Satu lembar uang sepuluh ribu rupiah terakhir di dompet Satria sudah berubah bentuk menjadi gumpalan lecek.
Di depannya, layar mesin ATM berkedip-kedip, menampilkan menu penarikan tunai yang terasa mengejek.
Satria menghela napas berat. Ia menekan tombol "Informasi Saldo". Dia sudah tahu angkanya akan mengenaskan, tapi dia tetap perlu melihatnya untuk memastikan seberapa jauh dia harus menahan lapar minggu ini.
Layar berganti. Angka yang muncul membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
SALDO REKENING ANDA:
Rp 270
Bukan 270 ribu. Bukan pula 270 juta. Hanya dua ratus tujuh puluh rupiah.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Sisa Waktu: 00:58:42
Target Pengeluaran: Rp 50.000.000,00
Status Saat Ini: Rp 0 / Rp 50.000.000,00
Peringatan: Kegagalan akan mengakibatkan sanksi 'Kemiskinan Absolut' (Saldo dipotong menjadi Rp 27).
“Lima puluh juta. Satu jam."
"Kepala bapak kau ambyar!” umpat Satria,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 21
Jarum jam digital di dinding utama Satria Corporation merayap pasti menuju angka 09.05 WIB.
Lima menit pertama sejak bursa dibuka, pergerakan saham PT Bumi Hijau (BUMI) tampak persis seperti skenario yang diprediksi oleh Wahyu.
Di layar komputernya, grafik berwarna hijau melonjak tajam, naik hampir 18% dalam hitungan ratusan detik.
Itu adalah hasil kerja dari mesin perdagangan otomatis milik Artha Kencana Asset Management yang sengaja melakukan transaksi antar-rekening mereka sendiri untuk menciptakan ilusi bahwa saham tersebut sedang diburu oleh pasar.
Masyarakat ritel dan investor amatir di luar sana, yang terpancing oleh kilatan warna hijau tersebut, mulai berbondong-bondong memasukkan uang tabungan mereka, ikut membeli di harga pucuk.
Di seberang sana, di dalam ruang eksekutif Gedung Artha Kencana, sang Manajer Investasi bertubuh tambun yang kemarin mengusir Wahyu sedang duduk di kursi kebesarannya sambil menghisap cerutu.
Ia tertawa terbahak-bahak menatap layar monitornya.
"Hahaha! Lihat tikus-tikus ritel itu! Mereka menelan umpannya bulat-bulat! Naikkan lagi sampai 22%, lalu di menit kesepuluh, kita dump seluruh dua puluh juta lot kita! Biarkan mereka semua bangkrut, yang penting kantong kita penuh lima ratus miliar!"
Namun, sang manajer tambun tidak pernah tahu, di lantai tertinggi Menara Cakrawala, seorang pemuda yang kemarin ia sebut sebagai *tikus sampah* sedang memegang tombol pemicu bom finansial terbesar abad ini.
"Pukul 09.05 WIB! Menit kelima, Bos!"
teriak Wahyu, suaranya bergetar hebat oleh adrenalin yang membakar dadanya.
"Bandar sudah mengeluarkan seluruh amunisi mereka untuk menggoreng harga ke titik tertinggi! Sekarang adalah titik balik likuiditas mereka!"
Satria yang sedang berdiri di belakang Wahyu, menaruh kembali gelas kopi sasetnya ke atas meja marmer hitam.
Ia melirik sekilas ke arah ponselnya yang masih tergeletak pasrah.
Sistem Total Kekayaan memunculkan satu teks hijau kecil yang berkedip santai:
[Amunisi Rp 500.000.000.000,00 Siap Dilepaskan. Tekan 'Enter' untuk membakar panggung.]
"Wahyu, eksekusi," perintah Satria, suaranya terdengar sangat tenang, dingin, dan penuh penekanan.
"Siap, Bos! Short squeeze massal... AKTIF!"
TAK!
Wahyu menghantam tombol Enter di papan ketiknya dengan kekuatan penuh.
Dalam satu milidetik, dana monster sebesar lima ratus miliar rupiah milik Satria Corporation melesat masuk ke dalam jaringan komputer Bursa Efek seperti tsunami yang menjebol tanggul.
Satria Corporation tidak membeli saham secara perlahan, melainkan langsung menyapu bersih seluruh antrean jual (ask) yang dipasang oleh Artha Kencana pada harga tertinggi.
Tidak hanya itu, Wahyu menggunakan algoritma pembatas untuk mengunci seluruh sisa lot beredar di pasar sekunder.
Dana lima ratus miliar itu bertindak sebagai dinding beton raksasa yang menahan pergerakan harga agar tidak bisa turun sepeser pun.
Di dalam ruang perdagangan Artha Kencana, tawa sang manajer tambun mendadak terhenti.
Cerutu di mulutnya jatuh begitu saja ke atas karpet mahal ketika melihat seluruh layar monitornya mendadak memancarkan warna merah peringatan.
"A-Apa yang terjadi?! Kenapa antrean jual kita habis dalam satu detik?! Siapa yang membeli sepuluh juta lot sekaligus?!"
pekik sang manajer, wajahnya instan memucat, keringat dingin sebesar biji jagung mulai bercucuran di dahinya.
"Pak! Gawat, Pak!"
teriak salah satu operator komputernya dengan suara histeris.
"Ada akun misterius bernama Satria Corporation yang memborong seluruh barang kita!"
"Mereka sengaja mengunci harga di titik teratas! Kita tidak bisa melakukan dumping karena setiap kali kita mencoba menjual, sistem mereka langsung menyerapnya dan menaikkan batas auto rejection atas!"
"Apa?! Satria Corporation?!"
"Siapa mereka?!"
raung sang manajer frustrasi.
Ia teringat pemuda bersarung yang kemarin berdiri di lobinya, namun otaknya menolak percaya bahwa pria bersandal jepit itu bisa menggerakkan dana setengah triliun rupiah dalam sekejap.
Di menit kesembilan, skema licik Artha Kencana hancur total.
Mereka yang berniat menjatuhkan harga untuk merampok uang investor ritel, kini justru terjebak di dalam perangkap mereka sendiri.
Karena harga dikunci di titik tertinggi oleh Wahyu, Artha Kencana terpaksa harus membeli kembali (buyback) saham-saham yang mereka pinjam dari sekuritas lain dengan harga yang luar biasa mahal demi menghindari penalti gagal serah dari bursa.
Likuiditas lima ratus miliar milik Artha Kencana tersedot habis masuk ke dalam pusaran pasar dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
"Pak... dana talangan kita habis... Kita... kita mengalami kerugian murni total... Kita bangkrut, Pak!"
lapor sang operator sebelum akhirnya tertunduk lemas di atas mejanya.
Sang manajer tambun jatuh terduduk di lantai, matanya kosong menatap layar yang menampilkan grafik saham BUMI yang tegak lurus ke atas laksana pedang yang menusuk jantung perusahaannya.
Sementara itu, di markas Satria Corporation, suasananya justru berbanding terbalik.
"BERHASIL! KITA MENANG MUTLAK, BOS!"
teriak Wahyu sambil melompat dari kursi kerjanya, mengangkat kedua tangannya ke udara dengan air mata kemenangan yang mengalir deras di pipinya.
"Artha Kencana resmi kolaps! Mereka menderita kerugian murni lima ratus miliar rupiah dalam waktu sembilan menit! Mereka hancur, Bos! Hancur seancur-ancurnya!"
Gege langsung ikut berteriak heboh, menari-nari absurd di tengah ruangan sambil mengibaskan jas hitam mahalnya.
"Hahaha! Mampus lu bandar bau kencur! Makanya jangan macam-macam sama tangan kanan gua dan Bos Satria! Nisa, lihat gak lu? Ini baru namanya pembantaian berkelas!"
Nisa tidak menyahut, namun sebuah senyuman puas terukir di wajah cantiknya. Ia dengan cekatan mencatat data penyelesaian transaksi pada tablet digitalnya.
"Bos Satria, perang saham selesai."
"Sesuai dengan instruksi awal Anda yang sangat dermawan,"
"seluruh profit bersih dari hasil kemenangan ini yang mencapai seratus dua puluh miliar rupiah tidak masuk ke rekening korporasi kita."
Nisa menatap Satria dengan pandangan yang luar biasa takjub dan penuh hormat.
"Dana profit tersebut baru saja dialihkan secara otomatis ke rekening lima puluh yayasan panti asuhan, panti jompo, dan didistribusikan dalam bentuk saldo bonus kepada dua ratus ribu pengemudi ojek online di seluruh Wilayah Negara Konoha Notifikasi massal sedang berjalan sekarang."
Ting!
Suara rahasia yang paling dinantikan Satria akhirnya menggema di dalam kepalanya, diiringi kilatan cahaya keemasan yang megah di layar ponselnya yang tersembunyi.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Misi Penghancuran Bandar Hitam: BERHASIL SEMPURNA (LEVEL LEGENDARIS).
Evaluasi: Membakar lima ratus miliar rupiah untuk menghancurkan musuh dalam 9 menit dan menyumbangkan seluruh profitnya untuk amal adalah bentuk pemborosan defensif paling mulia yang pernah tercatat di bursa saham (Sangat Brilian).
Dana Lima Ratus Miliar Resmi Diputihkan Sebagai Kerugian Operasional Korporat.
Hadiah Diaktifkan:
1. Status Hak Akses: 'Dewa Bursa Saham Tanpa Mahkota' (Aktif).
2. Level Sistem Ditingkatkan: Tahap Pengusaha Internasional (Terbuka).
Saldo Efektif Anda Saat Ini: Rp 2.514.550.270,00 (Tetap aman).
Satria mengembuskan napas panjang yang sangat lega, lalu berjalan mendekati Wahyu.
Ia menepuk pundak karyawan pertamanya itu dengan hangat.
"Kerja bagus, Wahyu. Hari ini lu sudah membuktikan kalau kejujuran dan bakat lu jauh lebih berharga daripada manipulasi mereka."
Wahyu membungkuk hormat sembilan puluh derajat, tubuhnya masih gemetar.
"Terima kasih, Bos Satria."
"Jika bukan karena modal misterius dan ritual sakral 'Sarung Keberuntungan' Anda tadi, saya tidak akan pernah bisa membalaskan dendam ini."
Gege berjalan mendekat, merangkul pundak Wahyu dengan gaya necisnya.
"Udah, Yu, jangan nangis lagi."
"Sekarang kita udah jadi pengusaha di jakarta. Bos, abis ini kita makan-makan mewah kan?"
Satria tertawa lepas, suaranya menggema di seluruh ruangan langit Satria Corporation.
"Jangankan makan mewah, Geg."
"Lu mau sewa satu restoran bintang lima beserta koki-kokinya buat masak di tempat jemuran ini juga bakal gua bayar!"
sahut Satria penuh kemenangan, siap membawa Satria Corporation melangkah ke panggung internasional yang jauh lebih gila dan menantang.