Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9
Deg.
Fela tertegun melihat seorang pria yang amat dikenalnya. Dia Dion. Mantan kekasihnya yang selingkuh.
Kenapa dia ada disini? kenapa si brengsek itu ada di kantor ini?
Ruang rapat mendadak terasa sempit bagi Fela. Meski kakinya tidak ingin masuk karena ada pria itu, ia memaksakan diri untuk melangkah masuk mengikuti Rico. karena ini adalah tugas.
Ia menarik napas dalam. Membetulkan blazer-nya dan mengunci pandangan ke depan. Fela harus tetap fokus.
"Selamat pagi Pak Beni," ujar Rico menyalami Kepala Divisi Produk W-Corp itu.
"Selamat pagi," ucap Pak Beni dengan nada formal.
Fela juga mengulurkan tangan secara formal tapi akrab. Mereka sudah bekerja sama sudah lama.
"Terima kasih banyak atas waktu yang sudah disediakan oleh tim agensi," ujar Pak Beni.
"Itu hal yang pantas kami lakukan." Rico mengangguk.
"Kedatangan kami hari ini adalah bukan untuk meninjau perkembangan draf proyek. Karena sebelum masuk ke agenda utama, izinkan saya memperkenalkan pimpinan tertinggi di divisi kami," jelas Pak Beni.
Pimpinan tertinggi? Siapa? tanya Fela dalam hati.
"Ini Pak Dion, Direktur Pemasaran W-Corp baru kami." Pak Beni memberi isyarat dengan tangan ke arah pria yang duduk.
Dia direktur pemasaran W corp? Sejak kapan? Fela terkejut. Karena yang dia tahu pria ini staff di cabang perusahaan multinasional yang bergerak di bidang industri.
Rico, yang tidak menyadari kekacauan di kepala Fela segera menjabat tangan Dion dengan antusias dan profesional.
"Selamat bergabung, Pak Direktur. Saya Rico kepala proyek. Sebuah kehormatan bisa bekerja sama dengan pihak W-Corp."
Dion menyambut jabatan tangan Rico. "Terima kasih, Pak Rico."
"Ini Fela manajer tim kreatif," ujar Rio memperkenalkan.
Dion beralih pada Fela. Dion tersenyum angkuh sambil menoleh perlahan ke arah Fela. Tidak ada binar mereka sudah kenal di mata itu Sepertinya Dion memilih tidak mengenal Fela.
Ini lebih baik, tegas Fela lega.
Mereka berjabat tangan.
"Sebagai pihak yang akan banyak terlibat dalam proyek ini, saya harap tim Anda cukup kompeten. Saya tidak punya banyak waktu untuk mengurus hal-hal yang tidak penting atau sekadar mengulang kesalahan masa lalu," ujar Dion seakan menantang.
"Tentu, Pak Direktur. Kami siap menyesuaikan diri dengan standar perusahaan Anda."
Dion terkekeh pelan. Ia menarik kursinya lalu duduk, membiarkan Fela dan Rico tetap berdiri sejenak. "Bagus. Saya paling tidak suka dengan ketidaksiapan. Terutama dari orang-orang yang kelihatannya hebat, tapi ternyata hanya bisa membuat janji manis di awal."
Dia terus menyerangku.
Rico tersenyum. Ia mengira itu hanya candaan untuk mencairkan suasana. Namun, Fela tahu persis ke mana arah pembicaraan itu. Itu sindiran untuknya.
"Apakah Anda sudah lama bergabung dengan W-Corp, Pak?" tanya Rico.
"Baru beberapa minggu," jawab Dion santai sambil menyilangkan kaki. Ia menatap Fela tepat di manik matanya. "Saya orang yang efisien. Saya lebih suka membuang apa pun yang sudah tidak berguna daripada membuang energi untuk memperbaikinya."
"Dalam bisnis, efisiensi memang segalanya," balas Fela tenang, berusaha mengabaikan nada merendahkan dalam suara Dion. Ia seakan jadi barang tidak berguna itu. Padahal dialah yang membuang Dion.
Dion tersenyum miring. "Senang sekali punya manajer proyek yang pengertian. Saya dengar agensi ini punya reputasi baik. Tapi, reputasi itu hanyalah masa lalu jika hari ini gagal memenuhi ekspektasi saya, bukan?"
Fela menatap balik pria itu.
"Kami selalu fokus pada masa depan, Pak Direktur." Rico menengahi percakapan yang sedikit aneh ini.
Dion menyunggingkan senyum miring yang tipis, jenis senyum yang dulu selalu membuat Fela merasa dihargai, namun kini terasa seperti ancaman.
"Bagus kalau begitu," ujar Dion singkat, menutup sesi perkenalan itu dengan kesan angkuh yang tertinggal di udara.
***
Sementara itu, di area ruang divisi periklanan yang berjarak agak jauh dari ruang rapat utama, suasana tampak tenang seperti biasa. Desing pelan pendingin ruangan berbaur dengan ketukan kibor dari beberapa staf yang sedang mencicil pekerjaan.
Kenzo duduk di kursinya, menatap layar komputer dengan pandangan bosan. Tangannya memegang sebuah map berisi dokumen sisa rangkuman semalam yang baru saja ia rapihkan. Cowok itu melirik ke arah ruang kaca buram di ujung lorong—ruangan milik Fela.
Lampunya menyala, pintu gesernya sedikit terbuka, tapi kursinya kosong.
Kenzo mengerutkan kening. Sudah hampir satu jam sejak jam masuk kantor dimulai, namun dia belum melihat tanda-tanda mentornya itu kembali ke ruangannya.
Kenzo memutar kursi rodanya sedikit, menoleh ke arah Bimo yang sedang asyik mengunyah camilan sambil menatap monitor.
"Bang," panggil Kenzo lempeng.
Bimo menoleh, mulutnya masih sibuk mengunyah. "Paan, Ken? Tugasmu udah kelar?"
"Belum, tapi bentar lagi selesai ini. Tinggal ditaruh di meja Bos," jawab Kenzo kasual, menepuk map di tangannya. Matanya kembali melirik ke arah ruangan kosong itu. "Tapi orangnya mana? Dari tadi ruangannya kosong."
Bimo menelan makanannya, lalu ikut melirik ke arah ruang Fela. "Oh, manajer? Tadi sebelum kamu datang, dia langsung ditarik sama Pak Rico ke ruang rapat utama. Katanya ada perkenalan direktur baru dari W-Corp."
Kenzo terdiam sejenak. "Perkenalan?"
"Iya, klien raksasa. Mereka datang buat kunjungan formal," jelas Bimo. "Makanya Pak Rico minta Fela ikut. Kamu tahu sendiri kan, draf proyek miliaran itu Fela yang pegang kendali kreatifnya."
Kenzo mengangguk pelan, menyerap informasi itu. Ia kembali menatap map di tangannya. Pantas saja suasana kantor terasa agak berbeda pagi ini.
"Nanti aja kamu taruh mejanya kalau orangnya udah balik. Palingan bentar lagi rapatnya kelar, terus mereka lanjut keliling kantor," tambah Bimo sebelum kembali fokus ke komputernya.
"Sip, Bang," balas Kenzo pendek.
Meskipun tangannya bergerak meletakkan map itu ke sudut mejanya, pikiran Kenzo tidak benar-benar beralih. Ada rasa penasaran yang mendadak muncul di kepalanya.
Jadi dia lembur untuk proyek raksasa ini?
Kenzo menyandarkan punggungnya ke kursi. Mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja dengan ritme lambat. Matanya menatap koridor sepi yang menghubungkan area kubikel mereka dengan ruang rapat utama di ujung sana.
Kenzo bangkit dari kursinya dengan gerakan santai. Ia meraih map tiga jilid di sudut meja, lalu melangkah memutar melewati kubikel Bimo.
"Mau ke mana, Ken? Katanya belum kelar?" tanya Bimo tanpa menoleh dari layar.
"Mau ke toilet."
"Oh kebetulan. Kan lewat pantry. Titip bawa kopi hitam gih. Kamu buat kopi juga kalau mau," pinta Bimo.
"Eh, ke pantry?" Siska dengar.
"Ya. Kak Siska mau titip juga?" tawar Kenzo yang aslinya punya tujuan sendiri.
"He-eh. Aku buatkan cappucino ya. Terima kasih Ken." Siska tersenyum manis.
"Ya. Kak Mirin?" Kenzo juga menawari wanita itu.
"Enggak. Terima kasih." Mirin tersenyum.
"Baiklah. Aku ke pantry dulu ya," pamit Kenzo.
"Hati-hati menjalankan tugas, Bro." Bimo mempersilakan.