Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Kaisar = Lin fan
Rasa sakit itu bukan seperti tusukan pedang. Tusukan pedang itu tajam, cepat, dan seringkali membawa kematian yang mulia. Rasa sakit yang kini menyelimuti setiap inci tubuhnya lebih mirip seperti ribuan semut api yang merayap di dalam sumsum tulang, menggerogoti saraf-sarafnya dengan perlahan dan kejam. Itu adalah rasa sakit dari kehancuran total, dari sebuah wadah yang terlalu rapuh untuk menampung jiwa yang terlalu agung.
Lin Fan membuka matanya.
Yang ia lihat bukanlah kubah istana Surga Nether yang dihiasi oleh bintang-bintang hidup, melainkan langit-langit kayu yang berlubang-lubang, ditumbuhi jamur hitam, dan bocor di beberapa titik sehingga air hujan yang gerimis masih bisa menetes masuk, menciptakan genangan kecil di lantai tanah yang becek. Bau apek, campuran antara kotoran tikus, obat herbal murahan, dan kelembapan abadi, menyerbu indra penciumannya yang biasanya hanya terbiasa dengan aroma dupa suci dan darah musuh.
"Aku... masih hidup?"
Suara itu keluar dari tenggorokannya, serak dan lemah, seperti gesekan dua batu kering. Lin Fan mencoba mengangkat tangannya. Ia mengharapkan melihat tangan kanan yang perkasa, tangan yang pernah memegang Pedang Pemutus Takdir dan menghancurkan galaksi dengan satu ayunan. Namun, yang ia lihat adalah tangan kecil, kurus, pucat, dan penuh dengan memar biru kehitaman. Jari-jarinya gemetar tak terkendali.
"Ini bukan tubuhku"
Sekilas ingatan yang bukan miliknya menyerbu otaknya seperti banjir bandang yang memecahkan bendungan. Nama pemilik tubuh ini adalah Lin Fan. Usia lima belas tahun. Anak bungsu dari Klan Lin, salah satu klan kelas bawah di Kota Qingyun, Benua Awan Biru. Seorang pemuda yang dijuluki "Sampah Klan" karena meridiannya tersumbat sejak lahir, membuatnya tidak mampu menyerap energi spiritual seumur hidupnya. Tiga hari yang lalu, ia dipukuli habis-habisan oleh preman bayaran dari Klan Zhao—rival bisnis ayahnya hanya karena ia berani menolak lamaran paksa terhadap tunangannya, seorang gadis dari keluarga pedagang kaya.
Lin Fan—jiwa dari Kaisar Xuan Wu, Penguasa Seratus Ribu Dunia yang telah menghembuskan napas terakhirnya di Pertempuran Akhir Zaman—menarik napas panjang. Napas itu tersendat, menunjukkan betapa rusaknya paru-paru muda ini. Namun, di balik mata hitamnya yang tadinya kosong dan penuh ketakutan, kini muncul kilatan dingin yang tajam, dalam, dan tak terbaca. Kilatan mata seorang predator puncak yang baru saja terbangun dari tidur panjang.
"Ternyata," gumamnya dalam hati, suaranya bergema di kedalaman jiwanya yang luas. "Langit belum ingin menghabisiku sepenuhnya. Ia memberiku kesempatan kedua di dunia rendah ini."
Ia menutup mata lagi, bukan karena lelah, tapi untuk melakukan inspeksi internal. Sebagai mantan penguasa yang memahami hukum alam semesta hingga ke tingkat partikel terkecil, ia tahu bahwa tubuh hanyalah kendaraan. Dan kendaraan saat ini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Meridian Utama tersumbat 90% oleh residu racun masa kecil.
Dantian (pusat energi) kosong dan retak.
Tulang-tulang rapuh karena kekurangan nutrisi spiritual.
Jiwa... ah, jiwanya masih utuh.
Itulah satu-satunya keberuntungannya. Jiwa Kaisar Xuan Wu tidak hancur bersama ledakan Bintang Inti. Ia terjebak dalam siklus reinkarnasi acak dan mendarat di tubuh remaja malang ini. Di dunia kultivasi, jiwa adalah segalanya. Selama jiwanya kuat, ia bisa memperbaiki apa pun.
Tiba-tiba, pintu kayu reyot di depannya terbuka dengan kasar. Engselnya berderit nyaring, seolah protes terhadap perlakuan kasar itu. Seorang wanita paruh baya masuk, membawa mangkuk keramik retak yang berisi cairan hitam pekat. Wajahnya dipenuhi kerutan kelelahan, matanya bengkak karena sering menangis, dan pakaiannya adalah kain goni yang sudah ditambal di sana-sini.
Ingatan tubuh ini memberi tahu Lin Fan bahwa ini adalah ibunya, Nyonya Li. Wanita yang selama lima belas tahun terakhir menjadi satu-satunya perisai baginya dari ejekan dan penghinaan kerabat klan. Wanita yang rela menjual satu-satunya sapi mereka demi membeli obat-obatan murah yang sebenarnya hampir tidak berguna.
"Fan'er! Kau sudah sadar!" seru Nyonya Li, suaranya bergetar campur haru.
Ia segera meletakkan mangkuk di meja kayu yang goyah dan bergegas mendekat, tangannya yang kasar namun hangat menyentuh dahi Lin Fan.
"Syukur lah... Ibu kira kau tidak akan selamat. Demammu sangat tinggi tadi malam."
Lin Fan menatap wanita itu. Selama puluhan ribu tahun sebagai Kaisar yang dingin dan tak tersentuh, ia lupa bagaimana rasanya memiliki seseorang yang peduli padanya tanpa pamrih, tanpa takut akan kekuasaannya, dan tanpa mengharapkan imbalan. Ada rasa hangat yang asing mengalir di dadanya, sesuatu yang lebih kuat daripada aliran Qi mana pun.
"Ibu..." kata Lin Fan.
Suaranya masih lemah, namun nadanya berbeda. Tidak ada lagi keluhan, tidak ada lagi rasa takut. Hanya ketenangan datar yang membuat Nyonya Li sedikit terperangah.
"Minumlah, Nak," kata Nyonya Li
sambil menyuapkan sendok demi sendok cairan pahit itu.
"Ini obat pereda nyeri dari Tabib Wang. Katanya ini bisa meredakan sakit dalammu."
Lin Fan menelan obat itu tanpa protes. Ia tahu persis isi obat itu: Akar Ginseng liar kualitas rendah, dicampur dengan daun mint biasa dan sedikit arang aktif. Obat ini mungkin bisa meredakan nyeri permukaan, tapi sama sekali tidak menyentuh akar masalah, bahkan residunya bisa memperparah penyumbatan meridiannya dalam jangka panjang. Tapi ia tidak akan menolak kasih sayang ibunya.
Setelah menghabiskan isi mangkuk, Nyonya Li membersihkan sudut mulutnya dengan kain lap. Wajahnya terlihat cemas.
"Besok... besok Ibu akan pergi menemui Kepala Klan. Mungkin jika kita memohon dengan baik, mereka akan memberi kita bantuan dana pengobatan. Atau setidaknya, mereka tidak akan mengusir kita dari asrama klan."
Lin Fan menggeleng pelan. Gerakan itu membuatnya pusing, tapi ia memaksanya tetap fokus.
"enggak perlu, Bu. Aku bisa sembuh sendiri."
Nyonya Li tertawa sedih, mengira anaknya mengigau karena sisa demam.
"Sabar ya, Fan'er"
"Jangan terlalu banyak berpikir"
"Istirahatlah dengan benar"
"Dunia ini keras bagi orang seperti kita, tapi kita harus bertahan."
Ketika ibunya keluar dan menutup pintu, meninggalkan Lin Fan sendirian dalam kegelapan gubuk yang pengap, senyuman tipis terukir di bibirnya. Senyuman yang tidak mengandung kebahagiaan, melainkan determinasi besi.
"Dunia ini keras bagi orang sepertimu, Ibu," bisik Lin Fan pada keheningan.
"Tapi bagiku? Ini hanyalah taman bermain yang terlalu kecil."
Ia duduk bersila di atas tikar jerami yang kasar. Posisinya tidak sempurna, tulang belakangnya sakit, tapi ia mengabaikannya. Ia tidak mencoba menarik Qi dari luar seperti praktisi biasa di dunia ini. Udara di Kota Qingyun terlalu kotor, terlalu tipis. Menarik Qi sekarang sama dengan minum air lumpur saat sedang haus; itu akan membunuhnya lebih cepat.
Sebaliknya, ia mengarahkan kesadarannya ke dalam, ke kedalaman jiwanya yang luas dan tak terbatas. Ia mengingat sebuah teknik terlarang dari masa lalunya, sebuah teknik yang dianggap bunuh diri oleh para dewa di era kuno: Sutra Nafas Chaos Primordial.
Teknik ini tidak membutuhkan meridian yang bersih. Ia justru memakan kekacauan, rasa sakit, dan racun di dalam tubuh, lalu mengubahnya menjadi energi murni melalui proses pemurnian jiwa yang ekstrem. Hanya mereka yang memiliki jiwa sekuat baja—seperti jiwanya saat ini—yang bisa bertahan dari siksaan prosesnya. Bagi orang biasa, teknik ini akan melelehkan otak mereka. Bagi Lin Fan, ini adalah sarapan pagi.
"Jika aku ingin kembali ke puncak," gumamnya,
matanya tertutup rapat sementara keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Jika aku ingin mengetahui siapa yang mengkhianatiku di kehidupan sebelumnya..."
"jika aku ingin melindungi wanita tua yang baru saja memanggilku 'anak'... aku harus mulai dari sini. Dari nol."
Perlahan, udara di sekitar gubuk reyot itu mulai bergetar. Debu-debu di lantai mulai melayang aneh, membentuk pola pusaran kecil yang tak terlihat oleh mata telanjang. Dan di dalam tubuh Lin Fan, di pusat perutnya yang retak, sebuah pusaran hitam kecil mulai terbentuk. Ia menelan rasa sakitnya, menelan penghinaannya, dan menelan kemiskinannya, mengubah semuanya menjadi bahan bakar.
Benih kekuatan pertama Sang Kaisar telah ditanam di tanah yang paling tandus. Dan dari tanah tandus inilah, pohon yang akan menaungi seratus ribu dunia akan mulai tumbuh.
Perjalanan itu telah dimulai.