NovelToon NovelToon
The Last Golden Rose: Kebangkitan Putri Terbuang

The Last Golden Rose: Kebangkitan Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: SweetMoon2025

​"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"

​Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.

​Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.

​Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Saingan Baru Sang Panglima

​"Ibu, lihat! Jamur payung kelabu ini besar sekali, pasti lezat kalau ditumis dengan mentega!" seru Anna sembari mengangkat tinggi-tinggi hasil temuannya dari balik semak pohon pinus.

​Marry yang sedang mengumpulkan kayu bakar kering menoleh, lalu tertawa renyah melihat wajah putrinya yang tercoreng sedikit tanah hitam. "Astaga, Anna, jangan asal petik, Nak. Sini Ibu lihat dulu, jangan sampai kita keracunan saat tinggal di hutan ini."

​"Tenang saja, Ibu. Instingku mengatakan ini jamur yang bisa di makan dengan aman," sahut Anna dengan mata perak yang berbinar cerah.

​"Kau ini, sejak tinggal di rumah pohon ini jadi seperti anak anjing yang lepas dari kandang ya. Bahagia sekali," goda Marry sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sayang.

​"Karena di sini aku bisa jadi diri aku sendiri, Ibu. Di sini tidak ada mata-mata bangsawan, tidak ada Guild Borjuis, dan ... aku tidak perlu pakai tudung menyembunyikan rambut dan identitasku," bisik Anna, membiarkan angin hutan yang sejuk menerpa wajahnya dengan bebas.

"Kau benar, Nak."

​Bagi Anna, kehidupan di pinggiran hutan pinus ini adalah kemewahan sejati yang tidak pernah ia dapatkan selama belasan tahun menjadi anak bangsawan yang dikucilkan. Siang harinya dihabiskan dengan kemalasan yang menyenangkan. Ia bisa berbaring santai di atas hammock rajut yang kokoh, entah kapan dipasang oleh sang Panglima di dek rumah pohon, ia sembari membiarkan rambut merah anggurnya yang panjang berkibar lembut ditiup angin. Tanpa beban, tanpa kepalsuan, hanya ada ketenangan dan melodi kicauan burung hutan yang menemaninya.

​Sore harinya, ia akan berpetualang di tempat-tempat baru dan berlanjut menuju aliran sungai berbatu yang jernih di dekat perbatasan hutan.

​BYUR!

​"Ah! Anna, dingin! Berhenti mencipratkan air!" pekik Marry sembari tertawa, mencoba menghalau serangan air dari putri a.k.a cucu majikannya ini menggunakan pakaian yang sedang ia cuci.

​"Ibu terlalu serius mencuci! Sini, lihat di bawah kakiku, ikannya banyak sekali!" Anna tertawa lepas, gaun linen sederhananya sengaja ia ikat hingga sebatas lutut agar bisa bebas bergerak di dalam air.

​"Awas terpeleset, Anna! Batu di sungai ini licin!" peringat Marry.

​SPLASH!

​Belum sempat peringatan itu selesai terucap, Anna sudah kehilangan keseimbangan saat mencoba menangkap seekor ikan dengan tangan kosong. Ia jatuh terduduk di dalam air yang dangkal hingga basah kuyup. Bukannya mengeluh, tawa lepas Anna justru memecah kesunyian sore itu, menggema hangat di sepanjang aliran sungai. Marry yang melihatnya ikut tertawa pingkal-pingkal, merasa bersyukur melihat cucu Oma Rosa ini akhirnya bisa hidup seperti gadis remaja normal pada umumnya.

​Namun, kedamaian sore itu mendadak terusik saat mereka berjalan kembali menuju tangga rumah pohon yang mana dari balik tumpukan daun kering, terdengar suara lenguhan kecil yang sangat lirih dan menyedihkan.

​"Suara apa itu, Anna?" tanya Marry, menghentikan langkahnya dengan waspada.

​"Tunggu, Ibu. Sepertinya dari arah semak ini." Anna berjongkok, menyibak dedaunan berduri, dan seketika matanya membelalak kaget.

​Sesosok anak kucing hutan bertubuh mungil dengan bulu seputih kapas sedang terbaring lemas. Kakinya robek bersimbah darah akibat perangkap kawat berkarat milik pemburu liar. Saat melihat Anna, makhluk kecil itu mengeluarkan suara desisan lemah, mencoba defensif meski sepasang mata sebiru safirnya tampak meredup karena kehilangan banyak darah.

​"Astaga, kasihan sekali. Kakinya terluka parah," gumam Marry iba.

​"Biar aku yang mengurusnya, Ibu. Jangan takut, manis ...." Anna mengulurkan tangannya dengan sangat lembut.

​Mengaktifkan insting sihirnya yang paling murni, Anna menarik seutas benang Mana hangat berwarna merah anggur dari ujung jarinya saat Marry yang menjauh kembali ke dalam rumah untuk mencari obat. Benang sihir itu merajut dan menutup luka di kaki sang kucing putih dalam hitungan detik. Keajaiban itu seketika membuat si kucing berhenti mendesis. Ia mendengus pelan, lalu dengan manja menggosokkan kepalanya ke telapak tangan Anna.

​"Kau sangat pintar. Mulai sekarang namamu Mimi," ucap Anna tersenyum lebar, langsung menggendong makhluk berbulu itu ke dalam pelukannya.

​Malam pun tiba, membawa keheningan yang biasa menyelimuti hutan pinus. Mimi yang sudah diberi makan sampai kenyang tertidur pulas di atas bantal kain perca di sudut kamar baru Anna. Sementara itu, Anna sendiri sudah berbaring di atas ranjang kayunya, menatap langit-langit dengan debaran jantung yang tidak karuan.

​Malam ini, Anna sengaja tidak memejamkan mata. Ia berpura-pura tidur, mengatur ritme napasnya sehalus mungkin karena sebuah rasa penasaran yang teramat besar. Ia ingin tahu bagaimana tepatnya sang Panglima Agung Kekaisaran selalu berhasil menyelinap ke dalam kamarnya tiap tengah malam.

​KREK.

​Suara engsel jendela kayu yang bergerak tanpa suara terdengar di keheningan malam, bersamaan dengan embusan angin malam yang membawa aroma maskulin mask dan kayu cedar yang pekat, sesosok bayangan bertubuh besar melompat senyap ke dalam kamar.

​Aethan Cassian Solaris berdiri di sana, di bawah temaram cahaya bulan, pria itu melepas jubah luarnya, menyisakan kemeja linen putih tipis yang mengekspos lekuk dadanya yang bidang dan keras. Aethan melangkah mendekati ranjang dengan langkah kaki yang bahkan tidak menimbulkan cicitan di atas lantai kayu.

​Anna menahan napasnya di balik kelopak mata yang terpejam rapat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa takut Aethan bisa mendengarnya.

​Kasur di sisinya perlahan bergerak di bawah beban tubuh besar sang Panglima. Tanpa peringatan, sebuah lengan kokoh yang hangat menyelip dengan begitu saja di bawah tengkuk Anna, sementara lengan satunya lagi menarik pinggang ramping Anna tanpa jarak ke dalam pelukannya. Aethan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Anna, mengembuskan napas panjang seolah seluruh beban Kekaisaran di pundaknya luruh begitu saja setiap kali ia mendekap gadis itu.

​"Kau selalu wangi," bisik Aethan teramat lirih, mengira Anna telah terlelap, sebelum mengecup pelipis sang gadis dengan sapuan yang lama dan penuh rasa sayang yang belum keduanya pahami.

​Anna mati-matian menahan tubuhnya agar tidak gemetar akibat desiran panas yang mendadak membakar kesadarannya. Namun, kejutan malam itu belum selesai.

​HISS!

​Di sudut ruangan, Mimi mendadak terbangun. Anak kucing hutan bermata biru safir itu menegakkan seluruh bulu putihnya, berdiri di atas bantal, dan menatap tajam ke arah Aethan. Ia mengeluarkan suara desisan permusuhan yang sangat jelas, tidak suka melihat majikannya diinvasi oleh sang predator puncak Kekaisaran.

​Aethan menghentikan usapannya di rambut Anna. Kepala sang Panglima menoleh lambat, menatap tajam ke arah sumber suara, ada makhluk putih berukuran sejengkal itu dengan kilatan mata perak yang mendingin. Dua predator itu saling mengunci pandangan di tengah kegelapan malam, memulai perang dingin yang tidak disadari oleh Anna sebelumnya.

1
Anne Soraya
lanjut
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: siap kaka 😍🫶
total 1 replies
Razi Maulidi
awal bab yang indah kk.... ceritanya bikin sedih di awalnya.... semangat....
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Terimakasih kak 🫶🤗
total 1 replies
WidBy
Lanjut kak 🤭
Mutiara
Kok belum up lagi?
Mutiara
5 bab Thor? keren bnget. besok 5 bab LG kan? 🤭
WidBy
lanjut thor
한스 HANSEN (HiAtus SEmeNtara)
aku hadir mom!
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Yes, dear. Thankyouuu 🫶🫶🫶
total 1 replies
Vhin Ananta
Sweet yang nggak Sweet karena bikkn mewek 🫣..
lanjut yaaaaa
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Terimakasih Kak Vhin 😘😘😘
total 1 replies
Mutiara
makin seru ni. keren la pokknya. jadi cermin itu apa y?
WidBy
Aetan mulai tertarik ke Ana ya? 🤭
Cutiepie18
Di bab awal udah sedih banget ya, di tambah di akhir makin kena fitnah, pasti ini cewek kuat banget ngadepin semua itu, dan pas waktu perkataan itu, gue penasaran, siapasih tunangan yang di rebut itu. emgnya dia pantas direbutkan?... lanjuuut...😍
Cutiepie18: sama2 kakak, 😍😍😍... keren bgt novel novel kakk👍
total 2 replies
Mutiara
Aku mau saputangana 😍
Mutiara
wih paman Paul keren banget Weh. ternyata ya ternyata 👍🤭
WidBy
rumah siapa y? ayo bangkit An, tunjukkan k keluarga Virelle
Asley Naynay
makin penasarn rumah siapa yg di tempati? semoga aja mary sm paul g jahat
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Rumah siapa ya hmmm ikuti terus ya, Kak 😆🫶
total 1 replies
Asley Naynay
Nyonya Rosa 😭🫶🏼 bikn trharu
Asley Naynay
siapa yang sangka ternyata Paman Paul 😱👍💪
Mutiara
sialan. apes banget jadi Analin. lawan ayo lawan
Mutiara
anjg di usir. pdhl anak kandung. woilah
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Sabar, Kak sabar 😆🫶
total 1 replies
Mutiara
bab satunya seru. kasian banget analin y. jahat keluarganya
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Iya ya, Kak 🥲 baca terus bab seru lainnya ya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!