"Selama ini, aku bertahan bukan karena masih mencintaimu, Arsen. Bukan juga karena aku lemah. Tapi, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuat kalian menyesal."
Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.
Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.
Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.
Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.
Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.
Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Harapan Untuk Memulai Hidup Baru
Setelah puas menemani Rendra, Alena memutuskan untuk langsung pulang. Tapi, begitu memasuki rumah, ia langsung menyadari sesuatu yang tidak biasa.
Rumah itu begitu sepi. Tidak ada suara televisi, tidak ada suara langkah kaki, bahkan tidak terdengar suara Hana yang biasa mengomel tiap ia baru pulang.
Alena mengangkat pergelangan tangannya, lalu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore. Biasanya, pada jam seperti ini, setidaknya ada salah satu penghuni rumah yang berada di ruang keluarga.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan keadaan di sekitarnya.
"Kemana mereka semua?" gumamnya pelan.
Meski heran, Alena tidak terlalu memikirkannya. Sebaliknya, sudut bibirnya justru terangkat tipis.
Setidaknya, ia bisa menikmati sedikit ketenangan tanpa mendengar sindiran atau melihat wajah orang-orang yang membuat hidupnya sesak.
Ia menjatuhkan diri ke sofa. Kepalanya bersandar pada sandaran kursi, sementara matanya menatap langit-langit.
Ia mengembuskan napas panjang berulang kali. Rasa lelah itu bukan hanya karena pekerjaan, tapi juga kehidupan rumah tangganya yang perlahan menguras seluruh tenaga dan perasaannya.
Rasanya, ia ingin segera mengakhiri semuanya dan pergi sejauh mungkin dari rumah ini. Tapi, setiap kali pikiran itu muncul, hatinya selalu menolak.
Jika ia pergi sekarang, maka ia akan kalah.
Setelah semua penghinaan, pengkhianatan, dan rasa sakit yang ia terima, pergi begitu saja terasa tidak adil.
"Sampai kapan aku harus bertahan?" gumamnya lirih.
Ia memejamkan matanya sejenak. "Andai aku punya keberanian, mungkin sejak dulu aku sudah membongkar semua kebusukan Arsen."
Ia membuka matanya dan tertawa pahit. "Tapi... Itu tidak adil untukku."
Tangannya perlahan mengepal. "Mereka sudah menghancurkan hidupku. Setidaknya, aku harus membalas semuanya. Aku ingin mereka merasakan penderitaan yang sama."
Tatapannya berubah tajam, dipenuhi tekad dan amarah yang selama ini ia pendam.
Namun, tekad itu hanya bertahan beberapa detik. Perlahan, bahunya kembali merosot. Wajahnya berubah lesu.
"Tapi, apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" bisiknya. "Andai aku punya banyak uang dan kekuasaan, hal seperti ini pasti akan mudah mengakhirinya. Sayangnya, aku tidak mempunyai semua itu. Jika aku melawan tanpa persiapan, sekalipun aku benar, aku pasti akan kalah."
Ia merasa terjebak. Ia tidak bisa pergi, tetapi juga tidak tahu bagaimana cara melawan.
Ia memang berhasil memenangkan tender dan mempermalukan Arsen. Tapi, justru karena itulah, hatinya dipenuhi merasa gelisah.
Ia mengenal Arsen dengan sangat baik. Pria itu tidak pernah menerima kekalahan. Apalagi jika harga dirinya terluka.
Alena menghela napas. "Kali ini aku berhasil mempermalukannya. Tapi aku yakin, Arsen tidak akan tinggal diam."
Entah mengapa, firasat buruk tiba-tiba menyelimuti hatinya.
Perasaan tenang yang tadi ia rasakan perlahan menghilang, digantikan oleh perasaan cemas yang sulit dijelaskan.
***
Hari kerja kembali dimulai.
Seperti biasa, Alena tiba lebih awal di kantor. Ia berjalan menuju ruang kerjanya. Namun, baru beberapa langkah, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Setiap orang yang berpapasan dengannya terlihat canggung. Ada yang langsung mengalihkan pandangan, ada pula yang buru-buru pergi setelah melihatnya. Bahkan, beberapa orang tampak berbisik satu sama lain.
Alena mengernyit bingung. "Ada apa dengan mereka?" gumamnya pelan.
Karena penasaran, ia masuk ke toilet wanita. Ia memeriksa penampilannya di depan cermin, merapikan rambut, lalu diam-diam mencium pakaiannya.
Tidak ada bau aneh. Riasannya juga tampak rapi dan pakaiannya tidak ada yang salah. Lalu, kenapa semua orang memandangnya seperti itu?
Alena mengembuskan napas panjang. Ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.
Dalam dunia kerja, hubungan antar rekan kerja memang tidak selalu baik. Bahkan, teman sendiri bisa menjadi saingan. Yang terpenting sekarang adalah fokus pada pekerjaannya.
Akhirnya, ia kembali ke meja kerjanya. Dan, tidak lama setelah itu suara Ridwan terdengar dari luar ruangan.
"Semuanya, Pak Doni meminta kita berkumpul di ruang rapat!"
"Baik!" sahut beberapa karyawan.
Mereka segera bergegas menuju ruang rapat, termasuk Alena.
Sesampainya di sana, semua orang duduk di kursi masing-masing. Dan tak lama kemudian, Doni masuk dan berdiri di depan ruangan.
"Selamat pagi, semuanya."
"Pagi, Pak!" jawab mereka serempak.
Doni mengangguk pelan. "Aku yakin kalian semua sudah bisa menebak alasan kenapa aku mengumpulkan kalian di sini."
Ia menatap seluruh karyawan satu per satu sebelum melanjutkan.
"Ya, ini berkaitan dengan proyek Atma Group."
Seketika, ruangan menjadi lebih hening.
"Kalian pasti sudah mendengar kabar baik bahwa perusahaan kita berhasil memenangkan proyek tersebut. Dan hari ini, saya datang membawa kabar baik lainnya."
Semua orang tampak penasaran.
"Pihak perusahaan memutuskan untuk memberikan bonus kepada seluruh tim sebesar satu kali gaji."
Sontak, ruangan langsung dipenuhi sorakan.
"Serius, Pak?"
"Wah, mantap!"
"Terima kasih, Pak!"
Doni tersenyum melihat antusias mereka.
"Dan untuk tim inti yang terlibat langsung dalam proyek ini..." Ia berhenti sejenak, membuat semua orang semakin penasaran. "Perusahaan akan memberikan bonus tambahan sebesar seratus juta rupiah."
"Seratus juta?!"
"Ya Tuhan!"
Sorakan kali ini jauh lebih meriah.
Alena sendiri tampak terkejut. Matanya membulat, bahkan ia sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan. Jumlah itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
Doni mengangkat tangannya, meminta semua orang kembali tenang.
"Oke, tenang dulu."
Ruangan perlahan kembali hening.
"Setelah ini, masih akan ada proses penandatanganan kontrak dengan Atma Group, dan semuanya akan dilakukan langsung oleh Tuan CEO. Artinya, pekerjaan kita belum selesai. Justru tanggung jawab kita akan semakin besar."
Semua orang mengangguk paham.
"Karena itu, saya berharap kita semua bisa bekerja lebih baik lagi. Dan tentu saja..." senyum Doni kembali mengembang, "jika proyek ini selesai tepat waktu dan sesuai target, perusahaan telah menyiapkan bonus tambahan."
Sorakan kembali terdengar. Tapi, Doni belum selesai.
"Selain itu, masih ada satu kabar baik lagi." Kali ini, pandangannya beralih ke arah Alena, membuat semua orang ikut menoleh.
"Selamat, Alena. Mulai hari ini, kamu resmi ditetapkan sebagai karyawan tetap di perusahaan ini."
Sesaat, ruangan menjadi hening.
Alena tidak langsung bereaksi. Ia justru mengedipkan matanya berulang kali. Beberapa detik kemudian, mata membesar, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
"S-saya...?" tanyanya lirih.
Doni tersenyum dan mengangguk. "Ya, kamu."
Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan.
"Selamat, Alena!" seru Silvi.
"Kamu keren, Alena!" timpal Ridwan
Suasana mendadak ramai. Sementara itu, Alena masih terpaku di tempatnya dengan kedua matanya yang mulai memanas.
Dalam waktu singkat, hidupnya yang semula terasa gelap seolah mendapat sedikit cahaya.
Bonus, status karyawan tetap. Dan, kesempatan untuk memulai hidup baru. Ia benar-benar merasa memiliki harapan.
"Terima kasih, Pak," ucap Alena. "Terima kasih semuanya."
Tapi, ia tidak menyadari bahwa di antara orang-orang yang sedang bertepuk tangan, ada beberapa pasang mata yang menatapnya dengan tatapan aneh.
Tatapan yang sama dengan orang-orang yang ia temui tadi pagi.
nakal sdkit gpp ,, yg penting nnti kek dapet cucu menantu idaman ,,
aduhh😂😂😂
😂😂😂😂