NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN SANDERA: MEMPELAI PENGGANTI SANG MILIARDER

PERNIKAHAN SANDERA: MEMPELAI PENGGANTI SANG MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.

Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.

Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.

Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.

Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.

Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:

Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Jejak Sang Penyelamat

Rasa panas di punggung tangan kanan Naya semakin menyiksa.

Setelah membersihkan pecahan cangkir dan tumpahan kopi di ruang tamu, Naya bergegas kembali ke kamarnya dengan langkah tergesa. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung lagi.

Begitu pintu kamar tertutup, ia langsung masuk ke kamar mandi.

Keran wastafel dibuka penuh.

Air dingin mengalir membasahi kulit tangannya yang memerah akibat siraman kopi panas.

Naya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

Rasa perih itu seperti menjalar hingga ke dadanya.

Namun yang lebih menyakitkan bukanlah luka di tangannya.

Melainkan sikap Adrian.

Pria itu melihat semuanya.

Pria itu tahu dirinya terluka.

Namun tetap memilih diam.

Setetes air mata jatuh ke wastafel.

Lalu disusul oleh tetesan berikutnya.

"Ibu..." bisik Naya lirih.

"Aku kuat... aku harus kuat..."

Kalimat itu terus diulangnya seperti doa.

Sejak kecil, Naya sudah terbiasa menghadapi kesulitan seorang diri.

Namun entah mengapa, hari ini terasa jauh lebih berat.

Mungkin karena orang yang melukai hatinya adalah pria yang pernah ia selamatkan.

Pria yang bahkan tidak menyadari bahwa nyawanya pernah berada di tangan Naya.

Setelah hampir tiga puluh menit membasuh luka, Naya keluar dari kamar mandi.

Tubuhnya terasa lemas.

Ia tidak memiliki obat.

Tidak memiliki salep.

Tidak memiliki siapa pun yang bisa diajak berbagi cerita.

Kamar besar itu terasa sangat sunyi.

Naya akhirnya duduk di lantai dekat ranjang.

Ia memeluk lututnya sambil menahan denyutan nyeri yang terus menyerang.

Perlahan matanya mulai berat.

Kelelahan fisik dan batin membuat kesadarannya menghilang.

Tak lama kemudian, Naya tertidur meringkuk di lantai dingin.

---

Sementara itu, di lantai bawah.

Adrian masih berada di ruang tamu.

Rumah megah itu telah kembali sepi setelah kepergian Ketrin.

Namun pikirannya justru semakin gaduh.

Bayangan Naya yang menahan tangis terus muncul di kepalanya.

Ia masih mengingat jelas bagaimana wanita itu memegangi tangannya yang melepuh.

Tatapan mata yang terluka.

Dan harapan kecil yang tampak di wajahnya saat menoleh kepada Adrian.

Harapan agar dirinya dibela.

Namun Adrian tidak melakukan apa pun.

Pria itu mengepalkan tangan.

"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" gumamnya kesal.

Seharusnya ia membenci Naya.

Seharusnya ia menganggap wanita itu sama seperti keluarganya.

Namun semakin lama mengenalnya, semakin banyak hal yang terasa tidak masuk akal.

Tatapan mata Naya.

Suaranya.

Cara wanita itu menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan.

Semua terasa sangat familiar.

Sangat akrab.

Seolah ia pernah mengenalnya jauh sebelum pernikahan ini terjadi.

Pikiran Adrian kembali melayang pada malam kecelakaan tiga tahun lalu.

Malam ketika hidupnya berubah selamanya.

Malam ketika seseorang menyelamatkan nyawanya.

Dan malam ketika liontin daun semanggi itu ditemukan.

Adrian mengembuskan napas panjang.

Kemudian memutar kursi rodanya menuju lift pribadi.

Entah mengapa, hatinya mendorongnya menuju kamar Naya.

---

Pintu kamar terbuka perlahan.

Ruangan itu gelap dan sunyi.

Tatapan Adrian langsung menemukan sosok Naya yang tertidur di lantai.

Alisnya mengernyit.

Wanita itu bahkan tidak tidur di atas ranjang.

Tubuh kecilnya meringkuk seperti anak kecil yang kehilangan tempat berlindung.

Wajahnya terlihat pucat.

Bekas air mata masih tampak jelas di kedua pipinya.

Napasnya terdengar berat.

Adrian mendekat.

Lalu pandangannya jatuh pada tangan kanan Naya.

Rahangnya langsung mengeras.

Luka itu jauh lebih parah daripada yang ia bayangkan.

Kulitnya mulai melepuh.

Bahkan belum mendapatkan penanganan yang layak.

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, Adrian merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam dadanya.

Perasaan bersalah.

Perasaan yang sudah lama tidak pernah ia rasakan.

Tanpa sadar, tangannya terulur.

Jemarinya bergerak perlahan ke arah wajah Naya.

Namun sebelum sempat menyentuhnya, Naya terbangun.

Mata mereka bertemu.

Naya langsung tersentak.

Tubuhnya mundur refleks.

"T-Tuan Adrian..."

Suaranya bergetar.

"Saya minta maaf. Saya tidak sengaja tertidur."

Tatapan takut itu membuat Adrian terdiam.

Apakah dirinya benar-benar terlihat semenakutkan itu?

Adrian segera memasang kembali ekspresi dinginnya.

"Duduk diam."

Naya langsung membeku.

"Saya bisa mengobati sendiri, Tuan."

"Aku tidak suka mengulang perintah."

Nada suaranya tegas.

Naya akhirnya mengangguk pelan.

Adrian mengambil kotak P3K dari lemari.

Lalu mulai membersihkan luka tersebut.

Gerakannya hati-hati.

Sangat hati-hati.

Seolah takut menyakitinya.

Naya menatap pria itu tanpa berkedip.

Sulit dipercaya.

Pria yang siang tadi membiarkan dirinya terluka kini justru mengobati tangannya sendiri.

"Sakit?" tanya Adrian tiba-tiba.

Naya mengangguk kecil.

Adrian menghentikan gerakannya.

Kemudian meniup perlahan bagian yang memerah.

Jantung Naya langsung berdebar.

Suasana kamar mendadak terasa berbeda.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, tidak ada kebencian di antara mereka.

Hanya keheningan yang aneh.

Setelah selesai membalut luka, Adrian hendak menjauh.

Namun langkahnya terhenti.

Matanya menangkap sesuatu.

Hijab Naya sedikit bergeser.

Memperlihatkan sebuah tanda lahir kecil di leher bagian bawah.

Mata Adrian langsung membelalak.

Tanda lahir berbentuk kelopak bunga melati.

Tubuhnya menegang.

Ingatan lama kembali menghantamnya.

Malam kecelakaan.

Kobaran api.

Hujan deras.

Dan seorang gadis berhijab yang berusaha menyeret tubuhnya keluar dari mobil.

Di tengah kekacauan itu...

Ia sempat melihat tanda lahir yang sama.

Persis sama.

Napas Adrian memburu.

Mustahil.

Tidak mungkin kebetulan sebanyak ini.

Liontin daun semanggi.

Sikap Naya yang terasa familiar.

Dan sekarang tanda lahir tersebut.

Jantung Adrian berdetak semakin keras.

Untuk pertama kalinya, keyakinannya terhadap cerita Ketrin mulai runtuh.

Tatapan Adrian kembali tertuju pada wajah Naya.

Lalu sebuah pertanyaan besar muncul di benaknya.

Jangan-jangan...

Wanita yang selama ini ia hina, ia sakiti, dan ia perlakukan dengan kejam...

Adalah orang yang sebenarnya telah menyelamatkan nyawanya tiga tahun lalu?

Bersambung...

1
falea sezi
😒 telat lu bangke
Dinatha: saya follow ya🙏
total 4 replies
Satisuci Ituaku
mksih kk
Rani Saraswaty
knp cpt bgt tau sih??? 🤭
Satisuci Ituaku: mksih udah mampir kk
total 1 replies
Rani Saraswaty
kan kaya...mudah tuh cari yg bw lari uangnya...knp repot2...seluruh kluarga bs msk sel
Satisuci Ituaku
siap kk mksih udh mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!