SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 DI BONCENG NAIK SEPEDA
"Waaah... Nama kamu juga bagus banget Salsa..." ucap Gendis, masih dengan perasaan terharu dan bahagia.
"Aaah... Kamu bisa ajaaa... Hahahaha..." respon Salsa sambil tertawa dengan perasaan bahagia juga.
"Oh iya, orang tua kamu di mana? Lagi sibuk mindahin barang ya?" tanya Salsa.
"Iya... Lagi mindahin barang-barang..." jawab Gendis.
"Oooh... Tunggu sebentar ya Gendis. Jangan kemana-mana!" kata Salsa.
Salsa langsung melepas dua tangannya dari tangan kanan Gendis...
Terdengar suara kaki Salsa yang berlari menjauh...
Dan itu membuat Gendis bertanya-tanya bingung...
"Lo-loh? Kamu mau kemanaaa?" teriak Gendis.
"Jangan kemana-mana duluuu!" teriak Salsa dengan suaranya makin menjauh.
Mau tak mau, Gendis pun akhirnya menuruti perkataan Salsa. Dia tetap berdiri di sisi dalam pagar, tak bergeser sedikitpun kakinya.
Dalam hatinya, Gendis bingung, kenapa tiba-tiba Salsa berlari menjauh?
Tanpa bisa Gendis lihat...
Ternyata Salsa itu berlari masuk ke area depan rumah baru keluarga Gendis...
Dan di kejauhan Salsa terlihat berkenalan dengan kedua orang tua Gendis...
Entah apa yang diobrolkan oleh Salsa pada kedua orang tua Gendis...
Tapi, terlihat orang tua Gendis seperti menerima kehadiran Salsa sebagai teman baru anak mereka...
Dan tak lama, Salsa pun berlari menuju halaman, menghampiri Gendis yang masih berdiri menunggunya...
"Gendiiis... Aku barusan kenalan loh sama orang tua kamu!" kata Salsa saat sudah di depan Gendis.
"Hah? Kamu kenalan sama orang tuaku?"
"Iyaaa... Terus, aku juga bilang sama Bapak Ibumu, mau ajak kamu main sepeda sebentar!" ucap Salsa dengan semangat.
"Haaah??? Ma-main sepedaaa???"
"He-em! Ayo main sepeda sama aku Gendis!"
"Lo-loh... Aku gak pernah main sepeda Salsa..." jawab Gendis sedikit ragu untuk menerima tawaran teman barunya itu.
"Udah, gak apa-apa... Aku boncengin kamu ya..." kata Salsa.
Secara spontan, Gendis terkejut saat tangan kanannya ditarik Salsa untuk mengikutinya.
"Aduh, pelan-pelan Salsaaa..." kata Gendis sambil sedikit tersandung.
"Eh, aduh, maaf Gendis, maaf... Hehehe... Ayo jalan pelan-pelan sama aku..."
Akhirnya Salsa menuntun tangan Gendis, berjalan keluar pagar rumah, dan segera mendekat ke sepeda milik Salsa di sisi luar pagar.
Salsa pun naik ke sepeda, duduk di jok depan...
"Ayo naik Gendis, aku bonceng..." kata Salsa sambil menoleh ke belakang.
"A-ah... Aku... Ta-takut Salsa..."
"Loh? Kenapa takut? Ayo naik, gak apa-apa kok, aku bawa sepedanya pelan-pelan..." ucap Salsa meyakinkan Gendis.
"A-ah... Ta-tapi..." suara Gendis masih agak ragu.
"Ya udah, ayo sini aku bantuin kamu naik."
Salsa pun sedikit memundurkan sepedanya agar Gendis bisa naik lebih mudah.
"Ayo Gendis, naik, pegangan sama aku!"
Dengan perlahan, tangan Gendis pun meraba jok belakang...
"Nah, iya... Pelan-pelan naiknya ya Gendis..." kata Salsa sambil memegangi tangan Gendis yang mulai naik.
"Naaah... Coba duduknya yang bener..." kata Salsa, memastikan teman barunya itu nyaman duduk di jok belakang sepedanya.
"Oh iya, tongkatmu dilipat dulu, biar gak kena mataku, hahaha..."
"Eh, iya... Hehehe..."
Gendis pun melipat tongkatnya...
"Nah, sekarang pegangan sama aku ya Gendis..."
Gendis pun mulai memeluk pinggang Salsa dari belakang...
"Udah siap?" tanya Salsa.
"I-iya Salsa... Tapi pelan-pelan ya bawanya... Aku takut jatoh..." jawab Gendis.
"Hahahahaha... Tenang aja Gendiiis..." respon Salsa.
Dan...
Dengan perlahan...
Salsa mulai menggowes sepedanya...
.....
.....
.....
Terlihat wajah Gendis dan Salsa terkena sinar matahari yang menembus dedaunan pohon di sisi kanan kiri jalan aspal yang cukup sepi itu...
Terasa semilir angin menerpa wajah mereka...
Rambut Salsa dan Gendis yang sama-sama hitam panjang sedikit terbang tertiup angin...
Salsa terlihat sangat senang meskipun ia tak bicara...
Begitu pun dengan Gendis...
Wajahnya terlihat bahagia...
Sungguh, sebuah pemandangan perkenalan antara dua teman yang sangat hangat dan membahagiakan...
😆😆 lanjut kak👍👍👍