Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Lima Belas
"Daddy menamparku?" tanya El. Selama ini kedua orang tuanya tak pernah berbuat kasar. Mereka hidup dengan penuh kasih sayang.
"Kamu memang pantas mendapatkannya!" ucap Arsaka dengan penuh penekanan. Hana yang melihat wajah suaminya memerah mendekatinya. Ia tak mau jika sampai pria itu lepas kendali.
"Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya!" ucap El dengan suara sedikit keras.
Hana lalu maju dan mendekati putranya. Ia mencoba menahan air matanya.
"Nak, tak semua kebenaran itu benar adanya. Dan tak semua anak lahir di luar nikah itu karena kesalahan ibunya. Terkadang situasi yang membuat itu terjadi. Yang buruk di mata manusia, terkadang belum tentu buruk. Setiap kejadian juga ada penyebabnya," ucap Hana dengan suara pelan.
El masih berdiri di tempatnya. Tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya. Tamparan dari Arsaka memang membuatnya terkejut, bahkan hatinya terasa seperti dipukul lebih keras daripada pipinya.
Namun bukannya sadar, justru rasa sakit itu membuat pertahanannya semakin kuat.
“Aku tidak salah, Dad,” ucap El dengan suara rendah, tapi penuh keyakinan. “Aku hanya mengatakan apa yang selama ini orang-orang takut katakan.”
Arsaka menatap putranya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada marah, ada kecewa, tapi lebih banyak luka.
“Orang-orang?” ulang Arsaka pelan. “Atau hanya kamu yang berpikir seperti itu?”
El terdiam sesaat. “Daddy tidak mau menerima kenyataan karena terlalu sayang pada Chelsea,” lanjut El. “Sejak kecil kalian selalu melihat dia sebagai anak yang harus dilindungi. Tapi kalian lupa satu hal, Dad. Dia tetap anak dari seorang wanita yang menghancurkan rumah tangga orang lain.”
“Cukup, El.” Suara Hana terdengar bergetar. Ia menatap putranya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Kenapa kamu terus membawa kesalahan orang lain untuk menghukum Chelsea?”
El menoleh pada ibunya. “Bukan orang lain, Mom. Itu orang yang darahnya mengalir di tubuh Chelsea, Mom.”
Kalimat itu membuat Hana langsung terdiam.
Al yang sejak tadi berdiri hanya bisa menatap kakaknya dengan rasa tidak percaya. “Bang, aku benar-benar tidak mengenal Abang yang sekarang.”
El menatap Al. “Kenapa? Karena aku berani mengatakan kebenaran?”
“Bukan,” jawab Al cepat. “Karena Abang mulai melihat orang hanya dari asal-usulnya.”
Al menarik napas panjang. “Kak Chelsea tidak pernah melakukan apa pun kepada kita. Selama ini dia selalu ada buat keluarga ini. Dia menjaga Mommy, menghormati Daddy, dan menyayangi kita.”
El tertawa kecil, lalu berkata, “Kamu mudah bicara karena kamu tidak tahu apa yang aku tahu.”
“Apa yang Abang tahu?” tanya Al. “Cerita masa lalu yang bahkan bukan tentang Kak Chelsea?”
El diam.
“Abang menghukum seseorang yang bahkan tidak memilih bagaimana dia dilahirkan.”
Ucapan Al membuat dada El terasa sesak, tapi ia tetap tidak mau mengalah.
“Aku hanya tidak mau keluarga ini terluka nanti.”
Arsaka yang terdiam karena menahan amarah, akhirnya kembali bicara. “Luka?”
Tatapan Arsaka tajam. “Kamu pikir selama dua puluh tujuh tahun ini Chelsea hanya membawa luka?”
El tidak menjawab.
“Dia justru yang mengobati luka keluarga ini.”
Arsaka menunjuk ke arah foto keluarga yang terpajang di ruang keluarga. “Dia datang ke rumah ini sebagai seorang anak kecil yang tidak punya siapa-siapa. Dan apa yang dia lakukan? Dia belajar mencintai keluarga ini.”
Suara Arsaka mulai bergetar. “Dia tidak pernah meminta tempat. Dia tidak pernah memaksa dipanggil anak. Tapi kamu ....” Arsaka menatap El dengan kecewa. “Kamu yang sejak lahir memiliki semuanya, justru sekarang mengusir seseorang yang hanya ingin dicintai.”
El mengalihkan pandangannya. “Aku tetap tidak bisa menerima.”
Arsaka menghela napas panjang. Kesabarannya mulai habis. “Kamu tahu apa masalahmu, El?”
El menatap ayahnya.
“Kamu terlalu yakin dengan pikiranmu sendiri sampai lupa menggunakan hati.”
El tersenyum tipis. “Karena aku tidak mau menjadi bodoh seperti kalian.”
Suasana langsung berubah. Hana menatap putranya dengan mata membesar.
“El .…”
Arsaka mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. “Apa maksudmu?”
“Maksudku, kalian terlalu percaya pada Chelsea. Terlalu percaya bahwa dia berbeda.” El menatap ayahnya. “Padahal kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan.”
“Cukup.”.Suara Arsaka kali ini lebih berat.
Namun El masih melanjutkan. “Terus saja Daddy membela dia. Terus saja anggap dia anak baik. Tapi kalau suatu hari nanti dia membuat keluarga ini hancur, jangan bilang aku tidak pernah memperingatkan.”
Kalimat itu menjadi batas terakhir kesabaran Arsaka. Ia menatap putranya lama.
Lalu dengan suara penuh kecewa ia berkata, “Aku malu punya anak yang berpikiran sempit dan picik seperti kamu.”
El membeku.
Hana langsung menatap Arsaka. “Mas .…”
Tapi Arsaka tidak berhenti. Semua rasa kecewa yang ia tahan selama percakapan itu akhirnya keluar. “Daddy membesarkan kamu bukan hanya untuk menjadi orang pintar, El. Daddy ingin kamu menjadi manusia yang punya hati.”
Tatapan Arsaka penuh luka. “Tapi malam ini Daddy melihat kamu hanyalah seseorang yang mudah menghakimi orang lain.”
El menelan ludah. Kata-kata ayahnya terasa menusuk. Tapi egonya masih terlalu besar untuk mengaku salah. Ia tertawa kecil.
“Baik.” El mengangguk pelan. “Kalau begitu, terus saja Daddy bela Chelsea sampai suatu hari nanti Daddy kehilangan segalanya.”
Hana langsung menatap El. “Nak .…”
Namun El sudah terlanjur terbawa emosi. “Aku harap nanti Daddy tidak menyesal karena memilih percaya pada orang lain daripada anak sendiri.”
Arsaka menatapnya dingin. “Kamu benar-benar berpikir Daddy memilih Chelsea daripada kamu?”
El tidak menjawab. Dan bagi Arsaka, diam itu sudah cukup sebagai jawaban.
Hana mendekati putranya. “Sudah, Nak. Masuklah ke kamar dulu. Kamu pasti lelah. Mandi, istirahat. Kita bicara lagi kalau semuanya sudah tenang.”
Hana mencoba menyentuh lengan El, tapi putranya justru mundur. “Aku mau pergi.”
Mata Hana langsung berubah panik. “El.”
“Aku tidak mau tinggal di rumah ini lagi.”
Al langsung berdiri. “Bang, jangan bicara seperti itu.”
El menatap sekeliling ruang keluarga. Rumah yang selama ini menjadi tempat ternyamannya tiba-tiba terasa asing.
“Rumah ini sepertinya lebih menerima anak orang lain daripada anaknya sendiri.”
Hana langsung menahan napas. “Jangan berkata begitu, Nak .…”
Tapi Arsaka yang hatinya sudah penuh luka justru membalas dengan kalimat yang membuat semua orang terdiam. “Pergilah.”
Hana menatap suaminya. “Mas .…”
Arsaka tetap menatap El. “Kalau perlu jangan pulang lagi.”
Waktu seolah berhenti. El membeku. Al membelalakkan mata. Bahkan Hana terlihat tidak percaya mendengar ucapan suaminya.
“Mas, sadar ....” Hana langsung mendekati Arsaka. “Jangan terbawa emosi.”
Arsaka memejamkan mata sebentar. Tapi emosinya sudah terlalu dalam. Sementara El hanya tersenyum miring, seperti menyimpan kecewa.
“Baik.” Ia mengangguk pelan. “Aku akan pergi.”
El menatap kedua orang tuanya. “Mungkin Daddy memang lebih mengharapkan Chelsea yang tinggal di rumah ini dan aku yang pergi.”
Hana langsung menggeleng. “Tidak, El .…”
Tapi El sudah berbalik. “Akan aku kabulkan keinginan Daddy.”
Langkahnya terdengar jelas saat menaiki tangga, satu per satu. Meninggalkan ruang keluarga dengan penuh luka.
Hana hanya bisa menatap punggung anaknya dengan air mata yang mulai jatuh. Sementara Arsaka berdiri diam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, rumah yang selalu penuh kehangatan itu terasa begitu dingin. Dan tanpa mereka sadari, malam itu menjadi awal dari retaknya sesuatu yang selama ini mereka pikir tidak akan pernah hancur.
tapi sama Noah jg gak papa🤭
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka