Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Kebenaran yang Tersembunyi
Kata-kata Pastor Elric menggantung di udara, berat dan penuh implikasi. Sasuke menatapnya lekat, menunggu penjelasan lebih lanjut, sementara Saviera menggenggam tangan Elaina yang duduk di pangkuannya, seolah secara naluriah melindunginya dari beban informasi yang akan datang.
"Apa maksud Anda?" Sasuke bertanya akhirnya, tidak sabar menunggu kelanjutannya.
Pastor Elric bangkit dari kursinya, berjalan perlahan menuju salah satu rak buku di sudut ruangan, jari-jarinya yang keriput menelusuri punggung buku-buku tua sebelum akhirnya menarik keluar sebuah jilid kulit yang sudah usang, sampulnya nyaris tidak terbaca dimakan waktu.
"Ini," ia berkata, membawa buku itu kembali ke meja dengan hati-hati, seolah takut halamannya akan hancur jika terlalu kasar, "adalah salinan catatan pendirian Gereja yang asli. Bukan versi resmi yang diajarkan pada pendeta muda sekarang, melainkan dokumen asli yang kutemukan tersembunyi di ruang arsip terdalam Katedral Utama, jauh sebelum aku melarikan diri."
Ia membuka halaman-halaman rapuh itu dengan hati-hati, menunjukkan tulisan tangan kuno yang sulit dibaca, dipenuhi simbol-simbol yang bahkan Sasuke sendiri—dengan segala pengetahuan yang ia warisi—tidak sepenuhnya kenali.
"Menurut catatan resmi yang diajarkan sekarang," Pastor Elric menjelaskan, "Gereja didirikan murni oleh Dewa Agung, sebagai institusi tunggal untuk mengelola sistem Level dan menjaga keseimbangan dunia Astral. Tapi catatan asli ini bercerita berbeda."
"Berbeda bagaimana?" Saviera bertanya, mencondongkan tubuh untuk melihat lebih dekat meski tulisan itu tidak sepenuhnya bisa ia pahami.
"Gereja awalnya didirikan sebagai perjanjian bersama," Pastor Elric menjelaskan, menunjuk salah satu bagian dokumen yang menampilkan sepuluh simbol berbeda tersusun melingkar. "Bukan hanya oleh Dewa Agung, melainkan oleh perwakilan kekuatan besar dari sepuluh benua Astral—semacam dewan, jika kalian mau menyebutnya begitu. Setiap benua menyumbangkan sebagian kekuatannya untuk menciptakan sistem Level dan Status yang sekarang kita kenal, sebagai cara bersama untuk memantau dan menyeimbangkan kekuatan di seluruh dunia."
Sasuke merasakan sesuatu bergeser di dalam pemahamannya tentang dunia ini. "Jadi Dewa Agung bukan satu-satunya yang berkuasa atas sistem ini."
"Awalnya, tidak," Pastor Elric mengonfirmasi. "Tapi seiring berjalannya waktu—berabad-abad, mungkin ribuan tahun—kekuasaan itu perlahan terpusat. Beberapa anggota dewan asli menghilang, entah karena kematian, konflik internal, atau alasan yang bahkan aku sendiri tidak sepenuhnya pahami dari catatan yang tersisa. Dewa Agung, entah bagaimana, menjadi wajah tunggal yang tersisa dari perjanjian itu—setidaknya, yang diketahui publik."
"'Setidaknya yang diketahui publik'," Sasuke mengulang, menangkap penekanan dalam kata-kata itu. "Anda menyiratkan ada yang lain, yang masih ada tapi tidak diketahui."
Pastor Elric menatapnya lama, menghela napas panjang sebelum melanjutkan. "Ini bagian yang bahkan aku sendiri tidak yakin sepenuhnya. Tapi dalam bulan-bulan terakhirku di Katedral, sebelum aku melarikan diri, aku menemukan surat-surat rahasia yang dipertukarkan antara Uskup Agung yang sekarang dengan seseorang—atau sesuatu—yang hanya disebut dengan sebuah gelar dalam surat-surat itu. Bukan nama."
"Gelar apa?" Sasuke bertanya, jantungnya berdegup lebih cepat tanpa sepenuhnya ia mengerti kenapa.
Pastor Elric menatapnya lurus-lurus, suaranya nyaris berbisik ketika ia akhirnya menjawab.
"'Yang Tertinggal'."
---
Hening panjang menyelimuti ruangan itu, hanya suara api perapian yang berderak pelan mengisi kesunyian.
"Aku tidak tahu apa atau siapa itu," Pastor Elric melanjutkan, suaranya masih pelan. "Tapi dari nada surat-surat itu, jelas bahwa Uskup Agung yang sekarang tunduk pada entitas ini, menerima instruksi darinya, meski tetap mempertahankan citra publik bahwa Gereja sepenuhnya berada di bawah bimbingan Dewa Agung seorang diri."
"Apakah 'Yang Tertinggal' ini salah satu dari sepuluh anggota dewan asli yang Anda sebutkan tadi?" Saviera bertanya, mencoba menyusun kepingan informasi itu menjadi gambaran yang lebih jelas.
"Itu dugaan paling masuk akal yang bisa kubuat," Pastor Elric mengakui. "Seseorang, atau sesuatu, yang tertinggal dari dewan asli sepuluh benua itu—mungkin satu-satunya yang tersisa selain Dewa Agung sendiri, entah bersembunyi atau memang sengaja tidak menunjukkan diri ke publik selama ini."
Sasuke duduk diam, pikirannya berputar cepat memproses semua informasi baru ini. Jika benar ada kekuatan lain yang bermain di balik layar, memanipulasi Gereja lewat Uskup Agung yang korup, maka tekanan yang ia terima dari Uskup Valemont mungkin bukan sekadar keinginan murni Dewa Agung untuk menyelesaikan misi berburu Eternity—melainkan sesuatu yang jauh lebih rumit, mungkin bahkan agenda tersembunyi dari pihak lain sepenuhnya.
"Apakah Dewa Agung tahu soal ini?" Sasuke bertanya akhirnya. "Soal Uskup Agung yang tunduk pada entitas lain ini?"
"Aku tidak tahu," Pastor Elric menjawab jujur. "Itulah yang membuatku paling takut, sejujurnya. Apakah Dewa Agung mengetahuinya dan memilih diam karena alasan tertentu, ataukah dia sendiri tidak menyadari bahwa institusinya sudah disusupi—keduanya sama-sama mengkhawatirkan bagiku."
Elaina, yang sejak tadi duduk diam mendengarkan meski tidak sepenuhnya memahami beratnya percakapan itu, akhirnya menyandarkan kepalanya ke bahu Saviera, matanya mulai berat mengantuk di tengah suasana serius yang terlalu lama untuk konsentrasinya yang masih kecil.
Sasuke menatap Elaina sejenak, kemudian kembali menatap Pastor Elric, keputusan baru mulai terbentuk dalam benaknya.
"Terima kasih," ia berkata akhirnya, "sudah mempercayakan ini pada kami. Aku tahu ini bukan keputusan mudah."
"Aku hanya berharap," Pastor Elric berkata, menutup buku tua itu dengan hati-hati, "bahwa informasi ini akan berguna bagimu, bukan malah menambah beban yang tidak perlu di pundakmu yang sudah cukup berat, Anak Muda."
Di luar jendela pondok kecil itu, malam mulai turun di pegunungan barat, membawa serta bintang-bintang asing yang sama, namun kini terasa jauh lebih misterius dari sebelumnya bagi Sasuke—sebuah pengingat bahwa dunia yang ia kira sudah mulai ia pahami, ternyata masih menyimpan lapisan-lapisan rahasia yang jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan.
---
*Bersambung ke Bab 25 : Yang Tertinggal*