NovelToon NovelToon
Kabur Dari Tuan Muda

Kabur Dari Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.

Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Percaya

"ibu, ibu dimana?" Rania berteriak begitu sampai di rumah. Ia berjalan menuju ruang tamu namun kosong. Lalu menuju dapur dan kosong juga.

"ada apa sayang?" ternyata ibunya berada di dalam kamar.

Rania berlari ke arah ibunya yang baru saja membuka pintu kamar. Memeluknya dengan erat melepas rasa rindu yang sudah menyelimutinya. Sekaligus merasa senang ibunya masih bisa berjalan dengan normal.

Tangisannya semakin keras persis seperti anak kecil yang sedang merengek karena tidak dibelikan permen. Ibunya tentu saja bingung dengan apa yang terjadi pada putri semata wayangnya itu.

"ada apa bu?" sang suami muncul dari pintu belakang dan bertanya kepada istrinya namun jawaban yang diterima hanya sebuah gelengan kepala.

Mereka berdiri cukup lama hingga tangisan Rania sedikit mereda. Ibunya begitu sabar mengusap punggung buah hatinya agar tenang.

"ibu, ayah, Rania kangen," ucapnya membuat kedua orang tuanya semakin bingung.

Baru tadi pagi mereka berpisah menjalani aktivitas masing-masing dan gadis itu menangis karena merindukan orang tuanya.

"ayo duduk dulu."

Sang ayah langsung menuntun putri serta istrinya ke sofa terdekat. Ia mengusap rambut Rania dan menatapnya dengan tatapan penuh kasih.

"ada apa? apa ada yang jahat?"

Rania menggelengkan kepalanya cukup kuat. Ia mengeratkan pelukannya lalu kembali menangis. Setelah tangisannya benar-benar reda, barulah ia duduk dengan tegak dan memandang ayah serta ibunya bergantian.

"Rania lapar."

Sang ibu tersenyum lalu bangun dari duduknya. "ibu masakin kamu makanan kesukaanmu. Kamu ganti baju dulu sana."

"iya bu."

"ayah juga mandi dulu sana, kotor semua itu bajunya kena tanah."

"siap bu, ayah mandi sekarang."

Rania tersenyum haru melihat pemandangan yang sudah sangat lama hilang.

Di dalam kamar, setelah mandi Rania duduk di meja belajarnya dengan tatapan kosong lurus ke depan. Tapi kepalanya sedang bekerja keras memikirkan semua hal. Ia tersadar akan sesuatu, lalu mengambil buku dan pena.

Ia menuliskan peristiwa besar yang akan menimpa keluarga dan teman dekatnya. Setelah itu, ia melihat tanggal dan peristiwa pertama yang akan terjadi kecelakaan mobil yang akan dialami ibunya nanti malam. Lalu besok adalah saat Dewi dirundung dengan parah oleh mahasiswa yang ternyata adalah orang suruhan Dona.

"kali ini aku akan melindunginya," ucapnya dengan penuh keyakinan.

"Rania sayang, ayo makan."

"iya ibu, Rania turun."

Rania turun dengan semangat sambil membayangkan masakan sang ibu. Terakhir ia menyantapnya sekitar tiga tahun sebelum menikah atau tepat sebelum tragedi besar itu terjadi. Ia turun dengan penuh semangat sambil bersenandung kecil.

"ibu masak apa?"

"ibu masak terong balado kesukaanmu."

Suara pemuda masuk ke gendang telinganya membuatnya langsung berhenti dan menoleh ke sumber suara. Sosok yang dihindarinya kini tengah duduk di meja makan sambil menatapnya.

Rania melihatnya dengan mulut terbuka dan mata melotot. Tubuhnya membeku dengan pose yang cukup aneh dilihat.

"k-k-kamu kenapa ada di sini?" tanyanya dengan nada terbata-bata.

"makan malam."

Rania mundur satu langkah lalu menunjuk Arya, "aku juga tau kamu mau makan karena sudah duduk di situ, tapi kenapa kamu makan di sini? kamu bukan gelandangan yang tidak punya rumah!" ucapnya dengan suara yang menggelegar membuat ayah dan ibunya langsung muncul.

Ibunya muncul dari dapur sementara sang ayah muncul dari kamar.

"nak, kenapa kasar begitu ke Arya. Dia kan sendirian di rumah, kasian kalo harus masak dan makan sendiri," ucap sang ibu dan didukung anggukan oleh Arya.

"tapi kan di rumahnya ada bibi."

"hush jangan begitu ah, ibu nggak ngajarin kamu begitu. Harus membantu apalagi ini teman kamu."

"tapi buuu."

"sudah, duduk!"

"ayahhh."

"dengarkan kata ibu kamu."

Rania mengerucutkan bibirnya dan berjalan dengan menghentakkan kakinya. Ia kesal karena lupa kalau Arya itu sudah seperti anak kandung di sini.

Arya menarik kursi di sampingnya agar Rania duduk di sana tapi gadis itu memilih kursi paling jauh dari Arya. Tangannya yang masih memegang kursi, langsung lemas saat mendapatkan penolakan Rania yang berkali-kali hari ini. Entah ia memiliki salah di mana hingga gadis itu menghindar total.

Selama makan, Arya bersusah payah memberikan lauk kesukaan Rania ke piringnya. Sementara Rania hanya bisa menerimanya. Hal itu membuatnya teringat masa lalu. Arya memang sejak dulu selalu begitu, memanjakan dan memperhatikannya dengan sangat totalitas. Tapi ia selalu menjaga agar dirinya tetap nyaman tanpa rasa tertekan maupun terkekang.

Rania menggelengkan kepala dan menepuk pipinya mencoba sadar diri. Arya pada akhirnya hanya melihatnya sebagai alat yang berguna atau tidak berguna. Ia harus menjauhinya sejauh mungkin.

"heh kamu kenapa?" tanya sang ayah kepada Rania yang terlihat aneh, "kesambet?"

"hush ayah jangan begitu ah."

"ya lagian itu anakmu aneh banget dari pulang kuliah."

Arya mendengarkan dengan seksama sambil menikmati santapan di depannya. Saat mendengar ucapan ayah Rania tentang sikap Rania yang berubah aneh sejak tadi, membuatnya langsung berhenti makan. Ia langsung menatap Rania yang terlihat sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

BRAK!

Ayah, Ibu, dan Arya terkejut ketika Rania tiba-tiba saja menggebrak meja makan dengan begitu keras.

"tuh kan bu, kesambet dia."

"diem yah."

Arya masih menatap Rania dalam diam. Hingga Rania tiba-tiba menunjuknya dan berteriak agar dirinya segera angkat kaki dari rumah ini. Semuanya tentu saja kebingungan dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah aneh.

Dulu Rania selalu menyukai Arya apapun yang dilakukannya. Selalu perhatian dan tidak pernah meninggikan suara. Tapi sekarang tidak hanya berteriak, ia juga jelas mengusirnya begitu saja.

"Rania jangan tidak sopan, meskipun kalian ada masalah tapi Arya itu tamu di sini."

"tamu tidak diundang bu, aku tidak menyambutnya di sini. PERGI SEKARANG JUGA!"

"nak Arya maaf ya nak, sebaiknya kamu pulang dulu saja. Sepertinya Rania sedang lelah dan butuh istirahat."

Arya beralih menatap Bagaskara alias ayah Rania lalu menatap Hanum alias ibu Rania. Dengan berat hati, ia beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari rumah tersebut. Setelah dirinya keluar, Rania menjadi lebih tenang.

"jangan pernah sekalipun bawa dia masuk ke rumah ini lagi ya yah, bu."

Bagaskara dan Hanum tentu saja kebingungan dibuatnya. Tapi keduanya segera mengangguk mengiyakan ucapan sang putri ketika melihat wajahnya memerah dan air mata mulai turun membasahi pipinya.

"iya sayang, ibu dan ayah tidak akan membiarkannya masuk lagi."

Dekapan hangat sang ibu menyelimuti tubuhnya membuat tangisan Rania semakin menjadi. Tanpa keluarga itu sadari, Arya masih berdiri di depan pintu dengan pintu yang masih terbuka. Ia mendengar tangisan pilu dari dalam rumah dan Ia tau jelas itu suara Rania. Mendadak dadanya terasa sesak dan jantungnya terasa diremas ketika mendengar suara tangisan itu.

Arya membenci Rania yang menangis. Ia lebih membenci dirinya sendiri ketika Rania menangis karena dirinya. Entah kesalahan apa yang sudah dilakukannya hingga gadis yang dulu begitu lembut dan lengket kepadanya berubah drastis. Sepertinya dirinya baru saja membuat kesalahan fatal namun tidak menyadarinya.

Rania dibawa ke kamar oleh Hanum. Dibaringkannya tubuh gadis itu di atas ranjang. Diselimuti hingga leher lalu diusap dan dikecup dahinya.

"ibu, ibu percaya sama Rania kan?"

"iya, ibu percaya sama Rania."

"ibu jangan pergi bawa mobil sendiri ya?"

"ibu kan sudah biasa bawa mobil sendiri, aman kok tenang saja ya."

Rania langsung terduduk dan menggenggam erat tangan sang ibu.

"ibu pokoknya jangan bawa mobil sendiri. JANGAN!"

Hanum menatap Rania dengan bingung namun pada akhirnya ia mengiyakan permintaan putrinya.

"iya iya ibu nurut apa kata kamu, sekarang tidur ya."

"janji ya bu, nanti bilang ayah juga. Minta disupirin apa pesen taksi aja ya."

"iyaa sayang, nanti ibu sampaikan ke ayah juga."

Rania merasa tidak rela namun matanya sudah berat sekali. Emosinya hari ini naik turun seperti rollercoaster membuat tubuhnya menyerah lebih awal. Matanya akhirnya tertutup rapat dan dengkuran halus mulai terdengar. Tubuhnya tertidur begitu lelap mengistirahatkan semua organnya dari beban yang terlalu berat hari ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!