Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Semua Merasakan Rumit
Suasana di kediaman keluarga Bagaskara tak kalah tegang dibanding rumah keluarga Atmojo. Sejak pagi, tidak banyak percakapan yang terdengar. Para pelayan pun memilih bekerja dalam diam karena mereka merasakan ketegangan yang memenuhi setiap sudut rumah.
Di ruang keluarga, Bima Bagaskara duduk di sofa cokelat favoritnya dengan kedua tangan bertaut di depan dada. Wajahnya tampak keras, sementara sorot matanya menyiratkan kekecewaan yang belum juga mereda. Di sampingnya, Selia Bagaskara sesekali mengembuskan napas panjang, mencoba mengendalikan pikirannya yang terus berputar sejak pesta pernikahan kemarin.
"Aku masih sulit menerima cara keluarga Atmojo menyelesaikan masalah ini," ujar Bima memecah keheningan. Suaranya tenang, tetapi setiap katanya terdengar penuh penekanan. "Perubahan sebesar itu bahkan dilakukan tanpa meminta persetujuan kita terlebih dahulu."
Selia mengangguk pelan.
"Kalau memang Jelita menghilang, seharusnya Danendra menghubungi kita sebelum akad dimulai. Kita ini keluarga yang akan menjadi besan mereka, bukan tamu biasa."
Bima mengusap dagunya perlahan.
"Yang membuat Daddy lebih kecewa lagi, Razka ternyata sudah mengetahui semuanya. Dia mengambil keputusan sendiri tanpa berdiskusi dengan kita."
Bukan karena ia tidak menghargai keputusan putranya, tetapi sebagai kepala keluarga, Bima merasa seolah tidak dilibatkan dalam persoalan yang menyangkut masa depan anak sulungnya.
Langkah kaki terdengar dari arah tangga. Asyifa Bunga Bagaskara yang baru turun langsung menghampiri kedua orang tuanya. Melihat raut wajah mereka, ia sudah bisa menebak topik pembicaraan yang sedang berlangsung.
"Kalian masih membahas soal pernikahan Mas Razka? Tenang aja, Mom, Dad, semua kan sudah berlalu," ujarnya sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan sofa.
Selia mengangguk.
"Bagaimana Mommy bisa tenang? Semua terjadi tanpa ada pembicaraan dengan Mommy dan Daddy, Syifa."
Asyifa tersenyum tipis, berusaha mencairkan suasana.
"Menurutku, yang terpenting sekarang bukan lagi siapa yang seharusnya menikah. Yang penting pernikahan itu tetap berlangsung dan nama baik kedua keluarga masih bisa diselamatkan."
Bima menggeleng pelan.
"Kamu masih terlalu muda untuk memahami persoalan ini."
"Aku memang belum banyak pengalaman, Dad," balas Asyifa dengan tenang. "Tapi kalau waktu itu akad dibatalkan, bukankah akibatnya justru akan lebih besar? Semua tamu sudah datang, media juga hadir. Nama keluarga kita bisa ikut menjadi bahan pembicaraan."
Ruangan kembali sunyi. Tidak dapat dimungkiri, ucapan putri bungsunya ada benarnya. Membatalkan pernikahan di detik terakhir hanya akan memperbesar skandal yang sudah terjadi.
Selia menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Mommy bukan membenci Amora," ucapnya lebih pelan. "Mommy hanya kecewa dengan cara semua ini terjadi."
"Aku tahu," sahut Asyifa sambil mengangguk. "Tapi Amora juga pasti sama terkejutnya. Dia pasti juga enggak nyangka bakalan jadi pengantin pengganti."
Bima menatap putrinya beberapa saat.
"Semoga saja dia memang tidak terlibat."
"Aku yakin begitu, Dad."
Asyifa mengenal Amora meski tidak terlalu dekat. Dari beberapa kali bertemu, perempuan itu selalu terlihat sopan dan tidak pernah mencari perhatian. Sulit baginya membayangkan Amora sengaja merebut posisi kakaknya sendiri secara sengaja.
Bima akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Bagaimanapun juga, semuanya sudah terjadi."
Selia menoleh kepada suaminya.
"Kita tidak mungkin mengubah keadaan sekarang."
Bima mengangguk pelan. Meski hatinya masih dipenuhi rasa kecewa, ia sadar tidak ada gunanya terus mempersoalkan sesuatu yang telah sah terjadi.
"Yang Daddy harapkan sekarang hanya satu," katanya kemudian. "Razka bisa menjalani rumah tangganya dengan baik. Meski pernikahan itu berawal dari keadaan yang tidak ideal, Daddy tidak ingin melihat rumah tangga mereka berakhir dengan kegagalan."
Asyifa tersenyum kecil mendengar kalimat itu. Setidaknya, kedua orang tuanya mulai membuka ruang untuk menerima kenyataan.
Walaupun rasa kecewa belum benar-benar hilang, keluarga Bagaskara perlahan memahami bahwa masa lalu tidak bisa diulang. Satu-satunya pilihan yang mereka miliki sekarang adalah menerima Amora sebagai bagian dari keluarga mereka dan berharap waktu mampu memperbaiki hubungan yang sejak awal dimulai dengan penuh kekacauan.
.
.
.
Amora menutup ritsleting koper terakhirnya sebelum menghembuskkan napas pelan. Semua barang yang ia perlukan sudah tersusun rapi di dalam mobil. Kini tidak ada lagi alasan untuk menunda kepulangannya ke apartemen tempat Atharazka tinggal.
Fina berdiri di samping pintu utama sambil memperhatikan putri bungsunya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bangga karena Amora berusaha menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang istri, tetapi di saat yang sama, ada kesedihan karena rumah ini akan terasa lebih sepi.
"Jaga kesehatan ya, Sayang," ucap Fina sambil merapikan kerah baju Amora seperti kebiasaannya sejak dulu. "Kalau ada apa-apa, jangan sungkan cerita sama Mama."
Amora mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, Ma. Amora akan baik-baik saja."
Danendra yang berdiri tak jauh dari mereka ikut menghampiri. Ia menepuk pelan bahu putrinya.
"Rumah ini akan tetap jadi rumah kamu, Mora. Kapan pun kamu ingin pulang, Ayah dan Mama ada disini,"
Kalimat sederhana itu membuat hati Amora menghangat. Ia memeluk kedua orang tuanya bergantian.
"Terima kasih, Yah, Ma."
Pelukan itu berlangsung cukup lama. Amora ingin menyimpan kehangatan tersebut sebagai bekal menghadapi kehidupan barunya yang penuh ketidakpastian.
Sesaat kemudian ia melepaskan pelukan dan berkata pelan, "Kalau nanti Ayah atau Mama mendapat kabar tentang Kak Jelita, jangan lupa langsung beri tahu Amora."
Fina mengusap pipi putrinya dengan lembut.
"Tentu. Mama juga berharap kakakmu segera menghubungi kita."
Danendra mengangguk membenarkan.
"Kamu fokus dulu menjalani kehidupanmu. Soal Jelita, biar Ayah yang terus mencarinya."
Amora menghela napas pendek.
"Semoga Kak Jelita benar-benar baik-baik saja."
Beberapa menit kemudian Amora meraih gagang koper dan membawanya menuju bagasi mobil. Dua koper berukuran besar telah lebih dulu tersusun rapi di dalamnya. Setelah memastikan semuanya lengkap, ia menutup bagasi lalu membuka pintu kemudi.
Sebelum masuk, Amora kembali menoleh ke arah rumah yang telah menjadi tempatnya tumbuh selama bertahun-tahun.
Halaman yang luas, taman yang selalu dirawat rapi, serta beranda depan yang hampir setiap sore menjadi tempat berkumpul keluarganya, kini terasa begitu berharga. Ia baru menyadari bahwa meninggalkan rumah bukanlah perkara sederhana.
Danendra dan Fina masih berdiri di teras sambil memandang ke arahnya.
"Hati-hati di jalan!" seru Fina.
"Kalau sudah sampai, langsung kabari Ayah," tambah Danendra.
Amora menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Iya,"
Ia kemudian masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Suara kendaraan yang mulai hidup memecah keheningan sore itu. Tangannya menggenggam kemudi cukup erat. Ia memejamkan mata beberapa detik, mencoba mengumpulkan keberanian.
"Mulai hari ini aku harus belajar menjalani semuanya," gumamnya lirih.
Perlahan mobil meninggalkan halaman rumah keluarga Atmojo. Melalui kaca spion, Amora masih bisa melihat kedua orang tuanya yang tetap berdiri di depan pintu hingga mobilnya semakin menjauh.
Hatinya terasa berat, tetapi ia tidak berniat kembali. Apa pun yang menantinya di apartemen, ia harus menghadapinya. Sebab kini apartemen itu juga menjadi bagian dari kehidupan baru Amora sebagai istrinya, meskipun hubungan mereka masih dipenuhi jarak dan keasingan.
.
.
.
Pintu kamar terbuka perlahan. Atharazka melangkah keluar sembari merenggangkan bahunya yang terasa pegal. Ia melirik jam yang tergantung di dinding ruang keluarga.
"Hampir sore."
Dengan langkah santai, Razka berjalan menuju ruang tengah. Pandangannya berkeliling tanpa sadar mencari satu sosok yang sejak siang tadi berada di apartemen.
"Dia udah keluar?" gumamnya pelan.
Entah mengapa, ia sempat berhenti beberapa detik di tengah ruang tamu. Pandangannya beralih ke arah lorong kamar, lalu ke pintu utama.
Ia kemudian berbalik menuju dapur. Pintu lemari pendingin dibukanya, lalu mengambil sebotol air mineral. Setelah meminum beberapa teguk, ia menutup mata sejenak menikmati rasa dingin yang mengalir di tenggorokannya.
Rasa lelah di kepalanya memang sedikit berkurang, tetapi pikirannya masih sama kacaunya.
Semua yang terjadi sejak kemarin terasa begitu cepat. Dalam waktu singkat, statusnya berubah menjadi seorang suami. Bukan suami dari perempuan yang dipersiapkan keluarganya selama ini, melainkan adik perempuan dari calon pengantinnya sendiri.
Atharazka meletakkan botol minumnya di atas meja dapur.
"Aneh," gumamnya pelan sambil tersenyum tipis tanpa humor. "Aku bahkan belum bisa menerima rencana perjodohan dengan Jelita, sekarang malah harus menerima kenyataan yang lebih rumit."
Ia mengusap wajahnya kasar. Semakin dipikirkan, semakin sulit semuanya terasa masuk akal. Untuk mengalihkan pikirannya, Atharazka mengambil ponsel dari atas meja. Jemarinya membuka aplikasi restoran langganan, tetapi beberapa detik kemudian ia mengurungkan niatnya.
"Bosan juga kalau terus pesan makanan."
Perutnya mulai memberi sinyal lapar. Ia melirik jam sekali lagi sebelum mengambil dompet dan kunci mobil yang tergeletak di meja dekat pintu masuk.
"Makan di luar saja."
Tanpa berpikir panjang, Atharazka mengenakan jam tangannya, lalu melangkah keluar dari apartemen. Pintu otomatis menutup di belakangnya, kembali menyisakan unit yang sunyi.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰