NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tirimu Adalah Balas Dendamku

Menjadi Ibu Tirimu Adalah Balas Dendamku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:17k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, menyinari kamar utama kediaman Alessandro. Dixon perlahan membuka sepasang kelopak matanya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, pria berusia 39 tahun itu terbangun dengan tubuh yang terasa sangat ringan dan rileks. Ketegangan kronis yang biasanya mencengkeram pundak dan kepalanya setiap pagi seolah sirna tanpa bekas, efek dari pijatan telaten dan obrolan berani istrinya semalam.

Namun, sebelum Dixon sempat menikmati rasa nyaman itu lebih lama, sosok Cia sudah berdiri di tepi ranjang dengan piyama yang sudah berganti pakaian rapi. Di kedua tangannya, ia sudah memegang kemeja putih bersih yang baru disetrika dan setelan jas mewah berwarna hitam pekat.

"Selamat pagi, Mas Dixon! Ayo cepat bangun dan bersiap-siap," seru Cia dengan suara merdu yang memenuhi kamar, memecah keheningan pagi dengan energinya yang ceria. "Jadwal rapatmu hari ini maju satu jam, 'kan? Jangan sampai Direktur Utama Luca Group malah datang terlambat karena keasyikan tidur."

Dixon mengerutkan dahi, menatap tajam istrinya dengan tatapan es yang kaku sembari mendudukkan tubuh tegapnya. "Dari mana kamu tahu jadwal rapatku?" tanya Dixon dengan suara baritonnya yang serak khas orang baru bangun tidur.

"Aku tanya pada Asher lewat pesan singkat subuh tadi," jawab Cia santai, mengedipkan sebelah matanya jahil. "Sudah, cepat mandi dan bersiap. Semuanya sudah aku siapkan di kamar mandi."

Dua puluh menit kemudian, Dixon keluar dari walk-in closet sudah mengenakan kemeja putih dan celana bahan kainnya. Pria itu berdiri di depan cermin, tampak sedikit kesulitan memosisikan kain dasi sutra hitam di leher kokohnya karena pikirannya yang masih sedikit teralih oleh rasa canggung.

Melihat suaminya yang berdiri kaku, Cia menyunggingkan senyum manis. Dengan gerakan yang lincah, ia melepas sandal rumahnya lalu naik dan berdiri di atas kasur king-size mereka, membuat tinggi tubuhnya kini sedikit melampaui tinggi raksasa Dixon.

"Sini, biar aku pasangkan. Tubuhmu itu terlalu tinggi, Mas," cicit Cia lembut.

Dixon terpaksa melangkah mendekat ke tepi ranjang. Jarak di antara mereka terkikis habis. Jemari lentik Cia dengan sangat lihai dan telaten mulai melingkarkan dasi di kerah kemeja Dixon, membentuk simpul Windsor yang sempurna. Dari jarak sedekat ini, Dixon bisa mencium samar aroma harum mawar yang menguar dari rambut dan tubuh Cia, membuat dada bidangnya kembali berdesir aneh.

Begitu simpul dasi itu mengencang dengan rapi, Cia menepuk pelan dada bidang Dixon. Sebelum pria itu sempat mundur, Cia dengan cepat mencondongkan tubuhnya ke depan.

Cup.

Sebuah kecupan yang hangat dan lembut kembali mendarat di pipi tegas Dixon. Setelah mengecupnya, Cia langsung melompat turun dari kasur dengan tawa renyah, meninggalkan Dixon yang seketika mematung kaku di tempatnya. Sepasang mata elang Dixon berkilat tajam, rahangnya mengeras sempurna menahan gejolak rasa posesif dan amarah kaku yang campur aduk.

"Valencia, sudah kubilang jangan—"

"Jangan ulangi tanpa izin, iya aku tahu! Tapi ini sudah darurat, Mas, cepat turun dan sarapan!" potong Cia ceria, langsung berlari keluar kamar mendahuluinya. Dixon hanya bisa mengembuskan napas berat dari hidungnya, mencoba meredam detak jantungnya yang berdegup tidak beraturan.

Di meja makan lantai bawah, suasana sempat mencair ketika Cia menyajikan piring berisi sarapan sehat kesukaan Dixon. Namun, kehangatan domestik yang baru saja mulai terbangun itu seketika runtuh berkeping-keping ketika ponsel pintar Dixon yang terletak di atas meja marmer mendadak bergetar nyaring.

Layar ponsel menampilkan nama: Amora.

Dixon menghentikan gerakan garpunya, lalu menggeser layar dan mengangkat panggilan tersebut, mengubah mode ke loudspeaker karena tangannya yang lain memegang cangkir kopi.

"Halo, Amora?" sapa Dixon tenang.

"Daddy! Oh my God, Daddy, tebak aku ada di mana sekarang?!" suara cempreng dan manja Amora langsung menggema memecah keheningan ruang makan. "Jadwal pemotretanku ternyata dipercepat dan selesai lebih awal dari perkiraan! Sekarang aku sudah ada di bandara internasional di sini, baru saja mencetak tiket pesawat. Aku akan pulang malam ini juga, Dad! Besok pagi aku sudah sampai di rumah!"

Deg.

Mendengar rentetan kalimat riang yang keluar dari bibir Amora, Cia yang sedang menuangkan air putih ke gelas Dixon seketika membeku di tempatnya berdiri. Tangannya menegang kaku, membuat beberapa tetes air sempat tumpah ke atas meja.

Wajah cantik Cia mendadak berubah menjadi sangat pucat. Seisi kepalanya seolah dihantam badai besar yang mengacaukan seluruh kalkulasi skenarionya.

“Malam ini?! Kenapa sialan banget, kenapa dia harus pulang secepat ini?!” jerit Cia panik di dalam hatinya yang paling dalam.

Cia terdiam seribu bahasa, matanya menatap kosong ke arah piring sarapannya yang belum tersentuh. Garis waktu yang ia susun runtuh berantakan. Rencana awalnya adalah memikat dan menaklukkan Dixon sepenuhnya terlebih dahulu—membuat pria itu bertekuk lutut, ketergantungan, dan menaruh kepercayaan mutlak padanya sebagai seorang istri—sebelum menghadapi Amora. Namun sekarang, ia bahkan belum berhasil meruntuhkan sepenuhnya tembok es pertahanan Dixon. Pria itu masih bersikap sangat dingin dan berjarak padanya.

Jika Amora pulang malam ini dan mendapati musuh bebuyutannya sudah berada di dalam rumah sebagai ibu tirinya, sementara posisi Cia di hati Dixon belum kuat, maka Amora pasti akan menggunakan segala cara untuk menghasut ayahnya dan mendepak Cia keluar sebelum dendamnya terbalaskan.

Di seberang telepon, Dixon masih berbicara dengan putrinya, memberikan jawaban maklum yang hangat sebagai seorang ayah, sama sekali tidak menyadari bahwa di sampingnya, sang dewi dendam sedang mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih tajam. Kabut kegelapan dan kepanikan kini mulai merayap, memaksa Cia untuk memutar otak dua kali lebih keras demi mempertahankan posisinya di dalam istana Alessandro.

Kecemasan yang berkecamuk di dalam dada Cia membuat atmosfer sarapan pagi itu berakhir dengan sangat kaku. Begitu Dixon menyelesaikan kopinya dan bersiap untuk berangkat ke kantor, Cia segera menyambar jas dan tas kerja suaminya, mencoba menutupi kegundahan hatinya dengan topeng perhatian yang biasa ia kenakan.

Mereka berdua berjalan beriringan menuju pelataran parkir depan rumah, di mana mobil Rolls-Royce hitam milik Dixon sudah terparkir rapi dengan Asher yang berdiri siap di samping pintu kemudi.

Begitu Asher membukakan pintu penumpang belakang, Dixon membalikkan tubuh tegapnya menghadap Cia. Aura dingin, tegas, dan berwibawa kembali menguar pekat dari tubuh pria berusia 39 tahun itu, siap untuk menundukkan dunia bisnis lusa nanti.

"Aku berangkat," ucap Dixon pendek, nadanya sedingin es dan penuh jarak.

Cia menurunkan pandangannya sesaat, lalu mendongak dengan sepasang mata jernihnya yang dibuat berpendar manja. Mengingat waktu eksekusinya yang mendadak terpotong oleh kepulangan Amora malam ini, Cia memutuskan untuk bertindak lebih agresif demi menanamkan pengaruhnya.

Dengan gerakan yang cepat dan lincah, Cia maju satu langkah, mengikis habis jarak di antara mereka. Ia berjinjit pelan, memajukan wajah cantiknya dan bersiap untuk mencuri kecupan manis di bibir atau pipi tegas Dixon seperti yang ia lakukan di atas kasur tadi.

Namun, kali ini Dixon jauh lebih siap.

Sebelum bibir ranum Cia sempat menyentuh kulit wajahnya, sebuah telapak tangan kekar dan lebar milik Dixon bergerak secepat kilat. Dixon menumpu telapak tangannya tepat di atas kening Cia, menahan kepala gadis itu dengan tekanan yang pas agar tidak bisa memajukan wajahnya lebih jauh. Jarak di antara wajah mereka terkunci, menyisakan jemari Dixon yang terasa hangat namun tegas di dahi Cia.

"Sudah kubilang, jangan lancang dan jangan ulangi tanpa izin, Valencia," desis Dixon dengan suara bariton yang teramat rendah, ketat, dan sarat akan penekanan yang mutlak. Sepasang mata elangnya menatap tajam, seolah memasang benteng tebal yang tak kasatmata.

Melihat serangannya digagalkan dengan begitu mudah, Cia seketika menurunkan kakinya. Ia mundur satu langkah, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Wajah cantiknya ditarik cemberut, matanya menyipit kesal, dan bibirnya mengerucut sebal—sebuah akting yang sengaja ia tunjukkan untuk membuat Dixon merasa tidak nyaman dengan sikap dinginnya sendiri.

"Ih, Mas Dixon mah! Nyebelin banget!" omel Cia dengan nada suara yang sengaja dihentak-hentakkan, memalingkan wajahnya ke samping dengan manja. "Orang cuma mau mengantar suami kerja dengan baik, malah ditahan-tahan begitu kepalanya!"

Dixon sama sekali tidak memedulikan omelan manja tersebut. Wajah tampannya tetap kaku bagai pahatan marmer, dingin tanpa ekspresi sedikit pun. Pria itu langsung membalikkan badannya dengan anggun, masuk ke dalam kabin mobil mewah yang kedap suara.

"Jalan, Asher," perintah Dixon dingin tanpa menoleh lagi ke arah jendela. Mobil Rolls-Royce itu pun perlahan melaju, membelah jalanan meninggalkan pelataran kediaman Alessandro.

Begitu bayangan mobil mewah itu sepenuhnya menghilang di balik gerbang besi yang tinggi, senyuman kesal dan wajah manja di wajah Cia seketika luruh tanpa bekas.

Kedua tangan yang tadinya bersedekap manja kini terkulai lemas di sisi tubuhnya. Cia mematung di tempatnya berdiri, membiarkan embusan angin pagi menerpa helai rambut hitamnya yang terurai. Sepasang matanya yang jernih mendadak meredup, digantikan oleh tatapan kosong yang sarat akan kabut kepanikan yang teramat pekat.

Pikiran Cia kembali berputar hebat pada rekaman suara Amora di telepon tadi saat sarapan. “Dia pulang malam ini...”

Cia meremas jemarinya sendiri yang mendadak terasa teramat dingin. Sebuah ketakutan yang nyata bukan lagi sekadar bagian dari skenario aktingnya mulai merayap naik dan mencengkeram ulu hatinya hingga terasa sesak.

Sikap dingin Dixon yang baru saja ia saksikan menjadi bukti nyata bahwa posisi Cia di rumah ini masih teramat rapuh. Pria itu belum sepenuhnya takluk. Pernikahan ini bagi Dixon masih sebatas bentuk tanggung jawab moral dan tameng untuk menghindari perjodohan Nyonya Elena. Belum ada cinta, belum ada keterikatan emosional yang mutlak di dalam dada sang singa.

“Bagaimana kalau nanti malam... saat Amora menginjakkan kakinya di rumah ini dan melihat gue?” batin Cia berbisik dengan sangat getir, dadanya bergemuruh hebat.

“Amora pasti akan histeris. Dia pasti akan menangis, memohon, dan menggunakan seluruh haknya sebagai putri tunggal kesayangan untuk mendesak ayahnya. Dan Dixon... dengan sikapnya yang masih sedingin es ini pada gue, bagaimana kalau dia akhirnya mengiyakan permintaan Amora untuk menceraikan gue? Bagaimana kalau Dixon lebih memilih membuang pelayan toko kue ini demi menjaga kebahagiaan putri tercintanya?”

Cia mengepalkan tangannya begitu kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih tajam, menusuk telapak tangannya sendiri untuk menyalurkan rasa frustrasi yang mendalam. Jika skenario terburuk itu terjadi jika ia diceraikan sebelum berhasil menyeret Amora ke dalam kehancuran maka seluruh pengorbanannya, harga dirinya yang telah diserahkan di kamar hotel malam itu, dan air mata paman serta bibinya akan menjadi sia-sia belaka.

Cia menarik napas dalam-dalam, membalikkan badannya dengan langkah yang terasa sangat berat menuju ke dalam rumah megah yang kini terasa seperti labirin yang mengancam hidupnya.

1
Syafiq
kok AQ seng Wedi,atek JK suwe update 😍
merry
aduhh gmnn nyelamatin dri kmu cia,, blm apa ap kmu dh di tmpar di tonjok jugaa,, pyn trik licik gk cia klo ada kluar kn buat ngibulin para penjhtt ituuu
Erna Wati
smga cia bisa slmat . dn Dixon mnyadari ksalahan nya mngejar maaf cia sampe dpt
sunaryati jarum
Dengan diculiknya Amara oleh Serena dan Amora malah semakin cepat terbongkarnya kebusukan dan keburukan kalian, bahkan skandal mengobral tubuh demi kontrak Serena dan aborsi Amora segera terbongkar
merry
di culik tu kmu cia,, bgs sii klo pyn pemikiran bgtu bongkar kebusukan Amora dan mma nya dan mntn Dixon bisa jdi arts krn y bgtu lhh liat gmn Dixon liat sinyal besar didlm keluarga ya🤔🤔🤔tp skrg cia selmt gk ya sm para penculikan itu
merry
ngatain cia jalang pdhl cia gk jual diri atau pergaulan bebas dan hamil smpai abrosi semuanya itu ada di diri kmu amora
Anita Rahayu
Buat 2 medusa kejebak rencananya sendiri sampai hk dapat harta gono gini😤😤😤😤😤😤😤😤🙏🙏🙏🙏🙏✊✊✊✊✊✊✊✊✊✊✊✊✊✊✊
sunaryati jarum
CIA tidak bodoh lho dan penakut seperti dulu, apapun yang kalian rencanakan dan ucapkan diketahui olenya,kau tidak tahu Amora di kamarmu telah di pasang perekaman tersembunyi.🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Mantaaap
merry
bnr lg kt cia klo emng sibuk berati salh sndri lepas in lki sekaya sempurna kyk Dixon org mah di jaga in malah di lepas🤭🤭🤭ternyata ank dan emk sm ya gk sabar kpn cia bongkar kelakuan mrk tuu
❥␠⃝ ͭ🍁MI-🅨🅤🅛🅘🅐🅝🅣🅨👻ᴸᴷ: Serena emang bodoh sih harusnya sebagai istri pengusaha kaya raya tinggal menikmati hidup bukannya ngangkang demi popularitas yang sifatnya semu senjata makan tuan tuhh tiap kata-kata nya kembali padanya dikira Cia cwek yg gampang direndahkan justru dia sendiri yg ketakutan rahasianya bakal terbongkar🤣🤣
total 1 replies
merry
gk mau pergi juga kmu cia tp gpp juga sii msk hrs kalah sm mntn ya🤭🤭🤭cm klo kmu pyn niat kbur pas Dixon dgn cinta gmn ya reaksi y Dixon 🤔🤔🤔🤔 lbh frustasi ap ngamuk ubek ubek dunia buat cariin kmu 🤔🤔🤔
Sapna Anah
untungnya ada cctv
Erna Wati
pergi yg jauh aja. dulu smga kmu hamil pas pergi smpe Dixon mnyadari kslahan nya dn minta maaf 🙏
chiara azmi fauziah
wkwkwk🤣🤣🤣🤣
merry
pergi cia jgn dstu lkimu gk menghargai kmu sbgai istri ya,, pdhl bisa mntn tdr dihotel kn pagi dtg gk hrs inap drmh klian,, tp viral kn tu kelakuannya Amora nnti viral pasti khdpt Dixon dan mntn pasti di korek sm netizen😆😆😆😆tar kebongkar dech kebusukannya ap ajj
❥␠⃝ ͭ🍁MI-🅨🅤🅛🅘🅐🅝🅣🅨👻ᴸᴷ
kesempatan Cia adu domba mereka kalo perlu keluarin kartu As Amora juga skandal Ibunya itu gak mungkin dia murni sebagai model pasti ada embel-embel nya kelakuan Amora menurun dari Ibunya hemm jadi ragu jangan2 dia bukan anak kandung Dixon🤣🤣
merry
pergi cia,, bls Dendam gk harus kmu yg trun tangan x,, lkimu mata y msh buta gmpng di tipu sm ank dan mntn istri ya,,, klo gk pergi yg ada kmu jdi korban kejhtnn mrk cia bukti y Amora brni telan racun trs lkimu maafkan,, bsk bsk kmu ditabrak atau di dorong dr tangga nnti blg gk sngja trs lkimu maafin trs ajj bgtuu lm lm kmu yg ke alam baka cia,,, bgs pergi seblm pergi bngkr Amora pnh aborsi lwt media bngkr ya jgn ddpn lkimu gk bkln percaya 🙏🙏🙏🙏🙏
merry
kudu kbur cia,, percm kyk y ush mu gk berhasil
sryharty
cia wanita bodoh kata saya,,ngapain bertahan di situ
toh Dixon ga menghargai kamu
mending kamu pergi
balas dendam bisa lewat apa aja
jarak jauh pun bisa
kamu punya bukti2 aborsi Amora
kamu bisa kirim bukti itu ke Dixon,
ngapain harus merendahkan diri sendiri
kalo Dixon cinta sama kamu pasti akan cari kamu
merry
di luar dugaan ternyt Amora selain jht ternyta pergaulan y bebas menfaatkn ksh syg daddy ya,, gmn Dixon tau kbnrann y trs cia pergi dr hdp ya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!