Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIKSA HAMIL
Siska merasa tubuhnya semakin aneh saja. Setiap pagi bangun tidur, rasa mual langsung datang menyerang tanpa permisi. Sedikit saja mencium bau bumbu dapur atau masakan berminyak, perutnya langsung bergejolak ingin muntah. Kadang tiba-tiba ia sangat menginginkan makanan tertentu, lalu sesaat kemudian tidak mau melihatnya sama sekali.
Pagi itu Siska duduk di tepi kasur sambil memegang perutnya yang masih rata. Wajahnya tampak gelisah sekali. Ia melirik kalender di dinding, lalu menghitung hari pernikahannya dengan Hendra dengan jari telunjuk.
"pernikahanku kan Baru satu bulan... tapi kenapa rasanya kayak gini ya?" gumamnya pelan sambil mengerutkan kening dalam-dalam.
Ia teringat sering mendengar orang bercerita tentang tanda-tanda kehamilan. Rasa mual di pagi hari, pusing, dan keinginan makan yang berubah-ubah. Hatinya mulai berdebar kencang. Tanpa memberitahu siapa pun, bahkan tidak pamit pada Hendra maupun Ibu Sari, ia memutuskan pergi ke rumah sakit sendiri hari ini juga.
Saat Hendra sudah berangkat kerja dan Ibu Sari sibuk menyapu halaman belakang, Siska menyambar tasnya dan berjalan keluar rumah dengan cepat. Ia naik angkutan umum menuju rumah sakit terdekat tanpa memberitahu tujuannya pada siapa pun.
Di ruang periksa, dokter wanita memeriksa Siska dengan teliti. Setelah melihat hasil tes urin dan melakukan pemeriksaan fisik, dokter itu tersenyum ramah.
"Selamat ya Bu. Ibu sedang mengandung," kata dokter itu lembut.
Siska membelalakkan matanya tak percaya. "Benar Dok? Saya benar-benar hamil?"
"Benar sekali. Bahkan usia kandungan Ibu sudah menginjak dua bulan lebih ," jelas dokter sambil menyerahkan selembar kertas hasil pemeriksaan.
Wajah Siska seketika berubah pucat pasi. Tangannya gemetar hebat saat menerima kertas itu. Dua bulan? Padahal pernikahannya baru berjalan satu bulan. Artinya bayi ini sudah ada sejak sebelum mereka menikah. Jantungnya berdegup kencang sekali, ada rasa senang bercampur takut yang membingungkan.
"Apa ada yang salah Bu?" tanya dokter melihat perubahan wajah Siska yang tiba-tiba berubah.
"Tidak ada kok Dok. Terima kasih banyak," jawab Siska pelan dengan suara bergetar. Ia segera melipat kertas itu kecil-kecil dan menyembunyikannya jauh di dalam saku tas paling dalam.
Ia keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai. Di satu sisi ia senang akan memiliki anak, tapi di sisi lain ia sangat takut jika ada yang menanyakan kenapa usia kandungannya lebih tua dari pernikahan mereka. Ia berjanji dalam hati tidak akan pernah memperlihatkan kertas itu kepada siapa pun.
Sore harinya Hendra pulang kerja dengan wajah lelah. Ia masuk rumah dan melihat Siska duduk sendirian di ruang tengah dengan pandangan kosong.
"Kamu kenapa duduk diam saja di sini? Dari mana saja kamu tadi?" tanya Hendra sambil meletakkan tas kerjanya di meja.
Siska menoleh perlahan, lalu tersenyum tipis.
"Aku tadi jalan-jalan sebentar saja Mas. Mau cari angin segar."
Hendra duduk di sebelahnya sambil memegang tangan istrinya.
"Kamu terlihat pucat sekali. Apa kamu kurang sehat?"
Siska menarik napas panjang, lalu menatap suaminya lekat-lekat.
"Mas... seandainya aku hamil, apa Mas senang?"
Hendra tertegun sejenak, lalu wajahnya langsung berubah cerah berseri.
"Tentu saja sayang! Itu adalah kabar paling indah yang pernah kudengar!"
Siska menggigit bibir bawahnya ragu sejenak, lalu berkata pelan.
"Aku rasa... aku sedang mengandung Mas."
Mata Hendra langsung membulat tak percaya. Ia langsung memeluk istrinya erat sekali.
"Benarkah Siska? Kita akan punya anak?"
"Iya Mas. Aku yakin aku hamil," jawab Siska sambil memeluk balik suaminya, berusaha menutupi rasa gelisah di hatinya.
Mendengar suara riuh itu, Ibu Sari langsung keluar dari dapur dengan tangan masih basah.
"Ada apa sih ini? Kenapa berteriak begitu?"
"Ibu! Siska hamil! ibu akan punya cucu!" seru Hendra penuh sukacita sambil menunjuk Siska.
Wajah Ibu Sari langsung berseri-seri luar biasa. Ia segera mendekat dan memegang tangan Siska dengan lembut.
"Benar itu siska? Alhamdulillah... akhirnya cucu yang Ibu tunggu-tunggu datang juga!"
"Kamu sudah periksa ke dokter?" tanya Ibu Sari kemudian.
Siska mengangguk pelan. "Iya Bu. Tadi aku periksa."
"Kalau begitu mana surat keterangannya? Biar Ibu lihat sekalian berapa bulan usianya," pinta Ibu Sari antusias.
Jantung Siska seolah berhenti berdetak sejenak. Ia tersenyum canggung.
"Ah... tadi kertasnya tertinggal di rumah sakit Bu. Aku lupa mengambilnya kembali."
"Begitu ya? nggak apa-apa. Yang penting Ibu tahu kabar bahagia ini," kata Ibu Sari tidak curiga sama sekali.
Hendra juga tidak menanyakan lebih lanjut. "Tidak apa-apa sayang. Nanti kita ambil lagi saja. Yang penting kamu dan bayi kita sehat."
Siska hanya mengangguk pelan dengan perasaan lega bercampur takut. Rahasia itu masih aman di tangannya saja.
Malam itu Siska tidak bisa tidur nyenyak. Ia terus memegang tasnya yang diletakkan di samping tempat tidur, seolah takut ada orang yang datang mengambil kertas hasil pemeriksaan itu.
"jangan sampai ada yang tahu kalau usianya sudah dua bulan..." gumamnya pelan.
Keesokan paginya, sifat Siska semakin berubah menjadi sangat manja dan menuntut segalanya.
"Mas... aku ngidam mau makan bubur ayam yang ada di ujung kota itu. Kamu belikan ya sekarang juga," pinta Siska sambil memegang perutnya.
"Tapi kan,Mas harus berangkat kerja sayang. Nanti sore saja ya," tolak Hendra pelan.
"nggak mau! Aku mau sekarang juga! Kalau tidak dituruti nanti aku sakit dan bayiku kenapa-kenapa!" Siska langsung cemberut bersiap menangis.
Ibu Sari yang mendengar langsung mendekat.
"Ndra, belikan saja. Kasihan cucu Ibu kalau sampai tidak dapat apa yang diinginkan ibunya."
Hendra hanya bisa menghela napas pasrah. "Baiklah, aku belikan dulu."
Sementara itu, di toko tempat Alena bekerja, hari itu berjalan tenang. Alena sedang menyusun barang di rak saat Bima datang berbelanja.
"Selamat siang Alena. kamu Terlihat sibuk sekali hari ini," sapa Bima ramah.
"Selamat siang Mas Bima. Iya, hari ini banyak barang baru yang datang " jawab Alena tersenyum sopan.
Mereka mengobrol sebentar dengan santai. Dari kejauhan Reihan melihatnya, tangannya mengepal erat. Ia masih merasa cemburu, tapi tidak berani mendekat setelah kejadian kemarin.
Di rumah Hendra, Ibu Sari mulai sibuk mengurus keinginan Siska. Meski sangat senang akan kehadiran cucu, setiap kali melihat Siska bersikap seenaknya, Ibu Sari selalu teringat pada Alena yang dulu selalu sabar, rajin, dan tidak pernah menyusahkan siapa pun meski sering diperlakukan tidak adil.
"Dulu Alena tidak pernah menyuruh-nyuruh seperti ini..." gumam Ibu Sari pelan saat melihat Siska menyuruh Hendra memijat kakinya.
Siska mendengar itu dan langsung menatap tajam.
"iBu masih saja membandingkan aku dengan dia! Kan aku sedang mengandung cucu Ibu!"
"Iya... Ibu tahu. Ibu hanya bicara sendiri," jawab Ibu Sari sambil berjalan pergi dengan perasaan berat.
Siska menatap punggung ibu mertuanya dengan tidak nyaman. Ia sadar meski ada bayi ini, posisinya di rumah itu belum sepenuhnya aman. Dan rahasia besar yang ia simpan sendirian itu bisa menjadi bumerang yang sangat mengerikan jika suatu saat terbongkar.