Apa jadinya ketika kita dijodohkan kepada seseorang yang telah kita anggap kakak atau adik kandung sendiri?
Entah perjodohan ini hanya tertulis di atas awan dan akan tertiup angin, atau sudah tertulis di Arsy dalam keabadian, yang pasti saat ini aku telah kehilangan masa-masa remajaku karena perjodohan.
-Senja Nafeesa Humaira-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
“Ja, buka matanya lihat ke depan!”
“Takut!”
“Tidak apa-apa, ayo buka matanya.”
Perlahan aku membuka mataku dan itu benar-benar mengerikan ketika mataku melihat ke bawah.
“Aaargggghhh, gak mau, hueeee…. Bundaaa!!!” Aku hampir saja menangis saking takutnya.
“Jangan lihat ke bawah tapi ke depan!”
“Ayaaaah … Mas Juna jahat! Mau turuun!!!”
“Hahaha, tidak apa-apa, Ja, ada Mas Juna di sini, sekarang mendongak sedikit ke atas, matanya buka pelan-pelan … nah sekarang perlahan lurus lihat ke depan jangan lihat ke bawah.”
Ku coba sekali lagi membuka mata mengikuti instruksi Mas Juna dan ternyata cukup berhasil tak sengeri tadi, tapi tetap saja jantungku berdetak menggila, tanganku terasa dingin menggenggam tali pegangan dengan sangat kencang.
“Lihat, itu gunung Malabar!’ seru Mas Juna sambil menunjuk ke arah selatan dimana gunung-gunung berdiri megah, “Itu yang kaya laut … itu Saguling, Jati luhur.” Mas Juna terus menunjuk semua tempat berusaha mengalihkan ketakutanku dan usahanya itu mulai berhasil mengalihkan ketakutanku.
Kini aku sudah mulai menikmati memandang pemandangan dari atas sini dimana beberapa tempat wisata di sekitaran Lembang, Cimahi dan Dago terlihat seperti miniatur, selain pemandangan sawah dan rumah penduduk yang terlihat seperti sebuah cekungan dari atas sini, dan itu sangat luar biasa indah.
“Baby, say hi!”
Mas Juna menyuruhku menatap ke arah kamera yang dia pegang menggunakan tongkat. Aku kini bahkan berani untuk dadah-dadah walaupun cuma sebentar sebelum kembali memegang tali pegangan dengan sangat kencang membuat Mas Juna tertawa kemudian mencium kepalaku.
Di atas helm Mas Juna juga terpasang sebuah kamera untuk merekam pemandangan yang terhampar di hadapan kami.
“She’s my baby,” ucapnya sambil menatap kamera, “Senja Nafeesa khomaira, beautiful name for beautiful girl,” lajutnya membuatku tertawa.
“Arjuna Putra Adipati, nama yang gagah untuk pria tampan yang menyebalkan,” ucapku dengan suara bergetar karena masih sedikit takut.
“Hahaha … bagaimana menyenangkan bukan melihat pemandangan dari atas sini?” tanyanya yang mendapat anggukan dariku.
Mas Juna kembali menunjuk beberapa tempat terkenal yang terlihat dari atas membuatku terkagum, sampai akhirnya sebuah landasan gantole mulai terlihat.
“Ja, lihat itu!” serunya menyuruhku melihat sebuah tulisan yang terbentang sepanjang landasan membuatku terbelalak, jantungku yang sudah menggila kini semakin menggila bukan karena takut tapi karena alasan lainnya.
“Aku belum melamarmu dengan benar, dan ku tahu kamu akan mengatakan iya walaupun terpaksa.” Dia mendengus tertawa ketika mengatakan itu. “Tapi bagaimanapun sebagai seorang lelaki aku harus melakukannya dengan cara yang benar,” lanjutnya membuat jantungku semakin menggila ketika tulisan di bawah semakin jelas terbaca ditambah dengan mendengar perkataannya.
“Aku ingin mengucapkan terimakasih karena selama ini telah menjaga diri dan hatimu dengan sangat baik untukku.”
Aku masih terdiam terkejut dengan kondisi saat ini.
“Aku berjanji akan mencoba untuk mencintaimu seumur hidupku, kan ku jaga diri dan hatiku hanya untukmu seperti kamu menjaga diri dan hatimu selama ini untukku … saat ini kita mungkin belum merasakan ketulusan selain keterpaksaan, tapi kita sama-sama akan berusaha untuk mewujudkan itu semua, mewujudkan cinta yang akan hadir di antara kita.”
Dadaku benar-benar berdebar menggila mendengar semua ucapannya, dan aku tak tahu harus bereaksi seperti apa selain diam mematung.
“Jadi … Senja Nafeesa Khumaira, maukah kau menikah denganku?”
Aku tak bisa berkata apa-apa karena kini tenggorokanku terasa memanas, dan mataku mulai berkaca-kaca tapi akhirnya dengan suara menahan tangis aku berkata, “Iya, aku bersedia.”
Mas Juna mencium kepalaku dan tak lama kemudian kami mendarat tepat di hadapan tulisan, “Baby, will you marry me?”
Aku masih diam tak bergerak seolah belum sembuh dari keterkejutan, ku rasa seseorang membantuku melepaskan tali-tali pengaman yang terhubung dengan payung.
“Ja, kamu baik-baik saja?” tanya Mas Juna yang kini berdiri dihadapanku.
Aku menatapnya beberapa saat kemudian terduduk lemas.
“Ja!”
“Huaa … lain kali kalau melamarku di darat saja,” kataku sambil menangis. “Lebih baik di taman lalulintas saja sambil naik kereta api mini atau naik kuda-kudaan,” lanjutku sambil menatapnya yang terdiam menatapku beberapa saat sebelum tertawa kemudian memelukku erat.
“Hahaha, dasar bayi,” ucap Mas Juna sambil terus memelukku yang terisak.
Entah alasan apa yang sebenarnya membuatku menangis, rasa takut atau terharu karena lamaran tiba-tiba dan tidak disangka-sangka dari pria yang kini menjadi tunanganku? Entahlah, tapi yang pasti aku tak akan melupakan hari ini dalam hidupku.
*****
“Masih kaget?” tanya Mas Juna sambil tersenyum menatapku yang duduk di hadapannya, saat ini kami tengah duduk beristirahat di sebuah cafe yang berada di kawasan puncak gantole. Aku hanya menghela napas berat membuatnya tertawa sambil mengacak-acak rambut.
“Jadi karena ini Mas Juna memaksaku untuk terbang?”
Dia tersenyum sambil menyeruput kopi hitamnya dan duduk bersadar dengan santai.
“Iya, kalau kamu sampai menolak untuk terbang, semua rencana bakal gagal total.”
Aku berdecak sambil mendelik padanya membuatku mendengus tertawa.
“Kapan Mas Juna merencanakan ini semua?”
“Hmm … beberapa hari terakhir ini ketika kamu kuliah, aku survey beberapa tempat dan ini adalah tempat paling pas selain taman lalulintas, hehehe.”
“Apa tidak ada tempat seperti puncak bintang yang romantis dimana Papah melamar Mamah? Kenapa harus cara ekstrim seperti ini?”
“Hahaha, yang romantis mah biasa, yang ekstrim baru luar biasa.” Dia tertawa membuatku cemberut mendengar alasan tak masuk akalnya itu.
Setelah aku tenang Mas Juna kembali mengajakku berjalan menyusuri hutan pinus yang ada di sekitaran sana, melewati jembatan bambu untuk menikmati kesegaran udara khas pegunungan. Bandung memang tak sedingin dulu tapi percayalah Bandung masih memiliki udara yang sejuk apalagi di tempat-tempat atas seperti ini.
Mas Juna beberapa kali menyimpan momen itu di dalam kameranya, baik aku sendiri sebagai modelnya atau kami berdua, kadang aku yang gantian memotretnya. Berjalan dengannya yang merangkulku adalah hal yang biasa karena dari dulu dia sering melakukan itu ketika kami bersama yang lainnya pergi jalan-jalan.
Tapi pergi berdua dengannya ke tempat-tempat seperti ini adalah pengalaman pertama kami, dan aku merasa sedikit aneh, sedikit berbeda apalagi setelah kejadian dia melamarku tadi. Aku tak tahu apa yang akan kurasakan kalau dia menggenggam tanganku seperti pasangan lainnya? Apa aku akan merasakan debaran seperti saat berpegangan tangan Dion? Aku ingin tahu jawabannya, tapi masa aku yang harus menggenggam tangannya terlebih dahulu? Kan aneh.
“Apa yang kamu pikirkan?”
Aku menatap Mas Juna tersadar dari lamunan tentang … kami yang berpegangan tangan? Iiihhh, kenapa aku bisa berkhayal sampai sana?
“Tidak ada,” jawabku sambil terus berjalan menyusuri hutan pinus.
“Kalau tidak ada kenapa pipimu memerah seperti itu?”
“I-ini karena aku lelah.”
“Kamu tidak sedang berpikir tentang ciuman pertamamukan?”
Aku terbelalak menatapnya yang kini tersenyum jahil.
“Tidak! Enak saja.”
“Hahaha.”
Dia melangkah membuat jarak kami semakin dekat kemudian membungkuk hingga wajah kami sejajar dan begitu dekat membuat mataku semakin membulat menatapnya, aku bahkan menahan napasku karena merasa tegang.
“Jangan takut,” bisiknya membuat jantungku mulai berdetak mengila. “Aku cukup sering berlatih selama ini, jadi nanti kalau saatnya tiba aku akan memberikan ciuman pertama yang tak mungkin bisa kamu lupakan.”
Aku menganga dengan mata membulat menatapnya tak percaya dengan apa yang dia katakan sambil tersenyum jahil membuatku langsung berteriak sambil menutup kuping.
“Aaarrghhh! Mas Juna nyebelin!” Ku dorong tubuhnya yang hanya tertawa terbahak-bahak melihat reaksiku yang kini berjalan dengan cepat meninggalkannya.
“Dasar bayi,” ucapnya di antara tawa, “Bayi! Mau kemana? Tunggu aku!” serunya yang tak ku hiraukan dan terus saja berjalan dengna cepat meninggalkannya.
Aaarrggghhh! Kenapa dia berkata seperti itu? Aku mengipas-ngipas wajahku yang terasa panas karena ucapannya tadi.
****
Senang aku bisa jumoa dgn karysmu
susah bacanya gak enak
padahal bisa lebih disederhanakan minta apa tp antara gengsi sama minta suami peka🤣🤣🤣
gustiiii 5x sehari bisa2 senja g kuat turun tangga sekedar ambil makan
kan pagi pertama juga boleh