Jodoh itu rahasia Allah. Takdir juga Allah yang menentukan. Tidak ada siapapun makhluk di dunia ini yang tau selain Dia.
Alea Widya Laksono (35 tahun) dinyatakan telah sembuh usai tiga tahun menjadi pasien di rumah sakit jiwa. Di usianya yang semakin bertambah, kedua orang tuanya cemas karena jodoh tak kunjung datang untuk putri mereka.
Suatu hari Alea akhirnya pasrah untuk menerima perjodohan yang disodorkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang berasal dari kalangan militer. Lelaki itu bernama Mayor Prabu Rasyid Wicaksono (38 tahun) yang berstatus duda tanpa anak.
Konon kabarnya, pernikahan Mayor Prabu sebelumnya harus kandas karena masalah ranjang. Desas-desus beredar bahwa sang suami yang menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) tersebut menderita impo_ten.
Apakah benar faktanya seperti itu? Benang merah seperti apa yang pada akhirnya mengikat takdir antara Mayor Prabu dengan Alea.
Simak kisah mereka.💋
Bagian dari Novel : Permata Hatiku🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Apa Kinan Menghubungimu ?
Bunda Citra akhirnya memutuskan angkat bicara perkara masa lalu Alea.
"Betul," jawab Bunda Citra seraya menghela nafas beratnya. "Maaf kalau hal itu bunda tidak cerita pada kamu. Jangan menyalahkan Alea atau keluarganya. Mereka tau nya bunda sudah cerita hal itu ke kamu," sambungnya.
"Aku gak nyalahin bunda atau mereka. Kalau boleh tau kapan itu terjadi?"
"Tepatnya kapan, bunda kurang tau dan memang tak ingin mengulik masa lalu pahit keluarga Alea. Bunda khawatir melukai perasaan mereka,"
"Aku ngerti, Bun."
"Orang tua Alea hanya menyampaikan bahwa istrimu pernah masuk rumah sakit jiwa karena syok dan depresi setelah mengalami tindakan pemer_kosaan tersebut,"
"Kejadiannya di mana?"
"Di Jakarta,"
Deg...
"Kenapa kota nya sama-sama Jakarta?" batin Prabu yang teringat akan sesuatu di masa lampau.
"Pelakunya masih muda atau sudah tua?" tanya Prabu kembali yang didera penasaran.
"Pelakunya beberapa orang. Usianya tidak muda katanya perkiraan 45-50 tahun ke atas,"
"Pelakunya lebih dari satu, Bun?"
"Iya. Mereka juga sudah mendapat hukuman penjara,"
"Aku yakin hukuman penjara pun rasanya tak akan adil bagi Alea sebagai korban. Hal itu ninggalin trauma berat ke Alea. Semalam saja Alea sepertinya kambuh. Mungkin teringat kejadian pahit itu di masa lalu," ujar Prabu.
"Kambuh gimana maksud kamu?"
Prabu pun akhirnya menceritakan sedikit kejadian semalam di rumah dinas tepatnya di dalam kamarnya ketika Alea menjerit ketakutan. Teriakan Alea yang memperlihatkan jelas trauma masa lalu tersebut.
Bunda Citra cukup mengerti akan trauma yang dialami oleh Alea.
"Satu nasehat, Bunda. Kamu harus banyak bersabar kalau semisal Alea belum siap melakukan hubungan suami-istri," tutur Bunda Citra.
"Iya, Bun."
"Pelan-pelan mendekati Alea. Jika memang kamu ingin melakukannya, sugesti dia bahwa yang menyentuhnya adalah kamu saat ini sebagai suaminya."
Prabu pun cukup mengerti nasehat Bunda Citra tersebut.
"Jangan pernah membahas kasus pemer_kosaan itu kalau bukan Alea sendiri yang bersuara lebih dahulu. Sama saja kamu mengorek luka masa lalunya yang mungkin sudah ia coba kubur dalam-dalam," lanjutnya.
"Pasti, Bun. Buatku itu sudah masa lalu Alea. Aku juga tak mau dia mengingat hal kelam itu terus," ucap Prabu.
"Bagus," sahut Bunda Citra.
"Bunda juga yakin kabar selentingan bahwa kamu impo_ten, itu hanya kabar burung yang tak penting."
Prabu menelan salivanya dalam-dalam. Sampai detik ini Bunda Citra tak pernah tau masalah detail di dalam kamar Prabu dan Kinan dahulu. Hanya desas-desus perkara impo_ten memang pernah didengar oleh Bunda Citra.
Sebelum melakukan pernikahan yang ke-2, Prabu memang menyuruh Bunda Citra mengatakan pada Alea bahwa dirinya bermasalah urusan ranjang alias pria impo_ten.
Awalnya Bunda Citra sempat menolak hal itu. Namun, Prabu sedikit memaksa. Ia mengatakan pada Bunda Citra untuk mengetes calon istri yang baru dan keluarganya, apakah mau menerima pria impo_ten seperti dirinya atau tidak?
Ternyata Alea dan keluarganya tetap sudi menerima lamaran dari Prabu.
"Bunda mau tanya hal yang cukup pribadi. Terserah kamu mau jawab atau tidak,"
"Tanyakan saja, Bun. Aku siap,"
Bunda Citra menarik nafasnya sejenak sebelum bersua kata kembali.
"Apa Kinan menghubungimu?"
Deg...
Prabu cukup terkejut dan tak menyangka usai mendengar pertanyaan tentang mantan istrinya dari Bunda Citra.
"Tidak ada," jawab Prabu apa adanya.
"Kapan terakhir kali dia menghubungi atau kamu yang menghubunginya?"
"Sejak perceraian dua tahun lalu, aku udah gak pernah komunikasi lewat sambungan telepon atau pesan singkat. Hanya beberapa kali sempat bertemu gak sengaja di acara reuni sekolah dan pesta teman. Hanya say hai biasa saja," jawab Prabu.
"Kenapa bunda mendadak tanya soal Kinan?"
"Bunda hanya bisa menyarankan kamu untuk menjauhi Kinan untuk hal komunikasi apapun. Kalian sudah bercerai dan tak ada anak sebagai pengikat. Apalagi kamu sekarang sudah resmi jadi suami Alea. Jadi kamu gak punya salah apapun jika tak menjalin komunikasi dengan Kinan dalam bentuk apapun demi menjaga perasaan Alea,"
"Aku mengerti. Aku akan berusaha untuk itu. Bunda tak perlu cemas,"
"Bunda tentu saja mendadak cemas,"
"Kenapa?"
"Mantan istrimu itu kemarin mengirim bunga ke sini. Isinya ucapan selamat atas pernikahan mu dengan Alea dan semoga kalian cepat punya anak," jawab Bunda Citra.
"Kinan?" Prabu tampak terkejut.
"Iya, Kinan. Memangnya mantan istrimu ada berapa?"
"Maaf, Bun."
"Hem,"
"Dari mana Kinan tau kalau aku sudah menikah dengan Alea?" tanya Prabu cukup heran.
"Padahal aku tidak mengundang dirinya maupun keluarganya. Teman dekat kita saja semua tidak aku undang," lanjutnya.
"Bunda juga tak tau dia dapat kabar dari mana atau dari siapa. Itu udah gak penting lagi. Cuma satu pesan bunda, kamu harus jauhi Kinan!" tegas Bunda Citra.
"Kabarnya Kinan akan kembali menetap di Indonesia. Bunda cukup aneh saja mendengar hal itu setelah dua tahun kalian bercerai," lanjutnya.
"Kenapa dia harus kembali ke sini saat kamu baru saja membuka lembaran baru dengan Alea?"
"Aku juga gak tau, Bun."
"Bunga kiriman Kinan sudah bunda buang jauh-jauh. Gak penting juga!" tegas Bunda Citra.
"Langkah yang bunda ambil itu, udah bener kok."
"Kinan sampai telepon ke ponsel pribadi Bunda buat tanya-tanya soal kamu yang sekarang," ungkap Bunda Citra.
"Tanya apa saja, Bun?"
Bersambung...
🍁🍁🍁