NovelToon NovelToon
Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikahmuda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

​Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5

***

Aroma gurih kaldu ayam dan keharuman teh melati yang hangat perlahan merayap masuk ke dalam indra penciuman Naya. Kelopak matanya yang terasa seberat timah berkedut pelan, sebelum akhirnya terbuka dengan perlahan. Naya mengernyitkan dahi begitu mendapati langit-langit kamar bernuansa kayu jati ukir yang sangat megah, jauh berbeda dengan langit-langit kamar asrama aslinya yang polos.

Naya bergerak sedikit, merasakan kasur empuk yang menyangga tubuhnya. "Gue... di mana?" gumamnya lirih, suaranya terdengar serak.

"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak?"

Naya menoleh cepat ke arah samping tempat tidur. Di sana, Bu Nyai Halimah sedang duduk di atas kursi kayu dengan senyuman yang teramat teduh. Di atas nakas samping tempat tidur, terdapat semangkuk bubur ayam hangat yang mengepulkan asap tipis dan segelas teh manis.

"Bu Nyai..." Naya mencoba duduk, menyadari jilbab instannya sudah terpasang lebih rapi sekarang. Perutnya melilit memprotes, menghasilkan bunyi keroncongan yang cukup nyaring di dalam kamar yang sepi itu.

Bu Nyai Halimah terkekeh pelan. "Perutmu tidak bisa bohong. Ayo, dihabiskan dulu buburnya ya? Ibu sengaja masakkan khusus buat kamu. Setelah pingsan karena dihukum, tenagamu harus diisi."

Naya tidak gengsi. Rasa laparnya sudah berada di stadium akhir. Ia langsung menyambar mangkuk bubur itu dan memakannya dengan lahap tanpa memedulikan tata krama estetik seorang gadis kota. Dalam waktu kurang dari lima menit, mangkuk itu bersih tak bersisa.

"Makasih, Bu Nyai. Buburnya enak banget," ucap Naya tulus sambil mengelap mulutnya menggunakan tisu. Rasa pusing di kepalanya perlahan mulai mereda.

"Sama-sama, Cah Ayu. Kalau tenagamu sudah pulih, tolong keluar ke ruang makan ndalem, ya? Ada yang ingin bicara denganmu terkait aturan pondok," ucap Bu Nyai lembut seraya membereskan mangkuk kosong Naya, lalu melangkah keluar.

Naya menghela napas kasar. Pasti mau diceramahi lagi, pikirnya jengkel.

Namun, dasar Naya si kepala batu, ia tidak langsung menuju ruang makan. Keberaniannya kembali bangkit begitu tenaganya pulih. Alih-alih patuh, matanya mulai melirik ke sekeliling lorong rumah utama yang sepi. Otak cerdiknya langsung menyusun rencana darurat. Gue harus cari jalan keluar, atau minimal nyari telepon rumah buat hubungi temen-temen gue di Jakarta!

Dengan langkah mengendap-endap tanpa alas kaki, Naya menyusuri koridor ndalem. Rumah ini sangat besar dan sunyi. Saat melewati sebuah lorong dekat halaman dalam, telinga Naya menangkap suara percakapan dalam bahasa asing yang terdengar sangat fasih dan tegas.

“...Regarding the logistics clearance for the Middle East shipment, I need the updated manifest by tonight. Ensure that the compliance team reviews the custom regulations thoroughly.”

Naya menghentikan langkahnya. Ia mengernyit. Bahasa Inggris? Logistik?

Rasa penasaran mengalahkan akal sehatnya. Naya mendekati sebuah pintu kayu jati yang sedikit terbuka. Ia mengintip melalui celah kecil itu. Matanya langsung membelalak tak percaya.

Di dalam ruangan kerja yang dipenuhi rak buku setinggi langit-langit, pria kaku yang tadi pagi ia semprot dengan debu—Gus Zayyan—sedang duduk tegak di balik meja kerja bermaterial marmer hitam. Kacamata bacanya terpasang rapi, kemeja putihnya yang sempat terkena debu sudah berganti dengan kemeja biru gelap yang digulung hingga sesiku, memperlihatkan jam tangan mewahnya. Ia sedang menatap layar tablet besar yang ditopang penyangga, melakukan video call penting dengan wajah yang teramat serius.

“Yes, I will sign the export agreement once the financial audit is cleared. Thank you, Mr. Edward. Good day.”

Zayyan mematikan sambungan panggilan, lalu mengembuskan napas pendek. Ia melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya pelan. Aura kepemimpinan, ketegasan, dan wibawa eksekutif muda yang memancar dari diri pria itu benar-benar murni, membuat citra "pria pesantren kolot" yang ada di kepala Naya hancur lebur dalam sekejap.

Gila... ternyata dia beneran CEO? Keren juga si es batu kalau lagi kerja, batin Naya tanpa sadar mengagumi pemandangan di depannya.

Namun, kekaguman Naya hanya bertahan beberapa detik. Sial baginya, akibat terlalu condong ke depan, tubuh Naya tidak sengaja menyenggol guci pajangan kecil di dekat pintu.

KRETEK.

Suara gesekan kayu itu seketika memutus keheningan ruangan kerja.

"Siapa di sana?" suara bariton Zayyan menginterupsi tajam. Mata elangnya langsung melirik lurus ke arah celah pintu.

Naya terkesiap, hendak berbalik untuk kabur. Namun belum sempat ia melangkah, pintu kayu besar itu sudah ditarik terbuka dari dalam dengan kasar.

Gus Zayyan berdiri tegak di ambang pintu, menatap Naya yang membeku dengan melipat kedua tangannya di depan dada. "Mengintip ruangan kerja orang lain tanpa izin. Apakah itu juga salah satu kebiasaan buruk yang kamu bawa dari Jakarta, Nayanika?"

Naya berdecak, langsung memasang wajah menantang demi menutupi rasa malunya karena tertangkap basah. "Siapa juga yang ngintip! Gue cuma lewat, terus dengar ada orang sok keren ngomong bahasa Inggris. Ya gue lihat lah!"

Zayyan tidak terpancing. Ia mundur selangkah, lalu menunjuk ke arah lorong menuju ruang makan. "Ikut saya ke ruang makan. Sekarang."

Mau tidak mau, Naya mengekor di belakang tubuh tegap Zayyan dengan wajah bersungut-sungut. Di ruang makan ndalem, sebuah meja kayu jati besar sudah kosong, menyisakan dua buah kursi yang saling berhadapan. Zayyan duduk di salah satu kursi, meletakkan tablet bisnisnya di atas meja, sementara Naya duduk di hadapannya dengan gaya santai—menyandarkan punggungnya penuh dan melipat kaki jinsnya di atas kursi.

"Turunkan kaki kamu. Jaga kesopanan di meja makan," tegur Zayyan dingin, matanya menatap tajam kaki Naya.

Naya mendengkus, namun menurunkan kakinya dengan hentakan kesal. "Ribet banget sih lu! Buruan, mau ngomong apa? Jangan lama-lama, gue mau balik ke kamar asrama!"

Gus Zayyan menatap Naya dengan pandangan sedingin es. Ia menggeser sebuah kotak kayu kecil ke tengah meja. Saat kotak itu dibuka, mata Naya berbinar. Di dalam kotak itu ada ponsel pintar miliknya dan beberapa kartu kreditnya.

"HP gue!" Naya langsung menjulurkan tangannya hendak merebut benda itu, namun dengan cepat Zayyan menutup kembali kotak tersebut dan menariknya menjauh.

"Ponsel dan semua fasilitas ini dititipkan oleh Papa kamu kepada saya. Saya yang memegang kendali penuh atas barang-barang ini selama kamu berada di Al-Falah," ucap Zayyan dengan nada bicara yang kaku dan mutlak, persis seperti seorang bos yang sedang memberikan arahan kepada karyawannya.

"Heh! Itu punya gue ya! Lu enggak berhak nyita barang orang!" bentak Naya, emosinya kembali tersulut.

"Saya berhak, karena Papa kamu memberikan kuasa penuh kepada saya untuk mendidik kamu," balas Zayyan tenang, namun sarat akan penekanan. "Kamu ingin ponsel ini kembali?"

"Ya iyalah! Lu pikir gue bisa hidup di tempat purba kayak gini tanpa HP?!" cerocos Naya ketus.

Zayyan mengetukkan jarinya di atas meja. "Bisa. Jika kamu menuruti tiga aturan utama dari saya. Anggap ini sebagai kontrak kerja sama jika kamu ingin mendapatkan kembali kebebasanmu."

Naya menyipitkan matanya curiga. "Aturan apa? Jangan yang aneh-aneh ya!"

Zayyan menegakkan posisi duduknya. "Pertama. Kamu wajib mengikuti seluruh kegiatan pesantren tanpa terkecuali, termasuk salat jamaah tepat waktu dan kelas malam. Tidak ada lagi aksi protes, kabur, atau berteriak bar-bar seperti di koridor asrama subuh tadi."

Naya mencibir. "Idih, berat amat. Terus yang kedua?"

"Kedua. Ubah cara berpakaian kamu. Selama berada di lingkungan Al-Falah, kamu wajib mengenakan pakaian yang longgar, sopan, dan menutup aurat dengan benar. Saya tidak mau melihat celana jins robek atau kaus ketat itu lagi berkeliaran di pondok saya."

"Gue enggak punya baju kurung kayak gitu!" protes Naya instan.

"Umi sudah menyiapkan beberapa gamis dan jilbab untukmu di asrama, jadi tidak ada alasan," potong Zayyan mutlak. "Dan yang ketiga. Hormati pengurus, ustadzah, dan sesama santri. Lisan kamu harus dijaga. Jika saya mendengar kamu memaki atau memanggil orang lain dengan sebutan 'monyet' atau 'ustadzah galak' lagi... saya pastikan ponsel ini akan saya kunci di dalam brankas kantor saya selama satu tahun penuh."

Naya menggebrak meja makan dengan kesal. "Wah, gila lu ya! Ini mah namanya pemerasan! Gue korbannya di kamar mandi tadi pagi, si Mbak Hijau itu yang nyerobot! Kenapa jadi gue yang ditekan habis-habisan kayak gini?!"

Gus Zayyan menatap Naya tanpa riak emosi sedikit pun di wajah tampannya. "Fida sudah dihukum sesuai kesalahannya. Tapi tindakan kamu yang menyelesaikan masalah dengan kekerasan verbal dan fisik tidak bisa dibenarkan. Di sini, kamu adalah santri. Bukan ratu jalanan Jakarta yang bisa berbuat semena-mena."

Naya mengepalkan tangannya, menatap tajam ke arah mata elang di balik kacamata Zayyan. Sifat pemberontaknya meronta-ronta, ingin sekali rasanya ia menjambak rambut rapi pria kaku di hadapannya ini. Namun, bayangan hidup tanpa ponsel selama berbulan-bulan di pesantren membuat Naya terpaksa memutar otak.

"Oke! Gue terima aturannya!" cetus Naya ketus, mencoba menahan kekesalannya. "Tapi gue punya syarat! Gue mau masa percobaan. Kalau dalam seminggu gue bisa nurut, lu harus balikin HP gue minimal dua jam sehari setiap sore! Gimana? Deal?" Naya menjulurkan tangannya ke depan, menantang Zayyan untuk bersalaman.

Gus Zayyan melirik tangan mulus Naya yang terulur di depannya. Bukannya membalas jabat tangan tersebut, Zayyan justru merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, menolak bersentuhan fisik secara halus namun tegas.

"Bukan muhrim," ucap Zayyan datar.

Naya menarik kembali tangannya dengan wajah memerah karena malu sekaligus jengkel setengah mati. "Sok suci banget sih lu!" umpat Naya lirih.

"Satu jam sehari. Dan itu pun hanya jika laporan dari Ustadzah Maryam menyatakan kamu berkelakuan baik dalam seminggu ini," putus Zayyan, mengoreksi tawaran Naya dengan tegas ala seorang CEO yang tidak bisa dinegosiasi secara murah. "Jika kamu melanggar satu kali saja... lupakan ponsel ini."

Zayyan bangkit dari kursinya, merapikan jas kerjanya yang tersampir, lalu menatap Naya untuk terakhir kali sebelum melangkah pergi. "Kontrak dimulai hari ini, Nona Nayanika. Silakan kembali ke asrama kamu sebelum jam makan siang."

Naya hanya bisa menatap punggung tegap Gus Zayyan yang berjalan menjauh dengan dada yang naik turun menahan dongkol.

"Dasar es batu! kaku! Lihat aja lu ya, gue bakal bikin lu nyesel udah bikin perjanjian ini sama gue!" teriak Naya frustrasi pada ruangan yang kini kosong, menendang kaki meja makan dengan gemas. Perang dingin di antara si santri bar-bar dan sang Gus CEO kini telah memasuki babak baru yang jauh lebih sengit.

BERSAMBUNG

1
Kholiq Masbuhin
greget banget thorrr,antek2 Fida bikin darting.mapus di bikin Naya kicep🤣🤣
Kholiq Masbuhin
🥹🥹bikin mewekkk, semangat terus Thor
Kholiq Masbuhin
huhuhuhu terharu q thorr🥹🥹, seperti masuk dalam ceritanya
Kholiq Masbuhin
gilaaaa lanjutkan thorrrr,kamu membuat aku menghaluuuuu
Kholiq Masbuhin
thorrrrrrrrrrrrrr bom bas tis,ya Allah mengguncang hatiku,sampe deg deg serrrrrrrr.tidak bisa berkata-kata,karyamu bagusss bangettttt.semoga semakin bagus thorrrrr,lope lope banyak banyak🤍🥰😘
Kholiq Masbuhin
aaaaaa thorrrr di lope lope sama alur ceritanya 🥰🥰 ku tunggu punya yg banyak2 ya thorrrrr, semangat 💪
Kholiq Masbuhin
up nya jam berapa Thor ?setiap hari apa gimana? di tunggu Thor, semangat 💪💪😘
Kholiq Masbuhin
bagus banget,alur ceritanya santai ringan dan enak di bacanya.semangat nulisnya ya
Kholiq Masbuhin
suka banget sama alur ceritanya ,ringan dan santai.enak di bacanya.aku pernah baca novel seperti punyamu ini Thor, serupa tapi tak sama.semangatttt terus ya nulisnya,🤍
Kholiq Masbuhin: /Drool/
total 2 replies
Runi Mayantri
gus zayyan ud mulai trtarik ma si nay😄😄😄😍
Ell Fikar
udh up banyak tp msh kurang rasanya
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr

lanjut thor up yg banyak
guest1053527528
lanjut thor bagus ceritax dengan aksi bar2 dan menentang sy suka itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!