Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.
Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.
Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pukulan yang Mengguncang Hati
Aura energi keemasan di sekujur tubuh Shen Yu masih bergejolak hebat, berpendar liar sesaat setelah ia berhasil mendobrak batasan fana dan menembus alam Body Tempering Tingkat Kedua.
Aliran Qi Kekacauan Purba kini mengalir jauh lebih lancar dan deras, merangsek tanpa hambatan di seluruh 108 jalur meridian tubuhnya. Luka-luka robek dan lebam di kulitnya berangsur menutup secara perlahan, menyisakan tekstur kulit yang jauh lebih kokoh dari sebelumnya.
Ia perlahan mengepalkan tinju kanannya, merasakan ledakan tenaga baru yang bersembunyi di balik ototnya. "Kekuatan fisikku... melonjak drastis."
Tie Shan menganggukkan kepalanya dengan raut wajah puas. "Itulah esensi sejati mengapa para pendekar memilih untuk bertarung di atas garis hidup dan mati, Shen Yu. Bertarung bukan semata-mata untuk menundukkan lawan, melainkan sebuah sarana sakral untuk melampaui keterbatasan dirimu sendiri."
Shen Yu menyunggingkan senyum tipis, menyeka sisa darah di dagunya. "Kalau begitu, Paman... aku rasa aku mulai menyukai metode mengajar brutalmu ini."
Tie Shan tertawa kecil, suara beratnya bergetar. "Jangan senang dulu, Bocah Kurus. Ingat, ujian kita belum selesai. Masih tersisa enam pukulan tinju lagi yang menantimu."
Pria berambut perak itu perlahan mengangkat satu jari telunjuknya ke udara.
"Pukulan kelima."
"Namun untuk pukulan kali ini... aku sama sekali tidak akan mengerahkan kekuatan fisik mentah ataupun aliran energi Qi murniku."
Shen Yu mengernyitkan dahi dalam-dalam, menatap bingung. "Lalu? Dengan apa Paman akan menghantamku?"
"Aku akan menghantam jiwamu... menggunakan Niat Bertarung Absolut (Battle Intent)."
Begitu kalimat misterius itu selesai diucapkan, Tie Shan mengambil satu langkah santai ke depan.
Wush...
Anehnya, tidak ada ledakan energi sonic yang terjadi, tidak ada pula aura perak yang meledak liar seperti sebelumnya. Semuanya tampak hening.
Namun, tepat pada detik ketika kaki Tie Shan menapak lantai, Shen Yu mendadak merasakan seluruh pasokan udara di paru-parunya seperti disedot habis. Dadanya terasa sangat sesak dan tertekan, seolah-olah ada sebuah gunung raksasa tak kasat mata yang mendadak dijatuhkan tepat di atas pundaknya.
Krek! Kedua kaki Shen Yu gemetar hebat, dipaksa tunduk oleh beban tak berwujud.
"Tekanan... tekanan gila apa ini?!" batin Shen Yu mendelik, pelipisnya menegang.
Roh Menara yang menyaksikan dari tepi arena menyahut dengan nada suara yang teramat pelan dan khidmat. "Itu adalah [Niat Bertarung]. Seorang kultivator sejati tidak akan pernah bisa melangkah ke puncak tertinggi jika hanya mengandalkan kekuatan fisik dan manipulasi Qi semata. Semakin tinggi pemahaman ranah jiwamu, maka semakin absolut pula tekanan Niat yang bisa kaumiliki."
Tie Shan terus melangkah maju dengan tempo konstan. Dan anehnya, setiap kali langkah kakinya mendekat, beban tak kasat mata yang menghimpit tubuh Shen Yu terus bertambah berat secara eksponensial.
Shen Yu mencoba menggeser kaki kanannya untuk mengaktifkan Langkah Bayangan Ilusi, namun jangankan melesat, untuk sekadar mengangkat satu telapak kaki saja rasanya seperti mencoba mengangkat tiang besi seberat ribuan jin.
"Di hadapan Niat Bertarungku, kau tidak akan pernah bisa menghindar... kau tidak bisa menangkis... dan kau sama sekali tidak memiliki ruang untuk melawan!"
Suara Tie Shan bergema kuat langsung di dalam kesadaran pikiran Shen Yu, mengguncang jiwanya. "Jika situasinya sudah seperti ini... lalu dengan cara apa kau akan bertahan hidup, wahai Pewaris?!"
Shen Yu menggertakkan rahangnya begitu kuat hingga mengeluarkan suara berderit. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya, membasahi wajah pucatnya.
Untuk pertama kalinya sejak ia menapakkan kakinya di dalam Menara Dewa Kuno... ia merasakan sebuah sensasi ketidakdayaan yang teramat sangat. Jiwanya dipaksa untuk bertekuk lutut dan menyembah.
Tepat pada saat kesadaran mentalnya mulai goyah, di dalam benaknya mendadak berputar kembali rentetan memori kejam dari masa lalunya di Desa Qinghe. Makian penduduk desa, tatapan jijik para pemuda, dan status "anak haram" yang disandangnya kembali terngiang.
Lalu, disusul oleh siluet samar sepasang orang tuanya yang telah tewas dikhianati, serta sumpah janjinya sendiri yang telah ia ikatkan di lantai pertama menara.
"Aku akan membalaskan dendam darah keluargaku..."
"Aku akan meremukkan setiap kesombongan sekte dunia atas..."
"Dan aku... tidak akan pernah sudi berlutut di hadapan siapa pun!!!"
Boom!
Sepasang manik mata Shen Yu mendadak berkilat tajam, memancarkan kilatan warna emas mistis yang menyala terang di tengah tekanan.
"Aku... tidak akan... pernah... berlutut!!!" raung Shen Yu dengan lantang.
Dengan mengerahkan seluruh sisa keteguhan mental dan tekad bajanya, Shen Yu memaksakan kaki kanannya bergerak, menghentak maju satu langkah lebar ke depan secara brutal menantang tekanan Niat Tie Shan!
KRAAAKKK!!!
Lantai batu tepat di bawah pijakan kaki barunya seketika retak dan hancur berantakan.
Melihat respons yang teramat gila itu, Tie Shan seketika menghentikan langkah kakinya. Sorot mata emas di wajah kekarnya berubah drastis—bukan lagi tatapan menguji, melainkan tatapan penuh rasa takjub yang mendalam.
"Bagus! Sangat luar biasa! Kau akhirnya berhasil memahami esensi terdalam dari ujianku, Shen Yu."
Shen Yu terengah-engah parah, tubuhnya basah kuyup oleh keringat. "Uhuk... Memahami apa, Paman?"
Tie Shan menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa bangga. "Musuh terbesar dan paling mematikan bagi seorang kultivator sepanjang jalurnya... bukanlah sekte raksasa ataupun penguasa langit di luar sana. Melainkan... rasa takut dan keraguan yang bersembunyi di dalam hatinya sendiri. Dan kau... baru saja meremukkannya."
Wush!
Begitu kalimat itu berakhir, seluruh tekanan gravitasi mental yang menghimpit ruangan seketika lenyap tanpa bekas.
Shen Yu langsung jatuh berlutut dengan satu kaki bertumpu di lantai, terbatuk-batuk kecil seraya mencoba meraup pasokan oksigen sebanyak-banyaknya untuk menenangkan paru-parunya.
Namun, belum sempat Shen Yu menegakkan tubuhnya kembali untuk menyambut pukulan berikutnya...
BOOOOMMMM!!!!!
Sebuah dentuman ledakan berskala kolosal kembali menghantam, mengguncang seluruh struktur Menara Dewa Kuno dengan intensitas yang jauh lebih destruktif daripada sebelum-sebelumnya. Hantaman itu begitu masif hingga membuat beberapa pilar penyangga di aula Lantai Ketiga langsung retak dan runtuh menjadi puing.
Roh Menara mendongak menatap ke arah bawah dengan wajah yang mendadak berubah menjadi sangat pucat pasi tanpa darah. "Tidak... ini buruk! Bajingan-bajingan di luar sana... mereka... mereka telah berhasil menemukan dan mengunci koordinat pintu utama menara ini!"
BOOOOM!!!
Suara rentetan ledakan energi tingkat tinggi terus bergemuruh tanpa henti dari arah luar, membuat seisi menara terus bergoyang tidak stabil.
Shen Yu dengan cepat memaksakan dirinya untuk kembali berdiri tegak, menggenggam pedangnya. "Apa anjing-anjing pemburu itu sudah berhasil menjebol masuk ke dalam ruangan bawah, Kakek?"
Roh Menara menatap ke arah lantai dasar dengan sorot mata yang teramat suram dan cemas. "Belum sepenuhnya masuk. Namun... pintu gerbang batu utama menara... materai penyegelnya sudah mulai terdistorsi dan terbuka!"
Tie Shan mengepalkan kedua belah tinju raksasanya, otot-otot di lehernya menegang gusar. "Siapa sebenarnya bajingan yang memimpin gempuran segel di luar sana, Roh Menara?!"
Roh Menara tidak menjawab lewat kata-kata. Ia segera mengibaskan tangannya ke udara, memunculkan layar proyeksi cahaya vertikal berukuran besar di hadapan mereka.
Melalui layar proyeksi tersebut, pemandangan di atas jurang kini telah berubah total menjadi lautan manusia. Tidak hanya ada sosok pria berjubah ungu tua si pemburu bayangan, melainkan kini telah berkumpul puluhan kultivator elit dengan berbagai corak warna jubah yang berbeda, mengepung celah retakan bumi jurang.
Di antara kerumunan pasukan elit dunia atas tersebut, beberapa panji sekte berukuran raksasa tampak berkibar dengan angkuh ditiup angin badai:
[Sekte Mata Surgawi]
[Sekte Pedang Darah]
[Lembah Roh Hitam]
[Balai Seribu Racun]
Shen Yu menyipitkan matanya tajam, gurat sedingin es melintas di wajahnya. "Mereka... sekte-sekte besar itu sengaja membentuk aliansi bersama hanya untuk memburuku?"
Roh Menara menyunggingkan senyum getir yang sarat akan kepahitan masa lalu. "Di dalam hukum rimba dunia kultivasi yang kejam ini, Shen Yu... tidak ada istilah teman abadi, tidak ada pula musuh abadi. Pihak yang mengendalikan mereka semua... hanyalah satu kata: Kepentingan dan Ketakutan."
Cuh!
Tie Shan meludah ke lantai arena dengan pandangan menghina. "Sekumpulan sekte munafik tak tahu malu! Puluhan ribu tahun yang lalu, para leluhur mereka selalu bersujud dan mengaku sebagai sekutu paling setia dari Sekte Dewa Kuno kita. Namun tepat pada saat bencana besar melanda... anjing-anjing itulah yang justru pertama kali menusukkan pedang mereka dari arah belakang!"
Manik mata Shen Yu perlahan berubah menjadi sangat kelam, memancarkan aura membunuh yang teramat pekat. Ia menatap lekat-lekat setiap lambang panji sekte yang tertera di layar cahaya, mengunci nama-nama mereka dalam memori terdalamnya.
"Sekte Mata Surgawi... Pedang Darah... Lembah Roh Hitam... Balai Seribu Racun... Aku... akan mengingat setiap jengkal nama kalian dengan sangat baik," desis Shen Yu, suaranya sedingin angin kutub.
Roh Menara menatap ke arah Shen Yu, memberikan peringatan dengan nada serius. "Aku tahu dadamu bergejolak, Shen Yu. Namun, pastikan kau tidak membiarkan racun kebencian mendikte akal sehatmu sekarang. Kebencian yang tidak terkontrol hanya akan menuntun jiwamu menuju kehancuran total sebelum kau sempat membalaskan dendam."
Shen Yu menganggukkan kepalanya pelan, menarik napas dalam untuk menenangkan emosinya. "Aku tahu batasanku, Kakek. Aku pasti akan menuntut balas... tapi hal itu baru akan kulakukan setelah aku memiliki kekuatan yang cukup untuk meremukkan kepala mereka semua."
KRAAAKKK!!!
Tiba-tiba, di dalam layar proyeksi, salah seorang tetua agung dari Sekte Mata Surgawi melangkah maju. Kedua tangannya mengangkat sebuah cermin kuno berwarna merah darah tinggi-tinggi ke langit, memancarkan pilar cahaya destruktif yang menghantam telak tepat di pusat pintu batu menara.
Pintu batu kuno Menara Dewa Kuno seketika memuntahkan retakan jaring laba-laba yang teramat besar.
Roh Menara seketika membelalakkan matanya penuh horor. "Sial! Itu adalah [Cermin Pemecah Segel] tingkat tinggi! Mereka benar-benar datang dengan persiapan logistik yang matang untuk memusnahkan kita!"
Tie Shan mengutuk pelan, menyadari bahwa situasi darurat ini telah mencapai titik kritis. Waktu aman mereka telah terpangkas drastis dari estimasi semula.
Pria berambut perak itu kemudian membalikkan tubuh raksasanya menghadap Shen Yu. Tatapan mata emasnya kini memancarkan ketegasan mutlak yang tak terbantahkan.
"Dengarkan aku baik-baik, Shen Yu! Mulai detik ini, situasi di luar sana sudah tidak menyisakan ruang bagi kita untuk melakukan ujian bertahap secara santai!"
"Aku akan langsung menggunakan otoritas jiwaku untuk mewariskan sebuah teknik bertarung tingkat tirani yang dahulu diciptakan secara pribadi oleh Sang Pendiri Agung Sekte Dewa Kuno. Sebuah teknik yang bahkan belum pernah diajarkan kepada sembilan puluh delapan pewaris sebelum dirimu!"
Shen Yu menatap lurus ke arah Tie Shan dengan dahi berkerut penuh rasa ingin tahu. "Kenapa Paman mendadak bersikap sangat murah hati? Mengapa teknik tabu ini baru kau keluarkan sekarang?"
Tie Shan menyunggingkan sebuah senyuman lebar yang sarat akan pengakuan mutlak. "Karena... baru pada detik inilah, setelah menyaksikan keteguhan jiwamu melawan Niat Bertarungku tadi, aku secara pribadi mengakui bahwa kau... memang layak menjadi Pewaris Sejati dari Sekte Dewa Kuno!"
Wush!
Tie Shan mengangkat tangan kanannya ke udara. Aliran energi Qi keemasan yang teramat murni dan padat seketika berkumpul di ujung jari telunjuk kanannya, membentuk sebuah pilar cahaya kecil yang tajam.
Dengan satu gerakan kilat, Tie Shan menekan jari telunjuk berenergi tersebut tepat di titik tengah dahi Shen Yu!
WUUUUUUNGGG!!!!!
Sebuah ledakan cahaya keemasan yang teramat menyilaukan seketika memenuhi seluruh ruang arena aula Lantai Ketiga.
Di dalam ruang kesadaran pikiran Shen Yu, seberkas manual emas memadat secara paksa, memunculkan empat huruf beraksara kuno yang memancarkan aura dominasi mutlak yang sanggup meremukkan langit:
[Tinju Penghancur Langit]
Namun, belum sempat Shen Yu mencerna satu pun baris formula dari teknik pembantaian tingkat dewa tersebut...
DUUUMMM!!! DUAAARRR!!!
Sebuah ledakan susulan yang jauh lebih dekat dan mengerikan berdentum keras dari arah lantai dasar menara.
Roh Menara menoleh ke arah tangga bawah dengan wajah yang sepenuhnya pucat pasi bak mayat, suaranya bergetar histeris:
"Pintu gerbang batu utama lantai dasar... telah berhasil dijebol dan terbuka sebesar seperempat bagian!!!"
Sementara itu, jauh di lorong gelap lantai dasar menara, pria berjubah ungu tua si pemburu bayangan tampak melangkah masuk secara perlahan melewati celah pintu yang hancur. Ujung tombak hitamnya terseret di lantai batu, memercikkan bunga api.
Ia mendongak menatap ke arah atas menara, menyunggingkan sebuah senyuman sadis yang teramat kelam.
"Tiga hari waktu amanku ternyata hangus lebih cepat, wahai Pewaris kecil..." bisik pria jubah ungu itu dengan nada penuh niat membunuh. "Aku... akan segera menemuimu di atas sana."