Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALAH PAHAN
"Mas Bima nggak membuatku sedih. Dia bahkan nggak bertanya apa-apa. Dia hanya ngasi aku sapu tangan dan duduk diam menemaniku," jelas Alena sambil menunjuk sapu tangan biru yang masih ia genggam erat.
Wajah Reihan seketika berubah pucat pasi. Ia menoleh ke belakang, melihat Bima masih berdiri di sana sambil mengusap darah di sudut bibirnya dengan tenang. Rasa malu langsung menyergap seluruh tubuhnya.
"Jadi... aku salah paham?" tanya Reihan pelan dengan suara bergetar.
"Ya Mas. Kamu sudah salah paham besar" jawab Alena singkat.
Tanpa menunggu lagi, Alena langsung berbalik dan berjalan kembali ke arah Bima. Ia berdiri di depan pria itu dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Maafkan aku ya Mas Bima... Aku benar-benar minta maaf atas perbuatan temanku tadi. Aku nggak nyangka dia akan bertindak seburuk itu," ucap Alena dengan mata berkaca-kaca.
Bima tersenyum tipis meski bibirnya terasa perih.
"Tidak apa-apa Alena. Aku mengerti perasaannya. Dia hanya sangat menyayangimu dan takut kamu terluka."
Mendengar kata itu, wajah Alena langsung memerah.
"Jangan bicara begitu Mas... Dia tidak menyayangiku. Dia hanya..."
"Siapa yang bilang aku tidak menyayangimu?" tiba-tiba suara Reihan terdengar dari belakang.
Alena dan Bima serentak menoleh. Reihan berdiri dengan wajah pucat namun tatapannya tajam menatap lurus ke arah Alena.
"Aku menyayangimu Lena! Sudah lama sekali aku menyayangimu! Aku hanya tidak berani mengatakannya!" seru Reihan dengan suara tinggi.
Alena terbelalak tak percaya.
"Mas Reihan... apa yang kau katakan?"
"Benar Lena! Aku sudah lama mencintaimu! Setiap kali melihatmu tertawa hatiku senang, setiap kali melihatmu sedih hatiku ikut hancur! Itulah kenapa aku marah besar saat melihatmu menangis bersamanya!" jelas Reihan dengan air mata mulai menetes.
Suasana di taman itu seketika menjadi hening total. Alena hanya bisa diam terpaku menatap pria di depannya. Ia sama sekali tidak menyangka hal ini akan terjadi.
Sementara itu di rumah Hendra, suasana tidak kalah tegang. Ibu Sari baru saja selesai menghitung uang yang diberikan Hendra tadi. Wajahnya merah padam menahan amarah.
"Ndra! Ini benar-benar semua uang yang kau berikan? Hanya lima ratus ribu saja untuk sebulan penuh?" bentak Ibu Sari saat Hendra masuk rumah.
Hendra melepas sepatunya dengan lelah.
"Iya Bu. Siska menghabiskan hampir semua gajiku untuk beli baju dan perhiasan."
"Kau tidak bisa menolak saja Ndra? Dulu Alena selalu memberikan aku paling tidak satu juta setiap bulan! Dan rumah tetap terurus, makan tetap ada!" Ibu Sari mulai menangis.
"Itu karena Alena juga bekerja Bu! Siska tidak mau bekerja sama sekali!" balas Hendra mulai kesal.
"Kau ini suami! Kau harus bisa mengatur istrimu! Sekarang aku mau beli beras saja sudah sulit!" Ibu Sari memukul meja makan dengan tangan gemetar.
Tiba-tiba Siska keluar dari kamar dengan wajah pucat dan langsung berlari ke arah kamar mandi. Terdengar suara muntah yang hebat kembali terdengar.
"Ya ampun... kenapa dia begitu terus ya?" gumam Ibu Sari cemas.
Hendra berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Siska... kau kenapa sebenarnya? Kalau sakit kita periksa ke dokter ya."
Siska keluar sambil memegang perutnya.
"Entahlah Mas. Setiap kali mencium bau makanan atau bau minyak wangi aku langsung mual hebat. Aku tidak tahu apa yang salah dengan tubuhku."
"Kita periksa besok saja ya. Aku khawatir," kata Hendra lembut.
Kembali ke taman kota, Alena masih belum bisa berkata-kata mendengar pengakuan Reihan.
"Mas Reihan... terima kasih sudah jujur. Tapi aku... aku belum siap untuk membuka hati lagi," kata Alena pelan.
"Kenapa Lena? Apakah karena pria ini?" Reihan menunjuk Bima.
"Bukan begitu. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri dulu. Aku baru saja keluar dari rumah tangga yang menyakitkan. Aku belum siap untuk hubungan baru," jelas Alena tulus.
Bima melangkah maju mendekat.
"Mas Reihan, aku tidak berniat merebut hati Alena dari siapa pun. Aku hanya ingin menjadi teman yang baik untuknya. Kalau kau benar-benar menyayanginya, berikan dia waktu dan perlakukan dia dengan lembut, bukan dengan kekerasan seperti tadi."
Reihan menunduk dalam penuh rasa malu.
"Aku tahu aku salah. Aku hanya terlalu takut kehilangan dia."
"Kalau begitu buktikan dengan sikapmu, bukan dengan amarahmu," tambah Bima tegas.
Alena menatap mereka berdua dengan perasaan bingung. Di satu sisi ia merasa senang ada orang yang menyayanginya, di sisi lain ia merasa takut untuk kembali terluka.
"Aku pulang dulu ya. Terima kasih sudah menemaniku Mas Bima. Dan Mas Reihan... tolong beri aku waktu," pamit Alena perlahan.
Ia berjalan menjauh meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri terpaku di taman itu.