Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 — Dua Ruang, Satu Kehangatan Keluarga
Suasana rumah paman sudah ramai sejak mereka tiba.
Begitu mobil berhenti, beberapa orang langsung keluar menyambut. Halaman rumah yang luas itu seketika dipenuhi suara salam, tawa kecil, dan langkah kaki yang saling bersahutan.
“MasyaAllah, akhirnya datang juga!” suara seorang wanita terdengar lebih dulu.
Bunda Jifan yang paling depan langsung menghampiri dan memeluk anaknya.
“Sehat ya kalian sampai sini?” tanyanya lembut.
“Iya, Bun,” jawab Jifan sambil tersenyum.
Diara yang berdiri di sampingnya ikut menundukkan kepala sopan. “Assalamualaikum, Bun…”
“Waalaikumsalam, Diara,” jawab Bunda Jifan sambil tersenyum hangat lalu meraih tangannya. “Capek ya perjalanan jauh?”
“Sedikit, Bun,” jawab Diara pelan.
Satu per satu keluarga besar mulai mendekat. Ayah Jifan menepuk bahunya singkat, kakek dan nenek tersenyum hangat, sementara beberapa keponakan kecil langsung berlarian mengelilingi halaman.
“Ini yang dari Jakarta itu ya?” tanya salah satu bibi sambil tersenyum.
“Iya, ini Diara,” jawab Jifan singkat.
Diara hanya mengangguk sopan, mencoba mengingat semua wajah yang baru ia lihat.
Bunda Jifan segera memecah suasana.
“Sudah, ayo masuk dulu. Jangan berdiri di luar terus.”
Kerumunan pun mulai bergerak masuk ke dalam rumah.
Diara berjalan pelan di samping Jifan, sesekali menunduk sopan saat melewati anggota keluarga yang lain. Namun di tengah ramainya sambutan itu, ia bisa merasakan satu hal kecil yang tidak ia ucapkan—bahwa tidak semua tatapan terasa sama hangatnya.
Jifan meliriknya sebentar.
“Capek?” bisiknya pelan.
Diara menggeleng kecil. “Nggak.”
Jifan hanya mengangguk, lalu tetap berjalan di sampingnya, tanpa melepas posisi itu sedikit pun.
Dan rumah yang ramai itu perlahan mulai dipenuhi percakapan, sementara Diara belajar menyesuaikan diri di tengah banyaknya wajah dan cerita keluarga yang belum sepenuhnya ia kenal.
Setelah cukup lama berbincang dengan keluarga di ruang tengah, suasana mulai sedikit lebih tenang. Suara tawa dan percakapan masih terdengar samar dari luar, tetapi Jifan akhirnya melirik Diara yang terlihat mulai kelelahan.
“Capek?” tanya Jifan pelan.
Diara mengangguk kecil. “Lumayan…”
Jifan menghela napas ringan. “Kita ke kamar dulu aja. Istirahat sebentar.”
Diara tidak menolak. “Iya.”
Mereka pun pamit sopan kepada keluarga, lalu menuju kamar tamu yang sudah disiapkan di lantai atas. Kamar itu sederhana namun rapi—kasur besar, jendela yang menghadap ke halaman belakang, dan udara sejuk yang masuk perlahan dari celah tirai.
Begitu pintu ditutup, suasana langsung terasa lebih tenang.
Diara langsung duduk di tepi kasur, menghela napas panjang. “Akhirnya…”
Jifan tersenyum kecil sambil menutup pintu. “Capek jadi pusat perhatian keluarga besar?”
Diara menatapnya sekilas. “Bukan pusat perhatian. Tapi… terlalu banyak orang.”
Jifan berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya. “Biasakan. Itu baru sebagian kecil.”
Diara langsung menoleh. “Sebagian kecil?”
“Iya. Kalau kumpul besar lagi, bisa lebih ramai dari ini,” jawab Jifan santai.
Diara langsung menghela napas dramatis. “Aku belum siap.”
Jifan tertawa pelan. “Nanti juga terbiasa.”
Diara menyender ke belakang, lalu menatap langit-langit. “Kamu sih santai banget.”
“Aku sudah terbiasa,” balas Jifan sambil merebahkan tubuhnya di sebelah Diara.
Beberapa detik mereka diam, hanya mendengarkan suara angin dari luar jendela.
Lalu Jifan tiba-tiba menoleh.
“Diara.”
“Hm?” jawabnya tanpa menoleh.
“Kamu tadi kuat juga ya,” ucap Jifan sambil tersenyum kecil.
Diara langsung menoleh. “Maksudnya?”
“Biasanya orang baru di keluarga besar aku suka canggung. Kamu nggak terlalu keliatan panik,” jawab Jifan.
Diara mendengus pelan. “Aku cuma diam.”
“Diam yang elegan,” tambah Jifan.
Diara langsung menatapnya tajam. “Kamu mulai lagi.”
Jifan tertawa kecil lalu sedikit mendekat, membuat Diara refleks bergeser.
“Jangan deket-deket,” kata Diara cepat.
“Kenapa?” Jifan pura-pura bingung.
“Capek,” jawab Diara singkat.
Jifan mengangguk-angguk kecil. “Oh, alasan klasik.”
Diara langsung mengambil bantal kecil di sampingnya lalu menepuk pelan lengan Jifan. “Ini kamu ganggu terus dari tadi.”
Jifan tertawa, lalu menangkap bantal itu dengan mudah. “Aku cuma memastikan kamu nggak tegang.”
Diara menghela napas, tapi kali ini sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Kamu itu bukan penghibur. Kamu itu pengganggu resmi.”
“Resmi dari siapa?” tanya Jifan.
“Dari aku,” jawab Diara cepat.
Mereka berdua akhirnya tertawa kecil bersama.
Suasana kamar yang tadi tenang berubah jadi lebih ringan. Tidak ada jarak, tidak ada formalitas—hanya dua orang yang untuk sementara bisa menjadi diri mereka sendiri tanpa tekanan keluarga di luar.
Dan di balik pintu kamar itu, hari pertama di Bandung terasa sedikit lebih hangat dari yang Diara bayangkan sebelumnya.
Sore hari mulai turun dengan cahaya keemasan yang hangat. Aktivitas di rumah paman terbagi menjadi dua kelompok yang alami—para laki-laki berkumpul di ruang depan dan teras, sementara para perempuan duduk di ruang tengah dan area dapur yang lebih santai.
Diara berada di antara para perempuan keluarga Jifan. Awalnya ia hanya duduk tenang, mendengarkan percakapan yang mengalir tentang persiapan pernikahan, resep makanan, dan cerita keluarga yang saling bersahutan.
Namun perhatiannya perlahan teralih ke sosok kecil yang berlari-lari di karpet ruang tengah.
Seorang anak perempuan kecil, sekitar 4 tahun, dengan rambut diikat dua kecil yang agak berantakan, tiba-tiba berhenti di depan Diara.
“Iii ini tante baru yaaa?” ucapnya dengan suara cadel.
Diara tertegun sebentar, lalu tersenyum kecil. “Iya… sini.”
Anak itu menatapnya lama, lalu tanpa ragu langsung duduk di dekat Diara. “Aku Iris!”
“Nama yang bagus,” jawab Diara lembut. “Iris sudah makan?”
Iris mengangguk cepat, tapi kemudian menggeleng lagi. “Tadi makan… tapi masih laper dikit.”
Diara terkekeh pelan. “Laper dikit itu apa?”
Iris menatap serius, seolah itu pertanyaan penting. “Laper tapi nggak banyak.”
Diara langsung tertawa kecil, membuat beberapa perempuan di sekitarnya ikut tersenyum melihat interaksi itu.
“Aneh sekali kamu,” ucap Diara lembut sambil mengusap kepala Iris.
Iris malah mencondongkan tubuhnya ke Diara, lalu menunjuk tangan Diara. “Tante cantik.”
Diara terdiam sesaat, lalu sedikit salah tingkah. “Ih, bisa saja ngomong begitu.”
“Iyaaa cantik!” ulang Iris lebih keras, seolah ingin memastikan semua orang dengar.
Salah satu bibi tertawa kecil. “Iris memang suka kalau lihat orang baru.”
Diara hanya tersenyum, lalu kembali fokus ke Iris yang kini sudah naik ke pangkuannya tanpa ragu.
“Tante Diara punya boneka?” tanya Iris tiba-tiba.
Diara menggeleng. “Tidak punya.”
Iris langsung terlihat berpikir keras. “Kenapa nggak punya?”
“Sudah besar,” jawab Diara.
Iris langsung mengerutkan wajah kecilnya. “Aku juga besar!”
“Masih kecil kamu,” balas Diara sambil tersenyum.
Iris langsung protes. “Aku sudah tiga tahun!”
Diara menahan tawa. “Wah, sudah tua sekali.”
Iris langsung tertawa kecil tanpa benar-benar paham maksudnya, lalu memeluk lengan Diara erat.
Sementara itu di sisi lain rumah, suara tawa laki-laki terdengar samar dari ruang depan tempat Jifan berkumpul dengan para bapak-bapak.
Diara sempat melirik sekilas ke arah itu, lalu kembali menatap Iris yang kini sibuk memainkan jari-jari tangannya.
“Mas Jifan lagi apa ya…” gumam Diara pelan.
Iris langsung menoleh. “Om Jifan itu suami tante!”
Diara langsung kaget kecil. “Eh, iya…”
Iris mengangguk serius. “Kalau suami harus jaga tante ya.”
Diara terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Iya… harus jaga.”
Iris lalu bersandar di dada Diara, mulai mengantuk sedikit karena suasana sore yang hangat.
“Tante Diara wangi…” gumam Iris pelan.
Diara mengusap rambut kecil itu dengan lembut. “Kamu juga wangi.”
Iris tidak menjawab lagi, hanya memejamkan mata sebentar.
Dan sore itu, Diara yang awalnya hanya duduk sebagai tamu, perlahan menjadi bagian kecil dari kehangatan keluarga itu—melalui tawa sederhana seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang jarak, penilaian, atau masa lalu.
🪻🪻
Di sisi lain rumah, suasana terasa lebih santai namun tetap penuh wibawa khas para lelaki dewasa yang sedang berkumpul.
Di teras depan, beberapa bapak-bapak duduk melingkar di kursi kayu sederhana. Di atas meja kecil di tengah, tersaji kopi hitam panas, teh hangat, dan beberapa camilan ringan seperti pisang goreng dan kacang.
Suara gelas yang diletakkan, tawa kecil, dan percakapan ringan mengisi sore yang mulai sejuk.
Jifan duduk di antara mereka, sesekali mengangguk sambil memegang cangkir kopi. Ia tampak lebih tenang dibanding saat berada di rumah, seperti sedang kembali ke suasana yang sudah akrab sejak kecil.
Salah satu paman membuka percakapan lebih dulu.
“Sekarang kerjaan kamu gimana, Fan?” tanyanya sambil menyeruput kopi.
Jifan menunduk sedikit sopan. “Masih seperti biasa, Paman. Proyek jalan terus, tapi akhir-akhir ini lebih banyak urusan manajemen.”
Paman itu mengangguk pelan. “Bagus. Yang penting stabil.”
Bapak lain ikut menimpali sambil tersenyum. “Sekarang anak muda sudah beda cara kerja. Lebih banyak di depan laptop daripada di lapangan.”
Jifan tersenyum kecil. “Iya, Paman. Tapi tetap harus paham lapangan juga.”
Obrolan lalu bergeser ke arah yang lebih ringan.
“Kalau di sini, sawah lagi bagus panennya,” kata salah satu paman sambil menunjuk ke arah hamparan hijau di kejauhan.
“Alhamdulillah. Hujan juga lagi bagus polanya,” jawab yang lain.
Jifan mendengarkan sambil sesekali ikut menambahkan pendapat.
“Kalau pupuk sekarang agak naik ya?” tanya Jifan.
“Iya, naik sedikit. Tapi masih bisa ditutup hasil panen,” jawab paman sambil menghela napas ringan.
Salah satu bapak kemudian tertawa kecil. “Kalau sudah urusan harga, petani memang harus sabar.”
Suasana langsung dipenuhi tawa ringan.
Jifan ikut tersenyum. “Tantangannya memang di situ. Stabilitas harga.”
Paman yang lebih tua mengangguk pelan, lalu menatap Jifan.
“Kamu kalau serius di kerjaan, jangan lupa juga lihat orang sekitar. Ilmu itu kalau dipakai buat bantu orang lain, lebih berkah.”
Jifan mengangguk pelan, ekspresinya lebih serius. “Iya, Paman. Saya usahakan.”
Di sela obrolan itu, salah satu bapak menyodorkan pisang goreng ke arah Jifan.
“Nih, makan dulu. Jangan cuma ngomong kerja terus.”
Jifan tertawa kecil. “Siap, Pak.”
Ia mengambil satu dan menggigitnya pelan.
Obrolan berlanjut lagi, kali ini lebih ringan—tentang cuaca, harga bahan pokok, hingga cerita masa muda para bapak yang dulu pernah bekerja di ladang dan merantau ke kota.
Tawa sesekali pecah di antara mereka, menciptakan suasana hangat yang sederhana namun akrab.
Dan di tengah percakapan itu, Jifan hanya duduk mendengarkan, sesekali ikut tertawa, sesekali memberi tanggapan singkat—menjadi bagian dari lingkaran kecil yang menghubungkan masa lalu, pekerjaan, dan kehidupan yang terus berjalan.