Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Cahaya matahari pagi mulai menerobos masuk melalui celah gorden ruang rawat rumah sakit, membiaskan semburat keemasan yang perlahan menggantikan atmosfer mencekam dan dingin pada malam sebelumnya.
Suara konstan dari mesin indikator jantung masih berbunyi teratur, menjadi satu-satunya ritme yang memecah keheningan.
Sari perlahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat.
Pandangannya samar dan buram untuk beberapa saat, sebelum akhirnya terfokus pada langit-langit ruangan yang berwarna putih pucat.
Kepalanya masih terasa sangat pening, berdenyut-denyut seperti dihantam benda tumpul.
Ia segera menyadari bahwa tempat ini asing—bukan kamar mewahnya di rumah Maheswara, dan jelas bukan pula kamar kontrakan sempit yang ia tinggali beberapa hari lalu.
Sari merasakan sesuatu yang mengganjal di hidungnya, sebuah kanula selang oksigen yang menyalurkan udara segar.
Saat mencoba menggerakkan lengan, rasa kaku dan linu langsung menjalar di punggung tangannya.
Ia menoleh pelan, mendapati seutas selang infus menancap kokoh di balik kulitnya yang pucat.
Pandangan Sari kemudian beralih ke samping ranjang.
Di sana, di atas sebuah kursi besi yang keras dan tidak nyaman, ia melihat Arka yang tertidur pulas dengan posisi kepala bersandar di tepi ranjang.
Pria itu masih mengenakan hoodie hitam yang kini tampak sangat kusut dan kotor oleh noda sisa pasar subuh kemarin.
Wajah tegap itu tampak begitu kuyu, menyiratkan kelelahan yang luar biasa seolah tidak tidur berhari-hari.
Gerakan kecil dari tubuh Sari dan suara lenguhan lirih yang keluar dari tenggorokannya yang kering seketika membuat Arka tersentak bangun.
Kesadaran pria itu langsung pulih sepenuhnya dalam hitungan detik.
Begitu sepasang matanya menangkap bahwa mata Sari telah terbuka dan menatapnya, gumpalan awan mendung dan lelah di wajah Arka langsung runtuh, berubah cerah seketika.
Arka langsung menggeser kursinya, mendekat ke tepi ranjang dengan mata yang berkaca-kaca menahan haru.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah, Mbak sudah bangun..." bisik Arka, suaranya bergetar hebat oleh rasa syukur yang membuncah dari dasar hatinya.
Ia mengulurkan tangan, hendak menyentuh kening Sari untuk memeriksa suhu tubuhnya yang kemarin malam sempat mengkhawatirkan.
Namun, Sari tidak menyambut hangat tatapan penuh kelegaan dari Arka.
Detik itu juga, seluruh ingatan tentang bentakan menggelegar, tuduhan keji, dan pengusiran brutal kemarin pagi langsung berputar kembali di kepala Sari seperti gulungan pita hitam yang menyakitkan.
Rasa perih di hatinya mendadak bangkit, jauh lebih menyiksa daripada rasa sakit akibat demam tifoid yang menyerang fisiknya.
Dengan sisa tenaga yang sangat minim, Sari dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah berlawanan, menghindari sentuhan tangan dan tatapan mata Arka.
Dengan suara yang terdengar serak, parau, dan lemah akibat tenggorokan yang kering—namun sarat akan penekanan yang begitu dingin—Sari berkata tanpa sudi menatap pria itu, "Aku mau pulang."
Melihat Sari yang memaksakan diri untuk bergerak dan hendak mengubah posisinya menjadi duduk, kepanikan menjalar di seluruh tubuh Arka.
Dengan gerakan refleks yang sangat hati-hati, ia mengulurkan kedua tangannya untuk menahan bahu Sari yang masih terasa hangat.
"Mbak, tolong jangan bangun dulu," pinta Arka dengan suara gemetar, menyiratkan kekhawatiran yang teramat sangat.
"Kata dokter, Mbak terkena tipes stadium lanjut dan kelelahan ekstrem. Kondisi Mbak sempat kritis semalam. Mbak harus istirahat di sini dulu sampai infusnya selesai."
Namun, Sari sama sekali tidak peduli dengan rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya, ataupun rasa pening yang membuat pandangannya berputar.
Jiwa independen dan harga diri seorang Sari Maheswara bangkit seutuhnya karena rasa kecewa yang sudah terlanjur mengkristal di dalam dada.
Ia menolak mentah-mentah untuk dikasihani oleh pria yang beberapa belas jam lalu telah membentak dan mengusirnya tanpa ampun.
Sari menepis pelan tangan Arka dari bahunya, lalu memotong ucapan pria itu dengan nada suara yang teramat dingin.
"Panggilkan dokter, aku mau rawat jalan saja."
Arka tertegun, lidahnya mendadak kelu. Sebelum ia sempat mencerna penolakan itu, Sari kembali melanjutkan kalimatnya, menusuk langsung ke titik terlemah harga diri Arka.
"Dan berapa uang yang sudah kamu habiskan di rumah sakit ini? Katakan saja jumlahnya, akan aku ganti sekarang juga."
Sari memutar kepalanya, memaksa sepasang matanya yang sayu untuk menatap langsung ke dalam manik mata Arka.
Dengan sorot mata yang tampak begitu hampa, kosong, dan tanpa emosi, ia berbisik, "Aku tidak mau merepotkan kamu lagi."
Deg.
Arka merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak.
Ia terkejut dan merasa sangat tertampar oleh ucapan yang baru saja keluar dari bibir pucat Sari.
Kalimat tentang "mengganti uang" dan "tidak mau merepotkan" adalah bukti nyata yang paling menyakitkan bagi Arka.
Sari sedang membangun kembali tembok pemisah yang tinggi di antara mereka.
Tembok tebal yang selama beberapa hari ini sempat runtuh karena kehangatan di dapur kontrakan dan tawa sederhana di atas motor tua. Kini, dengan beberapa patah kata, Sari menegaskan kembali jarak yang membentang lebar: hubungan antara seorang CEO kaya raya pemilik Maheswara Group, dan seorang pria miskin yang hanya berprofesi sebagai tukang kue biasa.
Sari mengembalikan segalanya pada urusan transaksional, cara khas orang kota yang dulu paling dibenci Arka, namun kini cara itulah yang digunakan Sari untuk menghukum kebodohannya.
Suasana di dalam kamar rawat intensif itu seketika membeku, jauh lebih dingin daripada embusan angin AC di atas mereka.
Arka terdiam seribu bahasa, menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan tangan yang mengepal di atas lutut.
Di tengah keheningan yang menyiksa itu, Arka akhirnya menyadari satu hal dengan sangat jelas: mengobati luka dan mengembalikan kepercayaan di hati Sari akan jauh lebih sulit dan berdarah-darah, daripada menurunkan demam tinggi yang menyerang wanita itu semalam.
"Kang Asep sudah menceritakan semuanya, Mbak..." suara Arka memecah keheningan dengan nada bergetar, sarat akan penyesalan yang mendalam.
Ia mendongak, menatap Sari dengan mata yang memerah.
"Baron yang mengambil uang dagangan subuh itu, dan Niken yang sudah membohongi aku. Aku benar-benar minta maaf, Mbak. Aku sudah salah menuduhmu."
Sari tidak menunjukkan riak wajah terkejut ataupun puas karena kebenaran telah terungkap.
Di matanya, semua itu sudah terlambat. Rasa percaya yang ia bangun dengan cucuran keringat dan air mata telah telanjur dihantam badai ego Arka.
Dengan senyum sinis yang dipaksakan di bibirnya yang pucat, Sari menatap Arka lurus-lurus.
"Lalu kenapa kamu masih di sini?" tanya Sari dingin, nadanya tenang namun menusuk.
"Kalau kamu memang masih mencintai mantan istrimu, pergi dan rebut dia kembali dari tangan Baron. Jangan malah membuang waktu menemani aku yang wanita kota yang egois, yang tega membuang dagangan kuemu ke tempat sampah."
Kata-kata sindiran Sari terasa bagai belati yang mengiris-iris ulu hati Arka.
Ia hanya bisa teraku, menerima setiap kalimat tajam yang pantas ia dapatkan atas kebodohannya kemarin pagi.
Tanpa memedulikan rasa pening yang kembali menyerang, Sari memaksakan tangannya yang bebas dari infus untuk meraih tas tangan miliknya yang diletakkan di atas meja kecil samping ranjang.
Dengan gerakan kaku, ia membuka tas tersebut, mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dalam jumlah yang cukup banyak, lalu melemparkannya dengan pelan ke atas seprai di depan Arka.
"Ini uang pengganti selama aku dirawat di sini, dan ini uang untuk ongkos kamu pulang ke Jakarta," ujar Sari, nadanya kembali datar dan transaksional.
"Sekarang pulanglah. Aku tidak mau merepotkan kamu lagi. Pulanglah, Arka."
Arka menatap lembaran uang di atas kasur dengan hati yang remuk redam.
"Mbak, aku tidak butuh uang ini. Aku di sini karena aku mencemaskanmu—"
"Pulanglah, Arka," potong Sari tanpa mau mendengar penjelasan apa pun lagi.
Matanya menatap lurus ke depan, menutup rapat celah komunikasi di antara mereka.
Klek.
Pintu kamar rawat inap terbuka, memutus ketegangan yang nyaris mencekik itu.
Seorang perawat masuk dengan seragam rapinya, membawa nampan berisi sarapan pagi berupa bubur rumah sakit dan segelas air putih hangat.
Melihat kehadiran orang ketiga, Sari langsung mengalihkan pandangannya kepada sang perawat.
Dengan sisa kekuatan dan wibawa seorang pemimpin yang kembali ia pasang, Sari bersuara tegas, "Suster, tolong panggilkan dokter yang menangani saya sekarang. Katakan padanya, saya mau rawat jalan."
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎