat pasi, lalu bertransisi menjadi merah padam oleh rasa syok dan kekecewaan yang tak terlukiskan. Pria itu menatap istrinya dengan pandangan tak percaya—seolah-olah wanita yang duduk di sampingnya saat ini adalah orang asing yang amat kejam.

"A-apa maksudmu membahas hal sampah itu, Lux?" tanya Braxton dengan suara yang mendadak bergetar hebat, keringat dingin mencetus di pelipisnya.

Pria itu menunjuk dadanya sendiri dengan jari yang gemetar. "Kau... kau membawa nama wanita gila itu untuk menyerangku? Kau tidak percaya padaku... suamimu sendiri?!"

Lux tertegun sejenak. Saat kata-kata beracun itu terlanjur lolos dari bibirnya, kilatan rasa menyesal sempat menyengat dadanya saat melihat binar mata Braxton yang amat terluka.

Namun, rasa gengsi dan amarah yang masih membakar membuat Lux enggan menarik kembali ucapannya. Ia memilih memalingkan wajahnya rapat-rapat ke arah jendela, menolak menatap mata suaminya yang hancur.

"Aku hanya mengatakan apa yang kulihat malam ini," sahut Lux dingin, meski suaranya bergetar menahan tangis.

Braxton tertawa pendek—sebuah tawa getir yang amat menyakitkan dan penuh kekecewaan mendalam. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi pengemudi, menatap langit-langit kabin dengan mata yang memerah menahan luka batin.

"Luar biasa..." gumam Braxton serak, menggelengkan kepalanya tak percaya. "Aku mempertaruhkan seluruh hidupku, membela namamu, dan mencintaimu tanpa sisa... tapi pada akhirnya, kau bahkan lebih memilih memercayai dongeng gila dari wanita lain ketimbang kejujuran suamimu sendiri."

Braxton tidak lagi berteriak. Keheningan yang menyulut setelahnya justru jauh lebih menakutkan daripada bentakan keras sebelumnya.

Pria itu menekan tombol mesin, memindahkan tuas transmisi, lalu menjalankan mobilnya kembali dalam kecepatan tinggi menembus keheningan malam tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.

Di sampingnya, Lux meremas kuat lipatan gaunnya. Air matanya menetes makin deras dalam diam, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, sebuah luka yang teramat pekat telah tergores dalam di antara hati mereka berdua.

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!