NovelToon NovelToon
Kontrak Panas Tuan Muda

Kontrak Panas Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Enemy to Lovers
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: meongming

Nadine dijadikan jaminan oleh ayahnya kepada seorang mucikari…namun takdirnya ternyata jauh lebih kejam dari yang ia bayangkan. Pria pertama yang datang bukan orang sembarangan.

Ia adalah pewaris TX internasional, tampan, kaya raya, dan berhati dingin. Dalam hitungan detik, Nadine terikat dalam sebuah kontrak sebagai istri bayaran.

Akankah ia melawan… atau tenggelam selamanya dalam jebakan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Aku bukan wanita malam

Pintu ruangan terbuka, dan Tuan Joseph menggenggam tangan Nadine, menariknya keluar. Nadine berusaha melepaskan diri, namun pria itu seolah tak menghiraukan penolakannya. Dorongan dalam dirinya kian memuncak, dan perlawanan Nadine justru membuat suasana semakin menegang.

“Lepaskan saya, Tuan… saya tidak bisa melayani Anda! Saya sudah punya janji dengan tamu lain!” seru Nadine, berusaha keras melepaskan genggaman Tuan Joseph.

"Apa kamu tidak dengar? Aku baru saja membayarmu dua kali lipat pada bosmu!" bentak Tuan Joseph.

“Tapi tetap saja… tidak bisa seperti ini, Tuan,” jawab Nadine, suaranya bergetar.

Tuan Joseph mendengus kesal dan menarik Nadine dengan kasar menuju lorong yang mengarah ke kamar tamu.

"Bagaimana ini… siapa saja, tolong aku…" lirih Nadine di dalam hati.

Meski menolak sekuat tenaga, Nadine tak mampu mengalahkan pria itu. Saat mereka tiba di depan kamar, Nadine sempat melepaskan diri dan berusaha melarikan diri, tetapi tangan Tuan Joseph dengan cepat menarik bahunya hingga baju atasnya sedikit sobek.

“Kamu benar-benar wanita menyebalkan! Kamu harusnya tahu diri!” teriak Tuan Joseph, mendorong Nadine ke dinding.

Nadine menjerit kesakitan, air matanya mulai menetes. Ketakutannya kali ini jauh lebih besar dibanding malam sebelumnya. Pria tua itu terasa lebih menakutkan, lebih mengintimidasi, yang membuat Nadine benar-benar terpojok.

Tuan Joseph sudah tak mampu menahan diri. Melihat Nadine menangis, hasratnya justru semakin terpancing. Ia melangkah mendekat, berniat mencium Nadine, namun gadis itu segera mengelak.

“Saya… tidak mau…” ucap Nadine ketakutan.

“Wanita sepertimu seharusnya merasa beruntung karena aku membayarmu mahal. Tidak ada wanita malam yang layak mendapat bayaran semahal itu,” balas Tuan Joseph dengan nada dingin.

Tuan Joseph memaksa mendekat untuk mencium Nadine, meski gadis itu terus menghindar. Sikapnya justru membuat pria itu tersulut amarah. Saat tangannya terangkat, hendak menampar Nadine, gadis itu memejamkan mata karena ketakutan. Namun tiba-tiba, seseorang menahannya.

“Hah?” Tuan Joseph menoleh, terkejut.

"Beraninya kau menyentuh mainanku,” suara dingin itu terdengar.

Nadine membuka mata perlahan. Di hadapannya berdiri pria misterius itu. Wajahnya dingin, sorot matanya tajam, membuat udara di sekeliling mereka seakan membeku.

Pria itu memelintir tangan Tuan Joseph hingga menjerit kesakitan.

"Argh! Lepaskan, brengsek!" teriak Tuan Joseph.

Setelah berkali-kali memohon ampun, pria itu akhirnya melepaskan Tuan Joseph. Ia berbalik hendak menghampiri Nadine, namun tiba-tiba Tuan Joseph bangkit, mengeluarkan pisau lipat, dan mencoba menyerangnya.

"Brengsek, mati kau!"

"Jangan!’ teriak Nadine.”

Pria itu menoleh tepat saat Tuan Joseph mengayunkan pisau lipat ke arah perutnya. Tanpa ragu, pria misterius itu menahan serangan tersebut dengan tangan kosong, menggenggam pisau Tuan Joseph. Darah mulai menetes dari telapak tangannya akibat tekanan dan luka goresan.

Tuan Joseph terkejut, matanya membelalak.

 “Apa…?!?”

Pria itu menatap tajam, dingin. Tanpa ampun, ia menghajar Tuan Joseph hingga pria bertubuh gempal itu terjatuh ke lantai. Namun pria misterius tersebut tak berhenti, pukulan demi pukulan terus mendarat di wajah Tuan Joseph, meski pria tua itu telah meraung kesakitan dan memohon ampun.

"Orang tua sepertimu seharusnya diam di rumah bersama cucumu, bukan berada di tempat seperti ini!" ucapnya dingin, sambil terus melayangkan pukulan ke wajah Tuan Joseph.

Nadine menatap dari belakang, dadanya berdebar kencang melihat pria misterius itu terus menghajar Tuan Joseph tanpa ampun, Ia menahan air mata, hatinya campur aduk ,takut, syok, namun di balik semua itu terselip keyakinan kecil bahwa malam ini, mungkin, ia masih bisa selamat.

Tak lama, beberapa penjaga keamanan datang, di belakang mereka, Nyonya Sintia berjalan cepat dengan wajah panik.

Pria misterius itu masih menghajar Tuan Joseph tanpa henti pukulan demi pukulan terus mendarat di wajahnya. Dua penjaga keamanan segera bergerak dan menahan pria tersebut.

“Tuan, hentikan sekarang!” teriak salah satu dari mereka, berusaha menahan kekuatannya.

Pria itu akhirnya melepaskannya. Napasnya masih terengah, menahan amarah, sambil menepis tangan kedua penjaga keamanan.

“Jangan menyentuhku,” ucapnya dingin.

Nyonya Sintia terlihat gelisah, menyaksikan Tuan Joseph terkapar di lantai, sementara pria misterius itu menatapnya dengan tajam.

Nadine tampak ketakutan saat pria itu mendekat. Ia melihat sobekan kecil di pundak gaunnya dan menunduk gelisah. Pria itu berhenti, menatapnya, lalu menyampirkan jasnya ke tubuh Nadine.

Nadine mendongak, terkejut. Tatapan pria itu tetap dingin, tapi tindakannya membuat perasaanya campur aduk antara takut dan lega.

“Ikuti aku,” ucap pria itu.

Nadine menatap pria itu saat ia membalikkan badan dan mulai berjalan. Keraguan sempat menyelimuti hatinya, tapi akhirnya ia memutuskan mengikutinya.

Saat melewati Nyonya Sintia, wanita itu langsung bersikap manis, “Tuan… saya minta maaf. Ini hanya salah paham. Saya sudah menolaknya, tapi Tuan Joseph terus memaksa dan membawa Nadine begitu saja,” ujarnya cepat.

Pria itu berhenti tepat di depan Nyonya Sintia, menatapnya dengan tatapan dingin yang menusuk.

"Kau membuatku kesal. Aku tidak mau berurusan denganmu lagi," ucap pria itu sambil melewati Nyonya Sintia.

Nadine mengikuti di belakangnya, tapi tiba-tiba tangannya ditarik.

“Tidak… Nadine tidak boleh ikut! Dia anak buahku. Anda tidak bisa membawanya keluar dari sini,” sahut Nyonya Sintia panik.

Pria itu menoleh. "Kau tahu berapa banyak uang yang sudah aku berikan padamu? Kalau setuju, kembalikan semuanya sekarang."

Nyonya Sintia membeku. Ia jelas tak akan merelakan uang itu kembali, apalagi nominalnya besar. Ia terdiam sejenak, menimbang, lalu akhirnya berkata pelan,

“Baiklah, Tuan… saya mengerti,” sambil melepaskan tangan Nadine.

Nadine menatap tangan Nyonya Sintia yang sudah melepaskannya, tubuhnya masih gemetar, dan pikirannya kacau. Matanya bertemu dengan pria misterius, dan saat itu ia merasa sedikit aman meski rasa takutnya belum sepenuhnya hilang. Ia menunduk sejenak, lalu mengikuti pria itu sambil bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya?

...----------------...

Di parkiran, sebuah mobil hitam mewah terparkir. Pria itu menekan tombol kunci, lalu membuka pintu untuk Nadine.

“Masuk,” ucapnya tegas.

Nadine tampak bingung, ragu sejenak sebelum akhirnya masuk. Dalam hati ia bertanya-tanya, Apa pria ini mau membebaskannya… atau justru membelinya lagi?

Pria itu masuk ke mobil dan menutup pintu dengan cukup keras, membuat Nadine terkejut. Ia segera mengacak-ngacak kotak P3K di sampingnya, mengambil kain perban, dan mulai menggulung telapak tangannya yang terluka.

Nadine memperhatikan dengan cemas, lalu bicara dengan ragu, “Aku… boleh membantu?”

Belum selesai bicara, pria itu menoleh ke arahnya dengan tatapan kesal, membuat Nadine langsung menunduk. Hening sesaat, pria itu selesai membalut tangannya dan melempar kotak P3K ke kursi belakang.

“Tuan… saya minta maaf karena sudah melibatkan Anda dalam masalah… saya sangat berhutang budi…” ucap Nadine pelan, suaranya gemetar.

“Baguslah… kamu mengerti,” potong pria itu singkat.

Nadine menoleh, dan untuk pertama kalinya melihat pria itu tersenyum kecil.

"Aku tidak melakukannya dengan gratis. Ada harga yang harus kamu bayar," ucapnya dingin.

Nadine terkejut, “Membayar? Tapi… saya tidak punya uang sebanyak itu…” ucap Nadine gemetar.

“Aku tidak butuh uang,” jawab pria itu.

“Lalu… aku harus membayar dengan apa?"

“Tentu saja… dengan tubuhmu,” balasnya singkat.

Deg.

“Apa maksud Anda…?” suaranya bergetar.

Pria itu hanya terkekeh pelan, lalu menyalakan mesin mobil. Tak ada jawaban lagi, tak ada percakapan, mereka duduk dalam diam, tapi hanya Nadine yang terlihat gelisah, matanya terus memandangi pria itu, pikiran kacau dan jantung berdebar kencang.

1
Ajay
Teruslah menulis sampai kamu muak, kamu punya bakat hebat disini 😉
meongming: thanks you 😍
total 1 replies
Winanti Rahayu
Ethan pria yg bersama Clara?
meongming: Ethan, teman semasa SMA Nadine. yang sama Clara namanya Liam.
total 1 replies
Winanti Rahayu
jujur sajalah,kalau butuh uang buat biaya adiknya🥲
erma cahyani
ditunggu kelnjutannya
meongming: makasih sudah baca Sampai bab ini. tunggu update selanjutnya y
total 1 replies
Agunk Setyawan
Leon pengecut diancam menciut
Agunk Setyawan
peran cowoknya lemah banget sich diancam Clara takut bikin kesel aja
Agunk Setyawan
dari awal baca belum dapat feel nya thor ini cerita
Agunk Setyawan
peranya utama dua"nya lemah
Agunk Setyawan: buat peran utamanya tegas thor
total 2 replies
M ipan
halo,, semangat nulis nya
StellaY
apa leon dahh punya perasaan ke nadine? 😚
meongming: rahasia yah huehue tunggu update selanjutnya yah/Applaud/
total 1 replies
StellaY
baru bab awal udah menarik, plotnya bagus dan tulisannya rapi nyaman di baca tiap paragraf juga tesusun rapi betah bgt
StellaY
semangat author aku pengemar setiamu suka karyamu jangan berhenti nulis 👍👍
meongming: thanks you 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!