Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aira! Jaga Mulut Kamu Ya!
Perbincangan hangat di gazebo itu berlanjut hingga matahari semakin meninggi menembus sela-sela daun pohon. Setelah memastikan Ibu Astri menyelesaikan sarapannya dengan lahap dan kembali ke kamar untuk beristirahat dibantu oleh Bu Sumi, Arsen pun berpamitan pada Aira untuk kembali menyelesaikan beberapa dokumen penting di ruang kerjanya.
Siang harinya, suasana di dalam rumah mewah itu tampak begitu tenang dan hening. Di lantai bawah, Arsen kembali fokus penuh pada urusan bisnis ekspornya yang sempat darurat, sementara Ibu Astri sudah tertidur lelap untuk memulihkan staminanya.
Sementara itu, Aira memilih berbaring di kamar utama mereka di lantai dua. Kamar yang luas dan sejuk itu terasa sangat nyaman, namun entah mengapa, mata Aira sama sekali tidak bisa terpejam. Pikirannya terus berputar, melayang di antara rasa tidak percaya dan syukur atas garis hidupnya yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.
Untuk mengusir rasa bosan dan gelisah yang menggelayut, Aira akhirnya meraih ponsel di atas nakas. Ia membuka beberapa aplikasi sosial media, menggulir layar perlahan demi melihat-lihat unggahan video lucu dan potongan berita terbaru sekadar untuk mencari pengalih perhatian.
Namun, ketenangan siang itu seketika runtuh dalam satu detik. Layar ponsel Aira mendadak berubah menampilkan panggilan masuk, jantung Aira bagai berhenti berdetak saat melihat nama terpampang nyata di sana, itu adalah nomor ponsel Bapak Hilman.
Darah Aira mendadak berdesir hebat, rasa dingin menjalar hingga ke ujung-ujung jemarinya. Bayangan pengkhianatan, intimidasi, makian dan perlakuan tidak adil sang ayah selama bertahun-tahun mendadak berputar kembali di kepalanya seperti kaset rusak.
Dengan tangan yang gemetar dan napas yang mulai memburu, Aira menatap layar itu lama dan ada gejolak besar di dalam dadanya antara ingin mengabaikannya atau menghadapinya. Namun, mengingat statusnya yang kini sudah sah menjadi istri Arsen dan berada di bawah perlindungan penuh suaminya, Aira mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
Aira menggeser tombol hijau, perlahan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
^^^Aira: Ass...^^^
Bapak Hilman: Aira! Anak kurang ajar kamu, ya! Di mana kamu sekarang?
Belum sempat Aira menyelesaikan salamnya, bentakan menggelegar dari Bapak Hilman sudah terlebih dahulu menyembur dari balik pengeras suara, begitu nyaring dan sarat akan amarah yang meluap-luap.
Aira refleks menjauhkan ponselnya beberapa sentimeter dari telinga, dadanya bergemuruh hebat mendengar suara yang selalu menjadi mimpi buruknya itu.
Bapak Himan: Kamu dan ibumu sudah pintar kabur sekarang, hah! Minggat dari rumah tanpa bilang apa-apa seperti pencuri! Kamu pikir saya ini siapa, Aira? Saya ini orang tua kamu, saya ini bapak kandungmu.
Cecar Bapak Hilman dari seberang sana tanpa memberikan celah bagi Aira untuk menjawab. Suaranya terdengar begitu murka, napasnya memburu kasar karena merasa harga dirinya sebagai kepala keluarga diinjak-injak oleh kepergian mantan istri dan anaknya secara diam-diam.
Bapak Himan sendiri baru kembali dari Kediri dan ia ingin bertemu Arsen untuk meminta uang, namun betapa terkejutnya Bapak Hilman ketika melihat rumah Ibu Astri dan Aira kosong, tidak-tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Bapak Hilman yang tidak sengaja bertemu Bu Lastri pun bertanya dan ia kembali terkejut ketika mengetahui jika mantan Istri, anak dan menantu barunya sudah pindah. Bapak Hilman begitu marah karena mereka tidak mengatakan apapun tentang kepindahan mereka, bagkan mereka tidak pernah mendiskusikannya pada Bapak Himan.
Bapak Hilman: Aira!
^^^Aira: Pak, bisa tidak Bapak jangan marah-marah, pusing Aira dengarnya. Lagipula, mau Aira pindah atau tidak, itu bukan urusan Bapak dan memangnya apa peduli Bapak... oh ya, Bapak kan mau memanfaatkan Mas Arsen. Kalau Aira sama Ibu pindah, Bapak nggak bisa minta uang ya ke Mas Arsen...^^^
Bapak Hilman: Aira! Jaga mulut kamu ya! Bapak ini orang tua kamu!
^^^Aira: Orang tua? Aira malu punya orang tua kayak Bapak, Bapak ninggalin Ibu buat nikah dengan janda kaya lalu Bapak dan keluarga Bapak menghina Ibu bahkan sampai buat Ibu susah dapat kerja!^^^
Bapak Hilman: Kurang ajar kamu, Aira! Sudah berani ya kamu menceramahi Bapak! Kamu pikir kamu bisa hidup tenang di sana setelah memperlakukan Bapakmu seperti ini? Jangan harap! Di mana alamat rumah suamimu itu? Berikan sekarang! Dia itu menantu Bapak, dan sudah kewajibannya membantu mertuanya yang sedang kesulitan.
Suara Bapak Hilman semakin meninggi dan dipenuhi keserakahan yang tidak lagi ditutupi.
^^^Aira: Sampai mati pun, Aira nggak akan pernah kasih tahu alamat rumah Mas Arsen, Pak! Uang Mas Arsen itu hasil kerja kerasnya Mas Arsen sendiri, bukan untuk membiayai kemewahan Bapak atau membayar utang-utang keluarga Bapak! Cukup tiga tahun Aira diam ditindas. Sekarang, jangan harap Bapak bisa menyentuh sepeser pun uang suami Aira!^^^
Bapak Hilman: Aira! Kamu...
Pip.
Aira langsung memutus sambungan telepon itu secara sepihak, tangannya gemetar hebat. Dengan cepat, ia memblokir nomor telepon Bapak Hilman dan memastikan pria itu tidak akan bisa menerornya lagi.
Aira melempar ponselnya ke atas kasur lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, napasnya memburu dan air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos membasahi pipi.
Aira menarik napas panjang berkali-kali, berusaha menekan gemuruh di dadanya. Setelah menghapus sisa air mata di pipinya, ia melangkah ke kamar mandi untuk membasuh muka. Aira menatap pantulan dirinya di cermin, ia meyakinkan hatinya bahwa ancaman Bapak Hilman hanyalah gertakan semata.
"Mas Arsen sudah terlalu pusing dengan pekerjaannya, lebih baik masalah ini aku nggak usah bilang ke Mas Arsen, lagipula Bapak nggak mungkin kesini, kan," gumam Aira.
Ketika Aira kembali ke kamar, pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan masuknya Arsen. Pria itu tampak melonggarkan jam tangannya, gurat lelah di wajahnya kini mulai memudar dan digantikan oleh senyum hangat yang langsung terulas begitu melihat sang istri.
"Belum tidur? Katanya tadi mau istirahat," ujar Arsen sembari berjalan mendekat.
Arsen sendiri tidak menyadari sedikit pun perubahan pada raut wajah Aira, karena wanita itu dengan cepat memasang senyuman terbaiknya.
"Nggak bisa tidur, Mas. Nanggung juga, udah mau sore," jawab Aira santai, nadanya dibuat sealami mungkin seolah tidak terjadi apa-apa beberapa menit lalu.
"Urusan sama Mas Gilang sudah selesai?" tanya Aira.
"Sudah, tapi sayang... kamu panggil Gilang aja jangan pakai Mas segala, kamu cuma boleh panggil Mas ke aku," ucap Arsen.
"Mas cemburu?" tanya Aira.
"Ya pastilah, masa istrinya panggil Mas ke cowok lain nggak cemburu. Ya, aku cemburu lah," jawab Arsen.
"Terus kalau aku beli makanan atau barang gitu dan aku panggil penjualnya Mas, Mas Arsen cemburu?" tanya Aira.
.
.
.
Bersambung.....
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal