plagiat dilarang mendekat!🔥🔥
aku tidak tahu apakah ini depresi. maksudku aku tidak sedih,tapi aku juga tidak bahagia. di saat langit terang aku tertawa dan bercanda gurau. dan disaat malam aku lupa cara untuk tersenyum. ~ Grace Elisha Elard
aku akan menyembuhkan semua lukamu dengan cinta yang kumiliki. ~ Damian Efrat Wilson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon evii_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 (Fiks)
Grace menangis dalam diam. Duduk menunduk sembari meratapi nasib buruk yang menimpa. Di temani dengan dua botol minuman, Grace berusaha meyakinkan diri jika semua ini adalah mimpi.
Sudah dua jam lamanya, Grace menempati kursi kayu ini. Namun, tetap saja kegundahan yang memenuhi hatinya tidak kunjung menghilang.
"Grace! apa yang kau lakukan di tempat ini?" Rachel datang, langsung menuntun Grace keluar dari klub. Sepanjang perjalanan Rachel terus mengomel. Keningnya berkerut marah, sedih melihat keadaan Grace. Biarlah Rachel membawa Grace ke apartemen, malam ini.
Grace menggeliat dari balik selimut, terganggu akan terpaan sinar matahari yang masuk melewati sela-sela jendela. Baru membuka mata, Grace di kejutkan dengan Rachel yang duduk santai sembari menatapnya tajam.
Sakit, Grace merintih kala merasakan kepalanya terasa berat dan pusing. Bisa jadi Grace menyesal menghabiskan dua botol minuman semalam.
"Minum ini!" menyodorkan teh hangat. Masih menampakkan wajah kurang bersahabat. Ragu-ragu Grace menerimanya. Lalu tersenyum canggung sebelum akhirnya mengucapkan terimakasih.
"Maaf, aku sudah merepotkan mu!" sesalnya. Sadar menjadi beban dan benalu bagi kehidupan Rachel.
"Baguslah kalau kau sadar!" mencibir, menatap Grace dengan tatapan mencemooh. Ayolah, Rachel sangat menyayangi Grace. Semua ini bukan apa-apa, bahkan Rachel rela mengorbankan hidupnya jika diperlukan.
"Aku ingin mengatakan sesuatu." tahu semua cibiran Rachel hanya candaan semata. Beralih pada sesi curhat kini.
Melihat mata sayu Grace lantas Rachel mendengus. Ia duduk di samping, bersedekap dada, menunggu Grace membuka suara.
"Katakan!" serunya memerintah. Hening, Grace masih diam. Memikirkan kata-kata yang tepat untuk digunakan agar Rachel mudah memahami..
"Sebenarnya aku sudah menikah!" membuka suara. Raut mukanya berubah kecut, malu menceritakan kejadian ironi yang menimpa.
"Bagaimana bisa?" tidak bisa berkata-kata. Sungguh, pernyataan Grace barusan mengguncang jantungnya.
"Ayah yang menyuruhku. Ayah tidak ingin kehilangan perusahaan, karena itu ayah menyerahkan aku pada salah satu koleganya sebagai bayaran!" ujarnya menjelaskan. Tubuhnya bergetar takut. Grace tidak tahu harus berbuat apa.
"Gila, berani sekali dia menjual mu!" cecar Rachel. Mengumpat dan mengutuk dalam hati. Marah, karena perbuatan Daniel sudah sangat keterlaluan.
"Lalu, apa yang kau dapatkan?" Grace sudah mengorbankan masa depan. Tidak mungkin Daniel tidak memberi apapun sebagai imbalan. Dan jika itu benar terjadi, maka Rachel bersumpah akan memporak-porandakan kediaman Daniel.
"Aku memutuskan hubungan kekeluargaan. Aku bukan bagian dari keluarga Elard lagi." bangga, Rachel sangat senang mendengar Grace mengambil keputusan sulit ini.
Setelah ini Rachel pastikan Grace mendapat kebahagiaan dengan mengajaknya tinggal dan menjalani suka duka bersama-sama.
"Bisakah kau membantuku?" lirih Grace bertanya. Rachel merasakan firasat buruk. Senyuman itu luntur kala melihat Grace menangis tanpa mengeluarkan suara.
"Ada apa Grace, bukankah seharusnya kau senang karena terbebas dari mereka?" Grace mengangguk. Grace memang terbebas dari cengkraman Daniel. Namun, suaminya. Jangan lupakan masalah itu.
Grace sudah membubuhkan tanda tangan di dokumen pernikahan. Otomatis dia sudah menjadi istri seseorang yang sah dimata hukum sekarang.
"Bantu aku kabur!" pinta Grace. Menggenggam erat tangan Rachel, menatap dengan penuh tekad. Belum sempat Rachel menjawab sebuah suara menyanggah.
"Mau kabur kemana, Grace?" seketika pandangan dua gadis itu teralihkan. Keduanya sama-sama terkejut saat mendapati sosok pria tampan berdiri dengan di temani beberapa orang berbadan besar.
"Siapa kau?" bertanya dengan raut muka garang. Rachel sendiri masih tidak paham dengan situasi yang terjadi. Entahlah, bagaimana bisa mereka masuk kedalam. Sedangkan Rachel mengunci pintu apartemen semalam.
"Aku Damian, pria yang sudah kau nikahi!" merinding, Grace semakin takut. Pikirannya kalut, haruskah secepat ini. Grace masih belum siap.
"Sekarang, ayo kita pulang!" ajak Damian. Selangkah demi selangkah berjalan mendekat, mengintimidasi Grace lewat tatapan mata.
"Berhenti!" Rachel dengan beraninya menghalangi jalan Damian. Rachel merentangkan kedua tangan, tak membiarkan Damian berjalan lebih jauh.
Namun, semua itu tak bertahan lama. Regan dengan sigap meraih tangan Rachel dan memelintirnya ke belakang. Rachel berteriak kesakitan.
"Hei, lepaskan sahabatku!" Grace memukuli lengan Regan. Juga menggigit, namun sayangnya Regan tidak terpengaruh sama sekali.
Malas melihat tingkah Grace yang menurutnya membuang-buang waktu, Damian menarik Grace dan membawanya keluar dari apartemen. "Lepaskan aku!" meronta-ronta, berharap cengkeraman itu terlepas.
Grace menampar Damian dan cara itu berhasil. Damian menghentikan langkahnya dan berbalik seraya menyunggingkan senyum tipis atau lebih tepatnya seringai.
"Kau mau ikut atau kau mau melihat sahabat mu mati?" Damian menyuruh Grace berbalik. Pupus sudah harapannya, Grace tidak berdaya.
Tidak papa Grace, mungkin sudah waktunya kau berpisah dengan satu-satunya orang yang menyayangimu. Tidak masalah, kau akan terbiasa dengan rasa sakit ini.
Grace meneteskan air mata, kemudian berbalik menghadap Damian. "Aku akan ikut dengan mu, tapi lepaskan Rachel!"
"Grace..." panggil Rachel. Menatap dengan tatapan memohon. Bodoh, tidak seharusnya Grace berkorban sebesar ini. Sudah Rachel bilang, bahkan jika nyawa yang menjadi taruhan. Rachel rela asal Grace bahagia.
"Tidak papa, Re! mungkin suatu hari nanti kita bertemu lagi. Kala itu terjadi, traktir aku makan ya!" seperti biasa Grace tersenyum tipis di akhir kalimat.
"Pilihan yang bagus!" Damian tersenyum penuh kemenangan. Lalu, melanjutkan aksinya dengan menarik Grace pergi.
Rachel yang melihat hanya bisa menangis dan mengulurkan tangan. Berharap Grace menghentikan langkah dan mendengarkan permohonannya.
Namun semuanya sia-sia saat pintu tertutup dan menyisakan dirinya sendiri. Regan mengunci pintu kamar dan menyuruh satpam membukanya setelah satu jam kemudian.
TBC
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏
apakah dh boleh d rilis novel barunya
koq dari tahun 2022 sampe tahun 2024 masih belum liris sih