"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Kutub di Pabelan
Matahari bulan Agustus di atas langit Surakarta tidak pernah punya belas kasihan. Panasnya memanggang aspal kampus Universitas Pembangunan Surakarta (UPS) di daerah Pabelan hingga menciptakan fatamorgana tipis di atas jalanan. Namun, bagi Lyana Ayunindya, hawa panas di luar sana masih belum seberapa dibandingkan dengan suhu yang mendidih di dalam kepalanya saat ini.
Di dalam ruang Sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang hanya berukuran enam kali enam meter, Lyana duduk kaku di balik meja kayu tua yang sudutnya sudah terkelupas. Kipas angin yang menempel di dinding berputar pelan dengan bunyi berderit, sama sekali tidak membantu mengusir pengap yang bercampur dengan bau debu, tumpukan kertas hvs, dan sisa kardus makanan.
Jari-jari Lyana yang lentik bergerak cepat dan presisi di atas keyboard laptopnya, memindahkan angka-angka dari tumpukan kuitansi fisik ke dalam tabel spreadsheet yang rumit. Garis rahangnya mengeras. Matanya yang tajam meneliti setiap tanggal, nominal, dan—yang paling penting—kehadiran stempel basah di atas meterai.
"Lyan, kowe nggak pusing ta dari jam sepuluh pagi plototin angka terus? Ini udah jam dua siang, lho. Nggak mau makan dulu?" suara Nisa, staf Kementerian Keuangan BEM sekaligus teman sekelasnya, memecah kesunyian. Nisa sedang mengipas-ngipas lehernya dengan map proposal plastik.
Lyana tidak mengalihkan pandangannya dari layar. "Nggak bisa, Nis. SPJ (Surat Pertanggungjawaban) untuk acara penyambutan mahasiswa baru ini harus masuk meja dekanat besok pagi. Kalau telat satu hari saja, dana termin kedua buat bulan depan bakal ditahan sama Biro Keuangan Kampus."
"Iya, tapi kan nggak harus se-stres ini," keluh Nisa, menarik kursi plastik dan duduk di depan Lyana. "Lagian, ini kan Rapat Kabinet perdana kita. Undangannya jam satu siang, ini udah jam dua lebih seperempat, batang hidung Presiden BEM kita yang terhormat itu belum kelihatan juga."
Mendengar gelar itu disebut, pergerakan jari Lyana seketika terhenti. Ia menarik napas panjang, menekan rasa kesal yang sudah mengendap sejak masa kampanye pemilihan ketua BEM beberapa bulan lalu.
"Dia itu memang nggak punya konsep menghargai waktu, Nis," jawab Lyana dingin. Ia merapikan tumpukan kuitansi itu dengan satu ketukan tegas di atas meja. "Aku bingung, kenapa ribuan mahasiswa di kampus ini bisa-bisanya memilih orang serampangan kayak dia buat jadi wajah organisasi."
Nisa terkekeh pelan, menopang dagunya. "Ya ampun, Lyan. Kowe ki kayak nggak tahu aja pesonanya Mas Rumi. Dia itu anak Hukum, pinter ngomong, gantengnya nggak ada obat, tajir melintir, dan yang paling bikin anak-anak klepek-klepek... dia itu rebel. Kemarin aja dia berani debat terbuka sama WR 3 soal transparansi dana UKT. Mana ada ketua BEM zaman sekarang yang seberani itu?"
"Berani sama cari mati itu beda tipis," cibir Lyana. "Dia bisa santai begitu karena dia punya privilege. Dia anak konglomerat. Kalau dia di-DO (Drop Out) dari kampus ini besok, bapaknya tinggal mindahin dia ke kampus swasta elite atau kirim dia ke luar negeri. Lah, kita? Salah ketik nominal di SPJ aja, beasiswa kita bisa melayang."
Bagi Lyana, hidup adalah deretan angka yang harus seimbang. Ia masuk ke universitas ini melalui jalur beasiswa penuh, dan untuk mempertahankan beasiswa itu, ia tidak boleh membuat satu pun kesalahan akademis maupun administratif. Ia menerima tawaran menjadi Bendahara Umum BEM bukan karena ia gila jabatan atau ingin mencari popularitas, melainkan karena ini adalah salah satu syarat pengabdian untuk mempertahankan beasiswanya. Di luar jadwal kuliah dan mengurus uang kas kampus, Lyana harus bekerja paruh waktu sebagai kasir di Drip & Draft, sebuah kedai kopi di Manahan, demi mengirimkan uang bulanan untuk ibunya di kampung.
Hidup Lyana sudah terlalu penuh dengan jadwal yang kaku dan aturan yang ketat. Itulah mengapa, ia sangat anti dengan segala hal yang berbau "serampangan" dan "tidak terprediksi".
Dan sayangnya, Arshaka Rumi Wiraguna adalah manifestasi dari kedua hal tersebut.
Tiba-tiba, suara tawa riuh dan langkah kaki berat terdengar dari lorong luar sekretariat. Pintu ruangan yang setengah terbuka didorong makin lebar.
Atmosfer ruangan seketika berubah saat Rumi melangkah masuk.
Presiden BEM itu sama sekali tidak terlihat seperti mahasiswa yang akan memimpin rapat formal. Rumi mengenakan kaus band warna hitam yang lengannya digulung hingga memperlihatkan otot lengannya, dipadukan dengan celana jeans pudar yang robek di bagian lutut. Rambut ikalnya yang sedikit gondrong tampak berantakan, seolah ia baru saja bangun tidur atau baru selesai berkendara dengan motor gede tanpa helm. Sepatu bot kulitnya meninggalkan jejak debu tipis di lantai sekretariat.
Di belakangnya, mengekor dua orang mahasiswa dari Fakultas Seni Rupa dan Fakultas Teknik yang sama sekali bukan pengurus BEM. Mereka masih asyik menertawakan entah apa dalam bahasa Jawa ngoko yang kental.
"Sumpah, edan tenan kowe, Rum! Masa ban motor bocor malah ditinggal di pinggir jalan, terus kowe milih nebeng truk material? Nggak waras!" seru salah satu anak Teknik sambil tertawa terbahak-bahak.
Rumi ikut tertawa lepas, memamerkan deretan giginya yang rapi. Tawa baritonnya terdengar sangat dominan. "Lha piye meneh? Rapat kabinetku jam satu, bengkelnya baru buka jam tiga. Daripada telat, mending aku lompat naik truk. Udah sana, kalian balik ke fakultas. Matur suwun rokoknya."
Rumi menepuk bahu kedua temannya itu sebelum mereka pergi. Setelah itu, ia berbalik, menatap belasan pasang mata pengurus BEM yang sudah duduk menunggu di sekeliling meja rapat dengan wajah lelah.
Senyum miring yang menjadi ciri khas laki-laki itu terbit. "Maaf, kawan-kawan. Ada insiden teknis di jalan. Ayo, kita mulai rapatnya."
Rumi berjalan santai menuju kursi utama di ujung meja. Di tangannya, ia membawa segelas es teh dalam kemasan plastik yang diikat karet gelang—pemandangan yang sangat kontras dengan statusnya sebagai anak dari keluarga Wiraguna Group yang kekayaannya bisa untuk membeli seluruh kantin kampus. Itulah hal lain yang membuat Lyana melabeli Rumi dengan julukan "Salah Gaul". Rumi punya uang untuk nongkrong di kafe bintang lima setiap hari, tapi ia lebih sering ditemukan merokok di warkop kumuh, bergaul dengan preman terminal, mahasiswa abadi, dan aktivis jalanan.
Lyana duduk tepat di sebelah kanan Rumi, posisi mutlak seorang Bendahara Umum. Saat Rumi mendaratkan tubuhnya di kursi, aroma maskulin yang aneh menguar darinya—campuran antara parfum amber yang mahal, bau matahari, dan aroma teh melati.
"Oke," Rumi menepuk tangannya sekali, menatap Dito sang Sekretaris Umum. "Dit, bacakan agenda hari ini. Singkat, padat, dan nggak usah pakai bahasa dewa."
Rapat berjalan. Selama empat puluh menit pertama, semuanya masih dalam batas toleransi Lyana. Mereka membahas evaluasi acara penerimaan mahasiswa baru. Namun, ketenangan itu hancur saat mereka beralih ke agenda bulan September.
"Bulan depan, suhu politik bakal panas," ujar Rumi, tiba-tiba memotong pemaparan Menteri Kajian Strategis. Laki-laki itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua sikunya di atas meja. Raut wajahnya berubah drastis, dari yang tadinya santai dan cengengesan, kini menjadi sangat tajam dan serius. "DPR lagi ngebut ngebahas RKUHP dan revisi UU KPK. Kalau kita diam saja, kita sama saja melegitimasi pembodohan. BEM UPS nggak akan diam."
Ruangan menjadi hening. Mahasiswa lain saling pandang, mulai merasakan aura kepemimpinan Rumi yang selalu berhasil menyihir siapa pun yang mendengarnya.
"Aku mau kita adakan konsolidasi akbar minggu depan. Undang seluruh elemen mahasiswa, dari HIMA sampai UKM. Kita sewa sound system besar, bikin panggung bebas di pelataran rektorat. Siapkan logistik untuk minimal seribu massa," lanjut Rumi, suaranya mantap tanpa keraguan.
Lyana refleks menegakkan tubuhnya. Punggungnya kaku. "Tunggu dulu, Mas Rumi," potong Lyana. Suaranya terdengar jernih dan menembus heningnya ruangan, menghentikan euforia revolusi yang baru saja mulai terbangun.
Semua mata kini tertuju pada sang Bendahara, termasuk mata gelap Rumi.
"Ada masalah, Mbak Lyan?" tanya Rumi. Ia menyandarkan punggungnya kembali, memiringkan kepalanya sedikit untuk menatap Lyana. Pemanggilan 'Mbak Lyan' dari mulut Rumi selalu terdengar setengah formal dan setengah meledek.
Lyana tidak terpancing. Ia membalas tatapan itu dengan wajah pualam tanpa ekspresi. "Ada banyak masalah, Mas. Pertama, konsolidasi akbar dengan sound system dan logistik untuk seribu orang itu butuh biaya yang tidak sedikit. Kedua, agenda itu tidak ada dalam Rencana Anggaran Belanja (RAB) semester ini yang sudah disahkan dekanat."
"Birokrasi itu fleksibel, Lyan," jawab Rumi enteng, seolah itu adalah hal termudah di dunia. "Kita pakai Dana Taktis. Atau kita alihkan dana dari proker seminar kewirausahaan yang bulan depan."
Lyana nyaris mendengus mendengarnya. "Dana Taktis kita sisa dua juta rupiah, Mas Rumi. Uang segitu cuma cukup buat beli air mineral cup, boro-boro nyewa sound system besar. Dan soal mengalihkan dana proker? Itu namanya penyelewengan anggaran. Rektorat tidak akan menyetujui pemindahan dana tanpa proposal revisi yang memakan waktu minimal tiga minggu!"
"Lyan," Rumi memanggil nama itu tanpa gelar kali ini, nadanya lebih rendah. "Keadaan di luar sana itu urgent. Aturan hukum lagi diacak-acak, masa depan kita lagi digadaikan sama elit politik. Kita nggak punya waktu tiga minggu buat nunggu bapak-bapak di dekanat itu corat-coret proposal pakai tinta merah."
"Lalu Mas Rumi mau pakai uang dari mana? Cetak sendiri?" Lyana menaikkan dagunya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, namun ia tidak akan mundur. Seseorang harus memastikan organisasi ini tetap berjalan dengan logika yang waras. "BEM ini organisasi resmi, Mas. Bukan komunitas tongkrongan jalanan yang kalau mau bikin acara tinggal patungan sambil nongkrong di warkop. Semua ada pertanggungjawabannya. Kalau Mas Rumi nekat menggelar acara tanpa kejelasan dana dan membuat laporan keuangan kita jebol, rektorat punya alasan kuat untuk membekukan organisasi ini sepenuhnya."
Keheningan yang mencekam memenuhi ruangan. Staf BEM yang lain hanya bisa menelan ludah, tidak berani ikut campur saat dua kutub yang paling berlawanan di kabinet ini sedang berbenturan. Lyana dengan rasionalitas dan aturannya, berhadapan dengan Rumi dengan idealisme dan arogansinya.
Rumi menatap Lyana lekat-lekat. Tidak ada kilat kemarahan di matanya, yang ada justru sebuah rasa ketertarikan yang tidak bisa ia sembunyikan. Di kampus ini, dari dosen sampai teman-teman tongkrongannya, semua orang biasanya akan langsung menuruti atau segan terhadap apa pun yang ia katakan. Namun gadis di sebelahnya ini—dengan kemeja flanel kotak-kotak yang rapi, rambut hitam yang diikat kuda yang ketat, dan sorot mata sedingin es—berdiri tak tergoyahkan.
Rumi tersenyum tipis. Sangat tipis. Ia menggeser es teh plastiknya ke tengah meja.
"Baiklah, Bendahara," ucap Rumi akhirnya, mengembalikan batas formalitas di antara mereka. "Kalau Mbak Lyana tidak mau menggunakan kas BEM, tidak masalah. Biar urusan pendanaan konsolidasi jadi urusanku. Aku yang bakal cari celahnya. Kamu cukup fokus bikin laporan SPJ-mu yang suci itu selesai tepat waktu tanpa kurang satu stempel pun. Setuju?"
Itu bukan tawaran. Itu adalah sebuah pernyataan mutlak dari sang Presiden BEM. Rumi baru saja menggunakan hak prerogatifnya, dan Lyana membenci kenyataan bahwa ia tidak bisa membantah hal itu secara institusional.
"Silakan, Mas Rumi," jawab Lyana tajam, kembali menatap layar laptopnya, memutuskan kontak mata mereka. "Asal sepeser pun uang pribadi Mas Rumi tidak masuk ke dalam pembukuan resmiku. Aku tidak mau diaudit karena menerima aliran dana tidak jelas."
Rumi terkekeh pelan. "Ternyata benar kata anak-anak. Kamu itu kaku banget, Lyan. Hati-hati, orang yang terlalu kaku itu biasanya paling gampang patah."
"Dan orang yang terlalu serampangan seperti Mas Rumi, biasanya paling cepat hancur," balas Lyana tanpa jeda, jarinya kembali mengetik angka-angka di keyboard.
Rapat kabinet perdana itu berakhir dua jam kemudian dengan ketegangan yang masih menggantung pekat di udara. Lyana tahu, bulan-bulan ke depannya di BEM tidak akan berjalan mudah. Bekerja sama dengan Arshaka Rumi Wiraguna rasanya seperti mencoba menjinakkan api dengan secarik kertas—ia harus bersiap-siap untuk terbakar habis jika tidak berhati-hati.